
Sesampai di rumah, dan memarkir kan mobil Fortuner di garasi belakang, Damar dan Samsul keluar mobil.
"Mar... Sudah sembuh," tanya Pak Sueb Ayahnya Samsul yang sedang ngawasin para tukang dan kuli bikin pagar.
"Sudah Pak lek. Wong saya ini loh gak sakit," ujar Damar,
"Masih lama ya Pak lek, bikin pagarnya?"
"Masih lama Mar, tanahnya kan luas, belum gali tanah untuk pondasi, belum pasang batu pondasi, pasang bata dll."
"Uangnya habis apa masih ada Pak lek?"
"Habis buat beli bahan sama bayar pekerja."
"Bikin pagar emang ada tukang berapa dan kuli berapa pak lek," tanya Damar.
"Tukangnya ada 7 dan kuli nya ada 14.
Dua minggu lagi lah, semua selesai."
"Ya sudah Lak lek. Habis ini aku transfer 50 milyar. Besok Pak lek beli bahan - bahan untuk bangun ruko ya, dan cari tukang dan kuli yang banyak. Biar cepat selesai."
"Mar..?"
"Iya Pak lek."
"Kalau bisa... Kan kamu ada uang, kamu buat PT saja," saran Pak Sueb.
"PT apa Pak lek..?"
"PT Kontraktor. Biar enak kalau mau bangun ruko atau bangun gudang juga bangun apa saja.
Kamu bisa dengan mudah dapat modal, dan PT bisa buat jaminan pinjam modal di bank. Bisa kerjasama dengan PT lainnya.
Banyaklah untungnya."
"Kok Pak lek tau tentang PT," tanya Damar.
"Kan 10 tahun Pak lek ikut PT," ujar Pak Sueb,
"Pak lek kan bagian manajer lapangan ngurusi proyek. Jadi taulah."
"Siap Pak lek, habis ini aku pelajari cara mendirikan PT di google dan apa saja kelebihan punya PT.
Kalau begitu, Damar mau nemuin ibu dulu."
"Siaaap!"
"Assalamualaikum," sapa Damar sambil masuk dapur.
"Salaaaam," sahut Samsul,
"Lama aamaat ngobrol sama bapak."
"Damar, sudah sembuh beneran," tanya ibu Farida.
"Sudah Buk. Damar gak sakit kok di tanya sembuh."
"Hemmmm," guman Samsul,
"Ayooh buruan makan lagi sini, biar pulih tenaganya."
"Masak apa Buk?" kata Damar kemudian salim cium tangan ibu nya.
"Sop iga Daging sapi dan Bergedel juga udang, buruan makan sini bareng Samsul."
"Ibu mu sekarang istimewa Mar kalau masak.
Sop iga daging sapi, udang, krengsengan daging kambing.
Gak kayak dulu. Sayur asem ikan asin. Eseng - eseng kangkung ikan tahu tempe. Nasi goreng ikan kerupuk.
Besok makan sini lagi aja lah."
"Hehehehe kamu itu Sul, ada saja yang di omong," ujar ibu Farida,
"Semua Ini Damar yang beli, di simpan di kulkas. Ibu tinggal masak saja."
"Tinggal Dapur nya Bu lek. Dapurnya di bongkar ganti tembok. Di kasih jendela bisa lihat belakang rumah dan bisa lihat garasi.
Lantainya di keramik yang bagus Bu lek, biar terlihat mewah kayak rumahnya artis."
'Iya nanti, satu persatu. Gantian, Damar masih bikin pagar belakang rumah," jawab ibu Farida.
"Banyak uangnya Damar sekarang Bu lek, bikin yang bagus saja dapurnya."
"Ngomong ae," sahut Damar.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," sahut Ibu Farida lalu beranjak ke depan.
"Mas Damar ada Buk..?"
"Ada Mbak, ayo masuk sini, Damar lagi makan bersama Samsul."
"Iya Buk, jawab Ita dan Inna mengikuti ibu Farida.
"Mas Damar, ini ada teman sekolah nya."
"Iya Buk," jawab Damar kemudian melihat Ita dan Inna,
"Duduk sini Ita. Inna, ini ada Samsul suami mu lagi makan."
__ADS_1
"Hehehehe, sudah bisa ngelawak sekarang," ujar Inna kemudian duduk kursi meja makan.
"Ini piringnya," ujar Damar menyodorkan di hadapan Ita dan Inna,
"Ita... Duduk sini sebelah ku. Jangan dekat - dekat samsul. Dia sudah ada Inna."
