Makam Keramat

Makam Keramat
Rumah Sakit Harapan


__ADS_3

Sesampai di rumah Sarah uluksalam,


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," jawab ibu Latifah yang baru saja selesai solat duhur,


"Masuk Nak Damar..."


"Iya Buk," jawab Damar kemudian duduk di ruang tamu.


"Ibu, ini Mas Damar beli gado - gado untuk ibu dan bapak. Juli mana Buk," ujar Sarah.


"Ada di kamarnya, baru saja pulang sekolah."


"Ini ibu berikan pada Juli ya, Sarah mau ambil sendok untuk Mas Damar."


"Ini Mas sendok nya, aku tuang dulu es blewah nya," ujar Sarah,


"Ayo makan Mas, ini kerupuk nya."


"Iya Sarah," jawab Damar sambil melihat keadaan ruang tamu,


"Bapak mu mana..? Kok gak kelihatan, Apa kerja..?"


"Bapak sudah 4 bulan gak kerja Mas. Karena sakit terjatuh saat kerja di proyek.


Sekarang ada di kamar, terbaring."


"Sakit apa nya, kok sampai terbaring lama?"


"Kata dokter dulu, ada urat tulang belakang yang terjepit. Harus di operasi. Kata orang jawa kecetit Mas.


Jadi bapak gak bisa jalan."


"Lah terus kok gak di operasi bapak kamu..?"


"Gak ada uang Mas, motor juga sudah di jual buat berobat jalan. Mau pinjam saudara atau tetangga juga gak ada yang percaya.


Mau jual tanah belakang ya gak bisa, karena ini rumah tinggalan kakek ku. Warisan nya masih atas nama tiga orang, saudara bapak."


"Lah terus, kalau gak kerja, untuk kebutuhan sehari hari gimana..?"


"Ibu jualan sayur di pasar kalau pagi. Aku juga kadang bantu ibu kerja jaga toko kalau sore."


"Jadi, kamu kerja di toko mas itu baru saja ya..?"


"Iya Mas, sejak bapak sakit. Sekitar 3 bulan lah."


"Enak sekali rujaknya," ujar Damar,


"Apalagi makannya bareng perempuan cantik."


"Iya enak, gratis soalnya hehehehe!"


Setelah minum es blewah, Damar menyulut rokok sampoerna mild, lalu berkata,


"Sarah... Kalau boleh, kalau kamu ijinkan, aku akan bawah bapak mu ke rumah sakit Harapan, untuk mejalani operasi."


Mendengar penuturan Damar... Sarah sangat terkejut sekali..! Karena Damar orang pertama yang di kenalnya menawarkan pengobatan bapaknya. Padahal saudara - saudaranya yang mampu hanya diam berpangku tangan. Begitu juga tetangga - tetangga nya yang mampu tidak mau meminjamkan uang untuk berobat.


"Mengapa Mas Damar peduli pada kesembuhan bapak ku," tanya Sarah,


"Apa karena kamu berharap agar hatiku luluh lalu aku bisa mencintai mu..?"


"Sarah, sejujurnya, waktu pertama makan malam bersama mu di pinggir jalan, aku jatuh hati pada mu. Hingga aku dengan senang hati menjemput mu di sekolah tadi.


Aku berharap cinta ku tidak bersebelahan tangan. Aku berharap kamu mencintai ku apa adanya," ujar Damar,


"Tetapi...


Itu hanya harapan ku. Masalah kamu senang dan mencintai ku, itu terserah kamu. Karena itu masalah hati. Dan aku tidak bisa memaksa mu.


Masalah aku perduli dengan kesembuhan bapak mu, itu hanya kemanusiaan saja. Aku ingin berbagi pada sesama, dan menolong orang menderita selama aku mampu dan bisa."


"Kalau begitu... Aku minta maaf ya Mas, aku telah salah menilai mu," ujar Sarah tertunduk.


