Makam Keramat

Makam Keramat
Senggol kanan senggol kiri


__ADS_3

"Kamu pasti punya alasan, mengapa kamu mau menjadi teman tapi mesra dengan mas Damar," tanya Shinta.


"Shinta...


Damar adalah kakak kelas ku di SMP. Hampir 4 tahun aku dan mas Damar tidak pernah bertemu.


Malam pada pertemuan tak sengaja, berlanjut mas Damar menjemput ku sepulang sekolah.


Saat aku bertemu mas Damar, kondisi ekonomi keluarga hancur, ayah ku sakit parah dan hati ibu ku murung tak bahagia.


Di situlah mas Damar membantu pengobatan ayah ku hingga sembuh. Membantu ekonomi keluarga ku hingga keluar ku berkecukupan.


Aku melihat kembali ayah dan ibu ku tersenyum bahagia. Adik ku juga hidup senang dan bahagia.


Di situlah aku mau menerima pertemanan dengan mas damar. Hingga pertemanan ku berjalan dengan mas Damar tidak wajar, Teman tapi mesra.


Itulah alasannya."


"Berarti... Kamu terpaksa berteman dengan mas Damar. Kamu merasa punya hutang budi kebaikan?"


"Iya Shinta, awalnya begitu.


Tetapi, berjalan seringnya waktu, aku ikhlas. Apalagi ibuku dan ibu nya mas Damar adalah bersahabat sejak sekolah SMA."


"Iya iya Sarah, perjalanan pertemanan yang rumit.


Lalu, mengapa lambat laun kamu bisa mencintai mas Damar..?


Padahal Damar sendiri tidak mencintai mu."


"Pertama, Mas Damar orang yang dermawan dan baik hati.


Kedua,


Dia berbakti pada orang tuanya


Ketiga, dia mau solat walau bolong bolong, dan dia mau ngaji ziarah ke makam wali - wali.


Yang selanjutnya..


Damar tidak mau berhubungan badan dengan ku, dia tidak mau menyetubuhi ku, walau aku dua kali tidur di sampingnya.


Kelakuan lelaki model kayak mas Damar ini, itu sangat langkah sekali.


Di situlah aku berfikir, bawah Mas Damar lelaki yang pantas untuk ku.


Tetapi... Keinginan itu hanyalah mimpi. Pada kenyataan nya, mas Damar tidak mencintai ku."


"Hemmm, enak sekali duduk duduk sambil makan onde - onde," ujar Damar kemudian duduk diantara Shinta dan Sarah.


"Alangkah senangnya ya, kalau punya istri dua, cantik - cantik lagi hahahaha!" canda Damar.


"Enaklah, kanan kiri senggol hahaha," sahut Shinta.


"Ayoo balik," ajak Damar.


"Ok, lagian sudah sore juga," ujar Sarah,


"Mas, duduk belakang ya, sama aku dan Shinta. Kamu duduk di tengah."


"Ok, siaappp. Kanan kiri senggol bos!"


"Eh, kita selvi dulu ya, foto buat kenang - kenangan."


"Ok, Shinta."


*****


Mobil Fortuner meluncur dengan kecepatan sedang menuju arah jembatan suramadu.


"Kang Mamat, cari makan dulu ya," kata Damar.


"Baiklah Tuan.


Di arah sini hanya ada satu rumah makan nasi bebek. Dan itu antriannya bisa satu jam."


"Kang Mamat, kita makan di cafe Fafa milik ku saja."


"Baiklah Non."


*****


Setiba di cafe Fafa, Damar dan Shinta juga Sarah menikmati makan bersama.


Dingdong Dingdong..!


Hp Shinta berbunyi. Tanda sambungan telpon WA,


"Hemmm Mama telpon.


Iya Ma..?"


"Shinta, kosmetik Marvin ada yang memalsukan..!


Pasar saham bergejolak, dan nilai jual saham PT Marvin anjlok.


Perusahaan Mama PT Marvin mengalami kerugian dalam jumlah yang sangat besar.


Semua pemegang saham, besok menarik dana nya tiba - tiba. Terpaksa besok Mama pulang dan akan mengadakan rapat umum pemegang saham."


"Lalu... Apa hubungannya sama Shinta. Shinta gak pernah di libatkan dalam bisnis keluarga."


