
Denting bel pulang sekolah berbunyi. Para siswa siswi SMA Pancasila berhamburan keluar kelas menuju parkiran.
Begitu juga degan Damar.
Siang itu Damar buru buru menjemput Sarah di SMAN 4.
Setelah mendapat pesan singkat via WA, Sarah menunggu Damar di bawah rindangnya pohon akasia depan sekolah.
"Sarah..."
"Iya Mas," jawab Sarah kemudian naik motor.
"Hai Sarah, sapa beberapa teman kelasnya.
Sudah ada yang jemput ya sekarang?"
"Hehehehe iya temen ini.
Aku duluan ya?"
"Ok Sarah."
Motor melaju agak kencang. Tak lama kemudian, Damar berhenti di halaman depan rumahnya.
"Ayo Sarah, masuk," ajak Damar,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab ibu Farida.
"Siang Buk," sapa sarah kemudian salim cium tangan.
"Masuk nak Sarah, ayo makan siang bareng Damar di dapur."
"Iya Buk," jawab Sarah kemudian berjalan menuju dapur bersama ibu Farida.
Setelah duduk, Sarah menyodorkan Hp lalu berkata,
"Ini foto ibu saya. Katanya, ibu Farida sahabat ibu saya waktu sekolah SMA."
Setelah melihat foto ibu Latifah, ibu Farida berdiri mendekati Sarah, lalu memeluk nya.
Sambil meneteskan air mata ibu Farida berkata,
"Ternyata kamu putrinya Latifah sahabat ku. Kamu cantik dan sopan seperti ibu mu Nak.
Mengapa di foto itu ibu mu nampak kurus dan terlihat tua tak terawat.
Duduklah," ujar ibu Farida kemudian duduk kembali.
Damar yang berdiri di pintu dapur, melihat adegan ibu nya memeluk erat tubuh Sarah. Seperti ibunya Sarah memeluk Damar waktu di rumah sakit.
"Beberapa tahun terakhir... Banyak masalah yang menimpa keluarga kami Buk," ujar Sarah,
"Setelah sengketa tanah warisan, bapak sakit, lalu ibu saya terpaksa harus bekerja keras jualan sayur di pasar setiap pagi hingga siang. Kadang, ibu saya pulang sore, hanya untuk kebutuhan dapur.
Sejak bapak sakit... Tidak ada lagi senyum ibu saya yang tersungging di setiap waktu. Kebahagiaan yang semula terlihat nyata, tiba - tiba hilang berubah menjadi duka nan lara.
Penderitaan batin ibu semakin curam. Hingga saya dan adik saya ikut merasakan juga ikut menanggung kesedihan dan penderitaan kedua orang tua saya.
Semua barang di rumah habis terjual untuk pengobatan bapak.
Bahkan, sering kami tidak bisa beli beras untuk makan.
Itulah sebabnya ibu saya terlihat kusam, kurus dan terlihat tua."
"Apakah bapak mu masih sakit," tanya Ibu Farida iba.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah mulai sembuh, berkat kebaikan Mas Damar. Mas Damar lah yang membiayai semua pengobatan nya," jawab Sarah.
"Lalu, masalah warisan rumah, itu bagaimana?" tanya Ibu Farida.
"Rumah yang kami tempati adalah milik bertiga. Bapak saya anak bungsu.
Saudara kandung bapak saya, meminta bagian. Kalau bapak saya tidak bisa memberi ganti rugi, maka rumah yang saya tempati harus di jual. Dan uangnya di bagi tiga," ujar Sarah.
"Berapa nominal uang yang di minta oleh saudara bapak kamu Sarah," tanya Ibu Farida.
"400 juta an Buk, jadi 800 juta untuk dua kakak kandung bapak," ujar Sarah.
"Kok nominal nya besar banget ya?"
"Iya Buk, karena, sisa tanah di belakang rumah itu masih luas dan lebar.
Kini, rumah itu sedang dalam proses penjualan dengan harga 1,2 milyar. Tetapi, sudah hampir setahun di tawarkan tidak juga laku," ujar Sarah,
"Mungkin harga yang di tawarkan terlalu tinggi, sebab itu rumah ada di kampung dan letaknya diujung desa."
"Apakah ibu mu tidak punya rumah sendiri dari warisan Kakek mu," tanya Ibu Farida.