Ibu Latifah yang keluar kamar setelah melihat kondisi pak Rahmat suaminya, tak sengaja mendengar obrolan Damar dan Sarah, lalu berjalan ke ruang tamu,


"Nak Damar... Apa benar kamu bisa dan mampu membawa pak Rahmat suami ibu ke rumah sakit..?"


"Ibuuuuk..! Kok gitu sih," sahut Sarah,


"Mas Damar kan masih sekolah, belum kerja. Emang sedikit apa biaya rumah sakit itu?"


"Sarah... Sebenarnya ibu tidak mau ngomong begini sama Nak Damar teman mu. Ibu terpaksa ngomong karena ibu tidak tega melihat kondisi bapak mu semakin menderita," ujar ibu Latifah sambil meneteskan air mata.


"Semenjak bapak mu sakit... Rumah gubuk ini tidak ada lagi kebahagiaan, senyum mu pun hilang, begitu juga senyum juli adik mu," ujar Ibu Latifah meneruskan,


"Tidak ada canda tawa di meja makan dapur. Mendung dan kabut duka selalu menyelimuti hati keluarga kita.


Menu di meja makan selalu kurang, hutang semakin bertambah. Kita sudah tidak punya apa - apa Nak.


Ketika ibu melihat bapak mu menangis sebab tidak bisa memberi nafkah, dan kebahagiaan untuk anak anak nya... Ibu sangat sedih sekali Sarah, hati ibu terasa tersayat - sayat."

__ADS_1


"Sudahlah Buk, jangan menangis lagi ya, Damar bisa dan mampu membiayai pengobatan pak Rahmat," kata Damar lalu mengambil HP dari dalam tas, kemudian menelpon Samsul.


"Iya Mas Damar yang ganteng yang imut, mata keranjang, apa yang bisa saya bantu," sahut Samsul.


"Kamu itu bercanda saja," ujar Damar.


"Siaaaap Bos..! Ada apa," ujar Samsul.


"Mau gak nomer togel 4 angka buat entar sore. Jitu loh..!"


"Mau lah Bos, kan lama kita gak pasang nomer togel, hahahaha!"


"Kalau mau, buruan kesini.


Aku minta tolong, kamu ambil mobil Fortuner di rumah, aku tunggu di desa Seruni. Nanti aku WA lokasinya."


"Siaaap..!"


"Kontak nya ada di meja kamar ku. Bilang sama ibu, suruh Damar ada yang nyewa."


"Siaaap..!"


*****


"Sarah... Kalau kamu kerja, berangkat saja ya," kata Damar,


"Biar aku dan ibu mu yang membawa ke rumah sakit."


"Aku ikut Mas, libur dulu saja kerjanya."


Tak lama kemudian, Samsul melihat Damar berdiri di pinggir jalan depan rumah, Samsul membelokkan mobil Fortuner ke halaman rumah, kemudian Samsul turun dari mobil.


"Ayo Sul, bantu angkat Pak Rahmat ke mobil. Ayo Sarah," ajak Damar.


*****


Siang itu, sesampai di rumah sakit, Samsul langsung menghentikan mobilnya di depan pintu masuk UGD.


Dua orang suster langsung membawa Pak Rahmat masuk ke ruangan UGD.


Setelah mendapatkan penanganan khusus, seorang suster memanggil,


"Keluarga bapak Rahmat, Silahkan masuk."


"Iya suster," jawab Sarah kemudian beranjak pergi, Lalu Damar mengikuti dari belakang.


"Silahkan duduk," ujar seorang dokter,


"Menurut riwayat penyakit Pak Rahmat yang baru saja saya baca, dan setelah di lakukan pemeriksaan ketat, Pak Rahmat harus di operasi secepatnya. Operasi pengangkatan urat belakang yang terjepit.'


"Biayanya 26 juta untuk operasi saja. Lain kamar inap dan obatnya."


"Baiklah Dok, kalau bisa segera di operasi. Saya yang menanggung semua biaya nya," ujar Damar,


"Dokter... Tolong di rawat inap di kelas Vip ya?"


"Baiklah Mas, kalau begitu, besok pagi jam 9-10 an, akan kami lakukan operasi.


