
"Harapan tak seindah kenyataan," gumam Damar lirih. Bener juga status Shinta di story WA.
Tau dari mana mas Angga ini tentang PT Podomoro General Kontraktor?"
"Saya tau dari papan tulisan di samping cafe ini Bos.
Lalu, saya coba melamar pekerjaan. Kata manajer lapangan tadi, kantor nya ada di cafe ini."
"Mas Angga, PT saya ini belum ada kantor nya, jadi kantornya ya sementara di cafe ini. Kantor nya masih tahap pembangunan.
PT saya juga baru ada dua karyawan, Asisten dan sekretaris saja.
Gini saja, melihat nilai dan kuliah jurusan konsultan, Mas Angga aku terima kerja di PT ku. Dan aku angkat menjadi Direktur, Mau gak?"
Mendengar jawaban Damar, Angga terkejut dan tidak percaya, lalu berkata,
"Yang benar Bos..?"
"Iya benar.
Aku ingin kamu pimpin perusahaan ku. Kamu jalankan dengan baik dan benar, hingga menjadi perusahaan bonafit."
"Jabatan ini terlalu tinggi Bos, takutnya tidak mampu."
"Kamu terima saja jabatan ini. Kalau kamu gak mau, ya aku cari orang lain. Bagaimana?"
"Baiklah bos, baiklah. Saya bersedia."
"Sementara, kamu aku gaji setiap bulan sebesar 10 juta. Gimana? Dapat fasilitas mobil untuk transfortasi."
"Iya Bos, tidak apa - apa.10 juta juga sudah sangat banyak."
"Saya harap, Mas Angga bekerja yang jujur, dan sungguh - sungguh ya. Semoga di bawah kepemimpinan mas Angga, PT Podomoro akan menjadi perusahaan yang bonavit."
"Aamiin," sahut Angga.
"Mbak ini siapa namanya?"
"Beki Ramala Bos."
"Sudah pernah kerja di mana?"
"Belum pernah kerja Bos, tetapi magang di perusahaan farmasi selama setahun."
"Lusi, bagaimana lamarannya?"
"Kuliah di universitas Madakirana Jogja Bos, jurusan akutansi dengan nilai di atas rata rata, bergelar sarjana Mareketing."
"Baiklah, aku terima kerja bergabung di PT Podomoro. Kamu bekerja di bagian pemasaran. Aku angkat Mbak Beki sebagai Manajer pemasaran. Aku gaji kamu sementara 7 juta perbulan.
Bagaimana? Dapat fasilitas mobil."
"Baiklah Bos, saya bersedia."
"Mulai kerja jam 08:00 pagi pulang jam 16:00 sore.
Sekarang kamu boleh pulang."
"Baiklah bos, terimakasih atas kepercayaan," ujar Angga kemudian bersalaman dengan Damar, begitu juga dengan Beki.
*****
"Sarah..."
"Iya Mas."
"Duduk sini, sebelah ku."
"Iya," jawab Sarah kemudian duduk nempel di sebelah Damar.
"Mbak Lusi..."
"Iya Bos."
"Ada beberapa ruko yang sudah jadi dan siap pakai. Besok Mbak Lusi berkantor di sana dulu ya, sementara.
Untuk sementara listriknya nyalur listrik proyek dulu.
Besok Mbak Lusi pasang listrik dan beli sanyo. Suruh Pak Sueb untuk pasang sanyo."
"Iya Bos, siaaap!"
"Dimas kemana kok gak kelihatan?"
"Lagi ke desa Seruni waru Bos, Sejak pagi tadi.
Mungkin dia langsung pulang, karena ini sudah jam empat lebih."
"Ya sudah, kamu boleh pulang. Kamu bawa pulang pergi saja mobilnya. Biar nyaman kerjanya."
"Siaaap, Bos.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.
Sarah, ayo pulang," ajak Damar.
"Iya Mas."
__ADS_1
*****
Sesampai di rumah Sarah... Damar langsung masuk kamar, kemudian tidur.
"Sarah..."
"Iya Buk."
"Mana mas Damar?"
"Lagi tidur, katanya ngantuk. Semalam dari makam kyai Pamenang, Kurang tidur katanya.
Ada apa ibu nanyain kak Damar?"
