Makam Keramat

Makam Keramat
Rumah sakit internasional


__ADS_3

"Bagaimana kabarnya Non Shinta," tanya Damar.


"Kabar terakhir yang saya tau, Non Shinta masuk rumah sakit Mas, akibat overdosis. Kata Bibik pembantu keluar Darwin," jawab Kang Mamat.


"Ooh, gitu.


Kang Mamat kerja ikut aku saja, mau gak?


"Mau Mas Damar, yang penting kerja."


"Kerja mulai sekarang ya?"


"Iya Mas Damar, gak apa - apa."


"Apa Kang Mamat bisa nyetir mobil BMW?"


"Bisa Mas Damar. Segala mobil mewah saya bisa."


"Tugas pertama, kang Mamat ambil mobil BMW di rumah ku ya, mobil nya ada di tempat parkiran di kebun belakang rumah.


Kontak nya ada di meja kamar ku. Bilang saja sama ibu. Habis ini aku WA ibu ku."


"Baiklah Mas Damar."


"Naik gojek aja ya kang, motor kang Mamat biar di sini. Taruh di parkiran khusus karyawan cafe."


"Baiklah Mas Damar."


*****


"Kak, punya mobil berapa kok nyuruh ambil mobil BMW," tanya Sarah


"Gak punya mobil sebenarnya. Itu mobil BMW dan Fortuner itu di kasih sama teman.


Aku gak pernah makai mobil, karena aku gak bisa nyetir Sarah.


Sekarang ada sopir, ya di pakai saja."


"Enak sekali kamu Kak, di kasih mobil, gak usah beli."


"Buat apa juga aku beli mobil, pakai motor saja sudah cukup bahagia. Kecuali aku ini kerja jadi direktur atau manajer, baru pantas punya mobil untuk aktivitas.


Di kasih sebab teman ingin balas budi kebaikan. Aku membantu nya, lalu teman ku berterimakasih dengan memberi mobil itu."


"Selamat sore Mas Damar..."


"Selamat sore juga," jawab Damar yang terkejut melihat ibu Heny mama nya Shinta.


Silahkan duduk.


"Terimakasih," kata Ibu Heny.


"Ada perlu apa Tante menemui ku?"


"Tante mau minta tolong sekali lagi kepada mu."


"Masalah apa ya Tante?"


"Mas Damar... Shinta anakku sekarang sedang sekarat di rumah sakit internasional. Shinta mengalami koma akibat overdosis.


Walau Shinta dapat melihat dan mendengar, dia tidak punya semangat untuk sembuh."


"Lalu, apa hubungan nya dengan saya Tante..?"


"Menurut dokter psikologis, Shinta bisa sembuh jika ada orang spesial yang menemani Shinta, dan bisa diajak komunikasi.


Apalagi, dalam waktu dekat ini Shinta harus mengikuti ujian kelulusan sekolah.


Dulu kamu telah menyembuhkan Shinta dalam waktu beberapa jam.


Dan sekarang Tante percaya, bahwa kamu, sekarang juga bisa menyembuhkan Shinta. Karena Tante tau, bahwa kamu adalah lelaki spesial di hati Shinta."


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" vtanya Damar.


"Saya berharap Mas Damar mau menjenguk Shinta. Karena Shinta adalah calon penerus bisnis keluarga kami.


Tante akan bayar Mas Damar 100 milyar."


"Sebentar, aku mau WA dulu."


*


"Maaf Tante, aku tidak tertarik dengan nilai uang 100 milyar. Karena saya juga punya uang."


"Lalu apa yang Mas Damar inginkan?"


"Aku ingin saham PT Marvis 20%, bagaimana..?


Kalau Tante bersedia, aku akan menjenguk Shinta sekarang juga."


Mendengar permintaan Damar... Ibu Heny sangat terkejut dan sangat emosi.


"Kamu jangan keterlaluan Damar, jangan mentang - mentang kamu berada di atas angin, kamu seenaknya meminta saham PT Marvis!"


"Jangan pernah membentak calon suami ku, sahut Sarah, 😠


"Kalau kamu tidak setuju, ya sudah, pergilah. Kami orang pebisnis, bukan pengemis.


Ayo Mas, kita pergi!"


Di bentak Sarah tiba - tiba... Ibu Heni terkejut sekali, lalu diam seketika.


"Tunggu, jangan pergi dulu, Tante belum selesai bicara.


Baiklah, akan aku berikan 20% saham PT Marvis demi Shinta anakku.


Dengan hilangnya 20% saham PT Marvis yang kamu ambil paksa, kamu sama dengan perlahan - lahan menghancurkan bisnis keluarga kami."


"Tante...


Aku tidak ada urusan dengan bisnis keluarga Tante. Mau bangkrut mau hancur itu urusan keluarga Tante.


