
Setelah solat isak dan solat sunnah malam, Damar kemudian ziarah ke makam kyai Pamenang.
Setelah ziarah... Damar duduk di warung langanan.
"Masih jam 11.
Cakno, ayoo pergi," kata Damar,
"Ke rumah ku ya Cakno. Perumahan Elizabet jalan camar no 10."
"Baiklah Tuan. "
"Intan, Ayoo kita pergi. Badanku capek semua, pegal pegal rasanya."
"Apa Tuan mau saya pijitin," kata Intan.
"Hehehehe.
Bisa kamu mijitin?"
"Bisa Tuan."
"Baiklah," jawab Damar kemudian masuk mobil.
Hujan tiba - tiba turun dengan deras. Mobil Fortuner milik Damar terus melesat ke arah tengah kota Surabaya.
Tak lama kemudian, seorang satpam membukakan pintu pagar, dan mobil memasuki halaman rumah mewah nan luas.
Damar keluar mobil dengan badan yang capek dan lesu. Begitu masuk ke kamar utama, Damar langsung merobohkan bandan nya di atas springbet.
"Cakno, pulang sesuai jadwal ya," kata Intan asisten Damar,
"Istirahat di pos satpam saja."
"Baiklah Non."
"Mari Tuan, saya pijitin," ujar Intan kemudian mendekat.
Melihat Damar diam saja... Intan memberanikan diri untuk memyentuh lengan Damar. Kemudian menyentu leher dan pipi Damar,
"Badannya panas sekali, lebih baik aku panggilkan dokter."
Setelah melihat daftar dokter jaga panggilan yang di sarankan pihak perumahan, Intan langsung menelpon dokter jaga.
Tak lama kemudian datang seorang dokter laki - laki setengah tua memeriksa keadaan Damar dengan teliti.
"Maaf Nyonya...
Suami anda hanya kelelahan yang berlebihan. Hanya butuh istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung nutrisi.
Ini hanya saya beri Vitamin cair."
"Baiklah dokter, terimakasih banyak."
"Kalau begitu, saya permisi dulu, selamat malam.*
"Malam juga."
*****
Jam 10 malam di kediaman keluarga Darwin.
Sehabis belajar, Shinta keluar kamar lalu menuju meja makan. Melihat menu udang saus dan cumi cumi goreng kesukaan nya, Shinta langsung duduk dan mengambil piring.
Sambil makan, Shinta mendengarkan percakapan Papa dan Mama nya di teras samping rumah dekat taman.
"Perusahaan kosmetik PT Marvis semakin hancur Pa, sejak CEO nya Damar. Harga saham semakin anjlok. Kasus pemalsuan produk Marvin juga belum kelar. Pihak polisi masih menyelidiki kasus ini, dan akan memakan waktu yang lama.
Kalau kasus ini dalam waktu 4 bulan tidak kelar juga... Mama pastikan pt Marvis kolep dan bangkrut.
Karena pengeluaran lebih besar dari pemasukan."
"Lalu, bagaimana dengan uang mu di pt Marvis?"
"Ya itu masalahnya. Jika di biarkan, uang kita 3,8 T akan susut. Bisa - bisa tinggal 1 triliun. Gak hilang itu sudah untung untungan."
"Jalan satu satunya kamu harus menjual semua saham PT Marvis Ma."
"Di jual bagaimana..?
Harga saham PT Marvis anjlok kok di jual. Bisa rugi ratusan milyar dong kita, bisa bisa malah rugi 1,5 T."
"Mama bisa gak rugi banyak, asal Damar si bajingan itu mau membeli saham itu."
"Mana mungkin mau si Damar..?!
Damar hanya mau melihat kita bangkrut dan menderita.
PT Marvis saja sengaja di biarin sama Damar. Maksudnya uang kita biar tertahan dengan kerugian besar.
Damar sengaja membeli saham hanya untuk balas dendam pada kita. Karena, selama ini kita selalu menghinanya dan melarang dia berhubungan dengan Shinta anak kita.
Kemarin lusa... Asisten Damar dan team notaris datang ke Pt Inka, untuk menemui direksi. Mereka datang untuk pengesahan pergantian pemegang saham.
