
Bel pulang sekolah berbunyi tanda pulang, para siswa siswi berhamburan keluar kelas menuju parkiran.
Damar baru saja sampai di parkiran, mendapat telpon dari orang tak di kenal,
"Iya, siapa ini..?"
"Aku Firda Lolita dari SMA San Fransisco."
"Oh anggota Hello kity ya, temen nya Sari?"
"Iya.
Kamu dimana..?"
"Di parkiran sekolah. Ada apa?"
"Ini aku di depan sekolah mu, mau ajak kamu jalan sambil makan siang, sekalian kenalan."
"Hemmm, tetapi, sekarang aku ada janji sama orang."
"Apa gak bisa di tunda..?"
"Bisa sih, entar sore. Tetapi, baiklah. Tunggu sebentar, aku mau nitipin kontak motor ke satpam dulu."
"Ok, di tunggu."
*****
Setelah menitipkan kontak, Damar berjalan menuju pintu gerbang keluar.
"Mas," sapa Shinta.
"Hai Shinta."
"Langsung pulang kamu..?"
'Iya tadi mau ke cafe, tetapi di telpon Firda Lolita."
"Firda anak San Fransisco..?"
"Iya, diajak jalan, katanya ngajak makan siang."
"Oh ya sudah kalau gitu, aku cabut dulu."
"Iya Shinta."
"Damar..." panggil Sari,
"Lama amat sih dirimu, lelet banget."
"Ketemu mantan, dibajak ngobrol bentar."
"Ayo masuk mobil, duduk belakang," seru Sari kemudian duduk di jok depan.
"Hai Firda, salam kenal ya."
"Sama - sama Damar. Duduk sini."
"Eriiik, kamu yang nyetir?"
"Iya Bos.
Nemenin yayang ini, ngajak jalan - jalan ke Moll J-strit plaza."
"Hemmm, baguslah, sekali - kali aku jalan - jalan ke moll, biar pernah."
"Hemmm, lagak mu Mar, bilang biar pernah. Seminggu yang lalu kamu jalan sama Jessica ke Tunjungan plaza."
"Fortuner siapa ini bagus bener," tanya Damar
"Lihat stiker di kaca belakang, ada tulisannya 4 sekawan."
"Nih punya Erik. Sekarang 4 sekawan punya Honda jazz semuanya. Dan sekarang juga punya Fortuner semuanya. Jadi bos semua," jawab Sari,
"Tau duit dari mana kok tiba - tiba kaya raya?"
"Jadi bos apa Mas Damar ini," tanya Firda.
"Ah, kok percaya omongan nya Sari, gosip itu," jawab Damar.
"Kamu itu Mar, dari dulu juga gitu aja. Suka Merendah kan diri. Punya honda jazz punya Fortuner, sekolah masih saja nyamar pakai motor jelek," ujar Sari,
"Firda... Damar ini bos, owner PT Podomoro General kontraktor. Dia juga owner, pemilik PT Marvis kosmetik."
"Ini aku pakai produk kosmetik Marvis," kata Firda,
"Bagus produk nya.
Beneran mas Damar owner PT Marvis kosmetik?"
"Iya, aku baru saja mengakusisi PT Marvis kosmetik.
__ADS_1
Pt Marvis lagi sakit sekarang, butuh dana segar."
"Aku baca berita bisnis tadi pagi, pemalsuan produk kosmetik Marvis telah tertangkap semua. Otak di balik pemalsuan itu orang Singapura. Motifnya hanya persaingan bisnis.
Produk palsu yang itu beredar di Singapura, Malaysia, Taiwan, Jakarta, Bandung Semarang.
Untuk wilayah lainnya aman, asli semua produk nya," kata Firda.
"Ya syukurlah kalau tertangkap," ujar Damar,
"Semua produk di tarik dari pasaran, dan di ganti produk baru. Sampai kacau keuangan PT Marvis. Rugi besar aku hampir bangkrut."
"Kalau butuh dana segar, bilang aja Mar, sama Firda, hehehehe," sahut Sari.
"Tetapi...
Kalau pelaku pemalsuan dah ketangkap polisi, dan produk di tarik semua dan di ganti yang baru. Di sertai iklan besar besaran, sebentar lagi juga normal kok perusahaan mu," kata Firda,
"Dulu Mama ku juga gitu, kasusnya sama kayak PT Marvis."
"Semoga saja," sahut Damar.
Tingtung Tingtung..!
Hp Damar berbunyi.
"Iya Dimas, bilang ke direktur Angga, nanti sore kalau gak habis magrib, aku ke cafe.
Sekarang aku lagi sibuk kencan.
Oh iya, motor ku kamu ambil di parkiran sekolah ya, kontak nya ada di pos satpam."
"Baiklah Bos."
"Hahahahaha!" Erik terpingkal - pingkal.
"Ngapain lu Rik, ketawa," tanya Damar.
"Kamu ituloh, ngomong sibuk kencan. Emang kencan sama siapa..?"
"Lah ini, sama Firda."
"Hehehehe," Firda tertawa kecil,
"Emang kencan aku sama mas Damar."
