
Jam 9 pagi ibu Farida berdiri di depan pintu kamar Damar.
Tok tok tok..!
"Mas Damar, Aisah..?"
"Iya Bu," sahut Aisah kemudian bangun lalu membuka pintu.
"Katanya jam 10 mau ke kantor pengacara?"
"Iya Buk, saya bangunin Mas Damar dulu."
*****
Setelah mandi dan ganti baju, Damar dan Aisah menikmati sarapan nasi urap ikan ayam goreng.
"Aisah... Dengan baju baru ini, kamu terlihat sangat anggun dan cantik sekali."
"Aduuh..! Jadi tersanjung diriku.
Kamu juga ganteng banget dengan setelan celana Lea biru dongker dan koas putih."
Setelah sarapan, Damar pamit dan pergi berboncengan naik motor butut dengan Aisah.
Tak lama kemudian Damar memarkirkan motornya di depan kantor pengacara Beni Abraham.
"Selamat siang Pak," sapa Damar
"Selamat siang juga Mas, ada yang bisa saya bantu..?
Silahkan duduk."
"Baiklah Pak," ujar Damar kemudian duduk,
"Saya ingin konsultasi masalah hukum Pak.
"Kenalkan, saya pengacara Beni Abraham.
Dengan Mas siapa ini..?"
"Saya Damar Ahmad dan ini Aisah Rahsa kekasih saya.
Begini Pak Beni...
Dompet Aisah ini di rampas paksa oleh Ayahnya dan di usir paksa pergi dari rumah.
Di dalam dompet itu ada KTP dua ATM KTA pelajar dan beberapa surat penting.
Aisah ini juga dikatain *****.
Apakah Ayah Aisah ini bisa termasuk pelanggaran hukum dan bisa di pidanakan..?"
'Bisa Mas. Itu termasuk perbuatan tidak menyenangkan dan perampasan hak milik.
Perampasan hak milik mengacu pasal 368 KUHP dengan ancaman 9 tahun penjara.
Dan perbuatan tidak menyenangkan mengacu pasal 335 dengan ancaman 1 tahun penjara dan denda 4.500 rupiah."
"Baiklah Pak Beni, masalah kekasih saya ini saya serahkan pada Pak Beni selaku pengacara.
Saya ingin membuat pelajaran kepada keluarga Aisah biar tidak sombong dan sewenang-wenang."
"Baiklah Mas Damar.
Langkah awal Mas Damar harus membuat laporan di kepolisian. Dan Mas Damar harus Mendapat surat kuasa lapor dari Mbak Aisah orang yang bersangkutan dengan masalah ini."
"Baiklah Pak, Aisah juga sudah menyerahkan masalah ini pada saya.
Saya harap siang ini, Pak Elsa bisa di tangkap dan Dompet Aisah bisa kembali."
"Baiklah Mas Damar, saya akan buatkan surat kuasa Mbak Aisah di atas materai.
Setelah itu saya akan dampingi Mas Damar ke polsek terdekat untuk membuat laporan, agar langsung di tangani.
Tetapi tidak bisa kalau sekarang di tangkap Mas Damar. Karena harus melalui prosedur pemanggilan dulu sekali dua kali, jika tidak hadir, maka pihak kepolisian akan menangkap nya."
"Baiklah Pak Beni."
Setelah menunggu agak lama, pengacara Beni Abraham dan Damar juga Aisah pergi ke kantor polisi.
Setelah membuat laporan di kantor polisi dan membayar jasa awal pengacara, Damar dan Aisah pun pergi.
Sambil di bonceng naik motor, Aisah bertanya,
"Mas mau kemana kok ke arah Tunjungan Plaza?"
Mau belikan baju kamu. Kamu kan butuh pakaian dalam juga kosmetik, juga lainnya.
Beli rok sama celana yang banyak biar ada buat ganti."
"Segitunya kamu perhatian sama aku," sahut Aisah.
"Kan kamu calon istri ku, jadi aku harus perhatian sama kamu.
