
"Kamu mau beli tanah yang luas buat apa," tanya Ita.
"Buat usaha, tetapi sementara mau ngontrak rumah saja dulu," kata Damar.
"Banyak uangnya dong kalau mau beli tanah buat usaha."
"Yaah adalah, kalau gak ada ya gak cari aku."
"Ada tanah di jual Kak, depan PT Marvis kosmetik. luasnya 1000 meter persegi. Tetapi mintanya mahal banget, 400 milyar."
"Bentar - bentar, PT Marvis kosmetik milik mama nya Shinta bukan?"
"Iya, kok kamu tau..?! Itu perusahaan milik ibu Heni mama nya Shinta."
"Shinta yang cerita. Kata inna, kamu punya saham 20% di PT Marvis."
"Iya bener. Gara - gara bisnis kosmetik, jadi iseng - iseng aku beli sahamnya 20%. Jadi aku dapat potongan harga khusus dari pada member lainnya."
"Kok mahal banget ya tanah itu 400 milyar?"
"Iya Kak, padahal lokasi tanah itu 100 meter masuk jalan raya. Tuh depan sana tempatnya. Pertigaan belok kiri. Pas depannya PT Marvis.
Tetapi... Tempatnya memang strategis. Agak jauh dari perkampungan penduduk, dan dekat dengan jalan raya.
Dengar - dengar bulan lalu, di tawar sama pengusaha sepatu 300 milyar, tetapi gak di lepas."
"Aku kepingin lihat lokasi tanah nya?"
"Ayo Kak, aku antar sekalian belanja kosmetik," kata Ita.
"Ok," sahut Damar kemudian berdiri lalu membayar minuman dan rokok.
"Ita, kamu naik mobil ya, aku ikuti dari belakang pakai motor."
"Aku bonceng kamu saja, biar mesra dikit.
Pak Edi, langsung saja ke kantor pemasaran PT Marvis ya!"
"Siaap! Non."
"Wah wah wah, bonceng kamu, kalau sampai anggota geng Hello kity tau, bisa jadi bahan gosip paling rame."
"Hehehehe, No comen!
Ayo kak berangkat."
Motor pun melaju pelan - pelan.
"Pertigaan belok kiri Kak, paling 100 meter."
"Ok."
"Itu tanah nya Kak, ada papan tulisan tanah di jual tanpa perantara."
"Siaap!" kata Damar kemudian menghentikan motor nya.
"Lah, itu PT Marvis kosmetik. Sebelah lagi pabrik plastik."
Setelah melihat dengan seksama, Damar berkata,
"Ini tanah nya masih ada yang nguruk dikit ya? Yang bagian di belakang."
"Iya Kak, mungkin gak habis dua M nguruk nya," ujar Ita,
"Itu sebelahnya juga ada papan tulisan tanah di jual tanpa perantara. 500m x 500m, ber arti setengah hektar. Luasan yang ini Kak."
"Coba kamu telpon Ta, kamu tanya minta berapa yang 500m itu," ujar Damar.
"Bentar ya..."
Tak lama kemudian, setelah mematikan HP Ita berkata,
__ADS_1
"Minta 230 milyar."
"Ya sudah, aku antar kamu ke kantor pemasaran PT Marvis."
"Siaaap!" sahut Ita kemudian duduk di jok belakang, dan motor pun melaju pelan - pelan,
"Kak... Jadi kamu beli tanah itu..?"
"Tak pikir - pikir dulu ya, mahal banget, 400 M sama 230 M."
"Buat usaha apaan sih Kak, kok butuh lahan luas banget?"
"Buat kantor PT kontraktor."
Mendengar jawaban Damar, Ita terkejut sekali, lalu berkata,
"Kamu sekolah SMA belum lulus sudah mau bikin PT kak..? Apa kamu mampu memimpin perusahaan..?
Gak gampang loh ngurus perusahaan itu. Apalagi kamu gak pernah berkecimpung di dunia bisnis skala besar."
"Aku mempelajari dari google dan Youtube. Aku hanya coba - coba bikin PT kecil - kecilan saja. Yaah itung-itung buat belajar pegang perusahaan."
"Butuh uang banyak banget loh kak, kalau memulai dari awal.
Kalau buat kantor sih gak usah luas - luas. Beli tanah secukupnya saja."
"Iya bener kata mu. Nanti aku pikirkan kembali ya. Karena uang 400 milyar bagiku sangat banyak sekali."