Jadi... Damar mengusai saham Pt Inka sebesar 45%.
Pak Wlly dan pak Jhoni telah melepas saham itu, dan di beli oleh Damar bajingan itu.
Jadi... Yang aku khawatirkan, jika Damar menarik semua modalnya di Pt Inka."
"Jika itu terjadi... Maka PT Inka akan kolep, bisa - bisa bangkrut.
__ADS_1
Uang dari mana sebanyak itu jika Damar menarik seluruh modalnya.
Sedangkan semua uang kita, sudah kita investasi kan di PT baja stile india.
Kalau Papa jual saham... Maka Damar yang akan mengendalikan perusahaan itu."
"Dari mana Damar mempunyai banyak uang ya," ujar ibu Heny,
"Masih sekolah SMA kelas tiga sudah mempunyai uang triliunan."
"Makanya jangan suka menghina dan merendahkan orang miskin," sahut Shinta yang tiba - tiba berdiri di depan pintu.
"Diam kamu, tau apa urusan orang tua," bentak Pak Darwin.
"Pa, emang Shinta selama ini buta dan tuli apa..?!
Shinta tau perseteruan Mas Damar dan Mama di pt Marvis.
Sekarang giliran perusahaan Papa di serang sama mas Damar. Itu baru Pt Inka Pa.
Kalau pt Bimbin Shu di serang oleh mas Damar, kelar keluarga kita. bisa bangkrut keluar kita. Papa dan Mama bisa ngontrak rumah di pinggir kali Wonokromo."
"Shinta..!! Jaga ucapan mu sama orang tua!"
"Emang kenyataan begitu kok Ma.
Mas Damar sakit hati gara - gara Papa katain kere, miskin, bodoh dan anak gak jelas dari keluarga miskin.
Shihta denger sendiri Papa ngomong gitu di hadapan Mas Damar. Mama juga gitu kan, suka menghina Mas Damar. Shinta sering dengar Mama memaki maki Mas Damar.
Sekarang....Yang Papa Mama hina itu, adalah Bos Podomoro grup, juga presiden direktur pt Marvis.
Sekarang mas Damar mendirikan perusahaan Real Estate, juga mendirikan usaha kuliner.
Mas Damar sekarang mengandeng pak Jhoni Bos besar Metta Grup. Mas Damar juga menjalanin hubungan dengan Sabrina bos pt Aksa grup."
Mendengar keterangan Shinta anaknya, pak Darwin dan ibu Heny sangat terkejut sekali diam seketika.
"Lagian, Shinta anak Papa Mama, di larang pacaran sama bos pt Podomoro grup.
Dulu... Kalau di restui kan enak. Sekarang siap - siap saja keluarga kita bersaing bisnis dengan Mas Damar.
Kalau Mama mau jual saham PT Marvis, biar Shinta yang ngomong sama Mas Damar. Biar Mama gak rugi besar."
"Nanti saja, Mama pikir dulu. Tetapi kamu tanya - tanya saja dulu sama Damar. Apa mau dia beli saham Pt Marvis lagi?"
"Baiklah Ma," jawab Shinta kemudian masuk kamar mengambil Hp.
Setelah menghubungi Damar berberapa kali, Shinta berkata lirih,
"Kok gak aktif sih. Hp dua gak aktif semua.
Masih jam 12 malam, tumben gak aktif. Apa Damar lagi di makam ya..?
Coba aku telpon Asistennya.
Setelah tersambung,
"Tuan Damar di mana Mbak, kok semua Hp nya gak aktif?"
"Tuan Damar lagi sakit deman Non."
"Di rumah apa di rumah sakit?"
"Ada di rumah perumahan Elizabet Non."
"Rumah nya siapaa?"
"Rumahnya Mas Damar."
"Baiklah, kamu kirim alamat lengkapnya."
"Baiklah Non."
*****
Setelah memesan taksi, Shinta keluar kamar,
"Pa, Ma, Shinta mau keluar dulu."
"Mau kemana malam malan gini," tanyaama nya.
