Makam Keramat

Makam Keramat
Bertemu macan kumbang


__ADS_3

"Mas makan dulu, habis ini minum obat," ujar Aisah.


"Aku ini gak sakit Aisah, kok di suruh minum obat," kata Damar.


"Jangan bawel, ayo makan, aku suapin sini."


Setelah makan, Damar terpaksa minum obat Demam.


"Asiah... Kamu kerokin ya, dan kamu pijitin kaki ku. Capai sekali rasanya.


Itu di atas meja uang kerokan dan minyak kayu putih."


"Iya," jawab Aisah sambil ambil minyak kayu putih,


"Sinian, tengkurap."


Sambil ngerokin punggung Damar, Aisah berkata dalam hati,


"Kok bisa aku tadi nyupin makan Mas Damar, dan panik setelah tau Mas Damar demam. Sekarang aku ngerokin punggung nya.


Aku kesini sebenarnya sangat emosi. Sebenarnya aku sangat marah dan terluka di selingkuhi


Tetapi...


Setiap aku ketemu Mas Damar, hati ku jadi luluh, aku bagai kerbau di cocok hidungnya.


Aku akui, aku memang masih sayang dan masih mencintai mas Damar, tetapi aku juga terluka dan sakit hati padanya."


"Sudah Mas."


"Kakinya belum di pijit," ujar Damar.


"Iya aku pijit ini," kata Aisah.


"Kapan kamu balik ke asrama?"


"Besok pagi."


"Sama siapa?"


"Di antar alAyah sama Ibu."


"Gak minta antar aku?


Kok diam saja, apa masih marah sama aku?"


"Iya, masih marah dan sakit hati."


"Masih marah kok perhatian sama aku," kata Damar santai sambil menikmati pijitan.


"Sudah mas, mau magrib. Aisah mau pulang.


Ini aku kembali kan mobil honda jazz pemberian mu, ini BPKB dan kontak nya.


Aku kembali kan juga semua perhiasan yang kamu belikan."


"Mengapa di kembali kan, kamu pakai saja. Itu dari uang halal, bukan hasil uang menipu atau merampok," kata Damar kemudian duduk


"Ya sudah, aku balik dulu."


"Kamu gak sayang aku?"


"Iya," jawab Aisah kemudian mencium kedua pipi Damar lalu beranjak pergi.


*****


Sesampai di rumah, Aisah merebahkan badannya di tempat tidur di kamarnya.


Adzan Magrib berkumandang, ibu Elsa masuk kamar Aisah,


"Aisah, ayo solat magrib.


Mengapa kamu menangis..?


Apa kamu masih mencintai Damar..?"


Mendapat pertanyaan ibu nya. Aisah diam membisu.


*****


Setelah solat magrib berjamaah, Damar menikmati makan malam bersama keluarga.


"Damar... Apa kamu sudah sehat?"


"Damar gak sakit buk, hanya capek saja."


"Kamu gak tau waktu, sekolah berangkat pagi, pulang bentar pergi lagi, pulang nya subuh," ujar ibu Farida,


"Apa saja yang di kerjakan di luar rumah hingga pulang subuh."


"Kan ada contoh nya, kayak bapak dulu pulang subuh - subuh.


Pak... Itu mobil Honda jazz, tolong masukin garasi, biar gak luntur kena embun."


"Makanya, kamu itu belajar mengemudi, biar bisa nyetir mobil," ujar Pak Yasin bapaknya.


"Iya, besok kursus.

__ADS_1


Damar mau pergi dulu Buk, Pak."


"Mau kemana pakai sarung hijau dan baju takwa?"


"Biasa Buk, mau imami tahlil dan yasin di masjid.


Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam."


***


Setelah keluar rumah, Damar memarkir motornya di samping warung Pak Tarjo.


"Assalamualaikum...


Selamat Malam semuanya."


"Lagak mu Mar, kayak ustad Elsa," sahut Pak Tarjo,


"Mau kemana kamu kok tumben - tumbennya pakai sarung dan baju takwa?"


"Mau ke rumah ustazd Elsa," jawab Damar kemudian duduk di atas keramik,


"Jos sua satu Pak dhe."


"Ngapain ke rumah ustad Elsa," tanya kang Pak i.


"Biasa, mau ngapelin Aisah anaknya."


"Hahahaha.


Bisa aja kalau ngelawak."


"Mar," sapa Samsul kemudian membelokkan mobil Avanza nya di halaman warung.


Sambil turun, Samsul tersenyum lalu berkata,


"Loh loh loh..!


Mimpi apa pakai sarung dan baju takwa.


Sarungnya baru baju juga baru?


Mau jadi kyai kayak ustad Elsa!'


"Cangkem mu Sul."


"Hahahaha.


Ayo habis ini ikut aku."


"Ke makam kyai Pamenang, nanti jam sembilan berangkat," jawab Samsul.


"Yang bener kamu kalau ngomong?"


"Iya Mar, ikut saja. Kami rombongan cuma berlima. Rutinan setiap bulan sekali ke makam kyai Pamenang. Masih ada bangku kosong."


"Ok, siap siap," sahut Damar.


"Jangan lupa ya, cari nomer togel kayak dulu lagi," ujar kang Pak i.


"Hemmm.


Mau ziarah apa mau ke rumah dukun, kok cari nomer togel," kata Damar.


"Sambil ziarah, ya sambil cari no togel hahahaha!"


"Mar, gosip di kampung ini, katanya kamu tambah kaya saja?"


"Kaya apanya, motor saja supra x jelek gini."


"Iya yang kamu pakai sekarang. Tuh bapak mu kemarin naik mobil pajero sama ibu mu, lewat sini. Malah menyapa ku," ujar Pak Tarjo.


