
"Assalamualaikum," sapa Damar sambil masuk rumah,
"Ayo Sarah, masuk."
"Waalaikumsalam," jawab ibu Farida
"Siang Buk," sapa Sarah kemudian salim cium tangan.
"Siapa nama nya," tanya ibu Farida sambil tersenyum
"Sarah Buk"
"Rumahnya mana?"
"Desa Seruni Buk."
"Seruni..?"
"Iya Buk Seruni."
"Sarah makan siang dulu ya. Ayo masuk ke dalam."
"Iya Buk," jawab Sarah kemudian mengikuti ibu Farida ke ruang makan di dapur.
"Sarah, sini bentar," panggil Damar
"Apa Mas?"
"Kamu mandi dulu, lalu ganti baju yang baru kamu beli di Ramayana.
Mandi di kamar ku saja, ini handuknya.
Aku tunggu di ruang makan dapur ya."
"Iya Mas," jawab Sarah kemudian mandi.
"Damar..."
"Iya Buk."
"Anak siapa lagi kamu bawah pulang ha!!"
"Sarah itu teman aku Buk, bukan pacar. Tidak ada hubungan apa - apa."
"Alasan saja kamu itu. Anak orang buat mainan saja. Dosa kamu.
Teman teman. teman tetapi mesra?"
"Siapa juga yang buat mainan, emang layang - layang apa di buat mainan.
Damar hanya berteman, kalau jadi pacar, ya Alhamdulillah."
"Assalamualaikum," sapa Samsul kemudian nyelonong masuk ke dapur.
"Waalaikumsalam.
Sini Sul, makan siang dulu," ujar Damar.
"Siaaap!
Masak apa Bu lek?"
"Masak kare ayam. Ambil piring sendiri Sul."
"Ok Bu lek."
"Mas Damar..."
"Sini Sarah, di dapur sini."
"Aduuuuh, mantu Bu lek cantik sekali ya Allaaaah!"
"Cangkem mu Sul," sahut Damar.
"Duduk sini Sarah, sama ibu ya. Ayo makan bersama."
"Bapak mana Buk?"
"Bapak mu barusan keluar, katanya mau beli bibit pisang."
Sambil makan, ibu Farida berkata,
"Sarah, ibu punya teman sekolah SMA. rumah nya di desa Seruni."
"Seruni nya mana Buk?"
"Itu yang ibu tidak tau. Dulu teman akrab di sekolah. Tetapi kami tidak pernah saling berkunjung. Karena, jaman sekolah ibu dulu lain dengan jaman sekarang."
"Namanya siapa Buk, barangkali Sarah kenal."
"Namanya Latifah Nur Ajizah."
"Itu nama ibu saya Buk."
"Benarkah..! Kamu anaknya Latifah..?"
"Iya Buk. Tetapi nama Latifah di desa Seruni itu ya banyak. Coba nanti Sarah foto, barang kali ibu saya Latifah teman ibu."
*****
Selesai makan, Damar melaksanakan solat duhur berjamaah, kemudian pamit pergi,
"Buk, Damar pergi dulu ya, mau ke rumah sakit dulu, terus malam nya mau ziarah."
"Ibu, Sarah pamit dulu ya," kata Sarah kemudian salim cium tangan.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.
Sul, hati hati ya, jangan ngebut."
"Iya Bu lek, siaaap!
Ayoo Mar, bawa apa saja kamu itu."
"Iya ini juga mau naik.
__ADS_1
Bawa sandal sama sarung dan baju ganti.
Mampir ATM bank Asia nanti."
"Ada ATM di rumah sakit," jawab Samsul kemudian melajukan mobilnya.
*****
Di dalam mobil, Sarah berkata dalam hati,
"Mas Damar ini lelaki misterius. Rumah depan nampak sederhana bahkan jelek. Dapur masih berdinding anyaman bambu, tetapi kamarnya sangat bagus sekali. Bahkan ada AC nya. Ada kamar mandi.
Damar juga punya mobil Fortuner.
Punya mobil tetapi kemana mana naiknya motor jelek.
Hemmmm, aneh Mas Damar ini. Biasanya, kalau orang kaya banyak duit selalu pamer dan menunjukkan dirinya punya.
Ibu nya juga ramah baik hati. Makan nya juga sederhana."
"Sarah..."
"Iya Mas."
"Hp nya sudah aktif belum."
"Sudah Mas, ini baru aku aktif kan."
"Ini nomer ku, kamu simpan. Barangkali ingin kencan sama aku, kamu tinggal WA saja."
"Hahahahaha!
Bisa aja lu kecebong," sahut Samsul.
"Hehehehe," Sarah tertawa lirih.
"Sudah sampai, cari parkir dulu."
Setelah turun dari mobil, Damar mengulurkan tangannya pada Sarah, dan Sarah pun menyambut dengan senang hati.
"Assalamualaikum Buk."
"Waalaikumsalam Nak Damar.
Sarah, kamu terlihat cantik sekali hari ini?"
"Iya Buk, di dandani Mas Damar.
Buk, kenal gak sama ibu ini," tanya Sarah kemudian menunjukkan foto ibu Farida yang baru di kirimi Damar via WA.
"Bukannya ini Farida orang dari desa Nagrek..?
Dia sahabat ibu waktu sekolah di SMA.
Kok bisa kamu punya fotonya ibu Farida?"
"Mas Damar ini putra nya ibu Farida."
Yaaa Allah..! Pantasan anak nya baik sekali, niru ibu nya.
Sini Nak Damar, ibu ingin peluk kamu."
"Bagaimana kabar ibu mu Nak?"
