
Jam dua malam, Damar melaksanakan solat tahajjud, kemudian mendawamkan dzikir 1000x.
Setelah itu, Damar duduk di kursi yang terletak di teras belakang rumah menghadap taman.
Sambil mendengarkan gemericik air terjun buatan, Damar membuka laptop dan mempelajari ilmu manajemen bisnis Real Estate.
*****
Kediaman ibu Farida.
Selesai solat tahajud, ibu Farida berjalan menuju pintu kamar Damar anaknya. Setelah membuka pelan - pelan, ibu Farida berkata lirih,
"Sudah tiga kali aku membuka kamar Damar anakku, tetapi dia belum pulang juga."
Setelah duduk di kursi meja makan dapur, ibu Farida meneteskan air matanya sembari berkata lirih,
Malam ini sepi sekali.
Biasanya Damar meminta di buatkan indomie telor dan kopi di meja makan ini.
Hampir setiap tengah malam gini... Aku mendengarkan suara dzikir nya Damar yang pelan namun menyentuh hati.
Kadang...
Setelah solat subuh, Damar bercanda dengan bapak nya juga ibu dan adik - adiknya.
Coba aku WA, biasanya Damar solat jam segini."
Tingtung Hp Damar berbunyi tanda ada pesan masuk,
"Ibuk, ada apa ya?"
*Ibunda:
Dimana Mas?
*Damar:
Lagi di Surabaya.
Ada apa Buk?
*Ibunda:
Kamu sudah solat isak dan solat tahajjud?
*Damar:
Sudah Buk, ini baru selesai, terus belajar.
*Ibunda:
Kamu gak pulang?
*Damar:
Iya pulang Buk, tetapi sekarang Damar lagi sibuk kerja.
*Ibunda:
Kamu marah sama ibu?
Ibu minta maaf ya?
*Damar:
Gak marah, semua yang ibu nasehati ke Damar itu benar buk. Ibu gak salah, yang salah emang Damar.
Jadi ibu gak perlu minta maaf.
Damar yang minta maaf, selalu bikin ibu marah.
*Ibunda:
Ya sudah, segera tidur. Besok seminggu lagi ujian kamu. Yang rajin belajar
*Damar:
Iya Buk
*****
Jam 8 pagi, selesai sarpan, Damar dan Shinta jalan - jalan mengelilingi rumah baru nya,
"Mas... Rumah ini besar sekali ya.
Halaman depan samping belakang juga luas sekali."
"Iya Shinta. Ini perumahan Elit, Harganya juga 360 M. Beli rumah ternyata sudah ada perabotan lengkap di dalam nya. Bahkan tempat fitnes untuk olahraga juga ada. Kolam renang ada dua. Satu khusus anak - anak, satu lagi untuk orang dewasa."
"Kapan kamu beli rumah ini?"
"Aku tidak beli Shinta, rumah dan semua mobil yang aku miliki adalah hadiah.
Aku buat apa beli rumah mahal juga mobil mewah dan perabotan serba mahal.
Sebenarnya aku suka hal yang sederhana.
Karena... Kemewahan kadang membuat kita lupa pada Tuhan. Kadang bisa membuat kita sombong dengan menuhankan harta kekayaan.
Kalau kamu suka... Ambillah rumah ini untuk mu."
"Tidak Mas, terimakasih.
Aku bisa beli rumah sendiri kok.
Kecuali jika aku menjadi istri mu, aku mau tinggal disini."
"Mau jadi istri kedua," goda Damar.
"Hehehehe.
Asik juga kalau tidur bertiga, bisa rame.
Lelaki mau enaknya saja."
"Sudah jam 9, aku mau ke proyek mau lihat lihat. Kamu temani aku ya,?"
"Siaap," jawab Shinta.
*****
"Kang Mamat, sudah di sini?"
"Iya Tuan, di konfirmasi sama Cakno kalau disini."
"Kita ke kota Gresik ya kang, ke perumahan sedari.
Pakai mobil BMW saja yang kang, ingin nyoba rasanya."
"Baiklah Tuan."
*****
Mobil BMW X6 meluncur perlahan - lahan menuju perbatasan kota surabaya arah kota Gresik.
Tak lama kemudian mobil memasuki proyek perumahan Sedari tipe sederhana.
Dengan di temani Shinta dan manajer lapangan, Damar melihat - lihat beberapa rumah yang setengah jadi.
"Pak manajer... Disebelah proyek ini ada lahan luas yang kosong, Itu milik PT Podomoro apa bukan..?"
"Itu milik penduduk setempat Bos."
"Apakah tanah itu di jual..?"
"Iya Bos, di atas tanah itu ada papan bertuliskan di jual seluas dua hektare.
Hanya saja kodisi tanah nya harus melakukan pengurukan sekitar setengah hektare."
"Gitu ya," ujar Damar,
__ADS_1
"Kalau begitu, aku mau pergi dulu ya Pak, selamat bekerja."
"Iya Bos, silahkan."
"Kang Mamat, kita mampir ke makam Sunan Giri ya."
