Makam Keramat

Makam Keramat
Bercanda di dapur


__ADS_3

"Sudah jam satu malam, ayo pulang," ujar Damar,


"Besok kalian gak sekolah?"


"Iya, ayo balik."


Setelah membayar makan dan minum, Mobil Damar dan teman - tamannya meluncur ke arah kota Surabaya.


Sesampai di halaman rumah, Damar dan Shinta juga Sarah langsung menuju kamar lewat pintu samping.


Sementara Cakno mengantar Intan ke kos kossan, lalu menaruh mobil di parkiran cafe ayu.


Setelah memakai baju tidur, Shinta menyalahkan Ac, lalu merebahkan badan di dekat Sarah yang terlebih dulu merebahkan badan di tempat tidur.


Sementara... Damar selesai mandi, mengenakan sarung, lalu solat tahajjud di tempat solat yang terletak di dapur.


Selesai solat dan Dzikir 1000x, Damar mengambil Hp lalu kembali duduk bersandar di kursi meja makan.


Setelah menyalah kan laptop, Damar mempelajari mempelajari ilmu manajemen bisnis di chanel Bisnis indonesia.


"Loh mas, sudah jam setengah tiga kok belum tidur," tanya ibunya tiba - tiba.


"Lagi belajar Buk. Ibu mau ngapain nyalahin kompor?"


"Mau bikinin kopi Papa mu."


"Hahahaha, Papa..!!!


Gak pantes di panggil Papa.


Emang bapak bagun..?"


"Iya, tuh Bapak mu."


"Tumben Bapak bangun tengah malam.


Sini Pak, duduk sama anaknya yang ganteng.


Damar juga mau kopi Buk."


"Iya..."


"Ini kopinya, ibu mau mandi dulu."


Setelah menyeruput kopi, lalu menyulut rokok surya 16, Damar berkata,


"Pak... Dalam beberapa hari ini, Damar lihat, ibu kok sering mandi tengah malam ya. Gak kayak biasanya gak tau mandi tengah malam?"


"Ha, kamu itu ingin tau urusan orang tua saja," jawab Pak Yasin kemudian menyulut rokok,


"Rahasia itu."


"Hemmmm..."


Tingtung Tingtung!


HP bisnis Damar berdering,


"Tante Heny, Mama nya Shinta, jam segini belum tidur.


Iya Tante..?"


"Mas Damar... Tadi setelah tante berbicara dengan Papa nya Shinta, Tante siap melepas saham PT Marvis 20%.


Tetapi Papa nya Shinta tidak tau kalau Mas Damar yang membelinya.


Lalu... Bagaimana kelanjutan nya besok?"


"Iya Tante, besok kita bertemu di Kantor Notaris & pengacara Beny Abraham jam 09 pagi.


Habis ini, saya kirim alamatnya."


"Baiklah, Tante tunggu kabar."


*****


"Alhamdulillah...


Kalau nanti siang transaksi jual beli saham di hotel Hilton deal, dan transaksi dengan Tante Heny juga deal... Maka aku akan menguasai saham PT Marvis 55%. Dan aku bisa berkuasa penuh mengendalikan PT Marvis kosmetik.


Tante Heny dan om Darwin rupanya tidak sadar, kalau aku sudah memiliki 20% saham dari Ita, dan beli lagi dari pemegang saham yang resah.


Hemmm, dengan 55% saham PT Marvis, aku harus mengeluarkan uang sebesar 4,4 triliun. Untung aku punya uang hasil hadiah sedekah nomer togel.


Lebih baik aku WA pak Beny Abraham dan WA Dimas."


*****


Adzan subuh terdengar berkumandang, Pak Yasin dan ibu Farida menyudahi wiridnya,


"Mas Damar, kamu gak ngantuk Mas..?"


"Tidak Buk, karena hati Damar sangat senang sekali malam ini."


"Senang punya pacar dua atau gimana,x ujar ibu Farida, lalu duduk di dekat Damar kemudian minum susu.


"Pacar dua gimana maksudnya..?"


"Lah itu, dua gadis cantik yang lagi tidur di kamar."


"Shinta dan Sarah bukan pacar ku Buk, mereka adalah teman.


Aku gak mau pacaran lagi, takut sakit hati. Mending berteman saja.


Kemarin - kemarin aku berkorban sangat banyak pada Aisah, ternyata Aisah mencampakkan ku. Aku di tinggal begitu saja."


"Yang beneeer..?


Mana ada lelaki tahan melihat dua wanita cantik dan **** selalu di samping nya," goda ibu Farida.