Silahkan Mas ke administrasi dulu untuk menyelesaikan pembayaran awal."


"Baiklah Dok, kalau begitu terimakasih banyak," kata Damar.


"Sama - sama Mas."


*****


"Mas Damar... Apa kamu punya uang," tanya Sarah sedih.


"Ada Sarah, tenang ya, jangan bingung."


"Iya Mas."


"Sul, pergilah ke bagian administrasi, ini surat rekomendasi dari dokter UGD. kamu bayar dulu ya, sekalian obatnya satu paket dulu."


"Siap juragan!" jawab Samsul kemudian menerima kertas surat rekomendasi.


"Jangan lupa ke ATM bank Asia, ambil uang 5 juta."


"Siaaap!"


*****


Tak lama kemudian,


"Mar, ini bukti pembayaran operasi dan obatnya. Ini uang cas 5 juta."


"Thank you."


"Ibu... Ini surat bukti pembayaran operasi dan obat satu paket. Ibu simpan ya.


Ini ada uang 3 juta untuk kebutuhan jaga bapak di rumah sakit.


Damar mau pergi dulu Buk.

__ADS_1


Nanti malam atau besok Damar kesini lagi."


"Iya Nak Damar, terimakasih banyak, semoga amal kebaikan nya di balas oleh Allah berlipat lipat."


"Aamiin...


Sarah, ini uang dua juta kamu pegang dulu, buat beli makan juga kebutuhan lainnya.


Aku mau kerja dulu ya?


Insyallah ntar malam atau besok aku kesini lagi.


Nanti aku mampir rumah mu, ambil motor."


"Iya Mas, terimakasih banyak ya, telah merepotkan mu.


Hati - hati..."


"Iya Sarah, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


*****


Sambil nyetir mobil dan menikmati kepulan asap rokok, Samsul berkata,


"Siapa itu Mar yang sakit barusan..?"


"Pak Rahmat, bapak nya Sarah, teman SMP."


"Hemmm, calon mertua, pacar baru..!?


Nemu aja kamu yang bening - bening.


Hebat juga dirimu, punya ilmu pelet dari mana kamu..?"


"Cangkem mu!" ujar Damar.


"Hahahahaha!


Lusa habis makan malam dan dugem bareng Sabrina, bidadari SMA Mariana. Lalu makan malam sama Ita.


Kemarin jalan dan makan bareng Novita cewek cantik klas 3D.


Sekarang... Sama Sarah!


Hemmm, enak ya. Pinter pilih cewek bening - bening terus, bisa awet muda dirimu."


"Kok kamu tau aku jalan sama Novita..?"


"Ya taulah. Foto mu berpelukan sama Novita di parkiran Tunjungan Plaza, tersebar di grup WA pena.


Gosip nya rame banget seharian."


"Pasti Ita yang bikin status unggah foto ku dengan Novita."


"Iya Mar, Ita orangnya."


"Ita emang sengaja, manas manasin Shinta."


"Makan dulu juragan," kata Samsul kemudian membelokkan mobil Fortuner ke halaman parkir Cafe Ayu.


"Sul, kamu pesankan ya?


Nasi putih, krengsengan dan sayur sop buntut. Kopi luwak dan air aqua."


"Kamu mau kemana..?"


"Sebentar, lihat pekerja proyek itu loh.


Kamu WA Aldy dan Erik, suruh ke cafe Ayu sekarang juga."


"Ok ok."


*****


"Pak Suep... Suah ngopi belum," sapa Damar tersenyum


"Sudah Bos, itu gelasnya masih ada kopinya.


Dari mana kamu?"


"Dari rumah, itu sama Samsul lagi mau makan di cafe.


Oh iya Pak lek, besok pagi ikut aku ya, ada kerjaan di jalan Tidar Sedati Juanda."


"Ok, siaaap!"


Setelah melihat - lihat pekerja proyek, Damar pamit untuk makan siang,


"Pak lek... Jangan lupa 4099. Pasang yang banyak!"


"Siaaap..!"

__ADS_1


*Bersambung.


__ADS_2