"Ada hubungan nya dengan mu. Ingat, jika pemegang saham mengambil dananya, Mama harus menyiapkan uang sebesar 3,5 triliun. Sedang kan Mama tidak punya uang sebesar itu. Apalagi PT Marvis mempunyai tanggungan hutang besar di bank."


"Jual saja PT Marvis itu Ma, ngapain pusing - pusing," sahut Shinta,


"Atau minta uang sama Papa."

__ADS_1


"Kamu itu asal saja kalau ngomong. Papa mu susah payah mendirikan PT Marvis, kok di jual.


Papa mu saat ini tidak punya uang banyak. Karena hampir semua uang Papa mu di investasi kan ke perusahaan baja milik temannya."


"Ma, PT Inka farmasi milik Papa kan perusahaan besar, jual saja saham nya, nanti uangnya di pakai menalangi masalah di PT Marvsi."


"Saham apa'an..?


Papa mu saja pegang 60%. Di jual apa Papa mu mau jadi kuli ha. Kita ini owner, pemilik perusahaan."


"Sebentar Ma, sebentar tak minum dulu, ini Shinta lagi makan.


Mama tenang ya, jangan panik.


Begini ya Ma, masalah PT Marvis itu, apa hubungan nya dengan Shinta. Karena Shinta tidak pernah di libatkan dengan bisnis keluarga. Karena, Papa dan Mama gak percaya sama Shinta.


Papa dan Mama beralasan, Shinta masih sekolah dan kurang dewasa.


Sedangkan temen - temen Shinta kelas dua SMA saja, sudah di libatkan dalam bisnis keluarga nya. Mereka mempelajari anak - anak nya di usia muda.


Contoh nya Ita, anak Ibu Maya owner Metta grup. Dia sudah bermain saham Ma. Bahkan saham PT Marvis 20%, di kuasai Ita kan. Ita juga memiliki beberapa perusahaan sendiri. Padahal ita masih kelas dua SMA."


"Iya Shinta, Mama minta maaf ya. Maksud Mama kalau kamu sudah kuliah nanti, Mama akan libatkan kamu dalam bisnis keluarga."


"Gak mau, Shinta sudah membangun jaringan bisnis sendiri. Shinta ingin mandiri dan bisa mempunyai usaha atas nama Shinta sendiri, tanpa campur tangan Papa sama Mama."


"Shinta... Tolong bantu Mama ya. Bilangin sama Damar, ibu mau melepas sahan PT Marvis 10% persen. Damar bilang sama Mama, mau beli jika di jual."


"Ma, uang dari mana mas Damar itu..?


Dia Anak kampung. Siswa paling miskin di SMA pancasila. Mama Papa kan pernah ke rumah nya..?


10% itu 800 milyar lebih, apa pakai uang gambar kuntilanak apa?"


"Tetapi Damar bilang ke Mama, mau beli saham 20% jika di jual."


"Aneh mama ini, ngomong benci, gak suka mas Damar, sekarang minta tolong mas Damar.


Ini Mama ngomong sendiri calon menantu Mama.


Mas, mama ingin bicara masalah saham PT Marvis."


"Assalamualaikum Tante."


"Waalaikumsalam.


Mas Damar... Ibu berubah pikiran dan mau melepas saham pt Marvis 10%.


Seperti yang kamu bilang waktu di rumah sakit, jika Tante mau melepas saham itu, maka mas Damar akan membelinya."


Setelah menghisap rokok sampoerna mild, Damar berkata,


"Baiklah Tante, saya akan menepati janji ku. Saya mau membeli saham PT Marvis, jika Tante menjual saham itu 20%. Kalau 10%, saya batalkan."


"Mas Damar... Jika Tante lepas saham 20%, maka, khawatir nya Tante tidak punya kuasa penuh di perusahaan.


"Itu masalah Tante, bukan masalah saya. Kecuali saya menantu Tante, maka akan saya bantu keuangan PT Marvis tanpa jual beli saham."


"Mas Damar, Tante harap Jagalah ucapan nya. Dan jangan merasa punya uang."


"Bukan kah selama ini Om dan Tante selalu menghina dan merendahkan saya..?


Baiklah Tante, aku tunggu kabar selanjutnya.


Kalau ok, Tante hubungi asisten saya.


Shinta, ini hp mu."


"Bagaimana Ma..?"


