
"Sore Mas Damar," sapa Bilqis
"Sore juga Mbak, kok tau nama ku?"
"Di kasih tau Dodik adik ku.
Ini kopi untuk Mas Damar, sebagai rasa terimakasih atas kebaikan Mas Damar, yang telah memberi Hp baru sama Dodik."
"Oh, iya Mbak, sama - sama."
"Panggil saja Bilqis gak usah Mbak.
Sekarang mendung gelap dan akan turun hujan, silahkan kalau Mas berteduh di gubuk saya."
"Gak apa - apa berteduh di gubuk kamu?"
"Gak apa - apa, bebas Mas, malah senang bertambah teman. Gubuk saya juga sering kedatangan tamu temannya Papa.
Ini sudah mulai hujan rintik - rintik, Ayo Mas Damar."
"Baiklah," jawab Damar kemudian menuntun motornya. Baru saja di parkir di teras... Hujan turun dengan deras.
"Maaf Rante, numpang berteduh," kata Damar.
"Iya Mas Damar, silahkan.
Tetapi maaf ya, rumahnya gubuk, dan bocor."
"Gak apa - apa Tante. Ini sudah lebih dari cukup kok."
"Papa kehujanan Ma, kasihan," ujar Bilqis,
"Mas Damar, di minum kopinya biar gak dingin."
"Iya Bilqis."
"Mama mau goreng ubi dulu ya."
"Asiik," sahut Dodik,
*Yang banyak Ma goreng nya."
"Iya, tadi kak Bilqis mengambil banyak di kebun."
Dalam hati Damar berkata,
"Bukan kah gadis ini calon Istri ku..?
Ki Rekso Jagad pernah bilang, besok istri mu bernama Bilqis Elisa.
Coba aku tanya habis ini, siapa nama panjangnya. Kalau Elisa, berarti dia jodoh ku.
Mau solat, tetapi tempatnya begini. Mau numpang solat juga malu, bocor lagi gubuk nya.
Bilqis ini kalau di poles pasti terlihat sangat cantik, kalah Sarah dan Shinta juga Jessica.
Sayang dia hidup dalam Kemiskinan, jadi tidak terawat. Baju nya juga sangat lusuh dan kumal. Dalam keadaan begini saja terlihat aura kecantikan nya."
"Mas Damar... Ini kartunya unmilited loh, paket datanya 16 giga," kata Dodik yang sangat senang,
"Mas Damar gak punya chip buat main game slot domino?"
"Adik, gak boleh minta minta ke Mas Damar, udah di belikan Hp gitu.
Gak boleh juga main game slot. Nanti ketagihan," kata Bilqis.
"Biarin saja, sekali kali main game, kan ada yang gratisan.
Nanti juga bosan - bosan sendiri."
"Iya sih Mas. Takutnya kalau ketagihan."
"Mas Damar kasih ya, asal gak boleh ketagihan. Selanjutnya main game gratisan ya?"
"Asiik, iya Mas. Janji."
"Kamu kirim nomer ID nya ke no WA mas Damar ya.
Ini no WA nya Mas Damar."
"Sudah Mas."
"Ok, Kakak tak minta sama temen mas Damar. Kamu tunggu sebentar.
"Mas Dimas, belikan chip buat game domino 2b. Ini ID nya. Dan 10 b punya ku."
"Mas Damar ini cukup ganteng juga, hehehe. Baik hati mau berbagi," ujar Bilqis dalam hati, "Pakainya biasa - biasa saja, sederhana. Motor nya juga sederhana honda model lama. Tidak nampak seperti keluarga kaya.
Tetapi, banyak duitnya. Kerja apa dia ini ya..?"
"Sudah masuk mas Damar, 2b," kata Dodik.
"Ya sudah, main saja."
"Mas Damar..."
"Iya Bilqis."
"Mas ini kerja apa masih sekolah..?"
"Masih sekolah kelas tiga SMA."
"Kok banyak duitnya..?
Sampai belikan Dodik chip segala."
"Ya sekolah ya kerja."
"Kerja di mana mas..?"
"Di proyek."
"Sekarang libur gitu..?"
"Iya, bolos kerja."
"Makanya banyak duitnya."
__ADS_1
"Ya ada saja rejekinya."
"Bilqis...
Ini ubi gorengnya.
