
"Kalau kamu gak ngurusin PT Marvis, kalau kamu membiarkan PT Marvis bangkrut, apa kamu gak kasihan sama karyawan bawah.
Mereka punya anak istri yang harus di nafkahi, yang di sekolah kan. Mereka itu mengharapkan uang gajian dari PT Marvsi Mas.
Jangan karena mas dendam sama Papa Mama ku, lalu kamu melukai hati karyawan mu.
Kalau gak mau ngurusin PT Marvis, ya di jual saja," ujar Shinta.
"Bener juga yang kamu omongin barusan," kata Damar.
Mobil berhenti di pintu masuk perusahaan. Seorang satpam kemudian mendekat mobil.
Selamat siang Pak, bisa tunjukkan identitas nya.
"Pak, ini owner PT Marvis. Presiden direktur PT Marvis," kata Shinta.
"Maaf Nona, ini peraturan perusahaan. Karena mobil ini belum terdaftar di layar monitor security.
Sejak pergantian presiden direktur, kami security dan semua pejabat perusahaan belum pernah melihat presiden direktur yang baru."
"Baiklah Mas, tunggu sebentar ya," kata Damar kemudian turun dari mobil, dan di ikuti oleh Shinta.
Setelah menyulut rokok, Damar menelpon pak Haris Nasution direktur PT Marvis sambil berjalan menuju pos satpam, lalu duduk di bangku di bawah pohon.
"Selamat siang Tuan Damar, ada yang bisa saya bantu..?"
"Direktur Haris...
Aku sekarang ada di pos satpam depan perusahaan PT Marvis.
Apakah pak Haris bisa kemari sekarang juga?"
"Bisa bisa Tuan, sekarang juga saya kesana," jawab Direktur Haris buru - buru turun dari lantai tiga.
"Gawat, pasti security-nya tidak mengenal Tuan Damar pemilik perusahaan ini," gumam pak Haris buru buru berjalan menuruni tangga. Bisa bisa di marahi aku ini"
*****
"Selamat siang Tuan Damar, selamat siang juga Nyonya. Silahkan masuk ke dalam gedung," kata direktur Haris sambil ngos-ngosan.
"Di sini saja pak Haris, silahkan duduk."
"Baiklah Tuan."
"Tolong peraturan keamanan keluar masuk mobil, di rubah dengan yang lebih efisien dan sederhana," perintah Damar,
"Kedua....
pagar perusahaan dan tembok gedung, semua di cat ulang biar bersih dan terlihat bagus. Kamu hubungi PT Podomoro General kontraktor untuk mengerjakan nya.
Ketiga.
Gaji bulanan karyawan di naikkan. Upah gaji security-nya juga di naikkan.
Ke empat
Setiap 6 bulan sekali, adakan rekreasi bagi karyawan dan keluarga nya. Kendaraan di tanggung perusahaan. Kasih uang buat makan dan jajan 250 ribu per keluarga
Kelima.
Buat iklan produk kosmetik Marvis besar - besaran di facebook instagram Twitter dan tik tok juga YouTube."
"Tuan...
Keuangan perusahaan sedang kacau sekarang. Perusahaan bisa membayar gaji karyawan saja itu sudah bagus, bagaiman bisa kita menaikkan upah bulanan pada karyawan yang jumlahnya hampir 2 ribu.
Jika kita mengecat ulang semua pagar dan tembok perusahaan, kita akan mengeluarkan biaya yang besar tuan. Lebih baik uangnya di pakai operasional bahan baku kosmetik.
Keputusan untuk libur rekreasi sekeluarga itu juga gak masuk akal Tuan.
Uang simpanan perusahaan di bank hanya cukup 4 bulan untuk kebutuhan operasional.
Bagaiman bisa perusahaan memberi uang cuma cuma sebesar 250 ribu per kepala."
Setelah menyulut rokok, Damar berkata,
"Apakah pak Haris ingin perusahaan ini maju dan berkembang pesat..?
Dan menjadi perusahaan besar dengan omset di atas standat?!"
"Iya Tuan."
"Kalau begitu jalankan keputusan ku," ujar Damar,
"Kalau keputusan ku tidak kamu jalankan, bulan depan, aku akan menganti direktur yang baru.