"Baiklah Tuan," jawab kang Mamat lalu menghidupkan mesin mobil BMW.
Tak lama kemudian, mobil BMW parkir di area makam Sunan Prapen putra Sunan Giri.
"Kang, habis ini kamu ke ATM bank central Hongkong," ujar Shinta.
"Baiklah Non."
"Kamu gak ganti jubah dan gak pakai jilbab," tanya Damar.
"Gak bawah Mas."
"Itu sudah aku siapkan di bagasi. Itu jubah baru, kamu yang beli belum di pakai."
"Owwh, iya iya, kalau gitu aku ganti dulu."
"Kalau bepergian itu, jangan lupa bawah baju muslimah. Barang kali mampir ziarah makam wali.
Senangnya kok pakai rok mini?"
"Kamu juga senang gitu mas kalau aku pakai rok mini," sahut Shinta sambil ganti jubah,
"Duduk mepet tangan numpang di paha."
Sambil memegang Hp yang nempel di telinga, Damar berjalan menuju makam sambil bicara via telpon,
"Dimas, sekarang juga kamu pergi ke Gresik ya, ke perumahan Sedari. Kamu lihat tanah seluas dua hektare di sebelah proyek perum sedari. Kamu tanyakan harganya, kalau cocok kamu beli saja, untuk memperluas perumahan Sedari."
"Baiklah bos."
"Nanti sore aku tunggu laporan nya.
Oh iya, kamu cari pegawai PT Podomoro Real Estate. Sementara kamu buatkan kantor di ruko.
Buka lowongan untuk jabatan direktur umum, direktur keuangan, dan jajarannya.
Karena, akan banyak lagi proyek pengembang."
"Baiklah bos."
******
"Shinta, wudhu dulu ya, setelah itu ziarah."
"Iya Mas."
Tak lama kemudian, Damar dan Shinta duduk di depan makam membaca yasin dan tahlil.
Baru beberapa ayat membaca yasin, seorang Kakek tua dengan panggilan mbah Mustofa berjalan tertatih-tatih lalu duduk pas di sebelah Damar. Kemudian Mbah Mustofa mengeluarkan tasbih lalu membaca wirid.
Selesai ziarah, Damar dan Shinta keluar makan lalu menuju warung kopi.
"Mas, tadi itu mbah Mustofa ya, yang duduk di samping kamu?"
"Iya.
Kamu cegat di pintu keluar, kamu ajak Mbah Mustofa ngopi kesini.
Dia suka banget dengan kepribadian mu."
"Kok kamu tau Mas..?"
"Dulu waktu ngopi disini sama aku, Mbah Mustofa memuji mu.
Itu mbah Mustofa keluar."
"Aku jemput Mas, aku ajak ngopi kemari."
"Assalamualaikum Mbah..."
"Waalaikumsalam.
"Itu di warung lagi nungguin Mbah.
Dia mas Damar Mbah, temen baik ku. Bukan suami ku," jawab Shinta sambil menuntun Mbah Mustofa.
Tak selang lama Mbah Mustofa duduk di sebelah Damar.
"Pak kopi hitam satu," kata Shinta,
*Sama teh hangat dua.
Mbah, makan ya?"
"Boleh."
"Makan nasi apa Mbah..?"
"Nasi rawon saja."
"Baiklah Mbah.
Buk, nasi rawon tiga, dagingnya di tambahin ya."
"Iya Bu Nyai."
*****
Sambil makan nasi rawon, Mbah Mustofa berkata pada Shinta,
"Bu Nyai... Yang rajin solat ya, yang rajin wirid."
"Iya Mbah.
Wirid apa Mbah..?"
"Wirid, subhanallah wabihamdihi subhanallah hiladhim astagfirullah."
"Bentar Mbah, aku catat.
Berapa kali Mbah..?"
"Khusus habis solat subuh, asar dan magrib 100x. Isak dan duhur terserah berapa kali.'
"Kalau solat hajat atau solat tahajjud berapa kali Mbah..?"
"Minimalnya 100x."
"Doanya gimana Mbah..?"
"Allahumma sogeh dunyo sogeh ilmu.
Awalilah doa mu dengan sholawat dulu ya. Dan di tutup dengan sholawat."
"Hehehehe.
Baiklah Mbah.
Doanya kok lucu sih Mbah.
Allahumma itu apa Mbah..?"
"Artinya...
Yaa Allah, berilah aku harta dan ilmu yang banyak.
Harta itu banyak tafsirannya.
Teman baik itu juga harta. Anak, suami, orang tua, saudara, sahabat juga tetangga itu juga harta.
Ilmu juga begitu, banyak tafsirannya. Ada ilmu dunia ada ilmu akhirat. Ada ilmu nyata ada ilmu goib. Ada ilmu agama ada ilmu keahlian kerja.
Dengan harta hidup menjadi bahagia
Dengan ilmu hidup menjadi mudah
__ADS_1
Dengan seni hidup menjadi indah."
"Iya Mbah, saya faham.