"Iya Mas," sahut Ita kemudian bergeser.
"Cocok kalian kalau jadi pasangan.
Yang laki pendiam, yang ceweknya bawel," ujar Samsul sambil makan.
"Hehehehe..."
Inna tertawa pelan.
"Enak banget masakan ini," ujar Inna,
"Sop iga sapi."
"Sambelnya mantaaaap," sahut Ita.
"Ini masakan ibu nya Damar," kata Samsul.
Selesai makan, Damar dan teman - temannya menikmati kopi sambil ngobrol.
Tak terasa Adzan Magrib terdengar berkumandang.
"Damar..."
"Iya Buk, solat magrib dulu ya, ajak teman - temannya berjamaah."
"Iya Buk.
Ita, Inna, ikut solat gak," tanya Damar.
"Ikut Mas," jawab Ita,
"Biar pernah solat walau jarang - jarang."
*****
Setelah solat magrib berjamaah, Samsul, Inna dan Ita pamit untuk pulang.
Sementara Damar pergi ke RT sebelah menemui pak Ilham untuk mengurus balik nama surat kepemilikan mobil dan motor.
Selesai urusan dengan pak Ilham, Damar pun kembali pulang.
*****
Damar yang baru sampai rumah, melihat ibu nya memakai baju muslimah.
"Mau kemana buk kok cantik sekali..?"
"Iya Buk," jawab Damar kemudian masuk kamar.
Sambil menikmati secangkir kopi kapal api, Damar menyalahkan laptop di teras kamar.
Waktu terus merambat, tak terasa sudah dua jam Damar mempelajari cara mendirikan PT dan cara operasional PT.
"Hemmm, ternyata muda sekali membuat PT, dan enak kayaknya, biayanya juga tidak mahal," guman Damar lirih,
"Awal pertama aku harus membeli tanah untuk kantor. Sementara aku harus ngontrak rumah untuk kantor sementara."
***
Adzan subuh terdengar menggema dari masjid desa. Damar yang tertidur di sofa teras kamar, terbangun lalu mandi dan bersuci. Setelah itu Damar menuju tempat pasolatan yang terletak di dapur.
"Tumben Mas Damar bangun subuh tanpa di bangunin," tanya ibu Farida yang sedang masak nasi di Mejikom.
"Terbangun Buk, tidur jam 10 sore tadi.
Ibu sudah solat..?"
"Belum, habis ini kamu imami ya, ibu akan bangunkan Lesty dulu."
*****
Setelah solat subuh, Damar mengambil Hp lalu membuka Youtube untuk melihat konten cara sukses dalam berbisnis.
"Ini Mas kopinya."
"Iya Buk, makasih.
Bapak sudah bisa jalan Buk..?"
"Alhamdulillah, sudah Mas, jalannya mulai lancar," jawab ibu Farida.
"Nanti, jam 9. Aku ingin ajak ibu sama bapak ke bank Asia dan bank BRI"
"Mau apa pergi ke bank?"
"Aku ingin buatkan ibu dan bapak nomer rekening. Biar bapak uangnya buat usaha. Kalau gak ada kegiatan, tidak di bantu dan tidak di hargai, bapak bisa kabur kabur an blabuk. Bisa mabuk lagi joget sama purel."
"Masak bapak mu joget sama purel, kamu kok tau?"
"Ya taulah Buk, tetapi selama inikan Damar diam gak cerita sama ibu."
"Yaa- begitulah kebanyakan laki - laki. Lebih suka perempuan di luar dari pada melihat istrinya sendiri. Padahal istrinya itu masih cantik dan halal untuk di nikmati."
"Mengapa ibu tidak cemburu?"
"Sebenarnya ya cemburu, karena cemburu itu adalah bukti dari cinta seorang pasangan.
__ADS_1
Tetapi ibu lebih menyembunyikan rasa cemburu itu, demi keutuhan rumah tangga dan demi kebahagiaan anak - anak.
Jika cemburu bisa berakibat perpisahan atau perceraian, maka yang menjadi korban adalah anak - anak.
Betapa besar dosa orang tua yang menelantarkan anak - anaknya, akibat perceraian."
"Gitu ya Buk."
"Bapak mu itu mau kamu suruh usaha apa Mas Damar..?
Biasanya juga bapak mu kerja sopir panggilan dulu, dan kerja serabutan. Kadang kerja kuli bangunan. Kadang di suruh orang bersih bersih kebun.
Itu bapak mu keluar kamar, paling minta kopi," ujar ibu Farida.
"Farida, bikinin kopi ya?"