"Ah, ibu ini, aneh aneh saja ngomong nya.


Sejujurnya... Damar suka dua duanya. Shinta cantik dan ****, Sarah juga cantik dan ****.


Mereka gadis cerdas dan setia.

__ADS_1


Kalau aku pacaran sama mereka berdua, takutnya putus, pertemanan berakhir dan akhirnya Damar kecewa dan sakit hati lagi.


Lagian Damar masih muda banget Buk, Damar ingin fokus kerja cari uang, dan membahagiakan bapak dan ibu juga adik - adik.


Gak mikirin pacaran!"


"Ya sudah kalau begitu, ibu percaya sama kamu.


Ingat pesan ibu, jangan berzina sama siapapun. Apalagi sama Sarah dan Shinta, biar gak hancur masa depan mereka berdua.


Jangan sampai mencuri, menipu dan narkoba!"


"Iya Buk, sudah hafal pesan ibu itu. Masak di ulang berkali - kali. Gak bosen apa..?"


"Ya gak bosen, itu tugas seorang ibu selalu mengingat kan anak - anak nya.


Ibu mau bangunin Sarah dan Shinta, juga Lesty.


Buruan kamu wudhu.


Shinta, Sarah..?


Ayo bagun Nak, solat subuh dulu, nanti tidur lagi."


"Iya Buk," jawab Shinta dan Sarah kemudian bangun lalu wudhu di kamar mandi dalam.


Setelah solat subuh, berjamaah, Damar kembali duduk di kursi meja makan sambil melihat yuotube chanel bisnis.


"Shinta, Sarah, duduk saja ya, ibu buatkan indomie telur sama susu untuk kalian. Ibu juga goreng kan pisang dan ubi kayu."


"Biar Shinta saja Buk, yang bikin Indomienya, Sarah yang goreng pisangnya," kemudian Sarah dan Shinta berdiri.


Sementara ibu Farida memanasi ikan dan masak sayur.


Sambil masak sayur, ibu Farida tersenyum lalu berkata,


"Wah seru juga ya kalau punya dua menantu pas bantu masak di dapur."


"Hehehehe bisa saja ibu ini," ujar Shinta,


"Jadi rame ya Buk?"


"Iya, dapur jadi rame dan menyenangkan."


"Apalagi kalau punya cucu dari dua menantu ya Buk," sahut Sarah,


"Tambah rame rumah ini."


"Hehehehe...


Bener sekaliiii, pasti rame banget.


Jadi ingin punya cucu ibu kalau ngomong cucu."


"Buruan ibu dan bapak di melamar ke keluarga ibu Latifah sama keluarga Darwin," sahut Damar sambil belajar.


"Hehehehe."


Ibu farida, Shinta dan Sarah tertawa riang.


"Apa gak repot punya bini dua kamu Mas," sahut Shinta,


*****


Setelah sarapan, Damar berkata,


"Sarah, kamu pulang ya, sekolah. Biar diantar kang Mamat. Mumpung pagi."


"Iya Mas."


"Shinta, kamu juga sekolah ya, sekalian bareng kang Mamat ngantar Sarah pulang, kan satu arah."


"Ok.


Kamu gak sekolah..?"


"Aku bolos sekolah, ada urusan bisnis."


"Ya gini, kalau masih sekolah sudah pegang uang besar. Sekolah jadi malas, ingin nya bisnis terus," sahut ibu Farida.


"Lagian kan, kurang sebulan lagi ujian kelulusan Buk. Sekolah nya tamat."


****


Setelah pamit, Sarah dan Shinta pergi ke sekolah. Setelah sarah pulang, Shinta melanjutkan perjalanan pergi ke sekolah.


"Alhamdulillah...


Dari kemarin aku sangat senang dan bahagia. Apalagi tadi selepas solat subuh. Di dapur bercanda sama ibu Farida, sangat menyenangkan sekali. Rumah sederhana bagai surga, penuh kegembiraan dan kebahagiaan," gumam Shinta lirih,


"Seandainya Mama ku kayak ibu Farida, alangkah bahagia dan senangnya hatiku.


Bener kata Mas Damar, kalau berteman itu bebas, tidak terikat kesetiaan, tidak ada rasa saling curiga.


Buktinya aku tidak cemburu sama Sarah, tidak sakit hati ketika mas Damar duduk mesra nan manja di sisi Sarah.


Begitupun Sarah tidak cemburu dan sakit hati, ketika aku peluk Mas Damar dan mencium pipinya di depan sarah.