Direktur Haris...
Sering seringlah makan di kantin pabrik ini. Dan sering - seringlah ngopi di warkop pinggir jalan.
Aku permisi dulu, selamat siang," kata Damar kemudian masuk mobil lalu di susul Shinta.
*****
"Bagaimana ini," gumam direktur Haris,
"Teryata Tuan Damar tidak bisa mengurus perusahaan dengan baik dan benar.
Keputusan yang ngawur sekali.
Beginilah kalau perusahaan di pimpin oleh anak remaja. Sebentar saja bisa gulung tikar PT Marvis ini.
Tetapi...
Aku ini hanya bawahan CEO Damar. Apapun keputusan nya, aku harus nurut.
Lebih baik aku hubungi ibu Heny sebagai pemegang saham kedua."
*****
"Mas...."
"Hemmm.
Apa, minta di kelonin?"
"Kamu itu bagaimana sih, bikin keputusan ngawur saja. Tanpa mengadakan metting dengan dewan komisaris dan jajaran direksi.
Aku dengar semua keputusan mu itu salah Mas, salah semua. Perusahaan bukannya tambah untung, malah malah, tambah buntung. Bisa kolep dan gulung tikar PT Marvis itu.
Lihat, sebentar lagi Mama akan telpon kalau dengar keputusan mu barusan.
Karena, direktur Haris akan memberitahu Mama sebagai dewan komisaris pemengang saham.
Apapun keputusan mu, direktur Haris pasti menjalankan keputusan yang kamu buat barusan, apapun itu resikonya.
Karena direktur Haris adalah bawahan mu.
Mama ku pun tidak bisa menentang keputusan mu. Karena kamu pemegang saham mayoritas dan sebagai presiden direktur."
"Sayang dulu..?"
"Gak ah, di ajak ngomong serius malah minta sayang. Gak malu apa sama kang Mamat.
__ADS_1
Nanti saja di rumah puas - puasin sayangnya."
"Hemmm..."
"Ham hem ham hem saja!"
"Kamu kok pinter ngomongin tentang perusahaan..?"
"Ya pinterlah, aku ini sejak kelas satu SMA sudah belajar bisnis. Aku juga punya usaha cafe 4 cabang dan toko roti. Jadi aku tau ilmu manajemen bisnis.
Kalau kamu kan barusan saja belajar bisnis. Bukannya belajar dari usaha kecil, malah langsung usaha besar.
Belum faham ilmu manajemen bisnis, langsung mendirikan PT kontraktor, beli cafe, beli saham dan menjadi presiden direktur. Memiliki Asisten, dua lagi."
"Iya iya, percaya, kamu lebih pinter masalah bisnis dari pada aku."
"Sudah sampai Tuan," ujar kang Mamat lalu menghentikan mobilnya di tempat parkir cafe Ayu.
"Shinta, habis solat asar, aku mau ke kota sidoarjo, mau ngaji. Pulang nya besok pagi. Kamu pulang istirahat ya, besok sekolah."
"Hemm, baiklah kalau begitu," jawab Shinta kemudian memeluk Damar dan mencium pipinya,
"Jaga diri baik - baik Mas, jaga kesehatan, makan yang cukup, istirahat yang cukup."
"Iya Shinta.
Masalah saham Mama mu, katakan, aku siap membelinya."
"Ok, nanti aku sampaikan. Dada..."
"Dada," balas Damar, sambil menatap mobil BMW meninggalkan halaman cafe.
Sambil duduk damar berkata dalam hati
"Maaf ya Shinta, aku membohongi mu. Saat ini, aku tidak ingin bersama mu.
Kamu terlalu membanggakan pengetahuan mu tetang ilmu bisnis manajemen. Walau sebenarnya ilmu bisnis manajemen mu dangkal.
Walau seandainya dirimu lebih pintar dari ku, tidak seharusnya kamu meremehkan ku.
Walau tiga tahun kamu belajar ilmu manajemen bisnis, nyatanya usaha cafe mu tidak berkembang. Urusan pinjam uang 2 M di bank saja di tolak.
Sedangkan aku..?
Walau baru belajar usaha, Alhamdulillah semua pegawai dan karyawan ku makmur sejahtera.
