Makam Keramat

Makam Keramat
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

"Berapa biaya membuat satu ruko dua lantai Pak lek," tanya Damar.


"Kalau ukuran 5x7, sekarang kan bahan bangunan pada naik, sekitar 300 juta.


Jadi 300 juta x 150 ruko."


Setelah menghitung dengan kalkulator Hp, Pak Sueb berkata,


"Ketemu 45 milyar.


Damar, mau aku borong atau harian lepas?"


"Terserah Pak lek sajalah, yang faham ilmu bangunan."


"Kalau begitu harian lepas saja ya, kan gak di target kapan harus selesai nya."


"Iya Pak lek, sejadi jadinya saja. Pokoknya tiap hari harus di kerjakan.


Besok selasa Damar akan suruh orang Notaris untuk ngurus ijin membangun.


Habis ini Pak lek kirim nomer rekening ya, Pak lek atur semua belanja bahan bangunan dan pekerja juga gaji para tukang dan kuli.


Nanti aku transfer 10 milyar dulu."


"Kamu ini kok tiba - tiba pinter dan ngerti bisnis Mar," tanya Pak sueb,


"Skala besar lagi, 45 milyar. Biasanya juga tiap malam mabuk sama Samsul anak ku."


"Yaah ngerti dari membaca di google Pak lek, membaca di Facebook grub bisnis ekonomi dan lihat Youtube.


Bagaiman cara ijin usaha, cara ijin membangun gedung atau ruko. Cara investasi dan yang penting cara hutang di bank hahahahaha!


Misal Beli tanah harganya 10 milyar, kita hutang di bank 50 milyar dengan jaminan tanah seharga 10 milyar. Lalu gak usah di cicil Pak lek.


Tanah harga 10 milyar ke sita bank kita untung 40 milyar."


"Hemmm, itu namanya penipuan Mar. Bisa aja kamu ngelawak.


Emang bisa gitu..? Apa gak di survei dulu."


"Pakai jasa orang dalam pak lek, cukup bayar 1 milyar saja, Hahahahaha!"


"Hemmmm."


"Pak Sueb...


Ini kopinya, ini ada pisang goreng, ubi goreng dan ubi rebus, juga kacang godok. Ini es Nutrisari."


"Iya Aisah, makasih.


Apa kalian akan menikah setelah lulus SMA, kok kalian lengket banget?"


"Gak Pak lek," sahut Aisah,


"Aisah mau kuliah dulu."


"Pinter juga kamu Mar pilih perempuan cantik dan pinter.


Tetapi ingat, masih sekolah, jangan sampai hamil duluan."


"Iya Pak lek."


"Kayak Samsul itu, Ibu nya marah - marah terus kalau pulang bawah pacarnya. Soalnya anaknya orang. Kalau hamil bapak ibu nya yang repot."


"Inna itu Pak lek, pacarnya Samsul."


"Iya, inna."


"Aisah...


Denger - denger gosip di kampung, kamu beneran di usir sama Ayah ibu mu," tanya Pak Sueb.


"Iya Pak lek.


Makanya saya tinggal sementara di rumah Mas Damar."


"Kamu anak yang ketiga ya?"


"Iya Pak lek. Yang bungsu Boby masih kelas tiga SMP."

__ADS_1


"Yang sabar saja kamu Aisah...


Emang Ayah mu dari masih muda dulu orangnya keras. Orang kampung juga pada tau watak Ayah mu.


Kan Ayah mu dulu teman sekolah SD Pak lek.


Sedikit yang aku tau sejarah Elsa ayah mu, Waktu muda nya juga sering mabuk kayak Damar dan Samsul.


Pak lek juga dulu suka mabuk waktu muda.


Anak sidoarjo Surabaya... Hampir semua anak muda - muda nya pernah mabuk dan narkoba.


Tanya orang orang tua yang sepantaran sama bapak mu, pasti mereka tau.


Hanya saja, Almarhum Kakek mu mengirim ke pondok pesantren setelah lulus Aliyah. Jadi... Ayah mu pintar ngaji. sekarang menjadi salah satu pengurus masjid, sering jadi imam masjid hingga di panggil ustad.


Yaah memang ayah mu pinter ngaji sih, pinter baca kitab. Di kampung sini, kalau ada acara tahlil atau hajatan, pak Elsa selalu di minta jadi imam nya."


"Gitu ya Pak lek, baru tau Aisah."


"Ya iyalah, pasti gak di kasih tau masa kelam orang tuanya," ujar Pak Sueb,


"Biar anak - anaknya gak tiru.


Orang tua pasti ingin anak 6 anaknya menjadi anak baik - baik dan alim.


Tetapi... Memaksa kehendak anak anak itu juga gak baik. Akibatnya anak berontak seperti diri mu Aisah."


"Hehehehe tau saja Pak lek ini."


"Ya taulah, kan sudah jadi orang tua, sudah punya cucu.


