
Setelah mandi air hangat, Damar menunaikan solat isak berjamaah di tempat ruang pasolatan di belakang rumah dekat taman.
Selesai solat, Damar menuju kamar utama untuk mengambil laptop kemudian duduk di teras kamar.
"Kak, gak istirahat tidur..?"
"Kalian tidurlah dulu. Bilqis, ayo istirahat tidur, besok kamu."
"Iya Mas," jawab Bilqis sambil tersenyum,
"Gak mau tidur bertiga..?"
"Ya mau lah."
"Hehehehe," Sarah tertawa kecil,
"Sini kak, tidur bertiga."
"Bentar, kakak lagi lihat laporan perusahaan hari ini."
"Mas... Ini kopi, dari tadi sore kamu belum ngopi."
"Makasih Bilqis."
"Kalau waktu mu tidak cukup untuk mengurus usaha bisnis mu, kamu harus mencari manajer pribadi untuk mengurus nya.
Nanti manajer itu yang mengurus semua usaha mu. Mas bisa santai gak usah kesana-kemari ngurus perusahaan," saran Bilqis,
"Bisa fokus kuliah besok."
"Iya Bilqis. Sudah aku pikir kan. Tetapi belum saatnya. Karena aku baru merintis usaha dan untuk aku praktek belajar manajemen bisnis."
"Ya sudah, Bilqis tidur dulu ya."
"Iya Bilqis."
***
Di atas spring bet yang empuk, Sarah dan Bilqis merebahkan bandan untuk istirahat tidur. Namun... Mereka bukannya tidur, malah ngobrol pelan - pelan.
"Sarah... Ternyata teman - teman mas Damar itu kaya kaya ya?"
"Iya Bilqis.
Kak Damar sekolah di SMA pancasila, sekolah elit di surabaya. Yang sekolah anak pengusaha semua. Hanya mas Damar yang paling miskin.
Makannya teman dan relasi bisnis kak Damar tadi terlihat glamor.
Aku juga baru mengenal teman - teman kak Damar. Mereka hanya mengandalkan uang dan kedudukan orang tuanya.
Kamu tau sendiri kan tadi, bagaimana kehidupan orang orang kalangan atas.
Mulai dari baju, sandal sepatu juga perhiasan dan mobilnya.
Lalu setiap ketemu pasti berpelukan cium pipi kanan kiri."
"Iya Sarah, aku tau."
"Kak Damar itu sebenarnya sangat sederhana sekali orang nya.
Hanya saja, dia menyesuaikan diri dengan teman dan relasinya. Makanya kamu dan aku di dandani cantik dan glamor. Agar status kita terpandang dan diakui sebagai kelompok kalangan elit.
Tadi itu Shinta, mantan pacarnya kak Damar. Hingga sekarang masih ngejar - ngejar kak Damar. Tetapi kak Damar kayaknya gak mau."
"Kenapa putus sama mas Damar," tanya Bilqis
"Denger dari Inna, temennya kak Damar, Shinta cemburu lalu ninggalin kak Damar.
Shinta cantik dan baik. Hanya saja tidak setia. kesalahan nya mencampakkan kak Damar."
"Sudah jam satu dini hari kok belum tidur," sahut Damar tiba - tiba masuk,
"Ngegosip aja."
"Hehehehe," Sarah tertawa lirih,
"Tidur sini kak bertiga, di tengah sini. Biar rame."
"Kakak belum ngantuk, ini ambil rokok sama Hp."
****
Malam terus merambat, jam tiga dini hari hujan gerimis ringan pun tiba - tiba datang. Namun Damar masih duduk menghadap laptop nya.
Sementara Sarah dan Bilqis pun tertidur lelap.
Di saat konsentrasi melihat jenis alat - alat berat... Damar di kejutkan dengan suara tangis seorang perempuan yang berasal di pojok taman yang remang - remang.
Damar yang biasa berteman dengan ki Rekso dan kyai Ndaru bangsa jin, sudah terbiasa dengan hal - hal yang berbau goib.
Karena penasaran... Damar akhirnya mencari sumber suara tangisan.
"Siapa kamu," tanya Damar pada perempuan berparas pucat yang duduk bersimpuh di bawah pohon pojok taman.
Melihat Damar... Jin itu ketakutan lalu menjawab,
"Aku Hirbalah, jin penunggu rumah ini."
Setelah menyulut rokok, Damar duduk di atas batu samping kolam renang sambil memandang tubuh jin Hirbalah.
"Penunggu rumah ku..?
