Makam Keramat

Makam Keramat
Kekeramatan Ibu Farida


__ADS_3

Sesampai di rumah, Damar menaruh motornya di teras, lalu masuk kamar lewat pintu samping.


Tanpa ganti baju tidur, setelah meletakkan dompet juga HP di atas meja, Damar dan Aisah langsung merebahkan badannya di atas spring bet.


Sementara... Ibu Farida tengah asyik dengan Dzikir nya di tengah malam yang sunyi.


Di saat asyik menikmati Dzikir nya... Tiba - tiba ibu Farida melihat cahaya terang dari kamar Damar anaknya,


"Cahaya apa itu, yang terang berasal dari kamar Damar anakku..?


Coba aku lihat dari dekat."


Karena penasaran... Ibu Farida membuka pintu kamar Damar pelan - pelan, lalu menuju benda di atas meja yang memancar kan sinar.


"Ini dompet nya Damar, apa isinya..?


Hemmm, ternyata dua cabe rawit berwarna merah dan hijau. Dari cabe inilah cahaya itu menyeruak..!


Aneh..?


Bagaimana bisa dua biji cabe menerangi kamar Damar, bahkan sampai ke ruang dapur..?


Lebih baik aku keluar, tidak baik masuk kamar anak yang sudah dewasa tanpa ijin."


Sambil melihat Damar dan Aisah tidur, ibu Farida berkata lirih,


"Aisah benar - benar mencintai Damar, hingga rela mengorbankan harga diri juga kehormatan seorang wanita.


Begitu juga dengan Damar anakku. Dia juga sangat mencintai Aisah, hingga rela menanggung dosa - dosa nya yang tak sadar di lakukan nya.


Semoga kalian hidup bahagia di alam dunia hingga di akhirat nanti. Dan semoga Allah mengampuni dosa - dosa yang kalian lakukan."


******


Ibu Farida kembali duduk di tempat pasolatan yang terletak di dapur,


"Kyai Mustajab...?


Kyai Mustajab..?


Kyai Mustajab..?"


"Assalamualaikum Farida," sapa ruh kyai Mustajab yang berdiri di depan ibu Farida,


"Ada apa kamu mengundang ku..?


Sudah lebih dari 10 tahun kamu sujud di tengah malam, baru kali ini kamu mengundang ku."


"Waalaikumsalam kyai.


Iya kyai...


Ada yang ingin saya tanyakan.


Mengapa dua biji cabe yang ada di dalam dompet anakku, bisa memancarkan cahaya. Hingga cahaya itu menerangi ruangan rumah.


Saya takut anak saya sirik, bersekutu dengan jin dan setan."


"Farida... Ketahuilah..!


Dua cabe yang ada di dalam dompet Damar itu adalah bentuk wujud barokah doa dari kyai Pamenang yang bergelar wali qutub.


Damar yang masih remaja beranjak dewasa, dia bisa kaya raya, cerdas, berwibawa dan tegas, itu berkat lantaran dua cabe pemberian kyai Pamenang."


"Kyai...


Mengapa kyai Pamenang bisa memberi dua cabe wujud barokah doa kepada Damar. Padahal Damar adalah anak yang ahli maksiat.


Menurut saya, Damar belum siap menerima semua itu. Damar masih anak - anak."


"Farida...


Sebab doa doa mu lah, Damar bisa dekat dengan kyai Pamenang.


10 tahun lebih dirimu sujud hanya untuk suami dan anak - anak mu.


Bahkan dirimu sendiri tidak pernah berharap apapun kepada sang ilahi.


Ingatlah..!


Sehebat apapun orang itu, sekalipun Nabi dan para wali, tidak akan bisa menembus takdir Allah yang tetapkan.


Jalan terang dan gelap itu sama tiada bedanya. Semua tergantung pada kita.


Orang yang ahli ibadah dan ahli maksiat, itu juga sama tidak ada bedanya. Yang terpenting dalam mejalani hidup itu adalah dengan ilmu.


Urip kudu di elmoni.


Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam kyai..."


***


Suara Adzan subuh terdengar menggema yang di lantuntan kan oleh orang tua yang usianya sudah senja. Hingga suaranya terdengar menyayat hati karena nadanya sudah tidak pada not nya.


