Makam Keramat

Makam Keramat
Keluarga Darwin


__ADS_3

"Tuan, Nyonya, ini rumah nya Mas Damar," kata kang Mamat


"Silahkan masuk," ujar Damar yang duduk di kursi kumal sobek - sobek yang ada ruang tamu.


Pak Darwin yang notabene seorang pengusaha kaya raya dengan memiliki beberapa perusahaan, melihat lihat kondisi rumah Damar yang kotor dan terlihat kumuh.


Setelah pak Darwin dan Nyonya Heny juga kang Mamat duduk di ruang tamu, Damar memulai pembicaraan.


"Ada perlu apa datang kemari mencari ku..?"


"Begini Mas Damar...


Non Shinta sudah hampir 10 hari sakit di rumah sakit Internasional. Kondisi Non Shinta bukannya bertambah baik, malah bertambah buruk," kata kang Mamat


"Lalu... Apa urusannya dengan ku kang?"


"Begini Mas Damar," sahut ibu Heny,


"Shinta sering mengigau memanggil nama Mas Damar. Jadi... Saya sebagai Mama nya, ingin dan berharap Mas Damar mau menjenguk Shinta. Mengingat sebentar lagi ujian kelulusan sekolah."


"Begitu," kata Damar santai kemudian menyulut rokok sampoerna Mill,


"Silahkan di minum hanya ada aqua gelas saja."


"Kata Pak Darwin, aku gak boleh bertemu Shinta lagi. Kalau bertemu dengan Shinta lagi, maka akan menjadi urusan hukum," ujar Damar lagi,


"Dan... Ternyata keluarga Shinta masih butuh orang miskin dan kere kayak saya..!!!


Saya kan gak jelas orangnya..???


Bukan begitu pak Darwin..??!"


Pak Darwin diam saja mendapat pertanyaan Damar.


"Kalau saya pribadi sih, gak butuh dengan orang - orang kaya gak jelas," kata Damar santai,


"Kalau begitu, silahkan pulang, dan apa yang saya bicarakan sudah jelas. Dan kalian sebagai orang berpendidikan pasti faham."


"Mas Damar... Keluarga kami memang melakukan kesalahan, dan kami minta maaf.


Jika mas Damar mau dan berkenan menjenguk Shinta... Berapapun akan kami bayar. Asal Mas Damar bisa membuat Shinta sembuh.


Karena Shinta adalah salah satu generasi penerus bisnis keluarga Darwin."


"Hehehehe.


Kalau uang, saya juga punya banyak.


Tetapi baiklah, aku akan menjenguk Shinta sampai sembuh.


Tetapi beri saya uang bensin, uang rokok dan uang ngopi."


"Berapa yang Mas Damar butuhkan," ujar Nyonya Heny.


"Beri aku cek 100 milyar."


"Baiklah," sahut ibu Heny kemudian menulis cek di atas meja,


"Ini cek sebesar 200 milyar, aku bayar jasa tenaga Mas Damar 2x lipat."


"Terimakasih atas kerja samanya, habis ini saya akan meluncur ke rumah sakit internasional.


Kang Mamat, ini no telpon saya," kata Damar sambil menyodorkan Hp Oppo, Hp yang di khusus kan untuk bisnis saja,


"Kang Mamat WA alamat kamar rawat inap."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," ujar ibu Heny.


******


Di dalam mobil BMW... Pak Darwin uring-uringan.


"Dasar bajingan, kita di peras sama anak kemarin sore. Uang 200 milyar setara dengan gaji semua karyawan pabrik susu."


"Sudahlah Pa, uang segitu jangan di permasalahkan. Yang penting Shinta sembuh. Apalah arti uang segitu."

__ADS_1


"Bukan masalah jumlah uangnya Ma, masalahnya bajingan itu memeras kita. Emang sedikit apa uang segitu!"


"Semua itu kan salah Papa sendiri. Lagian ngapain Papa ngata - ngatain orang lain bajingan, miskin, kere, gak jelas. Apalagi Papa mengancam akan berurusan dengan hukum.


Sekarang...


Damar telah membalik omongan Papa sendiri. Itulah senjata makan tuan.


Lagian uang yang aku kasih sama Damar, uang Mama sendiri."


"Awas kalau Shinta sampai gak sembuh, apalagi sampai meninggal.


Lihat saja..!!


Belum tau siapa keluarga Darwin."


"Pa... Damar menjenguk Shinta, bukan datang untuk menyembuhkan. Dan bukan sebagai dokter.


Dokter bilang, Shinta itu sakit psiqologis mentalnya.


Jika Shinta bertemu dengan orang yang selalu di panggil nya setiap tidur, kemungkinan besar shinta akan sembuh.


