
"Kak..." sapa Ita.
"Apa?" kata Damar
"Ita tadi beli dua kaos dan dua baju lengan panjang dari singapura, untuk kakak.
Ini, kamu coba."
"Iya Ita, makasih, Habis ini kakak pakai.
Kakak capek sekali dan kurang tidur."
"Mau ita kerokin..?"
"Emang kamu bisa ngerokin..?"
"Ya bisalah, kan sering ngerokin Mama."
"Baiklah, itu minyak telon dan uang kerokan di atas meja.
Kalau bisa, sekalian di pijitin ya?"
"Hemmm.
Pacar bukan suami juga bukan, minta pijit segala. Bentar Ita ganti baju tidur dulu.
Sinian dikit," ujar Ita sambil ngerokin punggung Damar.
"Ita... Apa Sabrina itu punya banyak uang? Kok dia mau minjamin uang ke aku."
"Banyak kak, Sabrina itu, dua bersaudara. Ibu nya sudah wafat dua tahun yang lalu. Akibat kecelakaan di london inggris, waktu liburan.
Denger - denger cerita dari temen - temen sih, ita gak tau sendiri ini.
Papa nya telah mewariskan 14 perusahaan ke Sabrina. Dan sudah atas nama Sabrina.
Yang kakak nya, juga di warisi 14 perusahaan.
Karena Sabrina masih sekolah, maka semua perusahaan Sabrina masih di urus sama Papa nya dan manajernya Sabrina.
Ini kata temen temen geng Hello kity.
Yang lebih jelasnya, kamu tanya Sari pacarnya Erik. Sari itu sahabat dekatnya Sabrina."
"Makanya Sabrina mau minjami uang 3 T tanpa jaminan ke aku."
"Kalau Sabrina minjamin kakak uang sebesar itu tanpa jaminan, berarti Sabrina itu senang sama kakak. Dia naksir sama kamu kak."
"Ah kamu sok tau."
"Aku ini kan cewek, jadi tau perasaan hati seorang cewek.
Gak masuk akal lah kak, mana ada orang mau melepas uang sebesar itu..! Walaupun orang itu pengusaha."
"Tetapi... Sabrina gak pernah ngomong mesra sama kakak, atau ngomong masalah asmara."
"Ya malu lah Kak, kecuali kakak nembak duluan," ujar Ita,
"Buktinya, dia ngajak dinner kakak makan malam berdua. Itu sudah jelas maksudnya. Kakak saja yang gak ngerti dan gak ngrespon.
Contoh nya Shinta. Kalau Shinta gak menyatakan cinta sama kakak, gak mungkin kakak jadian sama Shinta."
"Kalau papa nya Inna, itu pengusaha apa?"
"Pengusaha suku cadang dan tripleks. Kalau Mama nya, gak tau bisnis apa. Itu Inna yang bilang dulu.
Sudah kak, aku ngantuk. Sebelah sana dikit," ujar Ita kemudian merebahkan badan.
Malam terus merambat, hujan turun dengan deras. Beberapa kali petir terdengar menggelegar membuat Damar kaget dan terbangun. Dan listrik pun padam.
"Kak, kok gelap sekali," gumam Ita kemudian bangun.
"Lampu mati, diam dulu, kakak nyalahin senter Hp.
Ini Hp mu, nyalahin dulu senter di Hp mu. Kakak tak ambil lilin di dapur."
Melihat ibu Farida nyalahin lilin di dapur, Damar mendekat,
"Buk mana lilinnya, minta satu."
"Ini Mas."
"Ita, jam berapa sekarang," tanya damar sambil menyalahkan lilin.
"Jam dua kak."
"Kakak tinggal dulu ya?"
"Jangan kak, ita takut. Hujan, gelap kok mau di tinggal."
"Ya sudah kalau mau ikut," ajak Damar kemudian berjalan menuju Dapur,
"Kakak wudhu dulu ya, mau solat tahajjud. Kalau kamu mau solat juga, itu tempat wudhu nya, dan itu ada mukenah.