"Ada Buk, tetapi, rumah kecil satu petak itu, di bagi 4 sama saudara kandung ibu.
Jadi, ibu memilih ikut bapak," ujar Sarah,
"Memang dulu keluarga ibu berkecukupan. Lantaran usaha Kakek bangkrut, beberapa tanah di jual, dan tersisa satu petak itu."
"Sarah sekarang kelas berapa, dan sekolah di mana," tanya Ibu Farida.
"Kelas dua Buk, sekolah di SMAN 04."
"Sarah, ayo kita jalan," ajak Damar
"Aduuuh, ganteng sekali anak ibu ini, kaos baru, celana baru, sepatu baru.
Pakai kacamata hitam lagi.
"Mau kerja buk, cari uang," jawab Damar.
"Kok ngajak Sarah kalau mau kerja?"
"Biar ada yang merawat Damar," canda Damar.
'Hemmmm.
Ya sudah hati - hati di jalan."
"Buk, mana kontak motor vario milik bapak? Sama STNK nya ya.
Damar mau pinjam bentar. Motor Damar ngadat mesinnya."
"Bentar ibu ambilin di kamar.
Ini..."
"Buk, Damar minta tolong ya, bilangin sama suami ibu, tolong bawah motor damar ke bengkel kang Hadi, suruh servis. Ganti ban dan rantai."
"Kamu WA saja, apa saja yang di ganti. Ibu gak ngerti masalah bengkel motor."
"Iyaaaa, siap."
"Damar... Kamu bantu kesulitan kesulitan keluarga Sarah ya, karena, dulu, di masa ibu sulit , ibu sering di bantu sama ibu nya Sarah."
"Iya Buk. Pesan ibu akan Damar laksanakan.
Salim buk, Assalamualaikum."
__ADS_1
"Ibu Sarah berangkat dulu," ujar Sarah kemudian salim,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Ibu Farida.
"Bawah apa itu Mas, di kantong plastik hitam," tanya Sarah.
"Ini sarung sama baju lengan panjang dan sandal, di masukin jok saja, kan vario besar jok nya."
*****
"Sarah, ke rumah mu dulu ya, kamu ganti baju, setelah itu kita keluar," ujar Damar.
"Iya Mas."
"Kamu gak usah masuk kerja jaga toko, kita main jalan - jalan saja."
"Iya, siaap." jawab Sarah.
Sesampai di halaman rumah Sarah, Damar memarkir motor vario milik ayahnya di teras.
"Assalamualaikum," ucap Sarah kemudian masuk rumah.
"Waalaikumsalam.
Baru pulang Sarah," sahut Ibu Latifah.
"Siang Buk," sapa Damar.
"Siang juga Nak Damar, mau kemana kok ganteng sekali," sahut Ibu Latifah.
"Mau kerja di cafe Buk, saya permisi, mau ngajak sarah jalan - jalan."
"Iya Nak Damar, kalau yang ngajak Nak Damar, ibu ijinin. Tetapi ingat jagan sampai keblabasan, biar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain."
"Iya Buk," kata Damar.
"Kak, ayo," ajak Sarah.
"Baiklah," jawab Damar,
"Buk, Damar pamit jalan - jalan."
"Baiklah Nak Damar," jawab ibu Latifah kemudian Damar salim cium tangan.. Begitu juga dengan Sarah.
"Assalamualaikum Buk."
"Waalaikumsalam."
*****
Tak lama kemudian motor Damar melaju meninggalkan desa Seruni.
Sambil melingkarkan kedua tangan memeluk manja nan mesra, Sarah berkata,
"Tadi ngobrol apa sama ibu ku..?"
"Ibu mu bilang, ingin menjadikan aku menantunya," canda Damar.
"Hemmmm.
Mana berani ibu ku ngomong gitu?"
"Sudah sampai," kata Damar kemudian memarkirkan motor nya. Ayo turun, nempel saja kayak perangko."
"Hehehehe, iya iya, lagian kamu juga senang kalau aku peluk," ujar Sarah kemudian turun.
__ADS_1
"Ya senanglah, siapa yang gak senang di peluk sama gadis cantik," kata Damar kemudian berjalan sambil mengandeng tangan Sarah menuju meja cafe.
*Bersambung