
Setelah solat Asar, HP Damar berdering, setelah terhubung,
"Iya Ita..?"
"Kak, katanya mau ngajak jalan - jalan naik motor malam mingguan?"
"Mau gak ziarah ke makam kyai Pamenang."
"Boleh, gak apa - apa. Dari pada di kamar sendirian.
Ita juga bosan main di mall, diskotik. Sekarang Kakak jemput aku ya, di rumah, ini sudah hampir jam lima. "
"Siaaap," jawab Damar kemudian menuju parkiran.
Tak lama kemudian Damar melaju menembus keramean kota.
Setelah memasuki perumahan elit Garden The Lux, motor Damar berhenti di pinggir jalan depan rumah Ita.
"Selamat sore Tuan Damar," sapa pak Edi sopir.
"Sore juga pak Edi."
"Silahkan masuk Tuan."
"Terimakasih Pak," balas Damar kemudian menuju pintu masuk,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab ibu Maya,
"Masuk Mas Damar.
Ita, ada Damar kemari."
"Iya Ma, Ita yang suruh kak Damar kemari."
"Hemmm, pakai baju lengan panjang, pakai kerudung, tambah cantik saja anak Mama ini."
"Mau ke ziarah Ma, ke makam kyai Pemenang sama kak Damar. Naik motor."
"Oooo, iya iya.
Kok gak bawah mobil saja, di antar pak Edi."
"Gak asik Maaa, sekali - kali naik motor.
Ita berangkat dulu ya Ma, salim ," kata Ita kemudian cium tangan Mama nya.
"Alhamdulillah... Sekarang bisa cium tangan Mama nya.
Hati - hati ya.
Mas Damar, hati - hati ya, jangan ngebut."
"Iya Tante, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Damar dan Ita meluncur keluar perumahan. Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang, Damar pun membelokkan motornya di masjid pinggir jalan.
"Kak, aku gak bawah mukena," ujar Ita.
"Di lemari masjid banyak mukena, ayo solat dulu," kata Damar.
"Ok, ok."
******
Selesai solat, Damar dan Ita melanjutkan perjalanan ke arah kota Sidoarjo.
"Haduuuuh, macet," ujar Damar
Ita, apa kamu kenal sama Sabrina anggota grup Hello Kity?"
"Kenal baik, tetapi tidak begitu akab. Sabrina akrabnya dengan Sari ketua grup Hello Kity.
Ada apa, Naksir ya?"
"Enggak, aku naksir nya sama kamu."
"Hahahahaha!
Bercanda aja lu Kak. Aku gak naksir sama Kakak."
"Apa benar Sabrina itu punya perusahaan sendiri?"
"Emang kenapa Kak?"
"Gak apa - apa, tanya saja. Aku dengar gosip saja."
"Hemmm.
Iya benar. Sabrina anak seorang konglomerat asal Semarang. Bapak nya Semarang, Mama nya asli Surabaya.
__ADS_1
Sabrina itu dua bersaudara. Kakak nya juga perempuan. Kabarnya, kakak nya kuliah di kota london inggris.
Kalau Sabrina punya perusahaan sendiri, bisa jadi di kasih sama Papa Mama nya.
Ita juga punya perusahaan sendiri. Beberapa perusahaan Papa ku, atas nama ku. Jadi, punya perusahaan dapat warisan kak.
Tidak kaya kamu. Kamu kan mandiri, usaha sendiri. Kalau aku dan Sabrina kan dapat warisan."
"Kalau punya perusahaan sendiri, berarti kamu punya uang triliunan dong," ujar Damar.
"Iya Kak, tetapi uang itu ada di bank central Hongkong. Saat aku umur 17 nanti, aku bisa mengunakan uang itu.
Kalau sekarang, aku punya uang pribadi Kak. Dari aku jual beli saham dan bisnis kosmetik."
"Sejak kapan kamu main saham?"
"Sejak kelas 3 SMP."
"Kamu tau, bagaimana sifat Sabrina?"
"Kakak naksir ya sama Sabrina. Kok nanya nya Sabrina terus?"
"Hanya tanya saja."
"Alasan!
Sabrina itu sama kayak aku. Kerjanya foya - foya. Senang dugem, senang konsumsi narkoba.
Sabrina suka jalan - jalan dan belanja barang mewah. Gak pelit dia."
"Kok kamu tau banyak tentang Sabrina?"
"Ya taulah Kak, kan Papa nya Sabrina teman bisnis Papa ku."
"Sudah sampai, ayo turun, nempel saja kayak perangko," ujar Damar.
"Iyaaaa."
"Ayo solat isak dulu, Mumpung jam delapan, jama'ah di samping teras masjid."
