
Setelah berada di kota Surabaya, Damar berkata,
"Shinta, aku antar kamu pulang ya?"
"Aku mau tidur di rumah Mas Damar saja ya. Jam 4 tadi, Papa Mama ku WA pamit ke jakarta ada urusan bisnis."
"Ya sudah kalau begitu, Alhamdulillah ada hangat - hangatnya kalau tidur ada yang ngelonin."
"Hemmmm."
"Kang, mampir ke cafe Ayu ya."
"Iya Tuan."
"Kalau gak capek, lembur ya kang."
"Iya Tuan."
"Apa teman nya tadi sudah dapat kerjaan?"
"Belum Tuan, besok pagi katanya mau ke cafe Ayu, untuk menemui Tuan."
"Suruh jam satu siang saja ya. Atau nanti WA an sama kang Mamat.
Kan besok aku sekolah."
"Baiklah Tuan."
Setelah memarkir mobil di area perkiraan cafe Ayu, Damar dan Shinta turun lalu berjalan menuju meja samping taman.
"Selamat malam Mas Damar," sapa Duwi pramusaji.
"Malam juga Duwi.
Buatkan makan malam ya, ikan gurami bakar dua dan kopi luwak satu oren jus satu. Sekalian air aqua dingin dua botol."
"Baiklah Mas."
"Pelayan itu kok hormat dan hafal dengan nama mu Mas," tanya Shinta.
"Dia namanya Duwi, karyawan ku. Dan cafe ini milik ku."
"Oh gitu, kamu kok tiba - tiba kaya raya banyak duitnya. Punya cafe lagi. Dan waktu kamu tadi telpon, aku dengar kamu sepertinya bisnis Real Estate."
"Iya Shinta, itu semua berkat dirimu, berkat kebaikan dan cinta mu," jawab Damar,
"Aku mengakui nya dan itulah kenyataan nya."
Tingtung Tingtung!
HP Damar berbunyi,
"Iya Dimas?"
"Maaf bos, baru kasih kabar.
Menurut team PT Podomoro, tanah di jalan raya Delima Gresik, itu bagus untuk mengembangkan perumahan kelas menengah ke bawah.
Jadi... Direktur Angga memutuskan untuk membeli lahan itu.
Pihak PT Aksa ingin bertransaksi besok jam 10 pagi di restoran Hotel Shangrila."
"Jadi berapa harga lahan itu?"
"Jadi 15 M bos.
Menurut Marketing PT Podomoro, dari 15 M itu, pihak kita memiliki keuntungan bersih 30 M, dengan harga rumah 250 juta per unit."
"Baiklah.
Besok sementara kamu kawal transaksi jual belinya. Lalu, suruh Direktur Angga mengurus semua surat ijinnya.
Aku ingin semua berjalan lancar dan cepat.
Karena ini proyek perumahan pertama PT Podomoro."
"Baiklah bos.
__ADS_1
Selamat malam."
"Malam juga."
*****
"Permisi, ini pesanannya," ujar pramusaji kemudian meletakkan pesanan di atas meja.
"Shinta, ayo makan, malah melamun."
"Iya Mas. Habis makan, aku pulang ya Mas."
"Katanya mau tidur ngelonin aku di rumah."
"Kapan - kapan saja ya, aku gak enak badan."
"Baiklah, biar di antar kang Mamat."
Tingtung!
Suara pesan masuk chat WA berbunyi,
*Samsul:
Tak tunggu makan malam bersama di cafe Ayu.
Otw Gus.
*Damar:
Ok
*****
Selesai makan, Shinta langsung pulang di antar kang Mamat.
Di dalam mobil, Shinta meneteskan air matanya sambil menggumam,
"Jalan - jalan bersama mas Damar sungguh menyenangkan. Tetapi... Rasanya tidak bahagia. Makan bersama, duduk berdua, saling canda tawa, pelukan juga bergandengan, rasanya hambar. Tidak seperti dulu lagi. Kini, aku dan Mas Damar tidak ada hubungan spesial. Hanya sebatas teman saja. Teman tetapi mesra.
Yaaa memang salah ku sendiri telah meninggal kan Mas Damar. Hanya terlalu emosi dan cemburu, aku telah melukai hati dan cinta nya.
Gaya bicaranya, ketenangan nya, keberanian nya juga kelakuan nya.
Hemmm...
Buat apa aku dekat sama Mas Damar, kalau hanya sebagai teman saja.
Ingin rasanya aku menjauh, tetapi aku tak kuasa ketika di ajak Mas Damar.
Ya Allah....
Apakah aku mampu melupakan dia bersama kenangannya..?"
*****
Klutik Klutik!
Telpon wa kang Mamat berbunyi,
"Iya Tuan.x
"Apa Shinta sudah sampai?x
"Sudah Tuan. Ini perjalanan ke cafe."
"Kamu jemput Nona Sarah ya, alamatnya sudah aku kirim lewat wa.
Sarah juga sudah aku wa."
"Baiklah Tuan."
*****
"Pak Yai..!" teriak Samsul kemudian memeluk Damar sambil mencium pipi nya.
__ADS_1
"Apaan sih, kayak homo saja," teriak Damar geli.
"Sari dan Tiyas juga inna tertawa terpingkal - pingkal.
"Tumben - tumbennya kalian pada ngumpul," tanya Damar.
"Ini Samsul katanya ngajak makan di cafe mu," jawab Tiyas.
"Inna, tambah cantik saja," goda Damar.
'Gombal, mau di gampar sama Shinta ngegombalin aku."
"Ye ye, yang habis balikan, langsung peluk - peluk," sahut Sari.
"Sok tau lu Sari," jawab Damar.
"Nih, status Shinta lagi di dalam mobil barusan."
"Mana, lihat!"
"Nih...
Pakai ngeles segala."
"Permisi," sapa pramusaji.
"Bebek goreng bebek goreng!"
"Gak bosen apa, bebek goreng terus," sahut Sari.
"Selamat malam..."
"Malam juga," jawab Sari yang tercengang melihat Sarah yang sangat cantik.
"Duduk sini sayang, jangan dekat - dekat Samsul, takut rabies."
"Iya Mas," jawab Sarah kemudian duduk di samping Damar.
"Sari , Inna, Tiyas, kenalkan ini Sarah, temen ku."
"Salam kenal kembali."
"Kalau ada Sarah yang cantik ini, terus Shinta di duain lagi," tanya inna.
"Aku dan Sarah ini, hanya teman. tanya sendiri sama orang nya."
"Beneran Sarah," tanya Sari.
"Iya Sari, benar. Aku dan Mas Damar adalah teman."
"Oh begitu," sahut Inna,
"Tetapi aku gak percaya. Sarah secantik ini gak di pacarin sama Damar."
"Hahahaha!"
Samsul tertawa terbahak - bahak.
"Bisa pelan dikit napa ketawanya," sahut Tiyas.
"Sependapat sama Inna," kata Sari.
"Bagaiman hubungan mu sama Shinta setelah balikan," tanya Erik.
"Aku dan Shinta hanya sebatas teman juga. Sama kayak Sarah ini.
Jadi, aku ini jomblo belum punya pacar."
"Boleh aku foto kalian bedua, aku buat status," tanya Sari.
"Boleh boleh," sahut Damar,
"Mepet sini Sarah, biar terlihat mesra kayak pacaran."
Setelah memfoto, Sari mengunggah di story WA.
"Permisi, ini pesanannya."
__ADS_1
*Bersambung.