"Itu tadi, ada asisten nya Damar ngantar motor 4 unit, HP android 3. Kulkas, kompor dua tungku, tabung elpiji dua. Pasang Wi-Fi, Beli sofa. Springbet 3. Dan banyak lagi."
"Iya, Sarah sudah tau Buk, karena, nyuruhnya di depan Sarah.
Mas Damar di suruh ibunya untuk membantu kesulitan keluarga kita."
"Kata Asistennya, kebun belakang rumah mau di pagar mutar. Katanya buat pelihara ayam dan ikan, buat sampingan."
"Iya, kak Damar emang pintar bisnis, Apalagi di tunjang dengan modal yang besar."
"Darimana Damar punya uang sebanyak itu, hingga bisa dengan muda mengeluarkan uang ratusan juta?"
"Gak tau Buk. Yang Sarah tau, mas Damar punya bisnis cafe dan PT kontraktor itu saja.
Tetapi... Mas Damar bilang, kalau hidup nya bernasib baik banyak uang, itu berkat doa dari ibu nya."
"Iya, ada benarnya.
Sejak kelas satu SMA, Farida ibu nya Damar memang rajin solat lima waktu. Kalau wirid pun suka lama.
Ibu pernah lihat, waktu bulan romadon setelah solat taraweh, Farida duduk di masjid sekolahan, dari selesai solat taraweh hingga subuh.
Farida memang ahli wirid dia."
"Bukankah ibu juga suka solat malam dan wirid nya suka lama?"
"Iya Sarah
Tetapi tidak seperti ibu nya mas Damar.
Farida itu pernah bilang, dia ngaji ke kyai Mustajab di desa Delima. Kyai Mustajab adalah ulama desa, tetapi di hormati oleh orang banyak.
Sedangkan ibu dari kecil hanya ngaji di mushollah kampung. Jadi, pengetahuan ibu soal agama kurang.
Sebenarnya yang alim itu bapak mu. Bapak mu sering puasa 40 hari, dan jarang tidur di masa mudanya.
Bapak mu juga pernah bercerita pada ibu, kalau bapak ikut ngaji torekot."
Yang Sarah tau, hanya ibu lah yang rajin solat lima waktu juga solat malam."
Sambil memasak, ibu Latifah berkata,
"Sebenarnya ibu tidaklah rajin solat malam.
Dulu, sewaktu kamu usia 10 tahun, kakek mu, ayahnya ibu, telah meninggal dunia.
Saudara ibu pada ribut rebutan warisan. Jatah warisan ibu telah di jual diam - diam sama Pak dhe mu. Hingga ibu tidak punya rumah dan ngungsi ikut bapak mu tinggal di rumah ini.
Dalam kesedihan itu... Ibu mendatangi seorang kyai sepuh kyai kampung di daerah sepanjang Sidoarjo.
Lalu, kyai itu menyuruh ibu solat tobat dan solat hajat di malam hari.
Ibu di suruh mengamalkan wirid Bismillahirrohmanirrohim 1000x setiap malam.
Dan di suruh solat dhuha setiap hari, dan membaca wirid Hasbunallah wani'mal wakil 450x.
Sejak itu, ibu belajar solat malam dan solat duha seperti yang di ajarkan kyai tersebut. Karena ibu sudah terbiasa, akhirnya hingga kini ibu masih solat malam dan solat duha.
Perasaan ibu, ketika ibu tidak solat malam atau solat duha, rasanya hati ini tidak enak, tidak nyaman dan ada rasa penyesalan.
Setelah ibu tinggal di rumah ini, kakek mu, bapak nya bapak mu meninggal dunia, rumah ini juga jadi rebutan warisan.
Tetapi benar omongan kyai sepuh itu. Kyai sepuh itu bilang begini sama ibu.
*Yang rajin solat sunnah malam dan solat duha. Ketika anak anak mu mulai besar dan beranjak dewasa, kamu sekeluarga akan hidup mulia dan berkecukupan"
"orang yang menjual hak waris mu, dan orang yang merebutkan harta warisan, kelak akan susah dan menderita hidupnya*
Dan ibu rasakan, omongan kyai sepuh itu terbukti benar. sekarang, Pak dhe mu yang menjual tanah warisan ibu diam - diam, dia bangkrut dan jatuh miskin. Buat makan sehari hari saja bingung pinjam sana sini. Anak - anaknya nakal - nakal dan berani pada orang tuanya."