Kalau Tante sepakat dengan syarat ku, silahkan tanda tangan di atas materai notaris hari ini juga.


Kalau tidak mau ya gak apa - apa. Dan silahkan Tante pergi."

__ADS_1


"Baiklah, aku setuju dengan satu syarat, jika Shinta sembuh, aku berikan saham PT Marvis 20%. Jika tidak sembuh, aku beri kompensasi jasa mu 100 milyar."


"Ok, sekarang kita tunggu orang notaris untuk mengurus surat perjanjian hitam di atas putih. Jika ada yang melanggar kesepakatan, maka hukum pengadilan akan berlaku."


Setelah menelpon pak Beny orang notaris, tak seberapa lama team pak Beny datang, dan mengadakan pembicaraan, setelah itu Damar dan ibu Heny dan orang notaris melakukan tanda tangan di atas materai.


Setelah ibu Heny pergi, Damar memanggil kang Mamat yang duduk menunggu.


"Kang Mamat, sini..."


"Iya Mas, ini pesanan yang Mas Damar WA ibu tadi. Air barokah."


"Terimakasih kang, sekarang, antar aku ke rumah sakit internasional."


"Baiklah."


"Sarah... Kamu pulang istirahat ya. Jangan malam - malam di jalan."


"Iya Kak."


****


Mobil BMW warna hitam milik Damar, meluncur ke arah tengah kota Surabaya menuju rumah sakit internasional.


Tak lama kemudian kang Mamat menghentikan mobilnya di depan pintu masuk lorong ruang inap.


Setelah Damar keluar, mobil pun langsung memutar mencari tempat parkir.


Setelah membaca alamat yang di tuliskan ibu Heni, dengan mudah Damar menemukan alamat kamar ruang inap VIP.


"Mas Damar," sapa ibu Heni,


"Ini kamar no 15 tempat Shinta di rawat."


"Terimakasih Tante," jawab Damar kemudian masuk kamar ruang inap.


Melihat wajah Damar... Shinta terkejut seketika duduk bersila,


"Kamu Mas..?"


"Iya Shinta," jawab Damar mendekat lalu memeluk Shinta pelan & pelan, kemudian mencium pipi Shinta,


"Sehat gini, kok kata Mama mu kamu sakit parah, sekarat overdosis.


Lihat aku langsung duduk dan menyapa ku?"


'Sebenarnya sudah sembuh tiga hari yang lalu, hanya saja aku pura - pura sakit."


"Katanya Mama mu kamu overdosis..?"


"Gak Mas, cuma ngeflay aja, masak minum sebutir inex sampai overdosis..?"


"Badan mu kurus sekali, dan pucat.'


"Iya Mas, jarang makan. Di rumah sakit 4 hari, gak makan sama sekali," jawab Shinta sambil memeluk tubuh Damar.


"Makan sama aku ya, aku belikan bubur ayam jakarta. Biar gak lemes."


"Boleeh."


"Sebentar ya, aku suruh Mama mu beli."


"Tante... Damar minta tolong, di belikan bubur ayam dan dua burger daging sapi. Sama teh madu dan jus apucat ya.


Shinta mau makan katanya."


"Baiklah Mas Damar," jawab ibu Heni,


"Pa, antar Mama beli bubur ayam jakarta."


*****


Di dalam mobil, ibu Heny berkata,


"Pa... Menurut Mama, biarkan saja Shinta menjalin hubungan asmara dengan Damar.


Toh mereka sudah besar dan dewasa. Sebentar lagi juga kuliah."


"Terserah Mama kalau itu membuat Shinta bisa bahagia, tetapi Papa tetap tidak setuju dan tidak akan merestui nya.


Sudah dua kali ini Shinta masuk rumah sakit, dan membuat kita susah.


Sampai sampai... Kita ngemis - ngemis di depan wajah Damar si brengsek itu.


Bisa - bisanya dia merampok saham PT Marvis milik kita 20%.


Papa dulu merintis perusahaan kosmetik dengan susah payah. Sekarang di rampok oleh Damar si bajingan itu.


Semua ini gara - gara Shinta. Anak gak tau di untung!"


*****


Setelah ibu Heny memberikan pesanan kepada Damar, Damar menyuapin Shinta pelan - pelan hingga habis.


"Mas, terdengar Adzan magrib berkumandang. Kamu gak solat?"


"Iya Shinta, solat di sini saja gak apa - apa. Lantai nya bersih kok."


"Iya Mas."


Setelah solat, Damar duduk di kursi menghadap Shinta yang sedang tidur - tiduran.


"Shinta... Aku minta maaf ya sama kamu. Aku bener - bener minta maaf."


"Sama - sama Mas, Shinta juga minta maaf. Shinta terlalu jahat sama kamu."


Setelah mendengar cerita Damar... Akhirnya Shinta memahami keadaan Damar.