Bahkan... Kadang suaranya terputus - putus. karena, nafas di usia senja ingin kembali pulang pada sang penguasa. 😢😢😢😭


Astagfirullah robbal baroyah


Astagfirullah minal khothoyah


Robbi zidni 'ilma nafi'ian


Wawafiq li 'amala maqbula.


Puji - pujian terdengar menyayat hati ibu Farida, hingga tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.


Tanpa sadar... Kyai Mustajab gurunya yang bergelar wali Matur telah menyaksikan dari alam ruhaniah.


Selesai solat kobliyah subuh. Ibu Farida melanjutkan dengan solat subuh. Setelah itu, ibu Farida melantunkan tasbih pelan - pelan,


"Subhanallah Azzallah


Subhanallah Jalallah


Subhanallah wabihamdihi


Subhanallah Hiladhim."


Setelah bertasbih 100x ibu Farida berdoa untuk suami dan anak - anaknya.


Sementara Damar yang tertidur lelap dalam pelukan Aisah, tiba - tiba terperanjat kaget hingga mengigau.

__ADS_1


Asiah yang berada di sebelahnya terbangun kemudian mengguncang - guncang kan tubuh Damar,


"Mas, bangun, bangun..!"


Damar pun seketika terbangun lalu duduk di tepi tempat tidur sambil ngos-ngosan.


"Mas, ayooh solat subuh," ajak Aisah,


"Setelah itu tidur lagi ya Biar tenang tidurnya."


"Baiklah Aisah, solat di tempat solat Dapur saja ya."


"Iya Mas."


Tanpa melihat ibunya yang sedang masak, Damar dan Aisah mengambil air wudhu lalu solat berjamaah.


"Tumben tidak di bangunkan Damar dan Aisah solat subuh berjamaah.


Biasanya bangun jam 12 siang.


Aneh kedua Anak ini," kata ibu Farida dalam hati.


Selesai solat subuh, Damar menyapa ibu nya,


"Ibu... Sayang dulu ya," kata Damar kemudian mencium pipi ibu nya kanan kiri.


"Hemmm, tumben - tumbennya anak ibu menyayangi ibu.


Sejak SMP kelas satu hingga kelas tiga SMA, baru kali ini ibu di sayang."


Hehehehe..!


Tiba - tiba kepingin menyayangi ibu," kata Damar kemudian duduk di kursi meja makan.


"Mas mau di bikini kopi," tanya Aisah.


"Iya Aisah, boleh."


"Aisah..."


"Iya Buk."


"Sekalian kamu masak sayur ya, buat Pecel.


Ada ikan di dalam kulkas. Kamu masak ya, ibu ingin tidur sebentar.


Capek badan ibu rasanya, ingin tidur - tiduran," ujar ibu Farida lalu merebahkan badannya di tempat solat.


"Ibu tidur saja di kamar," kata Damar.


"Di sini saja Mar, sebentar kok, habis ini kan pagi adik - adikmu juga sekolah."


"Iya Buk."


"Kamu bisa masak Aisah..?"


"Bisalah, kan di rumah dulu waktu SMP sering bantu ibu masak.


Di Asrama sekolah juga hampir tiap hari masak sama teman - teman sekamar," sahut Aisah,


"Ini Mas kopinya."


"Makasih ya sayang..."


Sambil membersikan sayur kangkung, gubis dan kecambah, Aisah bertanya,


"Mas, tadi tidur mengingau apa sih, kok teriak - teriak, bangun langsung ngos-ngosan."


'Mimpi di kejar kejar Harimau," jawab Damar kemudian menyeruput kopi panas,


"Kurang ajar Harimau putih itu, aku di kejar - kejar sampai lari tunggang langgang. Kemana mana ketemu Harimau itu.


Jangan - jangan kode alam..!"


'Apa maksudnya kode alam itu Mas..?"


"Kode alam nomer togel say."


"Hemmm..!


Dari SMP kok masih saja suka judi togel kamu itu Mas, Mas.


Mbok ya berhenti, kerja yang halal.


Kamu kan punya banyak uang, uang itu kamu pakai bisnis. Uangnya halal, hidup bisa berkah."


"Gitu ya Bu Ustadz..?"


"Iya Pak Ustad."


"Hehehehe..!


Masak apa, baunya sedap sekali."


"Masak pecel sama krengsengan daging sapi dan ayam goreng."


Setelah selesai masak... Aisah membuat kan susu Dancow, secangkir kopi hitam dan teh panas.


Lalu Aisah meletakkan makanan dan minuman di atas meja makan.