"Pak dhe bangkrut itu kenapa Buk, kan dia kaya raya, mobil nya saja ada tiga. Punya toko galangan."
"Pak dhe mu di tipu orang. Setelah di tipu orang, Pak dhe mu di tipu sama wanita simpanan nya. Yang terakhir kecelakaan waktu nyopir dalam keadaan mabuk, dan menabrak motor orang. Tak lama setelah itu, Pak dhe mu bangkrut.
Kasihan anak 6 anaknya yang masih sekolah SMP, SMA dan yang kuliah."
"Kenapa buk anak - anaknya?"
"Ya putus sekolah lah, siapa yang membiayai nya, makan saja hutang sana sini.
Ibu saja, kalau gak kamu bantu kerja jaga toko, ya gak sanggup sekolahin kamu.
Sekolah jaman sekarang besar biayanya.
Setelah kamu besar dan mulai dewasa, tiba - tiba Farida sahabat ibu membantu kesulitan ekonomi keluarga kita.
__ADS_1
Lewat Damar, keadaan ekonomi keluarga kita mulai berubah menjadi baik, dan berkecukupan. Kita punya segalanya. Ibu juga punya tabungan 300 juta di kasih mas Damar, bapak mu di kasih uang 200 juta, dan semua perabotan rumah ini yang mahal - mahal, mas Damar yang membelikannya."
"Adzan magrib Buk, stop dulu ngegosip nya. Sarah mau solat dulu."
"Iya, kamu solat dulu."
*****
Setelah solat Magrib, sarah membaca Al qur'an beberapa lembar. Setelah itu, sarah masuk kamar lalu merebahkan tubuhnya di samping Damar.
"Mas Mas Damar..?"
"Iya Sarah."
"Gak solat magrib?"
"Iya Sarah, sayang dulu kalau begitu."
"Hemmm.
Iya iya..."
*****
Setelah solat magrib, Damar makan bersama dengan keluarga Sarah.
Sambil makan, Damar berkata,
"Pak Rahmat, bagaimana keadaan nya sekarang?"
"Alhamdulillah semakin membaik Nak Damar. Sudah mulai bisa berjalan walau pelan - pelan."
"Syukurlah.
Kalau sudah sembuh, bapak kerja di PT Podomoro saja.
Kan bapak biasanya kerja jadi tukang bangunan."
"Iya Nak Damar. Bapak memang kerjanya jadi tukang bangunan."
"Nanti kalau kerja di PT Podomoro, bapak jadi pengawas saja. Ngawasi pekerja proyek. Ngatur pekerja. Gak usah jadi tukang bangunan."
"Iya Nak Damar."
"Ibu Latifah...
Kalau kebun belakang rumah ini sudah di pagar keliling, ibu gak usah kerja jual sayuran di pasar lagi. Ibu pelihara ayam sama ikan gurami, ikan Nila. Atau nanam apa gitu. Buat nambah nambah penghasilan."
"Iya Nak Damar."
"Nanti biar asisten Damar yang urus semuanya."
*****
Selesai makan malam, Damar pamit untuk pergi ke makam kyai Pamenang.
"Sarah, besok aku gak jemput kamu ya, kan kamu bawah motor sendiri."
"Iya Mas, tetapi gak asik Mas, kalau gak di jemput. Gak bisa nempel sambil pegang perut mu."
"Hemmm.
Kalau kamu ingin santai ke cafe Ayu, kamu ke sana saja ya, kamu bisa minta makan dan minum."
"Iya Mas, siaap!"
"Dada...
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.
Hemmm, teman tapi mesra, pada kenyataan nya, aku merasa nyaman jika bersamanya dan mulai jatuh cinta pada kak Damar.
Awalnya kurang suka, tetapi, setelah dekat, lama- lama aku yang senang, kak Damar yang cuek."
*****
Damar menghentikan motor vario nya di depan rumah Samsul, lalu berteriak kecil,
"Suuuul..!"
"Heee, Gus Damar.
Ada apa Gus..?"
"Antar aku ke makam kyai Pamenang.
Pakai itu Fortuner yang ada di sebelah rumah mu."
"Hahahaha!
Belum aku kembalikan mobil mu, Belum sempat."
"Pakai saja, di rumah juga nganggur.
Jemput aku sekarang ya?"
"Siaaaap Gus!"
__ADS_1