Kalau kamu jin penunggu rumah ku, Lalu kenapa kamu selonjoran di pojok taman, kan kotor dan dingin, gerimis lagi.
Ayo duduk di teras kamar ku saja, duduk di sofa sama aku."
"Ayoo..! Malah diam saja, atau aku usir kamu dari rumah ku," kata Damar menakut nakuti.
"Baiklah Gus."
"Panggil Gus, nama ku Damar bukan Agus. Kayak kyai Ndaru dan ki Rekso saja panggil Gus," kata Damar kemudian kembali ke teras,
"Jangan duduk di lantai bawah, dingin. Lagian juga gak pantas kamu duduk di bawah, sedangkan aku di atas.
Ibu ku tidak mengajarkan begitu. Ayo duduk di sofa sebelah ku sini. Itu sofa untuk duduk satu orang.
Lah ya gitu duduk di sofa.
Hirbalah... Di rumah ku ini, lantai bawah ada 4 kamar. Tiga kamar keluarga, yang di pojok itu kamar pembantu.
Terus, yang di lantai atas itu ada 4 kamar.
Kamu tinggal di lantai atas saja tidur di kamar pojok sebelah kiri, ya.
Ada rumah sebesar gini kok, ngapain kamu tinggal di pojok taman selonjoran?"
"Iya Gus, terimakasih.x
"Sudah lama kamu tinggal di rumah ku ini..?"
"Sudah Gus, 4 bulan sebelum Gus menempati rumah ini. Semenjak rumah ini selesai di bangun."
"Kamu tidur di mana sebelum nya..?"
__ADS_1
"Di kamar utama yang Gus pakai tidur."
"Lalu kenapa kamu gak pindah di kamar lainnya, kok kamu tinggal di pojok taman di pohon sedap malam?"
"Karena dari dalam dompet Gus itu menguarkan cahaya yang menyakiti saya.
Lalu... Gus suka solat dan wirid. Apalagi kemarin aku mendengar istrinya Gus ngaji membaca Al qur'an an. Aku sangat tersakiti dan tidak kuat berada di dalam rumah ini. Hingga wajah ku pucat, badanku berdarah darah.
Akhirnya aku tinggal di pohon sedap malam di pojok taman. Kadang aku merubah wujud ku menjadi burung derkuku."
"Jam berapa Bilqis istri ku semalam ngaji baca qur'an..?"
"Waktu Gus tidur, jam tiga dini hari. Setelah solat, istri Gus solat malam lalu ngaji."
"Sebentar ya, tak membangunkan calon istri ku, dia biasanya solat tahajjud," ujar Damar kemudian masuk kamar,
"Bilqis... Bilqis, bangun."
"Jam berapa mas..?"
"Jam tiga lebih, kamu kan biasa solat tahajjud."
"Iya Mas," jawab Bilqis kemudian bangun, lalu mencium pipi Damar.
"Ya sudah, kamu solat sana, aku masih belajar."
"Iya Mas."
Setelah membangunkan Bilqis, Damar keluar rumah sambil membawa kontak menuju garasi mobil.
"Mas joko..."
"Iya Tuan," jawab Joko satpam mendekat.
"Dua pembantu rumah ini kemana ya, kok kemarin pagi gak ada..?"
"Pamit pulang Tuan. Katanya takut, sering mendengar suara orang menangis di rumah ini."
"Owwh, ya sudah."
"Kemungkinan besok, PT akan mengirim lagi dua pembantu lagi."
"Ya sudah kalau begitu," kata Damar kemudian membuka pintu mobil, lalu mengambil beberapa baju.
Setelah itu kembali lagi ke teras kamar.
"Hirbalah... Akan aku obati kamu, biar gak sakit dan ketakutan lagi. dan aku ijini kamu tinggal di rumah ini. Dengan syarat, pertama kamu tidak boleh menakut - nakuti semua penghuni rumah ini."
"Baiklah Gus."
"Kedua,
Jika aku mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah pelik, apa kamu sanggup membantu ku..?"
"Sanggup Gus."
"Baiklah kalau begitu.
Minumlah air keramat ini," kata Damar kemudian menuangkan semua air di dalam gelas hingga habis,
"Ini minumlah."
I"ya Gus," jawab jin Hirbalah kemudian mengambil gelas lalu meminumnya.
Begitu air keramat dari makam kyai Pamenang masuk kedalam perutnya, tiba - tiba tubuh jin Hirbalah mengeluarkan cahaya putih terang. Seketika itu, wajah jin Hirbalah terlihat cantik bersinar. Kulit nya yang hitam gosong jadi putih kembali.
