Makam Keramat

Makam Keramat
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Malam minggu, di dalam diskotik Katana sangat penuh sesak pengunjung.


Semenjak kelompok 4 sekawan sekolah mengendarai mobil Honda jazz, beberapa kelompok geng Hello Kity mempunyai jalinan pertemanan lebih dekat. Bahkan 4 anggota geng Hello Kity menjalin hubungan asmara dengan kelompok 4 sekawan.


Malam itu di dalam diskotik, setelah kejadian ribut baku hantam di diskotik Dragon, 4 sekawan menjadi perhatian para anggota geng Hello Kity yang anggotanya cewek semua.


Bahkan, Sari sebagai ketua geng Hello Kity telah memberi uang tip keamanan untuk menjaga semua teman - temannya.


Malam semakin larut, para pengunjung diskotik terbuai dalam kesenangan palsu yang di hadirkan oleh nafsu yang terkurung di setiap diri manusia.


Tiba - tiba suasana diskotik sangat mencengangkan. Ita anggota geng Hello Kity roboh di lantai akibat over dosis. Begitu juga dengan Widi terjatuh tak sadarkan diri. Banyak pihak keamanan pun berdatangan untuk menolong.


Jam dua malam, semua anggota geng Hello Kity keluar menuju parkiran diskotik untuk melihat Ita dan Widi.


Melihat dua anggota geng Hello kity terbaring di samping parkiran, sebagai pelajar sekolah perawat, Aisah dengan cepat berlari mengambil air kelapa hijau di mobil yang di belinya di cafe ayu.


Setelah memeriksa denyut nadi Ita dan Widi, dengan pelan - pelan meminumkan air kelapa muda ke mulut Ita dan Widi.


"Siapkan mobilnya, bawa ke rumah sakit," seru Aisah,


"Kalau telat sedikit saja..! Tak akan tertolong."


Setelah meminum banyak air kelapa hijau. Ita dan Widi di bawa ke rumah sakit oleh pihak keamanan diskotik.


*****


"Kalian semua minumlah susu beruang sebelum mengendarai mobil," kata Aisah yang berada di kerumunan anggota geng Hello Kity,


"Atau kalian nanti mampir beli kelapa hijau untuk menghilangkan pengaruh narkoba."


Tak lama kemudian, anggota geng Hello Kity membubarkan diri. Sebagian ada yang ke rumah sakit sebagian ada yang pulang.


*****


Dalam perjalanan pulang, Damar diam membisu sesekali menghisap rokok dalam dalam.


"Mas... Mampir ke cace bentar ya?"


"Iya Aisah, kamu lapar ya?"


"Iya Mas, sekalian minum kelapa hijau."


"Iya Aisah. Berhenti di cafe ayu saja ya."


"Iya Mas," jawab Aisah sambil nyetir mobil.


Tak lama kemudian Aisah memarkir mobilnya di area parkir cafe ayu,


"Hemmm... Setengah tiga malam gini, cafe masih saja ramai."

__ADS_1


"Malam minggu Aisah, di mana - mana pasti rame," sahut Damar yang berjalan sempoyongan akibat pengaruh narkoba jenis extasi.


"Makanya jagan suka mengkonsumsi narkoba banyak - banyak," kata Aisah kemudian mengandeng tubuh Damar yang sempoyongan.


Setelah menikmati soto daging dan es kelapa hijau, tubuh Damar dan Aisah terasa segar lagi. Lalu Aisah dan Damar kembali meneruskan perjalanan pulang.


"Mas, minum lagi tuh kelapa hijaunya, aku bungkusin untuk kamu itu."


"Iya, sudah enakkan kok," jawab Damar lalu meminumnya,


"Apa Ita dan Widi akan baik - baik saja?"


"Walau denyut nadinya sangat lemah sekali, Insyallah baik - baik saja mereka.


Sudah aku kasih air kelapa hijau untuk pertolongan pertama, dan aku urut di bagian kakinya.


Nanti dokter akan memberi tabung nafas buatan dan menyuntikkan obat cair.


Paling besok sore sudah bisa pulang. Sekarang alat kedokteran sudah canggih, dan banyak obat yang bagus di temukan."


"Ya syukurlah. Kalau sampai mati di usia muda, pasti Papa Mama nya sangat terpukul sekali, dan merasa kehilangan bener. Karena Ita adalah anak satu - satunya dari keluarga kaya. Sepertinya... Ita adalah generasi penerus bisnis keluarga nya."