Ajak mas Damar makan ya, hujan deras pasti lapar kalian. Ini Mama buatkan indomie. Makan pakai nasi biar kenyang. Ini ada teh panas."
"Iya Ma," jawab Bilqis kemudian mengambil indomie dan teh,
"Ayooo Mas Damar, kita makan bareng. Dodik, ayo makan dulu."
"Ok Kak."
Melihat kebaikan keluarga Bilqis, dan melihat menu makanan yang di sajikan, hati Damar terasa sedih dan sesak. Damar teringat masa lalunya. Masa kecil hingga SMA kelas tiga. Masa - masa yang sulit dan masa yang sangat perih untuk di kenang.
Dua indomie goreng dan sedikit nasi di makan bertiga. Damar faham, kalau Mama nya Bilqis belum makan dan mengutamakan anak - anaknya.
"Ayoo mas Damar, di makan," ujar Bilqis, "Seadanya. Habis ini makan ubi goreng."
"Iya Bilqis," jawab Damar kemudian mengambil piring.
Selesai makan, Damar menikmati ubi goreng dan segelas kopi.
Adzan magrib, hujan belum juga reda. Damar dan Bilqis juga Dodik rame main game slot.
"Bilqis, dari pada lihat Dodik main game sambil teriak - teriak, ini pakai hp ku, kamu pakai main game, biar rame," ujar Damar menyodorkan Hp nya.
"Iya Kak, pakai saja Hp nya mas Damar," ujar Dodik,
"Nanti kalau menang bisa di jual. 1b nya 50 ribu di konter depan.
Ini aku sudah menang jadi 4b."
"Siaaap, akan kakak menangkan banyak ya," ujar Bilqis kemudian main game slot.
"Bilqis gak punya Hp," tanya Damar.
"Gak punya Mas hehehehe.
Terakhir punya HP kelas satu SMA. Sampai sekarang kelas 3 SMA belum punya Hp."
"Kalau hujan nya rendah, ikut aku ya, tak belikan Hp. Kamu pilih sendiri merk dan model yang kamu suka."
"Gak Mas, makasih."
"Kenapa..?
Kan kamu butuh Hp buat berhubungan dengan teman juga saudara. Juga untuk mengakses informasi. Bisa juga untuk belajar."
"Malu Mas.
Kan mas Damar barusan membelikan adikku Hp baru."
"Gak apa - apa, aku ada cukup uang kalau buat beli Hp. Keluar sekalian sama beli rokok aku."
"Mau saja Kak," sahut dodik sambil main game,
"Mas Damar orang nya baik.
Kalau Kakak punya Hp, kan aku ada temannya kalau main game!"
"Kamu pamit sama Mama mu."
"Hemmm, baiklah, aku gini aja ya, pakai celana pendek. Jalannya pasti banjir.
Mama..!
Hemmm, Mama tidur.
Dodik kalau Mama tanya, bilang kakak keluar sebentar.
Ayo mas, Mama ku tidur. Lewat kampung saja, lewat bantaran sungai becek dan licin kalau hujan deras gini."
"Baiklah," jawab Damar kemudian menghidupkan mesin motor.
Tak selang lama motor pun melaju pelan pelan.
*****
"Bilqis... Nama kepanjangan mu siapa?"
"Bilqis Elisa.
Kalau kamu siapa?"
"Damar Ahmad.
Di mana ada ATM bank Asia..?"
"Di indomaret mas, masuk perumahan depan itu."
Setelah masuk indomaret, Damar membeli dua bungkus rokok, lalu keluar,
"Kosong ATM nya."
"Kalau gitu kita ke kotanya saja, lewat sini saja biar dekat," ujar Bilqis.
"Ok," jawab Damar kemudian melajukan motornya.
Setelah mengambil uang di ATM, Damar dan Bilqis pergi ke blok Gading Fajar.
Tak lama kemudian Damar memarkir kan motor nya di depan konter,
"Bilqis, ayoo, kamu pilih sendiri Hp nya."
"Mas Damar saja ya, yang memilih kan, terserah merk apa. Beli yang murah - murah saja mas."
"Hemmm,, baiklah."
"Mbak, bisa bayar gesek pakai ATM..?"
"Bisa Mas."
"Kalau begitu aku ambil iPhone yang ini ya, harganya 7 juta. Sama laptop ini, yang 11 juta.
Sama kartu umlitide dua."
__ADS_1
"Baiklah Mas."
"Ini ATM nya."