Habis ini aku belikan permata juga biar kamu tambah cantik anggun dan berwibawa.
__ADS_1
Biar keluarga mu tau kamu mampu dan berkelas, memiliki status tinggi.
Aku akan belikan kamu mobil Honda Jazz."
"Iya Mas," jawab Aisah yang di bonceng keheranan.
Dalam hati Aisah berkata,
"Dari mana Mas Damar ini mempunyai uang banyak. Kalau lihat rumahnya saja, Mas Damar ini keluarga miskin. Teras saja tidak di keramik, dapur juga berdinding bambu, dan tidak di keramik.
Hanya ruang tamu saja yang di keramik.
Ayahnya juga tidak kerja, ibu nya juga dulu kerjanya nyuci baju tetangga. Sekarang ibu Farida tidak kerja. Mas Damar masih sekolah.
Dapat uang dari mana ya..? Aneh dan penuh misteri. Ah sudahlah!"
*****
Siang jam dua, seorang kurir memberikan surat panggilan kepada bapak Elsa ayah nya Aisah.
Surat panggilan dari kantor polisi," gumam Maria kakaknya Aisah,
"Ibu... Ayah mendapat surat panggilan dari kantor polisi."
"Emang ada urusan hukum apa Ayah mu," tanya ibu Elsa cemas.
"Ada apa," tanya Pak Elsa yang baru saja datang.
"Ayah dapat surat panggilan dari kepolisian," kata Maria.
"Surat panggilan..? Coba Ayah baca.
Setelah membaca, Pak Elsa wajahnya memerah,
"Kurang ajar si Damar anaknya Yasin itu. Anak berandalan dan gak jelas berani melaporkan kan ku..!"
"Ada apa Mas," tanya bu Elsa.
"Atas surat kuasa dari Aisah, Damar anaknya Farida tukang cuci baju itu, telah melaporkan Ayah ke polisi atas kasus perampasan hak milik dan perbuatan tidak menyenangkan."
"Mas... Buruan temui Damar dan suruh mencabut laporannya. Kalau tidak, hukumannya berat Mas, 10 tahun."
"Anak gak tau di untung. Sudah di besarkan dan disekolah kan, sekarang melaporkan Ayahnya ke polisi," gumam pak Elsa.
"Mas... Biar sekarang aku saja yang pergi ke rumah ibu Farida untuk menemui Damar.
Sebelum masalah ini bertambah rumit.
Apa Bapak gak malu sama orang kampung, kalau Bapak sampai di tangkap polisi lalu di penjara."
"Dari mencuri kali," sahut ibu Elsa.
Berita surat panggilan pak Elsa telah terdengar oleh keluarga besar Elsa lewat aplikasi WA.
tak lama kemudian, beberapa keluarga penting berkumpul untuk membahas laporan Damar.
******
Setelah membeli pakaian dan permata juga membeli motor dan mobil Honda Jaz, Damar kembali memacu motornya.
"Aisah... Sudah sore, sudah Asar, kamu gak solat, biasanya kamu kan rajin solat."
"Iya Mas, kita cari berhenti di masjid ya, kita solat dulu."
"Iya."
Selesai solat, Damar makan siang di cafe Ayu bersama Aisah.
"Enak banget krengsengan ini," kata Damar, "Pinter kamu milih makanan."
"Ya enaklah Mas, Inikan krengsengan daging sapi.
Apa Mas belum pernah makan seperti ini..?"
"Hehehehe
Belum pernah, dari kecil biasanya makan sayur asem ikan pindang. Sayur sup lauk tahu tempe, pecel.
Aku tau makanan enak - enak itu dari kamu dan dari teman sekolah.
Di cafe Ayu ini saja aku tau di ajak Samsul."
"Lama lama Mas akan terbiasa dan mengerti makanan enak - enak, tetapi semua tergantung uang dan gaya hidup.
Kalau Mas Damar ini sepertinya sederhana sekali. Motor kamu saja jelek, Honda model lama. Padahal, kalau Mas mau bisa kayaknya naik mobil mewah. Buktinya barusan Mas membelikan Aisah mobil Honda Jazz atas nama Aisah, Cas lagi.