"Teman sekolah mu itu, kebanyakan anak - anak pengusaha kaya raya ya Mas."


"Iya Aisah, SMA pancasila adalah sekolah elit. Hanya ada 4 siswa yang miskin di sekolah itu, yaitu 4 sekawan. Lainnya anak keluarga kaya raya. Sekolah saja hampir semua siswa siswi bawah mobil sendiri."


"Ibu menjual tanah warisan nya di desa Nagrek. Dan uang itu untuk membayar pendaftaran sekolah ku sebesar 30 juta. Sisa uangnya untuk renovasi rumah. Dulu kan rumah ku dari bilik bambu, terus di tembok ruang tamu dan ruang tengah saja. Sekarang dapur itu masih bilik bambu sampai sekarang. Karena uang jual tanah warisan itu habis," ujar Damar sambil meneteskan air mata,


"Kalau ingat masa kecil ku dari SD sampai kelas 3 SMA, aku sangat sedih sekali. Makan daging saja harus menunggu hari raya idul adha. Aku harus menunggu di masjid untuk mendapatkan bagian sebungkus daging sapi untuk di makan sekeluarga.


Jika aku dan adik adikku bisa makan daging ayam, atau makanan yang layak, itu kalau ada orang selamatan, dan bapak pulang membawa nasi berkat. Aku masih ingat, nasi berkat itu pun kami makan bersama.


Atau ibu selesai kerja nyuci baju tetangga yang kaya, ibu kadang di kasih lauk pauk atau sayur yang layak."


"Sudahlah Mas, jangan menangis lagi," kata Aisah sambil mengemudikan mobil,


"Ini tisu, hapus lah air mata mu.


Semoga kita kedepannya bisa hidup lebih baik dari masa lalu. Kita hadapi semua kesulitan bersama - sama."


"Iya Aisah, terimakasih atas kehadiran mu di sisi ku.


Sekarang Alhamdulillah, aku punya uang, dan bisa menyenangkan kedua orang tuaku juga adik - adikku.


Bahkan, banyak teman 6 teman ku sekolah sikapnya sudah berubah kepada ku."


"Sudah sampai Mas, ayo keluar."


"Kita lewat samping saja Aisah, langsung ke kamar ku."

__ADS_1


"Iya Mas, enak sekarang gak usah mengetuk pintu."


Setelah masuk kamar, Damar menyalahkan kipas angin lalu merebahkab badannya.


"Mas..?"


"Iya Aisah..."


"Sini aku lepasin sepatunya, ganti baju dulu kok langsung mau tidur," kata Aisah sambil melepaskan sepatu Damar,


"Ini kemarin aku belikan baju tidur, biar enak tidurnya."


"Iya..."


Karena sudah beberapa kali tidur bersama Damar, Aisah tidak segan lagi membuka baju di depan Damar, dan dengan santai Aisah memakai baju tidur,


"Mas...? Lihat apa..! Lihat Aisah ganti baju?"


"Hehehehe iya. Bagus dan putih tubuh mu."


"Apa Mas kepinggin menikmati tubuh ku..? Apa Mas gak ingin bercinta sama Aisah..?"


"Walau aku inggin, tetapi tidak untuk saat ini Aisah, kecuali setelah kita menikah dan resmi menjadi suami istri."


"Baguslah kalau begitu, berarti Mas tau artinya kalau berzina dosa besar.


Tetapi jarang banget lelaki seperti mu, karena kecantikan dan kenikmatan tubuh wanita itu bisa merusak segala nya.


Ayo tidur, sini aku peluk."


"Hemmm... Ngomong dosa besar, tetapi nawarin bercinta," gumam Damar.


"Kalau aku sih nurut saja sama imamnya," jawab Aisah tersenyum.


Jam 12 siang Aisah terbangun, lalu mandi di kamar mandi yang ada di kamar.


Setelah ganti baju, Aisah pergi menuju dapur, dan mendapati ibu Farida sedang membaca Al qur'an.


Melihat Aisah di dapur, ibu Farida menghentikan ngajinya.


"Aisah... Sudah bagun Nak?"


"Iya Buk, ini mau bikin kopi untuk Mas Damar."


"Iya Aisah, kamu ajak Damar makan siang ya, ibu sudah masak kare ayam."


"Iya Buk."


*Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2