Mereka kerja berdasarkan cinta dan kasih sayang. Mereka bekerja dengan senang hati.
Aku memang orang baru terjun di dunia bisnis. Walau aku awalnya bodoh... Tetapi aku belajar siang malam. Otak ku bekerja tanpa mengenal waktu.
Sekarang aku mulai mengerti dan mengerti. Perlahan-lahan mulai faham. Apa artis sebuah kerajaan bisnis. Kerja dan usaha hanyalah alat semata. Tujuan dari akhir sebuah bisnis adalah bersyukur dan menikmati segala pemberianNya. Saling berbagi kepada sesama.
Lucu Shinta itu, dengan muda- nya menyalahkan keputusan ku dalam masalah PT Marvis.
Walau keputusan ku terlihat arogan dan ngawur..?
Itu keputusan yang keluar tiba - tiba dalam hatiku.
Yaaa... Di lihat saja kedepannya, apakah keputusan ku salah, atau benar?"
"Bos," sapa dewi pramusaji pegawai cafe.
"Eh iya Dewi."
"Melamun saja bos..?
Ada pacarnya bos baru datang di cafe, dia duduk di depan sambil menghadap laptop."
Aku belum punya pacar, aku masih jomblo."
"Nona Sarah bos.
Masak Nona Sarah secantik itu bukan pacarnya bos?"
"Bukan Dewi, dia adalah teman ku."
"Tetapi, saya lihat, kalau duduk di samping bos, kelihatan mesra."
"Iya, teman tapi mesra."
"Jadikan kekasih saja bos. Non Sarah pendiam, cantik, ****, putih bersih dan rajin belajar.
Rambut nya sekarang agak merah bos, habis di semir.
Rok mini nya dan kaos nya warnanya serasi bos."
"Hemmm...
Jadi kemana mana gosip nya.
Iyaaa, nanti aku jadikan kekasih, kalau sarah mau sama aku.
Eh, dewi. Kamu umur berapa?"
"19 tahun bos, baru lulus tahun kemarin."
"Sudah punya pacar belum?"
"Sudah lah bos, masak cantik cantik gini gak laku..!?"
"Hahahaha!
Cantik apaan, wajah pas passan gitu bilang cantik.
Gak Kuliah saja kamu..?"
"Gak bos, lulus kuliah juga nikah. Kalau sudah nikah, buat apa ijazah nya. Jadi istri paling muter saja sekitar dapur dan kasur!"
"Hahahaha..!
Betah kamu kerja di cafe sini ikut aku?"
"Betah sekali ikut kerja bos Damar. Bos damar orang nya dermawan, sabar dan baik hati.
Upah kerja di naikin.
Oh iya bos, terimakasih di kasih kredit motor dengan cicilan gak masuk akal, cuma 200 ribu perbulan. Alhamdulillah... Saya ambil scupy bos.
Semoga bos Damar banyak rejekinya, tambah kaya raya, punya istri empat kayak kyai di kampung ku!"
"Kalau Nona Sarah ke cafe sini, apa dia bayar?"
"Tidak bos, gratis. semua pegawai cafe ini hormat sama Non Sarah.
Pernah Non Sarah memaksa bayar pesanannya di kasir, tetapi gak mau menerima sampai ketakutan."
"Kamu tau, apa saja yang di pesan?"
$Non Sarah biasanya minum air cleo dingin, kalau gak oren jus dan teh madu jeruk nipis.
Non Sarah sering pesan ikan bakar gurami. Kadang udang goreng sambel trasi. Sama sop iga daging sapi."
"Ya sudah, bos kamu lapar sekarang.
__ADS_1
Buatkan!"
"Kopi Luwak ya bos?"
"Lah... Pinter!
Sama teh madu jeruk nipis, cleo dingin dua.
Makannya, gurami bakar dua, sama udang sambel trasi."
"Baiklah Bos.
Apa perlu dewi panggilkan Nona Sarah?"
"Boleh, ini aku pesan dua porsi karena aku ingin makan bareng Sarah."
"Baiklah bos."
****
"Assalamualaikum," sapa Sarah kemudian salim dan mencium pipi Damar.
"Waalaikumsalam.
Duduklah."
"Iya Kak."
"Tumben hampir sore ke cafe ayu?"