"Alhamdulillah, sehat dan tambah cantik Buk," jawab Damar.
"Lama sekali aku tidak pernah bertemu dengan Farida ibu mu. Mungkin 20 tahunan."
"Besok biar saya ajak main ke rumah ibu Latifah di desa Seruni."
"Buk, jam berapa bapak pulang," tanya Sarah.
"Sekarang juga gak apa - apa. Ini sudah jam tiga."
"Sul, siapkan mobilnya di depan pintu ya, aku dan Sarah akan dorong pak Rahmat pakai kursi roda."
"Siaaap!"
*****
Setelah berada di dalam mobil, Samsul langsung melajukan mobi ke arah desa Seruni.
Tak lama kemudian, sampailah di rumah Sarah.
"Nak Damar, anggap rumah sendiri ya, jangan sungkan - sungkan."
"Iya Buk."
"Ibu buatkan kopi dulu sebentar."
"Mas Damar, minta tolong ya, ambilkan tas belanjaan di mobil."
"Iya Sarah," jawab Damar beranjak,
"Taruh mana ini..?"
"Sini Mas, taruh kamar ku saja. Masuk sini."
"Ini barang belanjaan mu."
"Makasih ya Mas, di belikan banyak baju dan celana juga kosmetik."
"Sama - sama Sarah."
"Ayo ke depan, aku temani minum kopi."
"Ini kopinya, ini ada tape goreng,x ujar ibu Latifah.
*****
Sambil menikmati tape goreng dan secangkir kopi kapal air, Damar, Samsul juga Sarah saling berbagi cerita dan canda tawa.
"Mar, aku pasang nomer kucing 100 juta, dan Macan kucing besar 100 juta. Niatnya jangan di tanya ya..? Sudah hafal aku!"
"Hehehehe."
"Kamu gak pasang," tanya Samsul.
__ADS_1
"Gak Sul, gak punya uang. Uangnya habis buat beli tanah," jawab Damar bohong.
"Ya sudah, kalau nomer mu keluar, aku kasih kamu komisi."
"Mas, ini aku belikan es dawet di belakang rumah, sama rujak. Ayo makan bersama."
"Siaap, Sarah," jawab Samsul.
Sambil makan rujak, Damar berkata,
"Sarah, nanti ikut gak ziarah makam wali?"
"Boleh, lama juga aku gak ziarah ke makam wali.
Jam berapa Mas?"
"Berangkat habis solat magrib saja."
"Ok."
*****
Setelah solat magrib, Damar dan Sarah pamit pergi ziarah ke makam kyai Pamenang.
Tak lama kemudian, Samsul memarkir kan mobil nya di area makam. Baru saja turun dari mobil, terdengar suara adzan isak berkumandang.
"Kok baru adzan isak ya," ujar Damar heran.
"Iya ya Mas, perasaan di perjalanan kita lama loh, pakai macet segala."
"Sul, gak turun kamu?"
"Iya, ini lagi ngecek nomer togel yang keluar."
"Keluar berapa?"
"3718."
"Wah, dapat hadiah kamu."
"Hehehehe, iya Mar. Lumayan 70 ribu x 100 juta.
Asiiikk, bisa buat bayar tukang dan kuli.
Ini barokah mu Mar. 6 kali ini aku dapat hadiah nomer togel dari kamu. Gedeh - gedeh lagi hadiahnya."
"Makanya yang nurut sama Gus Damar ya, biar dapat barokah," canda Damar,
"Di ajak kemana saja nurut, di suruh juga nurut."
"Iya iya glGus, hahahaha!
Aku mau ziarah dulu Mar."
"Iya Sul.
Sarah, kita solat isak dulu ya, kita jamaah di teras samping masjid."
"Iya Mas."
******
Setelah solat berjamaah, Damar melanjutkan solat taubat dan solat hajat berjamaah dengan Sarah. Lalu Damar dan Sarah wirid istighfar, dan sholawat jibril.
Setelah itu di tutup dengan doa sapu jagad.
Selesai berdoa, Damar dan sarah ziarah di makam kyai Pamenang.
"Sarah... Kita duduk di bawah pohon kamboja saja. Di depan makam banyak orang.
"Baiklah Mas."
Tak lama kemudian, selesai baca yasin dan Tahlil, Damar dan Sarah keluar makam, lalu menuju warung nasi.
"Pak ada nasi apa saja," tanya Damar.
"Ada nasi pecel, nasi campur dan nasi rawon Mas."
"Nasi campur berapa pak perbungkus?'
"Kalau pakai telor 10 ribu Mas, kalau pakai daging ayam 12 ribu."
"Bungkus 100 ya Pak, pakai daging ayam. Tolong bapak bagikan pada orang - orang yang lagi istirahat di masjid.
Ini uangnya 1,5 juta. Yang 300 ribu kasih air aqua ya."
"Iya Mas, terimakasih banyak ya."
"Sama - sama Pak."
"Ayo sarah, kita ke Samsul di warung belakang masjid."
*****
"Lama amaat ziarah nya," ujar Samsul.
"Biasa pengantin baru," jawab Damar,
"Sarah minum apa?"
"Minum teh saja Mas."
"Kamu gak ngantuk?"
"Gak Mas."
"Sul, katanya di kasih komisi, mana?"
"Sudah aku transfer 2 M. Besok besok kasih nomer lagi ya?"
"Hahahaha!
Cepat kaya dirimu kalau dapat hadiah terus.
Alhamdulillah, dapat komisi 2 M, bisa buat bayar tukang dan kuli proyek.
Besok aku bagikan pada karyawan cafe."
__ADS_1
*Bersambung.