"Dah nyampek," ujar Erik kemudian menghentikan mobilnya di parkiran lantai bawah,
"Kemana dulu kita ini?"
"Ok," jawab Erik kemudian mengandeng tangan Sari.
"Damar... (angan lupa, gandeng tuh Firda, awas hilang," sahut Sari.
"Sudah faham," sahut Damar,
"Ayo Firda."
*****
Di lantai satu, Damar dan teman - temannya melihat lihat motor dan mobil keluaran terbaru.
Melihat bet baju seragam sekolah SMA Pancasila dan San fransisco, manajer penjualan kendaraan langsung turun tangan menawarkan produk.
"Mas Damar, gak kepingin mobil atau motor model baru - baru buat sekolah," tanya Firda.
"Gak Fir, terimakasih.
Lagian aku sudah punya motor dan mobil."
"Aku belikan buat kenang - kenangan. Gak apa apa punya mobil lebih dari satu, buat koleksi."
"Tu Mar, di beliin kamu, Mau saja. Gak bakal habis uang Firda di makan 100 keturunan," ujar Sari.
"Aku bisa beli sendiri Sari. Aku juga punya uang," jawab Damar.
"Pak, aku mau motor scupy yang ini atas nama Damar Ahmad. Ini orang nya," kata Firda,
"Usahakan surat suratnya secepatnya.
Kamu terima ya mas Damar, kenang kenangan dari aku."
"Iya iya," Kata Damar kemudian melihat - lihat mobil Rolls Royce. Sambil memegang dan meraba body mobil, seorang sales cantik berkata,
"Silhakan Mas, ini mobil Rolls Royce tipe Phantom dengan harga 20 M."
"Gak bisa kurang mbak, 2 M gitu," jawab Damar.
"Hehehehe, Firda tertawa pelan,
"Kamu suka mobil Rolls Royce ini Mas? Kalau suka, aku beli untuk mu."
__ADS_1
"Gak gak. Aku hanya lihat - lihat. Aku bisa beli sendiri kok," sahut Damar.
"Maaar, bungkus saja," ujar Sari,
"Mumpung Firda belum berubah pikiran."
"Bungkas bungkus saja kamu itu," sahut Damar,
"Emang murah apa harga 20 M.
Lagian aku gak bisa nyetir."
"Ayo kita jalan," ajak Erik,
"Damar itu kalau kamu tawari gak bakal mau, sekalipun kamu paksa.
Kalau mau ngasih Damar itu, langsung belikan, kirim ke rumah nya.
Baru dia mau. Aku ini sahabat nya, jadi tau sifat Damar.
Damar gak pernah beli mobil mahal, kalau pikiran nya Damar, mending uangnya buat usaha."
"Sari," panggil Damar.
"Apa pak kyai?"
"Pak kyai, masih jomblo di panggil pak.
Panggil Mas."
"Hehehehe.
Ada Mas yayang?"
"Kamu carikan baju cewek seukuran mu ya."
"Hai hai hai.
Untuk siapa lagi ini, pacar baru?"
"Aku mau kasih hadiah ulang tahun, tetapi anaknya tinggi kurusnya kayak kamu persis," kata Damar.
"Ok siaaap!
Yang harga murah sedang atau mahal nie?"
"Yang bagus yang mahal. Sekalian kamu bayari."
"Hehehehe.
Enaak nya aku yang bayarin.
Tetapi, ok lah. Sekali kali."
"Beli berapa Mas Damar sayang?"
"Beli kaos 5 biji, baju lengan pendek 5, lengan panjang 5. Celana pendek 5 panjang 5. Rok mini 5. baju muslim 5. Daleman yang banyak ya."
"Bentar bentar.
Emang mau di jual lagi apa," tanya Sari.
"Hahahaha!" Damar terbahak bahak,
"Di pakai sendiri kok di jual."
"Gila kamu Mar, beli baju cewek banyak banget, pakai daleman lagi," sahut Sari.
"Bentar aku telpon adiknya nomer sepatu dan sandalnya berapa."
"Mas Damar, kamu tanya juga berapa nomer ukuran lingkaran jari manis dan jari tengah.
Nanti aku yang beli permatanya."
"Siaap Firda."
Di dalam pertokoan galeri baju cap mahal, Damar dan teman - temannya tertawa riang dan reme saling canda, karena memilih baju untuk hadiah ulang tahun untuk cewek.
"Udah udah! Ayoo keluar kita ke toko permata
Sari, biar aku yang bayar," kata Damar,
"Tadi aku bercanda kok nyuruh kamu bayar."
"Gak usah, aku saja yang bayar."
"Ok lah."
******
Selesai membeli perhiasan berlian satu set dengan harga 1,2 M, Damar dan teman temannya makan siang di cafe lantai bawah.
__ADS_1
"Firda, Mahal amat beli perhiasannya," tanya Damar.
"Murah Mas. Kan itu perhiasan berlian satu set, Bukan satu biji. Lagian biar nama mu di kenang oleh yang menerima hadiah."