"Kamu gak minta bantuan ku masalah beli tanah itu..?"
"Gak Ita, aku punya uang sendiri."
"Ya sudah, kalau kamu butuh bantuan ku, kamu bilang saja ya!"
"Ok, siaaap!"
Sambil di bonceng, Ita Mayangkara berkata dalam hati,
Tidak mungkinlah. Kalau lihat rumah nya... Jauh dari kesan mewah atau keluarga kaya. Aku telah menyaksikan sendiri kemarin. Tinggal di kampung. Teras dan ruang tamunya saja kumuh dan kotor. Terasnya belum di keramik.
Yang di keramik hanya ruang tamu dan ruang keluarga.
Dapurnya masih ber bilik bambu bolong - bolong, dengan genteng yang sudah usang.
Sejak dari kelas satu SMA, hingga kelas tiga, Damar ke sekolah naik sepeda angin. Baru - baru ini dia naik motor butut ini yang sekarang aku naikin.
Kata Inna Lelaki Sederhana hehehe.
Yaah emang Damar itu cowok pendiam di sekolah, baik hati gak pernah banyak tingkah. Paling mabuk doang sama 4 sekawan. Dan di kenal siswa paling miskin.
Hemmm..!
Cowok pendiam kayak Damar ini nih yang bahaya. Shinta saja di buat klepek - klepek!
Tetapi dia mau beli tanah, uang dari mana ya..?
Jangan - jangan di kasih pinjam Papa atau Mama.
Coba nanti aku telpon Papa?"
"Mana alamat kantor nya..?"
"Pas pertigaan sebelah kiri. Sebelah warung sederhana," sahut Ita.
"Oh iya tau aku, pertigaan lampu merah itu yaah."
"Iyaaaa."
*****
Tak lama kemudian, Damar memarkir motornya, lalu menemani Ita duduk di ruang tunggu.
__ADS_1
Setelah belanja beberapa produk kosmetik, Ita dan Damar keluar kantor.
"Pak Edi..."
"Iya Non."
"Barang belanjaan di teras kantor itu, Pak Edi masukin mobil ya. Ada 40 kardus."
"Siaap Non."
Banyak amat belanja kosmetik nya," tanya Damar.
"Lelaki tidak usah perlu tau ya..!!! Ini urusan perempuan," jawab Ita kemudian duduk di jok motor.
"Pak Edi... Setelah ini pak Edi pergi ke Desa Agung, habis ini aku WA alamatnya."
"Baiklah Non."
"Ayooh jalan Kak, aku minta alamat rumah mu."
*****
Tak lama kemudian Damar memarkir motornya di teras rumah.
"Pak Edi, tolong masuk kan 20 kardus yang ada tulisan nama Damar, di bawah masuk sini ya..!"
"Iya Non," jawab pak Edi kemudian memasukkan kardus ke ruang tamu.
"Assalamualaikum," sapa Damar kemudian masuk rumah bersama Ita.
"Waalaikumsalam," jawab ibu Farida.
"Siang Buk," sapa Ita.
"Siang juga."
"Kenalin Buk, ini Ita adik kelas ku," kata Damar kemudian duduk di kursi meja makan,
"Ita, duduk sini.
Buk masak apa..?"
"Masak sayur lodeh kacang sama terong.
Ita, makan dulu sama Damar. Makan seadanya ya?"
"Iya Buk."
"Kopi kopi," ujar Damar.
"Iya... Sebentar," kata ibu Farida sambil memasak air.
"Buk... Katanya mau bisnis kosmetik..?"
"Iya... Tetapi ibu masih belajar, ini juga baru gabung grup facebook kosmetik. Masih mencari teman dan relasi."
"Buk, tadi mas Damar bilang kalau ibu ingin bisnis jual beli online kosmetik. Kebetulan saya juga jual beli kosmetik online. Jadi, saya tadi kulakan kosmetik untuk ibu 20 kardus. Kosmetik produk Marvis. Nanti Ita ajari caranya."
"Kosmetik merk Marvis adalah produk bagus dan mahal. Banyak peminatnya.
Berapa ibu harus bayar untuk Ita 20 kardus itu..?"
"Bayar belakangan saja Buk."
"Ini Mas kopinya untuk mu,
ini capochino untuk Ita. Kalian makan dulu seadanya," kata ibu Farida,
"Ibu tinggal solat asar dulu ya?"
"Iya Buk," jawab Ita kemudian menikmati makan bersama Damar.
__ADS_1
*Bersambung.