"Shinta... Sebenarnya aku masih mencintai mu, Tetapi, kedua orang tua mu tidak tidak suka kepada ku. Papa Mama mu tidak merestui hubungan kita.


Posisi ku serba salah. Aku tidak mau melukai hati kedua orang tua mu.


Jadi, aku berharap, lupakan lah aku. Carilah pengganti ku yang Papa Mama mu merestui nya.


Masalah aku dan Aisah... Tidak ada hubungan apa - apa. Aku dan Aisah hanya sebatas teman, teman baik."

__ADS_1


"Iya Mas, akan aku coba." 😔


"Jangan putus asa, dan jangan berkecil hati ya. Yang semangat. Masa depan kita masih panjang." ☺


"Iya Mas, kita jalani saja pertemanan kita.


Apa kamu sekarang sudah punya pacar..?"


"Aku tidak ingin pacaran dulu Shinta, aku akan fokus belajar dan fokus bisnis.


Besok kamu sekolah ya..! Sepulang sekolah kita main di mall H&R. Aku ingin belikan kamu jilbab dan baju muslimah."


Tingtung Tingtung Tingtung!


"Mas, HP kamu berbunyi terus loh, di angkat dulu, barangkali penting."


"Iya Shinta.


Iya Aldy, ada apa?"


"Kita kaya raya..!


Kita jadi milyuner," teriak Aldy.


"Maksudnya apa sih, gak faham aku," jawab Damar.


"Haaaa! Kamu gak nyambung Mar. Emang kamu lagi mabuk apa..?! Atau lagi bercinta sama Shinta di hotel.


Nomer togel yang kamu kasih, keluar Marrrr..!


Kita kaya kita banyak duit sekarang."


"Oooh, nomer togel.


Ya Alhamdulillah kalau keluar dan kamu dapat. Syukurlah kalian kaya raya.


Udah dulu ya, aku lagi sama Shinta ini."


"Ok ok, nanti aku WA."


"Siaaaap!"


*****


"Mas, beneran kamu mau belikan aku baju?"


"Iya benerran."


"Apa kamu punya uang?"


"Punya Shinta."


"Mas, apa Mama ku yang nyuruh kamu kesini..?"


"Iya Shinta.


Bahkan aku sempat ribut kecil dengan Mama mu."


"Ribut masalah apa mas?"


"Mama mu menyuruh ku untuk menjenguk mu. Mama mu mau ngasih uang aku 100 milyar jika mau menjenguk mu.


Tetapi aku gak mau uang. Lalu aku minta saham PT Marvis milik Mama mu 20%.


Eeeh Mama mu marah."


"Hehehehe, minta aja Mas, gak apa - apa. Biar tau siapa kamu. Biar gak di rendahin kamu."


"Tidak Shinta, aku tidak mau memiliki saham secara gratis dengan cara menyakitkan hati orang lain. Apalagi itu Mama mu.


Kalau beli, aku mau."


"Hemmmm, gaya kamu Mas.


Emang murah apa saham PT Marvis itu.


Ita itu beli saham 20 %, 1,6 triliun.'


"1 triliun 600 milyar..?!" sahut Damar.


"Iya Mas, terkejut ya, dengan nominal nya?"


"Banyak banget uang nya Ita," ujar Damar.


"Banyak lah uang nya Ita, dia putri tunggal konglomerat.


Ita itu, waktu SMA kelas satu, dia sudah punya 11 perusahaan.


Bayangin, punya 11 perusahaan, berapa uang nya Ita..?


Bisa Triliunan.


Papa mama ku saja punya perusahaan cuma 4. Kalah jauh sama Ita."


"Darimana Ita bisa punya perusahaan sebanyak itu ya?"


"Dapat warisan dari papanya 6 pabrik, dari Mamanya 5 pabrik."


"Kok kamu tau?"


"Ya taulah, kan Ita kalau kumpul ngopi bareng aku, ita cerita masalah keluarga.


Lagian Papa Mama nya Ita itu kan berteman dengan Papa Mama ku sebagai partner bisnis.


Kalau masalah saham, Ita kan jual produk kosmetik PT Marvis. Dia cerita beli saham 20% ke aku.


Lalu aku tanya ke Mama, benar kata Mama, dengan nilai 1,6 T.


Makanya Mas Damar maksa minta saham 20% milik Mama, Mama emosi, karena jumlah nominal saham itu 1,6 T.


Bisa nangis 7 hari 7 malam tuh Mama ku.


Tetapi biar di rasain sama Mama. Biar gak sombong!"


"Padahal kemaren aku beli saham Ita 20% gak segitu harganya? Aku beli ke Ita lebih murah. Baik bener Ita sama Aku," gumam Damar dalam hati.

__ADS_1


*Lanjut ngopi


Bersambung.


__ADS_2