Makam Keramat

Makam Keramat
Obrolan di meja makan


__ADS_3

Setelah mandi, Damar langsung menuju tempat solat d dapur.


"Loh, ibu belum bangun. Masih jam satu, paling masih ngelonin bapak," gumam Damar lirih kemudian solat tahajjud.


Setelah solat tahajjud, Damar tertidur di atas sajadah.


Jam tiga dini hari, setelah mandi ibu Farida keluar kamar langsung menuju kamar Damar.


"Lampunya nyala, berarti Damar sudah pulang," gumam ibu Farida kemudian membuka sedikit pintu untuk mengintip,


"Loh, kok Sarah tidur di kamar Damar. Damar nya mana..?


Gimana Damar ini, anak orang di bawah kesana-kemari. Kalau hamil gimana? Masih sekolah SMA lagi, Apa gak cemas ibu Latifah.


Anak jaman sekarang, kalau pacaran gak tau aturan, gak tau waktu


Setelah di dapur hendak masuk tempat solat, ibu Farida terkejut melihat Damar yang tidur di atas sajadah. Dan ibu Farida membiarkan Damar tidur lalu melaksanakan solat tobat solat hajat dan solat tahajjud.


*****


Adzan subuh terdengar berkumandang, ibu Farida kemudian berjalan menuju kamar Damar,


"Sarah, Sarah?"


"Eh ibu Farida."


"Bagun, solat dulu."


"Iya Buk."


"Darimana kok nginep disini?"


"Dari ziarah di makam kyai Pamenang Buk."


"Oh ya sudah, mandi air hangat di kamar mandinya Damar, biar seger. setelah itu solat berjamaah."


"Iya Buk."


*****


"Damar, Mas Damar?"


"Iya Buk."


$Bagun, solat subuh.


Bapak mu juga mau ikut berjamaah."


"Iya sebentar.


Tumben bapak solat subuh."


"Dapat ilham kayaknya," jawab ibu Farida asal - asalan.


Selesai solat berjamaah, Damar dan bapak nya duduk di kursi meja makan.


Sementara Sarah dan ibu Farida terlihat akrab sedang masak bersama.


"Ini Mas Damar, kopinya. Ini untuk bapak," ujar Sarah kemudian membantu ibu Farida masak.


"Sarah gak di cari ibu nya," tanya Pak Yasin.


"Tidak Pak, Sarah sudah pamit keluar sama Mas Damar."


"Gak sekolah hari ini?"


"Tidak Pak, karena sekolah sedang sibuk, ada pagelaran seni budaya. Jadi, masuk tetapi tidak ada pelajaran.


Jadi Sarah gak masuk saja. Di sekolah juga paling duduk - duduk saja."


"Sarah pinter masak ya," sahut ibu Farida.


"Ya bisa lah Buk, karena dari SMP sudah didik masak sama ibu. Jadi sudah terbiasa."


"Tuh Mas Damar, Sarah sudah cantik, rajin solat, pinter masak lagi," kata ibu Farida,


"Gak rugi kamu punya istri kayak Sarah ini."


"Sarah..."


"Iya Mas."


"Buatkan kopi kang Mamat, itu orangnya baru datang, lagi duduk di teras."


"Iya Mas."


"Kamu gak menjenguk Drajat anaknya pak gito.


Dia kan teman mu sekolah SD."


"Emang Drajat Kenapa Pak?"


"Katanya, kecelakaan naik motor, ngantuk nabrak orang parkir di depan indomaret depan itu."


"Loh terus..?


Yang di tabrak bagaiman Pak?"

__ADS_1


"Ya luka agak parah kaki nya.


dan kepalanya terbentur lantai paving. kaget ketabrak, langsung jatuh. Kepala nya terbentur."


" Pak Drjatnya gimana Pak?"


"Katanya lengannya patah, dan kepala nya sobek, juga lecet - lecet."


"Jam berapa kecelakaan nya?"


"Tadi malam, jam 10 an. Mabuk dia, kayak bapak dulu."


"Kamu jenguk Mas, sama Sarah nanti," ujar ibu Farida,


"Kasihan, keluarga pak Gito orang tidak mampu. Uang dari mana untuk mengobatkan orang yang di tabrak itu.


Pasti bingung pak Gito dan istrinya.


Belum lagi ganti rugi motornya dan kaca indomaret yang pecah."


"Loh kok bisa pecah kaca indomaret?"


'Kan kenceng mengendarai motor nya, motornya sampai terlempar masuk indomaret," ujar pak yasin.


"Parah berarti kecelakaan nya," kata Damar.


"Motor satu satunya, untuk kerja bapaknya nabrak lagi," kata pak Yasin.


"Emang kerja apaan pak Gito itu?'


"Kerja di pabrik plastik.


Semua teman - teman mu di kampung ini memang suka mabuk," kata ibu Farida,


"Untung kamu sudah jarang main di kampung, punya kegiatan bisnis cafe.


Dulu, kamu hampir tiap malam pulang mabuk pulang mabuk."


"Oh iya, ibu sama rombongan ibu ibu PKK, kemarin juga habis menjenguk istrinya pak Tarjo, warung langganan mu ngopi dulu."