"Iya kak, habis kursus bahasa mandarin dan bahasa inggris. Habis ini, setelah Asar kursus mengemudi mobil."
"Loooh, kursus nyetir mobil..?!"
"Iya Kak, sudah dapat seminggu lebih."
"Sekarang apa sudah bisa nyetir mobil kamu..?"
"Bisa Kak, cuma belum lancar. Mungkin seminggu lagi pasti lancar."
"Apa kamu punya mobil kok kursus mengemudi..?"
"Punya Kak.
Dimas asisten mu telah membelikan bapak dan ibu mobil Avanza. Dan membeli mobil Honda jazz atas nama ku sendiri.
Aku ucapkan terimakasih ya Kak, atas kebaikan mu."
"Sama sama Sarah.
Apa Dimas sering ke rumah mu?"
"Iya, hampir tiap hari.
Dia sibuk sekali. Ngurusin pembuatan pagar di kebun belakang rumah. Sudah selesai, dia bikin kandang ayam sama bapak, juga bikin kolam untuk ternak ikan gurami juga lele.
Sekarang, sedang membongkar rumah depan."
"Lah terus, kalau di bongkar rumah nya, bapak ibu tinggal di mana?"
"Sementara tinggal di bedeng di kebun belakang.
Kata Dimas, sebulan akan selesai rumah nya."
"Cepat ya, pengerjaan pagar kebun dan rumah."
"Cepat Kak, di kerjakan oleh manajer lapangan dari PT Podomoro kontraktor. Ada sekitar 50 pekerja. Kata Dimas, kamu yang memerintah kan agar cepat selesai dalam dua bulan.
Kampung Seruni jadi heboh gara - gara rumah ku di bangun.
Tadi Dimas gak kelihatan di rumah waktu aku berangkat kursus."
"Permisi mas bos, ini pesananya," kata Lilik.
"Sarah, ayo kita makan dulu, habis ini solat asar.
Sudah jam tiga lebih."
"Baik lah Kak."
Selesai makan dan solat asar, Damar kembali duduk di kursi semula.
Sarah... Kamu berangkat kursus mengemudi biar di antar oleh kang Mamat.
Mana kontak motor mu, habis ini aku suruh karyawan cafe untuk mengantar motor mu ke rumah mu."
"Baiklah Kak."
"Kamu telpon ibu mu, pamit, bilang aku ajak jalan - jalan, nginap, pulang besok."
"Iya Kak."
"Sudah, berangkat sana, sudah hampir jam 4."
"Salim dulu.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
*****
"Alhamdulillah...
Pesan ibu ku untuk membantu kesulitan sahabatnya, ibu Latifah sekeluarga sudah aku laksanakan dan hampir selesai.
Semoga ibu ku dan ibu Latifah sekeluarga bahagia, hidup berkecukupan," ujar Damar lirih sambil menghadap laptop.
Tingtung Tingtung!
Hp khusus bisnis milik Damar berbunyi tanda ada telpon WA masuk.
"Ibu Heny Mama nya Shinta?
"Iya Tante..?"
"Mas Damar, dengan kebijakan yang tadi kamu buat, Tante tambah yakin ingin menjual semua saham Tante sama kamu. Tadi Shinta memberi tahu kalau kamu mau membelinya."
"Memang, kenapa keputusan yang saya buat untuk PT Marvis..?"
"Ya salah besar lah, bisa mengakibatkan perusahaan hancur dan bangkrut gulung tikar.
Bagaimana masalah saham ini."
"Kalau tante mau, aku beli 3 T. Kalau gak mau, silahkan Tante jual di pasar saham."
"Kalau 3 Triliun, tante rugi 850 M dong. Apa gak bisa harga normal. Kan kamu teman baiknya Shinta..?"
"Tawaran ku segitu itu sudah bagus Tante. Aku beli harga segitu, itu karena aku melihat Shinta sebagai teman baikku. Dari pada di jual ke pasar saham, Tante bisa rugi 1,8 T. Karena harga saham PT Marvis hancur saat ini."
"Baiklah, besok jam 9-10 pagi, kita ketemu di kantor notaris Beny Abaham."
"Baiklah Tante, besok Asisten ku yang akan mengurus nya."
__ADS_1