Malah yang ada senang dan bahagia, berbagi cerita. Dan, aku dan Sarah sudah akrab dan biasa. Padahal kenal dalan waktu beberapa jam saja."


*****


Ting..!


Bunyi WA Hp pribadi Damar berbunyi, tanda ada chat Masuk,


*Sabrina:


Mas, Seneng sekali rame - rame di makam wali, sama Sari dan inna juga Shinta.


*Damar:


Iya Brina, kebetulan saja semalam bertemu Sari sama inna dan pacarnya.


Kok kamu tau?

__ADS_1


*Sabrina:


Tau dari status WA nya Sari, aku lihat foto kalian bareng rame - rame.


Tulisan nya: anggota geng Hello kity dan 4 sekawan wisata religi


Kamu gak sekolah Mas?


*Damar :


Bolos. Ini mau ke Kabupaten Lamongan nanti siang


*Sabrina:


Ikut ya, boleh enggak?


*Damar:


Boooleh.


Asal jangan jadiin aku pacar ya 😊. Kita berteman saja, ok.


Apa kamu gak sekolah?


*Sabrina:


Ok. Teman tapi mesra 😊.


Ini perjalanan ke sekolah.


Bolos aja, lagian juga sebulan lagi sekolah bubar sehabis ujian. Jadi gak semangat sekolah.


*Damar:


Ya udah, langsung ke rumah ku saja ya. Aku Sherlock lokasinya.


Nanti berangkat dari rumah ku saja. Aku ingin tidur bentar, ngantuk belum tidur semalam.


ZSabrina:


Ok, sampai jumpa.


Aku pulang dulu, putar balik. mau ganti baju. Agak siang dikit otw rumah mu.


*****


Jam 08:00, setelah bertanya pada seseorang, Mobil Sabrina berhenti di halaman rumah Damar.


Setelah turun, Sabrina melihat ibu Farida lagi menyapu teras.


"Selamat pagi Buk, apa ini rumah Mas Damar..?"


"Pagi juga.


Iya benar."


"Apa mas Damar nya ada Buk?"


"Ada, lagi mandi, barusan ibu bangunin.


Masuk sini."


"Iya Buk," jawab Sabrina lalu masuk dan duduk di ruang tamu.


Sambil menunggu Damar, Sabrina melihat lihat sekeliling,


"Hemmmm, rumah mas Damar ini sederhana sekali. Lantai teras tidak di keramik. Dinding rumah nya juga sangat kumal. Kursi sofa ini juga model kuno, dan sudah bolong bolong. jendela ruang tamu sudah usang.


Tetapi... Hebat juga Mas Damar. Dengan keadaan seperti ini, dia bisa sekolah di SMA pancasila. Sekolah Elit, yang notabene tempat anak - anak pengusaha kaya belajar."


"Buk, Damar berangkat dulu, Assalamualaikum."


Setelah salim cium tangan cium pipi, Damar pun ke depan


"Waalaikumsalam."


"Pagi Sabrina..."


"Pagi juga Mas," jawab Sabrina kemudian mencium pipi Damar,


"Seger nya habis mandi."


"Sering sering ya, sayang pipi Damar."


"Hehehehe.


Siaaap!"


"Ayoo, pakai mobil ku saja ya, sopir mu suruh pulang saja."


"Iya Mas, ok ok."


*****


Jam 09 pagi, Mobil Fortuner milik Damar parkir di halaman kantor notaris.


Setelah masuk, Damar melihat ibu Heny lagi duduk sambil ngobrol dengan pak Beny Abraham.


"Selamat pagi," sapa Damar.


"Pagi juga, mas Damar."


"Sabrina, tunggu sebentar ya."


"Iya Mas, santai saja."


Setelah ngobrol beberapa saat, Damar mentransfer uang sebesar 1,6 triliun. Kemudian Damar dan ibu Heny melakukan tanda tangan di atas materai.


"Karena urusan disini sudah selesai, maka saya mohon permisi dulu. Mas Damar, terimakasih atas waktu dan kesediaannya," kata ibu Heny kemudian keluar kantor.


"Mas Damar, saya akan pergi Ke hotel Hilton dulu, untuk mendampingi Mas Dimas Asisten anda.


Setelah ada kesepakatan dari pihak pemegang saham, saya akan langsung ke PT Marvis, untuk menyalin berkas kepemilikan saham mayoritas.


Dan melakukan pengesahan bersama pemegang saham minoritas, atas kuasa pengendalian perusahaan."

__ADS_1


"Baiklah pak, saya juga mau luar kota. Kalau begitu, saya permisi dulu.


Selamat siang."


__ADS_2