"Itu mobilnya orang, bapak di suruh jampi - jampi mobil itu, biar gak kecelakaan.


Kan bapak ku sekarang jadi dukun, tukang tiup dan tukang jampi jampi," ujar Damar bercanda.


"Hahahaha!" Samsul tertawa terbahak - bahak.


"Bener bapak mu sekarang ternak ayam kampung," tanya Kang No.


"Iya Kang, belajar ternak ayam kampung sambil buka praktek per dukunan."


"Kalau begitu beli ayam ke bapak mu saja, buat jualan nasi di warung. Biar gak jauh + jauh ke pasar."


"Istri Mang No masih jualan nasi di warung pertigaan itu," tanya Damar.


"Iya masih, mau kerja apa lagi?"


"Tak kira jualan sabu - sabu, hahahaha!"


"Hemmm."


*****


Jam 9 malam, Samsul dan rombongan Pak Tarjo meluncur ke kota Sidoarjo menuju desa Melati. Setelah sampai, Samsul memarkir mobilnya di area parkir. Kemudian rombongan turun dan langsung ziarah di depan makam.

__ADS_1


"Sul, aku solat isak dulu ya."


"Haiiii, ikut berjamaah, aku belum solat isak juga."


"Ya sudah kamu imami, kamu yang lebih Alim ngajinya."


"Ok, siaap," jawab Samsul kemudian bersuci di kran samping masjid.


Selesai solat isak berjamaah, Samsul pergi untuk ziarah.


Sementara Damar melanjutkan dengan solat tobat dan solat hajat.


Setelah membaca Dzikir 1000x dan sholawat jibril 1000x, Damar menutup dengan doa sapu jagad, kemudian ziarah ke Makam.


"Hemmm, suasana makam sangat rame sekali. Lebih baik aku duduk di pojok bawah pohon sana saja, sepi," guman Damar lirih.


Setelah duduk di bawah pohon, karena remang - remang, akhirnya Damar menyalahkan HP dan membuka aplikasi tahlil dan yasin.


Baru membaca yasin dapat separuh, Damar berkata lirih,


"Aduuuuh, ngantuk sekali, gara - gara minum obat pemberian Aisah."


Setengah ngantuk, Damar membaca yasin pelan - pelan sambil teringat wajah Ayu Aisah.


Tanpa di sadari, Damar tertunduk tertidur sambil memegang HP.


Dari dalam makam kyai Pamenang, keluar seekor macan kumbang hitam berjalan pelan - pelan memutari area makam, dan melihat orang - orang yang sedang ziarah.


Ketika melihat Damar duduk sambil tidur tertunduk, Macan kumbang hitam itu duduk di hadapan Damar, lalu macan kumbang itu berkata,


"Pemuda ini memiliki tanda di dahinya. Tanda bahwa anak ini pernah bertemu dengan kyai Pamenang. Yang artinya, kyai Pamenang suka terhadap pemuda ini.


Ternyata pemuda ini yang kemarin malam membagikan nasi bungkus di masjid.


Siapa pemuda ini..?"


Setelah menerawang dengan seksama dan agak lama, Macan kumbang berkata lirih,


"Pemuda ini bernama Damar Ahmad, putra dari pasangan bernama Farida dan Yasin yang tinggal di desa kebon Agung kecamatan waru.


Ibunya adalah murid dari kyai Mustajab sang wali mastur dari desa Delima. Bapak mengikuti aliran kejawen.


Iya iya...


Pemuda yang beruntung, lahir dari rahim seorang ibu yang ahli istiqomah. Sayang bapaknya berkepala anjing.


Kyai Pamenang menyukai pemuda ini, sebab tubuh dan ruh nya pemuda ini di baluri doa - doa ibunya.


Doa ibunya di ijabahi, sebab barokahnya kyai Mustajab gurunya. Kyai Mustajab, aku tau, semasa mudanya, beliau dulu istiqomah ziarah di sini.


Kyai Mustajab memiliki derajat wali Mastur, itu berkat barokah kyai Pamenang."



Tiba - tiba, kaki Macan kumbang yang bercakar tajam menyentuh betis Damar pelan.


Terasa ada yang menusuk betisnya, Damar yang tertidur pulas langsung terkejut sekali dan seketika bangun.


Melihat macan kumbang hitam duduk di depannya, dengan reflex Damar memukulkan HP yang ada di tangannya ke kepala macan kumbang, kemudian Damar bergegas pergi ketakutan.


"Haduuuuuh! Mahkuk apa hitam tadi itu, bikin kaget dan takut saja. Kayak Macan."


"Mar, lama amat ziarah nya?"


"Ketiduran Sul. Mana orang - orang?"


"Paling masih di masjid, masih jam setengah dua belas. Jam 12 biasanya selesai."


"Aku tak beli makanan dulu."


"Ok, ok," jawab Samsul.


*****


"Pak nasi gorengnya masih ada," tanya Damar


"Masih Mas, berapa piring?'


"Ada berapa bungkus?"


"Nasi gorengnya sekitar 50 bungkus."


"Kalau mie goreng ada berapa bungkus?"


"60 an lah Mas."


"Bungkus semua ya Pak, nanti tolong bapak bagi ke orang - orang yang ada di masjid ya?"


"Siap, siaap Mas."


"Berapa semua?"


"12000x110 bungkus jadi 1.juta 320 ribu."


"Ini uangnya Pak, kembalian 30 ribu kasih aqua gelas sama kerupuk saja."


"Ok Mas, terimakasih banyak. Sering - sering ya Mas."

__ADS_1


"Siaap, Pak."


*Bersambung.


__ADS_2