"Iya Mas."
"Duduk sini Pak," kata Damar,
"Sudah enakkan kakinya buat jalan?"
"Sudah Mar. Cuma kalau buat jalan cepat belum bisa."
"Emang jalan cepat mau ngapain juga?"
"Ini Mas kopinya," kata ibu Farida sambil tersenyum melihat Damar dan bapak nya ngopi bareng.
"Ibu kenapa senyum - senyum," tanya Damar, "Aneeh..!"
"Gak apa - apa, ibu seneng aja lihat kamu sama bapak mu akur. Mau ngopi bareng sambil ngobrol - ngobrol.
Sejak kamu mulai SMP kelas dua, hingga hampir lulus SMA, bapak dan anak baru bisa duduk satu meja, ngopi sambil ngobrol.
Biasanya kayak kucing sama anjing. Ribut terus."
"Sekarang gak lah Buk. Sekarang kita sekeluarga harus kompak dan rukun, gitu ya pak."
"Iya Mar bener. Semua itu memang salah bapak, yang jarang memperhatikan ibu dan anak - anak. Karena bapak sibuk cari uang terus. Yaah karena keadaan lah bapak harus sering keluar rumah siang malam.
Karena... Kalau di rumah, banyak orang yang nyari bapak untuk nagih hutang. Bapak banyak menipu orang. Makanya bapak jarang di rumah.
Semua itu, gara - gara ekonomi. Kalau bapak punya pekerjaan tetap dan punya uang, bapak pasti di rumah."
"Pak... Nanti Damar kasih uang untuk bapak.
Tanah belakang rumah itu Damar beli juga untuk bapak dan ibu. Entar... Tanah itu bapak manfaatin untuk ternak ayam kampung, ternak burung dan bikin kolam ikan gurami atau ikan nila.
Terus bapak tanami pohon pisang pohon mangga jambu dan di tanami rumput. Barang kali bapak ingin ternak kelinci Australia juga kambing.
Belajar usaha kecil kecilan dulu Pak, yang penting ada kesibukan. Lama - lama usaha ternak akan besar dan rame.
Enaknya usaha sendiri itu, bapak dan ibu bisa ibadah dengan tenang tanpa takut di marahi juragan.
Kalau kerja jadi buruh, mau ibadah solat wirid agak lama kan gak enak sama teman dan majikan."
"Tetapi bapak tidak tau caranya ternak, karena bapak belum pernah kerja di peternakan."
"Gampang pak jaman sekarang. Bapak tinggal lihat di Youtube, bagaimana caranya ternak ayam kampung, ternak ikan dll.
Jual hasil ternak juga gampang. Bapak buka Facebook, gabung grup ternak. Bapak bisa jual lewat Facebook. Sekarang jamannya online pak.
Tetapi ingat pak, kalau punya Facebook... Jangan cari Selingkuhan ya, Karena banyak rumah tangga hancur gara - gara Facebook. Cinta online."
"Hehehehe...
Kamu itu bisa saja Mas Damar kalau ngelawak," kata ibu Farida.
"Bener itu Buk. Jaman sekarang, makan enak dikit di foto jepreeet. Lalu di buat status di facebook di WA. Bentar - bentar selvi jepreeet, lalu wajah nya di pamerin di story WA di Facebook.
Kalau ada yang komen muji mesra dikit, suaminya cemburu."
"Hehehehe," ibu Farida tertawa kecil.l,
"Kalau itu namanya orang kurang kerjaan dan suka pamer Mas.
Itulah jiwa - jiwa yang tidak sadar akan siapa dirinya."
"Iya lah Mar, bapak akan belajar usaha ternak dari Youtube."
"Lah gitu Pak, kan rumah ini ada Wi-Fi nya.
Langkah awal, Bapak cari tukang kayu Pak, untuk buat kandang ayam.
Dan cari tukang untuk buat kolam ikan.
Bapak lihat dulu di Youtube. Kadang ayam yang bagus itu kayak bagaimana."
"Ini Mas pisang goreng, mumpung hangat," ujar ibu Farida sambil meletakkan piring di meja.
"Buk... Selain bantu - bantu bapak di kebun nanti, ibu bisnis online ya?
Damar kasih uang modal buat ibu."
"Bisnis apa Mas..?"
"Jual beli kosmetik, jual beli emas permata dan berlian.
Atau jual baju."
"Modalnya besar itu Mas Damar."
"Iya Buk, memang besar modalnya. Nanti Damar yang kasih untuk ibu."
__ADS_1
*Bersambung.