Jadi... Jangan pernah menyalahkan Damar."


"Kamu membela Damar bajingan itu."


"Bukan membela Pa, hanya memberitahu mana yang benar dan mana yang salah. Damar juga bilang tadi. Sebagai orang berpendidikan, kalian pasti tau dan faham."


"Apa Papa gak lihat tadi..? Waktu Damar bicara, nadanya sangat berwibawa, setiap kalimat nya berbobot mengandung kebenaran. Sikapnya tenang dan santai. Damar juga tidak punya rasa takut atau grogi dalam menemui kita, yang notabene sebagai pengusaha besar.


Kita butuh Damar, dan Damar tidak butuh kita.


Jadi... Kita harus mengalah."


Mama juga heran kok. Damar usia segitu sudah pinter ngomong, tenang menghadapi masalah, berwibawa dan santai.


Padahal baru kelas tiga SMA.


Kang Mamat..?"


"Apa Damar itu emang pinter bicara, apa kamu tau sifatnya. Kamu kan sopirnya Shinta?"


"Setahu saya Nyonya, Damar anak pendiam. Sederhana sekali. Berangkat sekolah saja naik sepeda angin. Akhir - akhir ini sering naik motor jelek model lama."


"Apalagi," sahut Nyonya Heny.


"Anak dari keluarga miskin nyonya. Dengar - dengar sih, ibunya Damar bekerja sebagai tukang cuci baju, masak dan bersih - bersih rumah di rumah tetangga nya yang lebih kaya."


*****


"Assalaaaamualikummmm," sapa Samsul.


"Salaaam."


"Bolos lagi bolos lagi."


"Darimana kamu, kok masih pakai seragam?"


"Pulang sekolah, mampir kesini. Mobil aku parkir di pinggir jalan.


Buruan pagar itu di bongkar, biar mobil bisa masuk depan rumah mu. Kan sudah kamu beli sih, tanah Pak Muji.


Kalau gak kuat bayar tukang, biar aku yang bayari."


"Hahahaha cangkemu..!!!


Bapak mu lagi sibuk bikin pagar belakang rumah. Belum sempat bongkar pagar itu."


"Nanti aku yang cari orang suruh bongkar. Kalau kesini kok bingung parkir aku.


Kalau bongkar pagar saja banyak yang bisa.


Cak Pa'i sama cak Mul juga mau kalau di bayar 150 ribuan. Sehari juga selesai."


"Sak karepmu, terserah kamu lah.

__ADS_1


Kebetulan kamu ke sini. Tolong mobil BMW, pajero, Fortuner kamu pindah kan ke garasi belakang rumah Sul. Sekalian terios sama honda jazz nya.


Habis ini kamu ikut aku ya?"


"Siaaaap," jawab Samsul kemudian pulang.


*****


Tak lama kemudian


"Mar... Damar.


Mar... Damar."


"Apa cak Pa'i," sahut Damar yang lagi duduk di ruang tamu sambil baca google.


"Heeee..! Katanya Samsul kamu cari orang buat bongkar pagar samping jalan itu.


Barusan ketemu Samsul di warkop nya Mbak Ika.


Di cari Damar, ada kerjaan bongkar pagar."


"Gak usah kerja cak Pa'i, kita ke warung Pak Tarjo saja beli bir sama vodca," sahut Damar.


"Hahahaha Ngunue, rusaak cangkeme Samsul iku.


orang tua di prank."


"Emang sama siapa kalau bongkar pagar?"


"Sama Mul Mar, biasanya juga kerja kuli bareng."


"Ini upah nya, 300 ribu berdua sama cak Mul."


"Siaaaap..!"


"Lah es sama rokok nya..?


"Iyooo sik talah, faham faham.


Ini 200 ribu, buat makan, minum sama rokok.


Ini kasikan ke istri mu cak, buat belanja 1 juta bagi dua sama cak Mul."


"Alhamdulillah...


Rejekine anak soleh, sehari bayaran 750 ribu.


Tak doakan banyak rejeki kamu Mar, punya istri empat perempuan semua."


"Hahahaha..!


Mana cak Mul?"


"Otw katanya, baru tak WA."


"Ya sudah cak, langsung bongkar saja. Nanti sampah batu bata nya di buang di tanah belakang rumah saja ya."


"Siaaaaap."


*****


Selesai memarkir mobil milik Damar di belakang rumah, Samsul berkata,


"Mar... Ke rumah sakit internasional bawa mobil Fortuner milik mu ya, mobil ku ada di rumah e.


Mau ambil kok malas."


"Terserah kamu, kan kamu sopirnya."


"Asiah gak ikut..?"


"Lagi tidur."


"Ya sudah. Ayooo!"

__ADS_1


*Bersambung.


__ADS_2