"Tunggu nanti malam, Mama akan mengubungi pemegang saham. Kalau gagal, malam ini Mama akan kasih keputusan pada Damar si berengsek itu!"


"Ya kan ya kan, Mama mulai lagi bicaranya gitu."


*****


Adzab magrib berkumandang.


Sarah memegang lengan Damar lalu berkata,


"Solat dulu Mas, biar hidup menjadi berkah. Tadi gak solat asar gitu."


"Iya Sarah, jangan lama - lama kalau pegang ya, nanti aku ketagihan kamu pegang."


"Hemmm.


Ayo jalan."


*****


Setelah solat magrib berjamaah, Damar dan Shinta juga Sarah kembali ke meja cafe.


Permisi, sapa seorang pramusaji,


"Non Shinta, ada seseorang mencari pekerjaan tambahan katanya. Pak manajer sudah pulang tadi."


"Jam segini cari pekerjaan?"


"Biasanya mahasiswa," sahut Sarah.


"Tadi Mbak nya makan minum disini Non, selesai bayar menanyakan manajer dan menanyakan pekerjaan."


"Mbak, tolong suruh kesini orang nya," sahut Damar.


"Baikan Tuan."


Tak lama kemudian,

__ADS_1


"Ini Nona Shinta pemilik cafe ini Mbak, silahkan bicara sendiri. Permisi."


"Silahkan duduk Mbak cantik," ujar Damar.


"Hemm, kalau lihat yang bening, langsung sat set gercep," ujar Shinta tersenyum,


"Kok malam malam cari kerjaan Mbak?"


"Iya Non, sore saya kuliah jam 3.'


"Kuliah dimana?"


"Di universitas Surabaya."


"Jurusan apa dan semester berapa?"


"Jurusan Administrasi, semester dua.'


"Umur 19 tahun berarti."


"Iya Non."


"Kalau disini gak ada lowongan Mbak, sudah penuh.


Mas,, di tempat mu apa masih membutuhkan bagian Administrasi..?"


"Asli Surabaya apa dari luar kota," tanya Damar.


"Asli dari kota Blitar Tuan. Di sini kos dekat kampus."


"Mau kerja tetapi sip malam terus..?"


"Mau Tuan, justru saya mencari kerja sampingan yang malam hari. Siang saya bisa kuliah."


"Siap nama nya?"


"Intan Farara."


"Baiklah, kamu kerja jadi asisten pribadi ku ya, aku butuh asisten buat malam hari."


"Baiklah Tuan.


Terimakasih banyak atas kepercayaan nya.


Mulai kapan saya mulai bekerja?"


"Mulai malam ini, bisa gak?"


"Bisa Tuan."


"Besok Mbak Intan bikin nomer rekening baru atas nama PT Podomoro ya, di bank Asia. Untuk operasional."


"Baiklah Tuan."


"Apa bisa nyetir mobil..?"


"Bisa Tuan, tetapi tidak punya sim."


"Punya sepeda motor di kos kossan?"


"Tidak Tuan, biasa jalan kaki dan naik angkutan umum."


"Shinta mau pulang apa ikut Mas Damar?"


"Mau kemana Kak?"


"Mau ke makam kyai Pamenang."


"Sarah ikut gak..?"


"Terserah Mas Damar, di ajak apa enggak."


"Ikut saja ya, sama aku."


"Ok."


"Iya ikut saja dua duanya, biar aku bisa senggol kanan senggol kiri," sahut Damar.


"Senggol bos," ujar Shinta.


"Tetapi, beli laptop sama Hp dulu ya, kan masih sore ini.


Intan, ayo duduk jok depan sama sopir."


"Baiklah Tuan."


*****


"Tuan, kita ke cafe ayu dulu untuk ganti sopir, sip malam giliran kang No."


"Iya kang, mampir saja," jawab Damar.


Setelah ganti sopir, mobil pun meluncur ke toko galeri Hp dan laptop.


Setelah dari galeri hp, Sarah berkata,


"Mas mampir ke rumah Sarah bentar ya, aku ingin jenguk ibu dulu."


"iya Sarah.


Cakno ke desa Seruni waru ya, nanti aku tunjukkan arah nya."


"Baiklah Tuan."


*****


Sesampai di halaman depan rumah Sarah, Damar dan Sarah juga Shinta turun dan berjalan menuju rumah.

__ADS_1


__ADS_2