
Malam itu ibu Elsa duduk di ruang keluarga bersama beberapa kerabat dekatnya.
"Gimana Buk katanya Damar," tanya Maria kakaknya Aisah.
'Damar mau mencabut laporan itu dengan syarat Ayah harus mengembalikan dompet Aisah yang berisi identitas dan lain - lain.
Kedua, Ayah harus mengijinkan Aisah mengurus kartu keluarga sendiri agar jelas identitas nya sebagai warga negara.
Ketiga, ijazah TK, SD, SMP dan akta kelahiran harus di berikan kepada Aisah. Dan Damar siap membayar ganti rugi biaya pendidikan Aisah, dan biaya merawat Aisah dari bayi hingga sekarang.
Ke Empat,
Bapak harus minta maaf kepada Aisah secara langsung. Karena bapak mengatakan Aisah seorang *****. Kata Damar, ucapan Ayah itu Fitnah dan bohong, masuk dalam hukum tidak pidana tidak menyenangkan."
"Sombong sekali Damar itu," sahut Maria, "Dapat duit dari mana dia sanggup menganti biaya pendidikan Aisah."
"Maria.. Damar memang masih remaja, masih SMA kelas 3, sepantaran dengan Aisah. Tetapi... Bicaranya sangat berwibawa, tenang dan tegas.
Walau Damar anak seorang pembantu panggilan, anak tukang cuci baju, kelihatan nya dia mempunyai banyak uang. Buktinya Damar bisa membayar pengacara."
Mendengar cerita istrinya, Pak Elsa hanya diam membisu sesekali menghisap rokok dalam - dalam.
Yang ibu heran... Waktu Damar menemui ibu, Aisah duduk di samping Damar.
Ibu lihat Aisah seperti putri di rumah gubuk.
Aisah terlihat cantik sekali dengan gaun malam. Memakai kalung berlian juga dua cincin berlian dan anting berlian.
Seumur - umur, keluarga kita tidak akan mampu membeli kalung seperti yang di pakai Aisah.
"Emang berapa sih Buk harga kalung itu, kok kelihatan ibu shock gitu," tanya Maria.
"Yang ibu tau, harga kalungnya milyaran."
"Apaaaaa!!!! milyaran. Yang benar napa sih ibu ini."
"Bener Maria, ibu punya teman yang bisnis jual beli berlian. Dan ibu pernah di tawari waktu itu dengan harga 2 milyar."
"Bagaimana Mas," tanya ibu Elsa.
"Apa kata besok sajalah," sahut pak Elsa.
*****
Setelah melakukan transaksi pembelian tanah 200 milyar, dua orang dari pihak Notaris, kepala desa juga beberapa perangkat desa, dan perwakilan dari pihak pemilik tanah, melakukan tanda tangan di atas materai. Setelah selesai Damar pun kembali ke meja Samsul dengan membawa
dokumen sertifikat tanah juga jual beli.
"Dari mana sih, lama amat," tanya Samsul.
"Dari nemuin teman, ada perlu sedikit."
"Itu bawah apa?"
"Ini kertas lamaran," jawab Damar kemudian duduk.
"Ayo, sudah jam 9, Erik dan Aldy barusan WA OTW katanya."
__ADS_1
"Baiklah, Aisah ayo," ajak Damar kemudian mengulurkan tangannya.
"Mesra banget," sahut Inna.
"Ayoo Inna," kata samsul juga mengulurkan tangannya.
"Tumben - tumbennya kamu mengulurkan tangan mu, biasanya juga di tinggal jalan sediri di belakang mu," kata Inna.
"Hahahahaha!
Niru Damar, biar kelihatan mesra."
"Ok, besok besok harus begini ya," kata Inna kemudian menyambut tangan Samsul,
"Yaah gini yang bener kalau pacaran. Biar ada mesra - mesra nya."
*****
Mobil Honda jazz Aisah dan milik Samsul melaju beriringan dengan kecepatan sedang.