Terimakasih ya mbah, di beri wirid dan wejangan."
"Sama - sama bu Nyai. Kalau begitu, Mbah pamit dulu ya, sudah mau duhur.
Mas siapa ini..?"
"Mas Damar Mbah," sahut Shinta.
"Mas Damar...
Kamu jaga baik - baik Istri mu ini, Jangan di sia - siakan."
"Iya Mbah," jawab Damar sambil tersenyum.
"Ayo Mbah, saya antar," ujar Shinta.
"Tidak usah bu Nyai, itu sudah ada yang menjemput.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Shinta kemudian membayar nasi dan minuman,
"Ayo Mas, kita balik."
*****
Tak lama kemudian, mobil meluncur ke arah kota surabaya.
Setelah melaksanakan solat duhur di mesjid, Damar melanjutkan perjalanan kembali.
Dalam waktu kurang dari satu jam, mobil BMW X6 terparkir di proyek jalan merdeka,
"Kang, ini uang 100 ribu buat makan siang dan ngopi."
"Terimakasih Non."
"Jangan lupa kang, beli rokok sekalian," sahut Damar,
"Mumpung banyak duitnya bu Nyai."
"Iya Tuan."
Shinta mengandeng Damar berjalan melihat lihat proyek cafe Ayu dua.
"Shinta... Kamu terlihat cantik sekali siang ini," goda Damar.
"Kalau cantik ya di jadikan pacar atau di jadikan istri, biar gak di lihatin saja. Biar kamu bisa merasakan kecantikan ku."
"Selamat siang bos," sapa manajer lapangan.
"Siang juga pak.
Kapan selesai cafe ini..?"
"Dalam 4-5 hari, semua akan selesai bos. Ini tinggal finishing saja."
"Taman dan relip apa sudah selesai semua?"
"Sudah bos, air terjun buatan juga sudah selesai."
Setelah puas melihat lihat... Damar berjalan menuju mobil,
"Shinta, ayo."
"Bentar Mas, masih telpon bentar."
Setelah mematikan Hp, Shinta mendekati Damar
"Siapa yang telpon, kok lama amat..?"
Apa pacarnya..?"
"Pacar siapa..?
Gak tau apa Shinta sekarang jomblo.
Ini manajer cafe ku telpon. Katanya pinjaman uang 4 M di bank di tolak. Hanya di kasih 2 M saja."
"Butuh uang berapa," tanya Damar.
"Butuh 4 M, buat mendirikan cafe cabang Malang."
"Kang, ayo kita ke cafe Ayu Rungkut."
"Baiklah Tuan.
Di dalam mobil Damar berkata
"Gak usah pinjam bank.
Berapa no rekening mu..?"
"Gak usah Mas, aku masih ada sisa uang di bank."
"Berapa nomer rekening mu..?"
"Hemmm. Baiklah, ini."
"Sudah masuk, kamu cek."
Setelah melihat uang di rekening... Shinta langsung mencium pipi Damar,
"Terimakasih Mas.
Kok banyak amat tranfer nya! 100 M, buat apa..?"
"Itu uang mu sendiri."
"Kok bisa..?"
"Dulu waktu aku gak punya apa - apa, kamu memberi ku uang di rekening 3 juta. Sekarang menjadi 100 M."
"Hemmm... Balas budi ceritanya?"
"Pakai saja.
Buat biaya kuliah dan buat jajan kamu. Atau, barangkali kamu ingin usaha apa gitu,* ujar Damar menggoda,
"Oh iya, mobil mu honda jazz kamu ambil di rumah. Gak ada yang pakai, setiap hari mesin nya hanya di panasi saja."
"Nantilah aku ambil. Lagian aku sekarang jarang nyetir sendiri.
Oh iya, semalam Mama bilang, mau menjual sisa saham nya PT Marvis sama kamu Mas.
Karena, kalau di jual ke orang lain katanya rugi banyak."
"Kenapa kok di jual..?"
"Katanya, harga saham PT Marvis anjlok. Sebab PT Marvis sedang dalam masalah, produk nya di palsukan oleh pihak lain. Polisi masih melakukan penyelidikan dalam kasus ini.
Jika masalah ini tidak segera teratasi, maka PT Marvis akan kolep dan bangkrut.
Karena pengeluaran lebih besar dari pemasukan."
"Kang, kita ke PT Marvis ya, jalan Tidar raya Sedati."
"Baiklah Tuan."
"Mau ke perusahaan, Kamu gak ganti baju?"
"Iya, ganti Mas. Biar kamu seneng.
Gak sengaja dengar, kata Mama pas ngobrol sama Papa di teras samping rumah, kamu beli saham PT Marvis itu hanya untuk iseng - iseng saja."
"Iya Shinta. Aku hanya ingin memberi pelajaran Papa Mama mu saja.
Aku tidak begitu ngurusin PT Marvis. Walau bangkrut pun aku gak seberapa ngurusin.
__ADS_1
Aku lebih suka ngurusin perusahaan Kontruksi ku."