Kenapa begitu Mas..?"
"Aisah, pemikiran ku sekarang, aku ingin kedua orang tua ku hidup sejahtera dan bahagia. Aku ingin membahagiakan mereka berdua.
Lalu adik - adikku, lalu orang yang aku cintai yaitu kamu, dan semua teman baikku.
Itu yang aku dulukan.
Buat apa aku hidup mewah dan senang, kalau orang tua ku, adik - adikku sengsara dan menderita.
__ADS_1
Makanya aku selalu apa adanya seperti dulu, walau aku mampu hidup mewah."
"Gitu ya Mas, berarti Mas ini mempunyai pemikiran dewasa."
"Aku punya HP iPhone mahal ini ya di beri, gak beli.
Baju celana sepatu mahal juga di beri.
Aku hanya beli motor supra x butut ini seharga 3 juta.
Tetapi aku senang memakainya."
"Mas... Itu ada orang pasang papan di depan cafe. Tulisannya di jual."
"Iya iya, sayang sekali cafe selalu rame pengunjung gini kok di jual. Enak lagi makanan dan minumannya," sahut Damar.
"Mas Mas, sini bentar Mas," panggil Damar.
"Ada yang bisa saya bantu Mas," tanya pelayan cafe.
"Cafe ini mau di jual ya Mas..?"
"Iya Mas."
"Kenapa di jual Mas..?"
"Denger denger sih, masalahnya pembagian warisan Mas.
Tanah cafe ini kan luasnya satu hektare, yang di jual itu tanah nya aja Mas, bukan cafenya.
Tetapi karena cafe ini berdiri di atas tanah warisan, akhirnya di jual juga.
Kan cafe ini ngontrak tanahnya Mas."
"Oh begitu Mas. Repot juga ya buka usaha cafe tetapi tanah nya nyewa. Kalau tanahnya di jual, cafe akan di bongkar.
Mas, Apa pemilik tanah ini ada disini..?"
"Itu Mas, orangnya lagi pasang papan tulisan di jual. Bapak yang pakai topi merah.
Apa mas mau beli tanah ini..? Hehehehe
Kasihan karyawan cafe Mas, kalau sudah laku cafe akan di bongkar, dan kami karyawan akan nganggur, cari kerjaan baru lagi."
"Terimakasih Mas atas informasi nya."
"Sama - sama Mas."
"Aisah, ayo ikut aku, menemui orang itu, pemilik tanah ini," ajak Damar.
"Mas mau beli tanah ini..?"
"Iya gak apa kalau cocok harganya."
*****
"Permisi Pak," sapa Damar.
"Iya Mas, ada apa..?"
"Apa Bapak ini pemilik tanah ini..?"
"Iya benar. Kenapa Mas?"
"Tanah ini Bapak jual berapa," tanya Damar.
"Silahkan duduk Mas."
"Iya Pak terimakasih. Dengan bapak siapa ini..?"
"Saya Pak Bowo.
Tanah ini saya pasang harga 220 milyar Mas. Luasnya satu hektare 1000 meter persegi, lokasi strategis, pinggir jalan raya Mas. Bagus untuk usaha.
Sebelah ini hotel, dan Bank.
Depan perkantoran dan ruko."
"Kalau 200 milyar, saya beli Pak," kata Damar. Sekarang juga kita transaksi
Bagaimana..?"
Mendengar tawaran Damar... Pak bowo berkata,
"Saya rundingan dulu sama keluarga ya Mas.
Karena tanah ini milik 4 orang termasuk saya.
Kalau keluarga setuju, nanti akan saya hubungi."
"Balik lah, ini no telpon saya, silahkan di masukkan ke HP."
"Ya sudah Mas, nanti malam atau besok saya kabari."
"Baiklah Pak, saya permisi dulu kalau begitu," kata Damar kemudian pergi.
__ADS_1
*Bersambung.