Kalau gak mau solat, kamu duduk di kursi meja makan, tungguin kakak selesai solat.x
"Iya kak," jawab Ita kemudian duduk bersandar kursi dapur.
******
Selesai solat tahajjud dan Dzikir, Damar melihat Ita tertidur di kursi.
Setelah mengambil laptop dan Hp di kamar, Damar duduk di kursi meja makan, lalu menyalahkan laptop nya.
"Gak tidur mas," tanya ibu Farida yang hendak solat malam.
"Gak buk, lagi belajar."
"Loh, itu Nak Ita..?"
"Iya Buk, tadi ikut Damar ke makam, dan nginep sini."
"Kok gak di suruh tidur di kamar saja?"
"Takut katanya."
"Ya kamu temani lah Mas, kasihan Ita."
"Biarin saja Buk, biar latihan hidup susah.
Buk, buatkan kopi ya, sama indomie telor. Bikin dua buk indomie nya."
"Iya Mas, bentar."
*****
"Ini mas, indomie dan kopi nya. Ibu solat dulu."
"Ita, Ta..?"
"Apa kak?"
"Ini di buatin ibu indomie telor. Makan dulu biar gak dingin badannya. Ini susu Dancaow panas untuk mu."
"Iya Kak," jawab Ita kemudian berdiri,
"Belum nyalah juga listriknya?"
Tingtung!
Hp Damar berdenting tanda ada pesan WA masuk :
*Sabrina..?! Hampir jam tiga pagi WA, tumben.
*Sabrina:
Lampu mati Mas, jadi terbangun. Aku lihat facebook mu aktif, jadi aku WA kamu
__ADS_1
*Damar:
Disini juga lampu mati.
Iya lagi lihat - lihat iklan jual beli tanah di facebook.
*Sabrina:
Mau cari tanah..?
*Damar:
Iya, buat kantor PT Podomoro Real Estate
*Sabrina:
Kalau kamu mau, aku punya lahan yang gak di pakai, di jalan Ahmad Yani.
Kalau untuk perkantoran sih, lebih dari cukup. Luas dan lebarnya setengah hektarran lah.
*Damar:
Iya gak apa - apa, kebetulan kalau gitu. Besok ketemuan sepulang sekolah ya!
Oh iya, aku jadi beli saham PT Inka. Bilang sama Papa mu ya,,
*Sabrina:
Ok, besok aku hubungi diri mu.
*****
"Siapa kak yang WA, kok senang amat dirimu," tanya ita
"Sabrina.
Dia nawarin tanah nya, ya aku setuju. Besok ketemuan sepulang sekolah."
"Oh, Brina...
Beli tanah milik Sabrina, pasti dapat diskon separuh harga kamu kak, dan dapat diskon peluk cium juga."
Lampu sudah menyala, Adzan subuh terdengar dari masjid desa.
Setelah solat subuh, Damar dan Ita tidur kembali.
*****
Setengah ngantuk, Damar dan Ita berangkat ke sekolah.
Waktu terus berlalu, setelah mengikuti pelajaran sekolah beberapa jam, Bel tanda pulang pun berbunyi.
Tak lama kemudian beberapa pelajar berhamburan menuju parkiran.
"Kak, aku pulang dulu ya," sapa ita,
"Aku tadi telpon sopir rumah."
"Ok Ita," jawab Damar.
"Oh iya, jam 1 siang di tunggu sama Asisten Papa. Alamatnya sudah aku kirim ke no WA kakak."
"Iya..."
Tin tin..!
"Hai Sul, Inna," sapa Damar.
"Mar, entar malam, kamu gak usah ke rumah Inna. Biar aku saja yang bilang sama Papa nya Inna."
"Baguslah, itu nama nya laki - laki," ujar Damar,
"Kalau ada masalah rumit sama keluarga Inna dengan mu, 4 sekawan ajak ngopi bareng ya?"