Tak lama kemudian mobil pun parkir di depan ruko yang luas.
Setelah ganti baju, Aisah keluar mobil.
"Sul," panggil Erik.
"Siaaap," jawab Samsul.
"Sari..! Tambah cantik saja dengan gaun ini."
"Haaaa, kamu itu baru sadar ya. Jangan - jangan kamu rabun. Kan dari dulu juga cantik."
"Looh, Tiyas..!
Kapan jadian sama playboy kampung ini," celetuk Samsul.
"Baru seminggu," jawab Tiyas,
"Inna, sini duduk sama aku."
"Damar..! Ganti lagi nih yayangnya. Apa sudah bosen sama Shinta," tanya Sari iseng.
"Punya yayang dua, ini yang pertama, Shinta yang kedua," jawab Damar.
"Baguslah kalau punya cadangan," sahut Inna.
"Sul, beli tiket 8 ya," kata Damar.
"Sari sudah beli," sahut Erik.
Tin tin tin..!
Puluhan mobil honda Jazz berstiker Hello kity masuk area parkiran ruko yang luas.
Puluhan cewek ABG dari keluarga kalangan atas keluar mobil dengan dandanan **** ala anak kota.
"Damar...!" sapa Sherly.
__ADS_1
"Iya Sherly."
"Sama siapa ini, kok cantik banget?"
"Kenalkan, ini Aisah."
"Aisah..."
"Sherly."
"Sherly..!" panggil Sari ketua geng Hello Kity
Ada berapa anak yang ikut?"
"Ada 70an."
"Ini tiketnya, aku beli 50 lembar doang, kamu beli ya kurangnya, ini uangnya. Geng Hello Kity dapat diskon karcis masuk 25 %."
"Ok, Ita, ayo ikut."
"Siaaap!"
*****
Sherly berdiri di depan loket.
Anggota Hello Kity mbak, 20 tiket masuk.
"Ini tiketnya, khusus geng Hello Kity dapat potongan 25 %, ini totalnya."
"Baiklah, terimakasih.
Ada acara apa ya mbak kok dapat potongan harga, biasanya juga tiket 120 ribu perlembar."
"Geng Hello Kity kan pelanggan dan member besar. Jadi di prioritaskan."
"Oh gitu, makasih Mbak."
"Sama - sama."
*****
Malam minggu jalan - jalan kota Surabaya sangat rame sekali. Baik orang dari kalangan kaum Duafa, sederhana maupun kalangan Elit memenuhi jalan untuk mencari hiburan atau sekedar makan malam atau hanya jalan - jalan saja.
Perbedaan golongan status itu sangat mencolok di kota Surabaya pada saat malam minggu.
Golongan Duafa atau kaum fakir miskin, biasanya nongkrong di cafe pinggir jalan. Kadang menikmati secangkir kopi di trotoar pinggir jalan. Bahkan ada yang ngopi segelas di warkop, duduk nya berjam jam sambil menikmati Wi-Fi Gratisan, padahal harga kopi segelas hanya 3 ribu rupiah.
Golongan menengah biasanya nongkrong di cafe karaoke. Nyanyi sambil minum bir, juga sewa jasa purel hanya untuk pegang pegangan saja. Kadang juga, kalau cocok akan berakhir cinta lokasi di sebuah hotel kelas tiga.
Kadang, golongan menengah biasanya menikmati makan malam bersama keluarga di warung seafood juga ikan bakar di pinggir jalan.
Lain dengan golongan kalangan atas, atau golongan elit. Yang biasanya suka dugem di diskotik ternama, bahkan perorang bisa mengeluarkan uang 2 hingga 5 juta dalam semalam.
Kadang...
Kelompok kalangan atas sering nongkrong di Bar, atau bermalam di hotel mewah dengan wanita bayaran atau selingkuhannya.
__ADS_1
*Bersambung.