"Mau menjenguk teman sakit."
"Ya sudah, jangan pulang malam malam, besok pagi Mama dan Papa mau ke Semarang."
"Iya Ma, paling pagi kalau gak siang pulangnya," jawab Shinta kemudian masuk mobil taxi yang sudah menunggu di depan rumah,
"Perumahan Elizabet jalan camar no 10 Mas."
"Baiklah Mbak."
***
"Banyak uangnya mas Damar ini, bisa beli rumah di Elizabet. Kalau aku baca iklannya, harga rumah di situ 360 milyar. Dengan kondisi rumah mewah, lantai dua. Halaman rumah saja bisa buat parkir mobil lebih dari 50 mobil. Halaman samping kanan kiri. Belum belakang.
Rumah Papa Mama ku hanya serharga puluhan milyar."
"Sudah sampai Mbak."
"Ini pak, uang bayarnya, kembalian nya untuk mas nya saja," ujar Shinta kemudian keluar.
__ADS_1
"Terimakasih Mbak."
****
"Malam..."
"Malam juga Non," sapa seorang satpam,
"Mau bertemu siapa?"
"Mas Damar."
"Sebentar ya Mbak, saya konfirmasi dulu."
"Iya Pak."
Tak Lama kemudian,
"Silahkan masuk."
"Baiklah, terimakasih," jawab Shinta kemudian berjalan mendekati pintu.
"Selamat malam Non Shinta," sapa Intan.
"Malam juga."
"Tuan Damar lagi istirahat di kamar utama. Kata dokter barusan, Tuan Damar hanya kelelahan saja. mari ikuti saya."
"Baiklah.
Kamu istirahat saja ya, biar aku yang merawat nya."
Setelah masuk kamar, Shinta langsung menyentuh pipi Damar yang sedang tidur,
"Hemmmm, suhu tubuh nya dingin."
Setelah mengambil baju tidur, Shinta berkata,
"Mas...
Mas, ganti baju tidur dulu, biar lentur urat - urat nya."
"Kamu Shinta..?
Kok tau aku disini..?"
"Tadi aku telpon Asisten mu. Katanya kamu demam."
"Iya, capek sekali badan ku, kurang tidur juga dari semalam."
"Kalau begitu pakai sarung saja, aku kerokin dan aku pijitin."
"Baiklah.
Kamu cari minyak di meja barangkali ada."
"Iya, itu ada uang khusus kerokan dan minyak zaitun.
Sebentar, aku buatkan susu tulang. Jangan ngopi terus.
Habis ini kamu minum vitamin dari dokter."
"Iya..."
*****
"Ini susunya, di minum dulu.
Kamar kamu kok ada kaca rias segala, dan banyak kosmetik wanita.
Kayak sudah beristri saja."
"Kamu pakai saja.
Itu sudah ada sejak pertama aku masuk rumah ini, semua perabotan sudah lengkap.
Aku hanya tinggal masuk saja."
"Sinian dikit Mas, biar enak ngerok nya."
"Ada kamu, jadi gak tidur," gumam Damar.
"Habis kerokan dan pijit, aku kelonin biar tidur nyenyak kamu."
Waktu terus berlalu, malam pun merambat pelan, serbuk embun bertaburan sampaikan salam mesra dari Tuhan.
Jam dua dini hari Damar terbangun dalam pelukan Shinta.
Setelah perlahan - lahan meletakkan tangan Shinta di atas guling, Damar berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan minyak zaitun yang menempel di punggung nya.
Setelah rapi dengan memakai sarung warna hijau dan baju putin lengan panjang pemberian Ita, Damar melihat wajah Shinta sembari berkata lirih,
"Tidur saja masih terlihat cantik.
Kasihan sekali Shinta ini.
Aku tau dirimu sangat mencintai ku.
Aku tau cinta mu sangat dalam padaku.
Tetapi... Aku takut untuk mencintai lagi.
__ADS_1
Walau bagaimana pun, aku bisa sukses dan kaya raya begini, semua itu berawal dari pengorbanan cinta mu.
Aku telah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan membalas semua kebaikan mu."