
"Selamat malam," sapa Pak Niko,
"Dengan Pak Damar ini..?"
"Iya Pak Niko, panggil saja Damar, kan masih muda.
Silahkan duduk."
"Iya Mas Damar.
Iya ya, sangat muda sekali Mas Damar ini. Seperti anak SMA saja. Tak kira sudah bapak - bapak."
"Iya Pak Niko, memang masih SMA kelas 3."
"Oh begitu, pantas masih sangat muda.
Loh, ini kan Mbak yang kemarin tanya masalah jual beli cafe?"
"Iya Pak, saya perempuan yang kemarin bertemu bapak di samping pintu," sahut Aisah,
"Bagaimana Pak, jadi di jual cafenya?"
"Iya jadi Mbak, tetapi belum ada yang nawar. Jadi... Terpaksa meneruskan sewa tanah lagi."
"Apa gak bisa kurang Pak harganya?"
"Bisalah kurang dikit, 1,9 saja."
"Baiklah, saya yang akan beli cafe ini."
"Beneran ini Mbak," tanya Pak Niko tak percaya.
"Beneran Pak Niko."
"Alhamdulillah..."
"Tetapi syaratnya lisensi nama Cafe Ayu harus jadi hak milik saya, bagaimana?"
"Iya Mbak, gak apa - apa."
"Kalau begitu, bapak antar saya melihat seluruh bangunan cafe, dan melihat semua aset cafe."
"Baiklah Mbak, mari."
"Mas, ayo ikut."
"Iya..."
Kehadiran Damar dan Aisah yang melihat semua aset dan bangunan cafe menjadi perhatian semua karyawan yang sedang bekerja.
Melihat kondisi bangun dan aset yang masih bagus dan banyak yang baru, Aisah dan Damar juga Pak Niko kembali ke meja depan.
Selesai melihat dan membaca surat ijin bangunan dan surat ijin usaha, Aisah berkata,
"Cafe ini baru dua tahun berdiri ya Pak?"
"Iya Mbak, baru dua tahun.
Ini sudah saya siapkan surat jual beli cafe nya. Silahkan tandatangan di atas materai."
"Mas Damar, ayo kamu saja yang tandatangan."
"Loh, kan kamu yang beli?"
"Sudahlah, ayo kamu yang tandatangan."
"Baiklah- baiklah," jawab Damar kemudian tandatangan di atas materai.
"Baiklah Pak Niko, saya minta nomer rekening nya."
"Saya kirim lewat WA ya Mbak, minta no WA nya."
"Sudah saya transfer ya Pak, barang bukti transfer nya saya kirim ke WA Bapak."
"Baiklah Mbak Aisah, terimakasih banyak atas kontribusi nya.
Mari ikut saya, akan saya kenalkan sama karyawan shif malam."
Setelah di perkenalkan kepada para karyawan shif malam, Aisah dan Damar kembali ke meja depan.
Sementara Pak Niko mengambil tas lalu pamit pulang.
"Duduk sini Mas, mepet ke Aisah."
"Iya... Siaaap!"
"Aku beli cafe Ayu ini aku hadiah kan untuk Mas Damar.
__ADS_1
Ini surat jual beli, dan dokumen ijin bangunan juga ijin usahanya.
Aku persembahan untuk orang yang aku cintai."
"Hemmmm...
Ada saja acaranya," ujar Damar,
"Iya... Terimakasih banyak atas hadiah dan cintanya.
Mesra sekali, jadi terharu diriku.
Sayang dulu kalau begitu?"
"Hemmm, maunya!
Mas, tanah ini kan masih luas dan kosong. Hanya ada bangun cafe ini saja."
"Terus..?"
"Mas belajar bisnis ya?
Mas bangun ruko dua lantai. Itu bisa di bangun 50 ruko Mas. Tetapi jangan di jual rukonya, di sewakan saja dengan harga di bawah standar, biar banyak yang sewa. Anggap saja investasi. kalau uang modal udah kembali kan, tinggal untung nya."
"Begitu ya..?"
"Terus Mas bikin dua gudang di belakang ruko. Setelah itu, sisa tanah kan di belakang itu luas, Mas bangun kos - kos san. Bisa jadi tuh 500 kamar kos. Pasti yang penggin ngekos rebutan, karena lokasinya pinggir jalan raya."
"Wah, butuh modal besar say," sahut Damar.
"Kalau kepengin hasil yang besar, ya modalnya harus besar Mas. Paling juga modalnya habis 200 milyar semuanya.
Coba pikir, kalau 500 kamar kali 500 ribu, itu sudah 250 juta. Mas Damar tidak kerja dapat uang 250 juta setiap bulan. Belum sewa ruko dan gudang."
"Iya, baiklah aku turuti omongan mu, karena kamu lebih pintar dalam masalah bisnis.
Ini pertama kali aku belajar bisnis."
"Yaah gitu, harus berani spekulasi, dan belajar bisnis. Mumpung masih muda dan punya modal," ujar Aisah,
"Mas cari orang yang ahli dalam bidang bangunan, kalau bisa jangan pakai jasa Kontraktor. Mahal..!"
"Iya, siaap!
Bapak nya Samsul itu dulu pemborong, sering luar pulau dan mengerjakan bangunan besar.