"Sakit apa Istri pak Tarjo?"


"Infeksi lambung, sudah 4 hari di rawat di rumah sakit Harapan, kamar klas ekonomi. Gratis.


Tetapi, selama 4 hari gak ada perubahan sama sekali


Menurut ibu, mungkin di clas ekonomi, obat nya kurang bagus Mas, gak kayak di kelas Vip."


"Ibu... Lesty berangkat dulu ya, 0ak, berangkat dulu, salim.


"Kamu sekolah bawah mobil apa motor?"


"Hari ini bawah mobil. karena, sepulang sekolah ada acara bisnis sama temen - temen."


"Jangan ikut balap liar loh ya?"


"Iya Kak, paling lihat doang sama temen - temen."


"Satu lagi, jangan dugem di diskotik."


"Iya..!


Dada, Kak."


"Sekolah bawah mobil pergaulan nya entar berubah. Berteman sama anak - anak orang kaya, akhirnya ikut dalam pergaulan bebas.


Dugem, mabuk, Narkoba, merokok dan balap liar."


"Kayak kamu ya," sahut ibu Farida.


*****


Setelah sarapan, dan melihat kebun belakang rumah, jam 10 pagi Damar pamit pergi bersama Sarah.


Di dalam mobil, Damar berkata,


"Kang, ke RSUD ya."


"Iya Tuan."


Tak lama kemudian kang Mamat memarkirkan mobilnya di pintu lorong rumah sakit.


Setelah bertanya pada seorang suster, Damar melihat ibu Gito yang duduk di ruang tunggu terlihat murung.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam. Loh Mas Damar, sama siapa Mas?"


"Ini sama teman Buk. Bagaimana kondisi nya Drajat?"


"Masih koma Mas Damar, belum sadar.


Kepalanya sobek, tubuh nya lecet - lecet dan kakinya bengkak."


"Lalu, yang di tabrak gimana Buk?"


"Sama Mas Damar, luka parah juga."

__ADS_1


"Sabar ya Buk," kata Damar kemudian menelpon Dimas asistenya.


"Siaap Bos!"


"Kamu pergi ke rumah sakit sekarang juga. Alamat nya aku WA."


"Baiklah Bos."


*****


Tak lama kemudian,


"Selamat siang Bos."


"Bagaimana transaksi dengan PT Aksa?"


"Sudah beres Bos, tadi jam 09 di restoran shangrila hotel."


"Kamu urus temen ku yang kecelakaan ini.


Pertama, kamu pindahkan ke ruang inap Vip.


Kedua, korban yang di tabrak, kamu pindah kan juga di ruang Vip.


Terus, kamu beri ganti rugi pada pihak korban. Dan kamu urus masalah kecelakaan ini di kantor polisi. Karena sudah masuk laporan ke kepolisian."


"Baiklah Bos"


"Bu Gito... Saya mau pamit dulu ya, masalah pengobatan Drajat, mas Dimas ini yang akan menangani dan yang menanggung biaya rumah sakit.


Masalah kepolisian, nanti mas Dimas yang urus.


Ini ada uang buat keperluan ibu di rumah sakit."


"Terimakasih ya Mas Damar, semoga Allah membalas semua kebaikan mu berlipat lipat."


"Sama sama Buk, semoga Pak Drajat lekas sembuh.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


*****


Mobil meluncur ke arah Surabaya.


"Kang, kita ke jalan Tidar raya Sedati ya."


"Baiklah Tuan."


Setelah membuka sedikit cendela, Damar menyulut rokok,


"Kang kalau mau merokok, merokok saja ya, jangan sungkan sungkan."


"Iya Tuan."


Setelah sampai di jalan Tidar no 7, Damar mengandeng tangan Sarah untuk turun, kemudian berjalan mendekati proyek.


"Ini proyek siapa Mas," tanya Sarah.


"Ini punya aku. Lagi bikin Kantor PT Podomoro General kontraktor


Loh, Pak Lek Sueb. Kok di sini..?"


"Iya, pagi di sini, siang nanti di cafe Ayu.


Dari mana kamu, kok ganteng amat?"


"Dari rumah sakit, njenguk Drajat anak pak Gito."


"Iya, semalam kabarnya kecelakaan. Gara - gara mabuk.


Siapa ini, kok cantik sekali."


"Calon menantunya ibu Farida.'


"Hahahahaha, bisa aja kamu.


Emang gak sekolah kamu?"


"Malas sekolah Pak lek, bentar lagi juga ujian kelulusan."


"Iya, kalau udah pegang uang gede, udah bisa usaha ya memang males sekolah.


Yang sarjana saja kerja jadi sopir banyak, jadi kuli di pabrik juga banyak."


"Dah sampai mana ini kerjaan nya," tanya Damar.


"Bentar lagi selesai. Ini kerja tiap hari lembur, aku kebut.


pekerja juga aku tambahi jadi 100 orang."


"Ya sudah kalau gitu 0ak lek, aku mau ke cafe dulu. Nanti kalau di proyek ruko, mampir ngopi Pak lek.“


"Siap Bos!"


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2