Kamu kan di paksa sama orang tua mu, harus belajar lah, harus ngaji lah harus solat, harus pakai jilbab lah, pulang jam segini lah.


Akhirnya anak dengan sangat terpaksa dan dengan rasa takut, lalu mengikuti aturan kehendak orang tuanya.


Anak gak stres, gak gila sudah untung - untungan.


Lihat Samsul anakku, aku biarkan saja, mau apa saja. Asal jangan mencuri dan main narkoba saja.


Besar - besar yaah buktinya mau solat, mau ziarah kubur, mau ngaji. Sama Ibu nya juga sayang sering kasih uang jika dapat job nyopir orang.


Karena di beri kebebasan.


Tuh Damar, malah sering pulang pagi, mabuk hampir tiap hari, kalau sama Samsul sering main judi online.


Sekarang sudah bertanggung jawab, sayang sama adik - adiknya juga bapak ibu nya.


Waktu kecil. Damar itu kasihan Aisah. Keluarga paling miskin di Desa Agung ini. Hampir tiap malam tidur sama Samsul di rumah, makan bareng Samsul.


Saku sekolah dulu sering Pak lek kasih untuk beli jajan sama es."


"Kopi kopi kopi..!" Teriak beberapa tukang.


"Ini Dul, ambil sini," kata Pak Sueb.


"Pak lek, pintu pagar kapan itu di pasang," tanya Damar.


"Habis ini juga di pasang.


Garasi mobil nanti siang juga selesai, kan hanya pakai atap Asbes saja. Tinggal nempel dan di paku. Lantainya paving juga sudah selesai."


"Ya sudah Pak lek, nanti sore biar bisa memasukkan mobil."


"Sudah jam 11 Pak lek, ayooh lihat lokasi tanahnya."


"Siaaaap siaap!


Ajak tuh Samsul bisnis, biar ada kegiatan."


"Sudah Pak lek, Samsul mau buka cafe katanya."


"Gitu ya..?


Uang dari mana itu Samsul."


"Di modalin Inna pacarnya," jawab Damar bohong,


"Kan pacarnya anak pengusaha spearpat mobil dan motor."

__ADS_1


"Oh gitu ya."


"Denger - denger Samsul di kasih uang 250 milyar sama Inna."


"Yang bener kamu Mar," sahut Pak Sueb kaget.


"Gak percaya Pak lek ini. Coba Pak lek tanya nanti sama Samsul."


******


Aisah membawa segelas susu hangat untuk ibu Farida, lalu mengetuk pintu kamar.


"Masuk saja Aisah," sahut Pak Yasin.


"Iya Pak, sahut Aisah kemudian masuk kamar.


Ibu... Ayo duduk, ini susu hangat, di minum dulu ya."


"Iya Aisah."


Sambil memeriksa suhu dan denyut nadi, Aisah berkata,


'Sudah dingin badannya. Nanti sore juga sembuh Buk."


"Iya Aisah. Tinggal kepala nya pening."


"Iya buk, itu di sebabkan darah rendah. Habis ini ibu makan menu krengsengan daging sapi, lalu minum obat.


Sebentar buk Aisah ambilkan makan dulu."


"Assalamualaikum," ujar Lesty.


"Waalaikumsalam."


"Loh ibu sakit beneran nih," tanya Lesty kemudian masuk kamar ibu nya,


"Sini kak Aisah, biar Lesti yang menyuapkan makan ibu dan bapak.


Kak Aisah solat dulu ya, terus istirahat."


"Iya Lesti. Jangan lupa kasih obat ibu. Ini obatnya."


"Iya Kak, siaaap!"


*****


Setelah melihat tanah di rungkut, Damar dan Pak Sueb kembali pulang.


Di teras rumah yang kotor tak ber keramik, Damar dan Pak Sueb duduk menikmati secangkir kopi buatan Lesty.


"Kalau membuat kos kos san 4x8 m, satu baris itu bisa membuat 200 kamar.


Kamu bisa buat kos kos san 800 kamar," kata Pak Sueb.


"Berapa biayanya Pak lek?"


"Semua bangunan, ruko kos kos san sama gudang, siapkan saja dana 100 milyar saja dulu. Karena setiap kos kos san ada dapur, kamar mandi dan meteran listrik sendiri. Pengerjaan nya rumit."


"Assalamualaikum..."


'Waalaikumsalam," jawab Damar,


"Loh kang Mamat."


"Iya Mas Damar. Tadi mencari mas Damar di sekolahan, kata temen Mas Damar, Mas Damar nya bolos."


"Silahkan duduk sini kang, ngopi dulu rokok rokok an dulu."


"Maaf Mas Damar, saya kesini bersama Tuan Darwin dan Nyonya Heny."


"Ajak masuk saja kang Mamat," kata Damar santai,


"Pak lek, silahkan istirahat, kan jam istirahat sekarang.


Makan dulu di belakang."


"Siaaaap, siap Bos."


*Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2