"Sudah mau subuh, aku antar kamu ke lantai atas. Besok kita ngobrol kembali ya," kata Damar kemudian beranjak keluar kamar
"Iya Gus."
Sebelum tidur, kamu mandi yang bersih, biar terlihat cantik." 😁
"Iya Gus."
"Ini kamar mu. Dandan yang cantik, biar ada yang naksir. Jangan lupa, kalau habis nyalahin Ac, di matikan, biar gak banyak banyak bayar listrik." 😅
"Iya Gus."
"Ya sudah, aku mau solat subuh dulu," kata Damar kemudian menuruni tangga.
"Mas... Ngomong sama siapa di lantai atas," tanya Bilqis yang duduk di kursi meja makan.
"Sama jin penghuni rumah ini," jawab Damar kemudian duduk di kursi meja makan.
"Yang bener kamu mas, bikin aku takut saja."
"Gak usah takut, dia kayak kita manusia. Nanti aku kenalkan, biar gak takut.
Ayo solat subuh, aku ngantuk mau tidur sebentar habis ini."
"Iya Mas, tak bangunin Sarah dulu sebentar."
****
Selesai solat subuh, Damar tidur di atas spring bet.
Pada jam setengah enam pagi, Damar dan Bilqis juga Sarah pergi meninggalkan perumahan Elizabet.
Tak lama kemudian mobil berhenti di rumah Sarah.
"Kak... kak."
"Iya Sarah," jawab Damar
"Sarah mau turun dulu, dah Sampai rumah, Sarah mau salim."
"Iya Sarah," jawab Damar kemudian mencium pipi Sarah,
"Tadi malam sudah aku transfer sejumlah uang untuk beli tanah."
"Iya kak, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mobil pun kembali meluncur ke desa Agung.
Semampai di desa Agung, Damar turun di pinggir jalan desa. Kemudian mobil kembali meluncur mengantarkan Bilqis.
*****
Waktu terus berlalu. Tak terasa ujian sudah merasuki hari akhir.
Selama liburan, Sarah yang memiliki kecerdasan di atas rata - rata dan selalu mendapatkan rangking satu di sekolah nya, telah melakukan transaksi pembelian tanah seharga 850 M. Seperti yang di sarankan Damar, Sarah juga mengandeng pengacara Beny Abraham yang mempunyai kantor notaris, untuk mengurus surat ijin usaha.
Setelah solat duhur, Sarah duduk menghadap laptop di Cafe Ayu satu sambil menunggu pak Beny Abraham dan Direktur PT Podomoro General kontraktor.
"kak Damar begitu percaya kepada ku untuk mengurus bisnis nya. Aku di ajari praktek bagaimana cara mendirikan perusahaan dari nol. Dari membeli lahan, mengurus surat ijin usaha, mengurus surat ijin membangun dan mencari karyawan juga membeli produk dan pemasaran.
Banyak juga uangnya kak Damar. Aku di kasih modal uang 3 triliun untuk mendirikan usaha jasa alat berat.
Dari mana ya kak Damar mendapatkan uang sebanyak itu. Sebenarnya kak Damar kan enak nganggur. Duit segitu di makan tujuh turunan gak kira habis.
__ADS_1
Makan tidur sama dua istri, main jalan + jalan.
Tetapi kak Damar malah menyibukkan diri dengan bisnis.
Sekarang baru aku rasakan. Kalau sudah sibuk bisnis, ngurusin usaha, lupa sama makan, lupa rumah lupa sama kak Damar.
Makanya kak Damar itu kalau buka laptop sampai tengah malam. Aku tidur sendirian gak di hiraukan.
Bahkan Bilqis yang ada di dekatnya juga di anggap patung.
Baru kalau ada maunya, Sarah sayang, kerokin mas Damar ya. Bilqis sayang pijitin kaki mas Damar ya.
Enak sekali jadi laki laki kayak mas Damar, mau menangnya sendiri."
"Selamat siang Non Sarah..."
"Siang juga. Bikin kaget saja kamu mbak.'
"Lagi melamun kah, kok Non Sarah kaget?"
"Iya, lagi melamun.
Apa bos kamu direktur cafe ayu tidak pernah kemari..?"
"Sudah hampir satu minggu Non, tidak pernah terlihat di sini."
"Masak dua hari Hp nya gak aktiv..?"
"Barangkali sibuk sama sama kekasih baru nya Non."
"Kekasih baru yang mana..?"