Pernah juga terlibat pembangunan hotel di pulau bali. Waktu itu, Bapak ku ikut.
"Yaah suruh saja Pak Sueb, apalagi bapak nya Samsul. Tambah enak, kan sudah kenal baik."
"Ya besok aku saya ngobrol - ngobrol sama Pak Sueb. Besok kan Pak Sueb bikin pagar di belakang rumah."
"Sudah jam 11 Mas, gak pulang..?
Besok kamu sekolah."
"Iya, ayo pulang," ajak Damar,
"Gak di bayar kopinya..?!"
"Kan cafe ini sekarang milik kamu Mas, ngelawak saja!"
"Hehehehe, barangkali bayar."
😅😁😅😅😂😅🤣
Setelah pamit kepada seorang satpam penjaga cafe, Damar pun pergi berboncengan dengan Aisah.
Ketika hendak melewati area makam kyai Ali Wafa... Damar membelokkan motornya lalu memarkir nya di depan warung kopi langganan nya.
"Mas... Mau ziarah lagi?" tanya Aisah.
"Gak Aisah, hanya kepingin duduk - duduk dekat makam saja."
"Haayoo..! Takut ya mau ziarah depan makam kyai Ali Wafa," canda Aisah.
"Hehehehe..!
Iya Aisah kalau malam - malam gini. Kalau siang aku berani."
"Hemmmm, lelaki kok penakut!
Menghadapi Ayah ku saja kamu berani dan tenang, masak ngaji di makam kyai takut, apalagi ada aku yang menemani."
"Pak, kopi satu," ujar Damar kemudian duduk di teras warung.
"Iya Mas."
__ADS_1
"Mas... Ngopi terus..!
Gak baik untuk kesehatan"
"Ya gini nih punya kekasih calon dokter, semua di hubungkan sama kesehatan."
"Terserah lah, awas kalau sakit, aku gak mau merawat."
"Ini Mas kopinya."
"Terimakasih Pak.
Tumben sepi Pak hari minggu."
"Kalau minggu malam senin gini sepi Mas, karena senin pagi jam kerja.
Kalau ada paling juga orang - orang tua dari kampung sini dan kampung sebelah."
"Gitu ya Pak.

"Mas ini dari desa mana..?"
"Dari desa Agung Pak."
"Oh, tetangga desa berarti. Apa dekat dengan rumahnya ustad Elsa..?"
"Saya calon menantunya Lak, ini putrinya ustad Elsa."
"Oh iya iya...
Kalau ustad Elsa sering tengah malam kesini sendirian Mas. Biasanya selesai ngaji di makam, ustad Elsa minum kopi di sini Mas.
Makanya bapak kenal sama ustad Elsa.
Sebagian desa Sani ini kenal lah sama ustad Elsa. Karena setiap hari rabu sore bakda Asar, ustad Elsa mengisi kajian di masjid sini."
"Bapak siapa namanya?"
"Riyanto, panggil saja Pak Ri."
"Mas siapa namanya..?"
"Damar Pak
Pak Ri asli orang desa Sani ya..?"
"Iya Mas, asli sini, warung kopi ini rumah istri saya, kalau rumah saya sebrang sungai dekat masjid."
"Pak Ri, apa pernah ada kejadian aneh di makam ini..?"
"Aneh maksudnya bagaimana ya Mas Damar?"
"Yaah pas ziarah ngaji, ketemu sama setan gitu..! Atau makhluk jadi - jadian."
"Ohh... Itu!
Yaah ada beberapa orang cerita, tetapi saya tidak tau sendiri sih," ujar Pak Ri,
"Katanya ada yang pernah ketemu sama kyai Ali Wafa. Ada yang melihat jin berjalan lewat di makam."
"Gitu ya Pak..!
Apakah ada penunggu makam kyai Ali Wafa ini Pak Ri..?"
"Menurut cerita sesepuh desa Sani ini, ada Mas. Katanya sih, katanya orang - orang tua dulu, penunggu makam ini jin berbentuk Harimau putih bernama kyai Ageng Ndaru.
Itu menurut cerita sesepuh juga orang - orang tua desa Sani."
"Apa ada orang yang pernah ketemu Pak Ri, sama jin Harimau putih itu..?"
"Kalau saya asli sini dan sering main di area makam sini, belum pernah bertemu dengan bangsa jin. Apalagi penunggu makam. Bahkan orang desa sani sini saja tidak ada yang bertemu.
Pernah ada orang yang ketemu waktu tengah malam, dan orang itu lari terbirit-birit hingga jatuh bangun.
Konon menurut cerita juru kunci yang sudah Wafat, Pak Soleh namanya, pernah bilang begini...
Siapa saja orang ziarah di makam kyai Ali Wafa, kalau bertemu dengan Harimau putih atau kyai Ageng Ndaru, jika orang itu di gigit... Maka orang itu akan menjadi orang Alim dan akan kaya raya."
"Kok serem amat Pak Ri, pakai di gigit segala. Haduuuuh!
Bikin takut saja kalau ziarah kesini malam - malam," ujar Damar,
"Ya sudah Pak, saya permisi dulu, sudah jam dua pagi.
Aisah... Aisah, bangun. Ayo pulang!"
__ADS_1
"Iya Mas, ngantuk banget barusan sampai ketiduran."
*Bersambung.