*****
Setelah solat isak dan solat sunnah malam, Damar dan Ita ziarah di makam kyai Pamenang.
Selesai ziarah, Damar dan Ita duduk di warung kopi yang tak jauh dari makam.
"Ita, gak lapar?"
"Lapar Kak, belum makan malam.
"Kamu mau sate?"
"Iya bolehlah, lama gak makan sate.
Aku pesan sate ayam 20 tusuk sama lontong."
"Pak, masih banyak sate nya?"
"Masih banyak Mas."
"Buatkan sate ayam 20 tusuk ya Pak, sama lontong. Sate kambing 10 tusuk sama lontong juga.
Saya duduk di warung lesehan tenda biru itu ya Pak."
"Iya Mas."
******
"Pak, minta kopi satu sama milo hangat satu. Aqua dingin dua."
"Iya Mbak, sebentar ya."
"Ita, kamu terlihat cantik sekali pake kerudung," goda Damar.
"Hehehehe, bisa aja lu kak. Kayak nya masih cantikkan Shinta."
"Gimana kabarnya Shinta," tanya Damar.
"Baik - baik aja. Dia sekarang jadi pendiam sejak ninggalin kamu. Gak kayak biasanya Kalau pas lagi kumpul - kumpul.
Dia pernah nanya ke aku tentang Kakak."
"Nanya apa?"
"Hai hai, langsung semangat kalau denger nama Shinta.
Shinta nanya gini waktu kumpul - kumpul di cafe pas malam minggu.
Ita, apa kamu sekarang menjalin hubungan asmara sama Damar. Soalnya, aku lihat status mu di WA mesra banget makan malam di makam wali.
Tak jawab, Damar bukan pacar ku, Damar hanya teman tetapi mesra. Eeee dia ketawa."
"Ini mbak minum nya."
__ADS_1
"Makasih Pak."
"Misih, ini Mas Bos, satenya."
"Pak, tinggal berapa tusuk satenya?"
"Ada sekitar 200 san Mas."
"Berapa harga 10 tusuk nya?"
"Ayam 10 ribu Mas. Kalau kambing 15 ribu."
"Bungkus semua ya pak. Di bungkus 10 tusuk 10 tusuk, nasinya di pisah ya pak.
Setelah selesai, bapak kasih kan sama orang orang yang duduk duduk di masjid itu."
"Siap Mas. Siap."
Sambil makan sate, ita bertanya,
"Kak, mengapa pesan sate 20 bungkus kok di berikan pada orang orang di masjid?"
"Sedekah, berbagi pada sesama."
"Oh iya iya.
Kamu sama kayak Papa ku. Suka sedekah. Setelah kenal dengan Gus Farid, Papa sering sedekah dan berbagi sama orang yang gak punya."
"Ya itu pesan ibu ku, juga pesan kyai Ndaru.
kalau berbuat baik akan mendapatkan kebaikan.
Kedua, mumpung kak Damar ini lagi punya uang."
"Pak, nasi pecelnya masih ada," tanya Damar.
"Masih banyak Mas, masih sore soalnya."
"Berapa pak sebungkus nya?"
"10 ribu ikan peyek sama telur dadar. 12 ribu ikan ayam."
"Bungkus 100 ya Pak, bumbu nya di pisah. Tolong di taruh di masjid ya Pak.
Sama air aqua juga 100 botol."
"Iya Mas."
*****
Tak lama kemudian.
"Mas, satenya sudah di bagi ke orang - orang di masjid."
"Iya Pak, terimakasih. Berapa semuanya?"
"Sama yang di makan disini, jadi 395 mas."
"Ini Pak uangnya."
"Terimakasih banyak Mas."
"Sama - sama Pak."
*****
Tak terasa sudah jam 12 malam. Setelah membayar 100 bungkus nasi, Damar dan Ita meluncur ke arah Surabaya.
"Kak, pulang ya?"
"Iya, sudah jam 12, entar Mama mu cemas kamu gak pulang."
"Gak bakal cemas, kan udah pamit.
Iya pulang aja, Ita juga sudah mulai ngantuk."
Malam terus merambat, motor Damar melaju dengan kencang menyibak dingin disertai serbuk embun yang beterbangan.
Hampir satu jam kemudian, motor pun berhenti di depan rumah Ita.
"Ita, bangun, dah sampai."
"Iya," jawab Ita,
"Hati - hati ya Kak, sampai jumpa lagi.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
*****
Sesampai di rumah, Damar langsung masuk kamar lalu merebahkan badan. Tak seberapa lama, Damar tertidur lelap.
__ADS_1
*Bersambung.