"Biasanya kan, bos Damar kalau kesini selalu gonta ganti pasangan Non."
"Iya ya. Kak Damar itu kelemahan nya ada di wanita cantik. Jangan jangan dia kecantol lagi.
Sudahlah, biarin.
Pesan makan siang saja Mbak. Krengsengan daging sapi dan es kelapa muda."
"Baiklah Non."
*****
Sementara Ibu Farida siang itu mengendarai mobil honda jazz milik Shinta yang sudah lama di titipkan di garasi rumah Damar.
Setelah berhenti di samping perusahaan PT Mervis kosmetik, ibu Farida menghubungi direktur Haris Nasution. Setelah terhubung,
"Selamat siang."
"Siang juga. Dengan siapa ini?"
"Saya ibu Farida. Saya di suruh Mas Damar untuk membeli produk kosmetik Marvis di kantor pemasaran pabrik. Membeli langsung dari pabrik. Ini saya sudah ada di depan pabrik Marvis.x
"Apa ibu Farida membawa memo dari Tuan Damar..?"
"Iya Pak.
Sebenarnya sudah seminggu yang lalu saya mau kesini, tetapi saya sibuk. Jadi sekarang saya bisa ke pabrik."
"Baiklah Buk, ibu masuk saja ke pabrik, nanti akan saya telpon kepala security nya, biar ibu Farida di antar ke kantor saya."
"Baiklah pak direktur, terimakasih," jawab ibu Farida kemudian melajukan mobilnya lalu memasuki pintu gerbang perusahaan.
"Selamat siang..."
"Dengan Siapa dan ada keperluan apa," tanya seorang satpam muda.
"Saya ibu Farida, mau ketemu direktur PT Marvis."
"Oh iya, buk, tadi pak Haris sudah telpon.
Mari ikuti saya," kata seorang satpam kemudian mengayuh sepeda angin.
Setelah memarkir mobil dan turun, ibu Farida mengikuti seorang satpam berjalan menuju lantai tiga.
****
Tok tok tok!
"Masuk..."
"Siang pak, ada ibu Farida."
"Suruh masuk."
"Baiklah Pak.
Ibu Farida, silahkan masuk."
"Terimakasih,x jawab ibu Farida kemudian masuk ruangan kantor direktur PT Marvis.
"Silahkan duduk bu. Boleh lihat memo nya?"
"Ini pak," ujar ibu Farida kemudian menyodorkan selembar kertas.
Setelah menerima dan membacanya, pak Haris terkejut melihat tandatangan CEO Damar Ahmad.
"Ibu ini pasti orang spesial. Hingga tuan Damar memerintah kan di utamakan dan juga di layani dengan sangat baik, Vip."
"Ibu Farida... Silahkan ikuti saya," kata direktur Haris sambil membungkukkan badan,
"Mari Buk."
Melihat direktur Haris berjalan di lantai bawah... Semua pegawai menyapa sambil membungkukkan badan tanda memberi hormat
Setelah berada di ruang tunggu Vip, direktur Haris kembali membungkukkan badan, "Silahkan duduk ibu, sebentar saya panggilkan direktur pemasaran."
"Iya Pak direktur."
"Pak Manajer... Hidangkan minuman segar dan makanan ringan pada ibu Farida yang duduk di ruang tunggu. Suruh anak buah mu, cepetan," perintah direktur Haris kemudian menelpon Damar.
"Iya pak Haris, ada apa?"
"Selamat siang Tuan. Ibu Farida sekarang berada di perusahaan. Dan mau mengambil produk PT Marvis secara langsung.
Apa itu tidak menyalahi aturan, karena tidak ada perjanjian kesepakatan kerjasama."
"Sekarang pak Haris buatkan perjanjian kerjasama ya, biar gak menyalahi aturan.
Tolong ibu Farida di layani dengan baik dan di utamakan. Karena kalau ibu Farida tersinggung... Jabatan pak Haris dan direktur pemasaran menjadi taruhannya.
Dan jangan bilang kalau aku adalah CEO nya."
"Baiklah Tuan Damar baiklah," jawab direktur Haris kemudian mematikan telpon nya,
"Pak Heru..!
Ibu Farida mau mengambil kosmetik produk Marvis. Tolong segera di layani dan di utamakan."
"Baiklah direktur."
"Berapa pun jumlah permintaan nya, harap di penuhi. Dan siapkan mobil untuk mengantar barang pesanannya."
__ADS_1
"Baiklah direktur Haris," jawab pak Heru direktur pemasaran kemudian bergegas.