"Siaaap," jawab Samsul kemudian melajukan mobil honda jazz nya,
"Ok ok."
"Hai Damar...
kemana saja kamu, gak pernah kelihatan di sekolah?"
"Hai Jessi, tambah cantik saja kamu."
"Anggota geng Hello Kity ya cantik cantik lah.
Kamu mau kemana..?"
"Mau kerja, cari uang buat modal pacaran."
"Hehehehe bisa aja luh Mar. Kamu sekarang sudah kaya banyak duit gitu.
Sekarang punya cafe."
"Kamu mau kemana..?"
"Mau kemana ya..?
Hehehehe mau pulang aja, gak ada acara."
"Ikut aku mau, jadi pacar sehari saja," ajak Damar
"Hehehehe asik juga nih kencan sehari.
Boleeeh boleh.
Pakai mobil mu aja ya?"
"Iya."
"Pak, pulang duluan ya, aku ikut mobil teman ku."
"Baiklah Non."
"Ayoo Mar."
*****
Tingtung Tingtung Tingtung!
Hp Damar berbunyi tanda ada telpon masuk.
"Selamat siang pak Damar..?"
"Siang juga."
"Saya pak Antok, Asisten pak Jhoni. Ini saya sudah ada di kantor Notaris.
Alamatnya sudah saya Sherlock lokasi."
"Baiklah pak Antok, ini meluncur."
"Mau kemana Mar," tanya Jessica.
"Mau ke kantor notaris, di belakang Tunjungan Plaza."
"Hemmmm.
Kalau gitu, pulangnya kita jalan - jalan ya, ke Tunjungan Plaza."
"Ok, ok.
Tak ganti baju dulu sebentar. Gak enak kalau pakai seragam sekolah di kantor notaris."
"Banyak banget, baju di jok belakang. Emang mau jualan baju? Hehehehe."
"Itu Sabrina dan shinta juga Ita, yang beli kemarin - kemarin. Gak di bawah pulang, di biarin di mobil."
__ADS_1
*****
Setelah berada di kantor notaris, pak Antok Asisten pak Jhoni ngobrol sebentar dengan Damar. Setelah itu, Damar melakukan tanda tangan di atas materai. Kemudian Damar pun keluar dari kantor.
"Jessi, ayoo," ajak Damar.
Tak lama kemudian, Damar turun dari mobil bersama Jessica yang berhenti di depan Tunjungan Plaza. Sementara, mobil Fortuner langsung meluncur mencari tempat parkir.
"Damar, ayo lihat - lihat baju model terbaru. Setelah itu, kita makan siang," ajak Jessi kemudian mengandeng lengan Damar.
Sambil melihat - lihat baju, Jessica berkata,
"Damar, ini bagus dan cocok untuk mu."
"Aku gak beli, sudah banyak baju di rumah."
"Ini aku belikan untuk mu, buat kenang - kenangan," ujar Jessi kemudian memilih kan baju juga celana untuk Damar.
"Udah, satu atau dua saja sudah cukup," ujar Damar.
"gak apa - apa, mumpung aku jadi pacar mu sehari, kapan lagi aku bisa jalan sama kamu. Masak jalan sama Shinta, Sabrina dan Ita terus..?"
Setelah belanja baju, Jessica membeli kan jam tangan untuk Damar merk Rolex Oyster seharga 132 juta dan sepatu fantopel seharga 22,5 juta.
"Jessi, boleh aku membelikan baju untuk mu, buat kenang - kenangan..?"
"Hehehehe.
Boleeh..."
"Ayo, sebelah sini," ajak Damar kemudian masuk galeri baju muslim,
"Sini, aku pilih kan jubah warna pink dan warna hitam. Harganya murah murah Jessi, standart. Yang penting manfaatnya."
Setelah membeli dua jubah dan dua kerudung, juga mukena dan sajadah, Damar dan Jessica berjalan menuju lantai bawah, lalu duduk di cafe.