"Sebentar ya Mas, habis ini aku temani dirimu," kata Aisah kemudian melihat keadaan ibu yang mencurigakan.


Setelah menempelkan telapak tangan yang di balik, dan memeriksa denyut nadi, Aisah berkata,


"Ibu badannya panas sekali. Ibu ini demam dan masuk angin karena kelelahan.


Mas..!"


"Iya..."


"Belikan obat demam dan antibiotik ke apotik sekarang ya?"


"Ibu sakit..?"


"Iya, kelelahan."


"Pantesan merebahkan badan, gak kayak biasanya."


*****


"Tio... Ayo bangun Mas, bagun. Sudah jam 6 pagi. Ayo mandi terus ganti seragam sekolah dan sarapan, ok."


"Iya Kak Aisah."

__ADS_1


Aisah kemudian mengetuk kamar Lesty,


"Lesty... Lesty..!"


"Iya..."


"Ayo bangun, sudah jam 6 pagi. Mandi dan ganti seragam ya, lalu sarapan."


"Iya Kak..."


*****


Setelah merapikan dandanan Tio, Aisah mengandeng tangan Tio menuju dapur.


Ini susunya, ini piringnya. Tio kan sudah besar, belajar makan sendiri ya?"


"Iya Kak."


"Ini nasi, dan ini lauknya."


"Ibu mana Kak..?"


"Itu ibu lagi sakit demam."


"Ayooh Lesti, sarapan dulu, habis ini berangkat sekolah."


"Iya Kak."


"Ini obatnya," kata Damar.


Setelah menerima obat, Aisah berkata,


"Ibu... Ibu, bangun dulu ya."


"Iya Aisah, kepala ibu pening sekali."


"Sini Buk, duduk sini, ibu makan dulu walau sedikit lalu minum obat ya.


Ini teh hangat nya."


"Iya Aisah."


Selesai makan, Aisah menuntun ibu Farida masuk kamar.


"Kenapa ibu mu Mar," tanya Pak Yasin yang sedang duduk di teras kamar.


"Demam Pak."


Setelah merebahkan badannya, Aisah ngerok kin punggung ibu Farida, kemudian memijatnya.


"Bapak... Ayooh Aisah tuntun ke dapur, sarapan dulu Pak."


"Iya Aisah."


Selesai sarapan... Damar menuntun Bapaknya ke kamar lagi untuk istirahat.


*****


Sambil sarapan, Damar berkata dalam hati,


"Ibu pas sakit, untung ada Aisah.


Kalau gak ada Aisah... Bisa gak sekolah adik - adik ku.


Hebat juga Aisah ini, masih sangat muda, sudah mengerti dan faham akan keadaan."


"Mas...


Gimana rasanya masakan Aisah, enak gak?"


"Enaklah, kan matang."


"Hemmmm..!"


"Enak, bener enak kok."


"Mas, habis makan, antar Aisah ke pasar ya?"


"Iya...


Tumben ke pasar, mau beli apa..?"


"Mau beli pisang, ubi, tape dan sukun juga kacang. Buat camilan para tukang dan kuli.


Sekalian sama beli bumbu, minyak dll. Aku lihat stok kebutuhan dapur hampir habis."


*****


Jam 8 pagi Damar mengantar kan Aisah belanja ke pasar.


Sesampai di rumah, Aisah mulai mengupas pisang lalu menggoreng nya.


Sementara Damar ke halaman belakang rumah menemui Pak Suep Ayahnya Samsul.


"Loh, Mar, gak sekolah kamu," tanya Pak Sueb yang mengawasi anak buah nya kerja."


"Mbolos Pak lek.


Pak lek, apa Pak lek mau, kerja di daerah Rungkut membuat ruko..?"


"Milik siapa Mar?"


"Milik saya Pak lek."


"Kalau milik mu, boleh, mau saja. Kalau milik orang lain enggak ah. Kerja di kampung saja seadanya."


"Milik saya.


Nanti siang dikit kita lihat lokasi ya?"


"Siaap," sahut Pak Sueb,


"Emang berapa luas tanahnya?"


"1000 meter."


"Luas sekali itu, bisa bikin ruko ukuran 5x7 150 ruko itu.


Hemmm, banyak sekali uang mu mau bangun ruko hehehehe."


"Hutang di bank Pak lek," sahut Damar bercanda.


*Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2