Melihat Damar belanja habis 18 juta, Bilqis sangat terkejut sekali,
"Mas Damar... Kok banyak amat Hp nya?
Ngapain juga beli laptop?"
"Gak apa - apa, biar awet dan nyaman di pakai. Laptop bisa kamu pakai belajar."
*****
Setelah membeli HP dan laptop, Damar mengajak Bilqis makan malam di McDonald's.
"Mas Damar... Terimakasih ya, atas kebaikan nya."
"Sama - sama Bilqis."
"Mengapa mas Damar membelikan semua ini pada ku..?"
"Bilqis...
Aku tidak ada maksud apa - apa.
Aku hanya ingin berbagi kepada mu juga keluarga mu saja.
Karena aku... Dulu, keadaan ku sama seperti dirimu.
Masa kecilku dulu sangat susah dan menderita sekali. Bahkan aku sering makan nasi lauk kerupuk saja. Kadang nasi tidak layak makan.
Aku masih ingat waktu SD dulu. Aku berkata pada ibu ku. Buk, aku lapar sekali. Lalu ibu ku pergi sambil menangis. Ibu ku pinjam uang sama tetangga, kemudian membeli beras dan indomie.
Lalu ibu ku masak nasi, dan aku duduk di kursi sambil menunggu nasi matang. Ibuku pura pura bahagia dengan menyanyikan lagu anak anak, agar aku dan adikku terhibur dan tersenyum.
Setelah matang... Indomie sebungkus itu aku makan bersama adikku. Sedangkan ibu ku memakan nasi di campur kuah yang tersisa di piring."
"Sudahlah Mas, jagan meneteskan air mata," ujar Bilqis,
"Ini tisu, hapus lah air mata mu.
Aku minta maaf ya, telah membuat mu sedih teringat masa lalu.
Ayoo mas, di habiskan, habis ini kita pulang."
Selesai makan, seorang pelayan McDonald's mendekati Damar,
"Ini tadi pesanan anda."
"Terimakasih Mas."
"Banyak amat Mas, bungkusnya."
"Untuk Dodik Papa dan Mama mu. Ini juga ada burger untuk mu.
Ayoo kita pulang ke rumah mu."
"Baiklah Mas."
******
Sampai di halaman rumah, Bilqis dan Damar berjalan menuju pintu masuk.
"Malam Om," sapa Damar.
"Malam juga, silahkan masuk," ujar Pak Anjar papa nya Bilqis.
"Kok malam Pa pulangnya," tanya Bilqis.
"Hujan tadi, Papa berteduh menunggu hujan reda."
"Ini buat Papa dan Mama. Adik... Ini untuk mu."
"Bilqis, aku pulang dulu ya, ini sudah jam 9 malam," kata Damar,
"Om, mau pamit pulang dulu."
"Iya Mas, hati - hati ya, jalannya licin."
"Iya Om,
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Di depan halaman rumah, Damar menyala kan motornya.
"Mas Damar, malam ini aku senang sekali. Terimakasih untuk semuanya."
"Sama - sama Bilqis. Aku juga senang malam ini."
"Besok hari sabtu, kalau kamu gak kerja, kamu mancing kesini lagi ya!
Aku temani."
"Iya, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah Damar pergi, Bilqis kembali masuk rumah, kemudian membawa kantong plastik dan tas berisi laptop.
Sambil menikmati kepulan asap rokok... Pak Anjar Papa nya Bilqis berkata lirih,
"Teman barunya Bilqis itu bukan anak dari keluarga biasa - biasa. Dia pasti anak dari keluarga pengusaha kaya raya.
Harga jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, merk Rolex seharga 150 juta lebih. Harga sandalnya jepit nya saja sekitar 1,2 juta. Sandal jepit khusus di rancang untuk medan pegunungan.
Anak siapa dia..?
Kalau pengusaha Surabaya Sidoarjo, kemungkinan aku kenal."
*****
Di dalam kamar yang kumuh berdinding tripleks, Bilqis sangat senang sekali sambil membuat akun untuk mengaktifkan iPhone,
"Alhamdulillah... Tuhan mengirim kan malaikat yang baik untuk ku. Sejak lama aku memimpikan iPhone dan Laptop, akhirnya aku sekarang memiliki nya.
__ADS_1
Tetapi sayang sekali, sudah mau lulus sekolah baru punya laptop."