Setelah menikmati makan siang, Damar menyulut rokok.
"Damar, aku pakaikan ya, jam Rolex ini di tangan mu," ujar Jessi kemudian duduk mendekat lalu memasang jam Rolex di pergelangan tangan Damar.
"Hemmm, bagus bener jam nya," ujar Jessica kemudian mencium pipi Damar.
"Jam dua siang," gumam Damar sambil lihat jam yang menempel di pergelangan tangannya.
"Ayo, kita ziarah ke makam sunan Ampel," ajak Damar.
"Ziarah..?"
"Iya ziarah."
"Masak aku ziarah pakai rok mini gini Mar?"
"Tuh, kan aku belikan jubah tadi, sama jilbab dan mukena."
"Hemmmm
Baiklah, entar ganti baju di mobil saja.
Ini pertama kali aku ziarah ke makam wali, biar ngerti aku."
*****
Tak lama kemudian, mobil pun meluncur ke arah makam sunan Ampel.
"Jessi, duduk mepet sini."
"Iya," jawab Jessi kemudian bergeser.
"Apa kamu sudah punya pacar?"
"Sudah, anak SMA Mariana."
"Kok kamu selingkuh sama aku?"
"Sebenarnya, hubungan ku dengan pacarku tidak harmonis sekali. Ya karena aku di jodohin sama Papa Mama aku.
Pacar ku itu, anaknya teman bisnis Papa ku."
"Jaman sekarang masih ada ya, anak di jodohin," ujar Damar.
"Sebenarnya aku gak mau sih Mar, tetapi mau Bagaimana lagi. Orang tua maksa.
Mereka menjodoh kan aku itu karena bisnis. Jadi seolah olah, aku ini di jual sama Papa Mama ku. Yaah demi kejayaan bisnis saja."
"Emang udah lama kamu di jodoh kan?"
"Dari kelas dua SMA. Tetapi aku jarang ketemu sama pacarku. Kalau dia ke rumah, aku tinggal pergi.
Kemungkinan, setelah lulus SMA, aku mau Kuliah di london inggris, dan aku gak bakal balik ke indonesia."
"Kok gitu..?"
"Ya agar aku tidak jadi di nikah kan sama tunangan ku si culun itu.
Apa kamu punya solusi, bagaimana caranya, tunangan ku di batalkan..?"
"Kawin lari saja sama aku? Hahahahaha!"
"Ah, kamu itu ngelawak saja. Aku gak mau nikah sama kamu. Kalau pacaran saja aku mau.
Kamu tukang selingkuh gitu, bisa kamu jadikan istri ke empat diriku."
"Tukang selingkuh..? Enak saja!"
"Masih gak ngaku..?!
Emang anak kelompok Hello Kity gak tau gitu..?
Siapa saja yang tidak kamu pacarin.
Novita si putri malu yang pendiam saja, kamu pacarin. Sekarang ini, giliran aku kamu pacarin. Hehehehe!"
"Laaah, kenapa kamu mau aku pacari..?"
"Yaah pingin tau saja rasanya. Gimana sih pacaran sama lelaki sederhana..?
Hemmm, ternyata romantis juga diri mu hehehehe.
Etar malam, nginep hotel apa gak nih Mar?"
"Ngapain juga nginep hotel..?"
"Kamu itu lelaki normal apa gak sih, pakai nanya ngapain nginep hotel?"
"Sudah sampai Tuan," ujar kang Mamat kemudian memarkir mobilnya.
"Kang, turun dulu ya."
"Baiklah Tuan."
"Ayoo, katanya mau ganti baju."
"Iya," jawab Jessi,
"Kamu jangan turun dulu, tunggu in aku ganti baju."
"Alhamdulillah," ujar Damar.
"Seneng lihat cewek cantik ganti baju kok, tanya ngapain nginep hotel kamu itu Mar.... Damar!"
*Kang Mamat."
"Iya Tuan."
"Bersambung dulu ya."
"Baiklah Tuan."
__ADS_1