
Jam 12:15, denting bel sekolah tanda pulang berbunyi. Para siswa siswi berhamburan keluar menuju pintu gerbang juga ada yang menuju parkiran.
Damar berdiri di pinggir jalan di depan pintu gerbang menunggu Shinta
"Mas, jadi ke kota Gresik nya," sapa Shinta.
"Iya Shinta, apa gak beli baju dulu untuk mu?'
"Gak usah Mas, bajuku sudah dua lemari. Baju muslimah jilbab juga ada, jarang di pakai."
"Ya sudah, ayo."
Tin tin tin..!
Mobil honda jazz milik Ita melaju pelan - pelan,
"Shinta... Jangan lupa kak Damar di sayang."
"Iya," sahut Shinta.
Tin tin tin..!
"Shinta," panggil Sari sambil mengemudi,
"Sudah akur nih..? Baik baik ya!"
"Hemmm."
*****
Mobik Fortuner melaju menuju arah kabupaten Gresik.
Di dalam mobi Shinta berkata,
"Mas mobil siapa ini..?"
"Mobil ku."
"Banyak duitnya dong, bisa beli mobil Fortuner dan BMW."
"Ini mobil di kasih teman."
"Hemm, baik bener temannya."
"Iya temen ku memang baik orang nya. Ngerti aku tidak punya mobil, di kasih. Padahal aku gak bisa nyetir mobil loh."
"Aku saja beli mobil Fortuner dan honda jazz, harus kerja keras. Eeee, kamu enak, tinggal di kasih."
"Aku bisa punya mobil ini,.ya berkat diri mu, berkat kebaikan mu. Dan aku akan selalu mengingat kebaikan mu hingga ajal ku."
"Kok bisa?"
"Ya kan kamu yang ngasih uang tiga juta buat bikin nomer rekening atas nama ku, di bank Asia dan bank BRI dulu. Dengan adanya nomer rekening itu, banyak uang yang masuk ke nomer rekening ku."
"Kita mau kemana Mas Damar..? Ini sudah ada di pinggiran kota gresik," kata kang Mamat.
"Kita cari makan siang dulu ya kang.
Cari restoran boleh, warung gubuk juga boleh."
"Baiklah Mas."
"Kang Mamat."
"Iya Non."
"Kamu kalau panggil Papa ku Tuan.
Panggil aku Nona.
Kalau panggil mas Damar, seharusnya juga Tuan, kayak kang Mamat memanggil Papa ku.
Kan Mas Damar ini, sekarang bos kang Mamat."
"Baiklah Non, jawab kang Mamat kemudian membelokkan ke restoran.
Setelah mobil parkir, Damar dan Shinta turun.
"Kang, ayo makan siang dulu."
"Baiklah Tuan."
Setelah duduk, seorang pramusaji mendekat lalu berkata,
"Silahkan pesan, ini buku panduan menu nya."
"Pesan sate kambing satu, sate ayam satu dan gule satu.
Minumnya es jeruk satu, kopi hitam agak pahit satu dan dua botol aqua."
"Baiklah Tuan."
Melihat Kang Mamat duduk di kursi meja makan depan, Damar mendekati lalu berkata,
"Kang, pesan makan yang enak ya, makan yang kenyang. Biar sehat dan kuat kalau nyetir mobil."
"Iya Tuan."
"Minta rokok sekalian."
"Mas, mau kemana sih, kok ke depan," teriak Shinta.
"Mau ganti baju dan celana."
"Apa bawa baju ganti?"
"Iya, gak enak jalan - jalan pakai seragam sekolah.
Kamu ganti sekalian. Itu baju mu di dalam tas yang tertinggal di kamar ku, aku bawah di mobil."
"Baiklah."
"Bagus banget tato Hello kity nya," kata Damar tersenyum.
"Hehehehe.
Senengnya dirimu lihat aku buka baju."
"Itu tandanya, aku lelaki normal."
Setelah keluar dari mobil, Damar melihat papan tulisan tertancap di pinggir jalan.
*Tanah di jual seluas tiga Hektar. Hubungi pt Aksa grup. No telpon 081...*
"Kemana Mas, kok mau nyebrang jalan?"
"Mau ikut?"
__ADS_1
"Boleh."
"Ayoo."
Setelah menyerang jalan, Damar menyulut rokok kemudian melihat kondisi tanah juga arah jalan raya.
"Ada apa sih Mas, kok lihatin tanah ini aja.
Emang mau di beli?"
"Iya, kalau cocok harganya.
Sebentar ya, aku tak telpon orang PT Aksa."
"Hemmm, banyak bener duitnya.'
Setelah menutup telpon, Damar berkata lirih,
"Minta 15 milyar."
"Apa, 15 milyar..!!!
Duit dari mana kamu Mas, dan buat apa beli tanah seluas ini..?"
"Cerewet sekali kamu itu," ujar Damar kemudian mengandeng lengan Shinta lalu menyebrang jalan menuju restoran sate Mejik.
Sambil makan, Damar menelpon, setelah tersambung,
"Selamat siang bos," sapa Angga direktur pt Podomoro.
"Siang juga.
Direktur Angga, Karena ijin usaha Real Estate belum keluar, dan kantornya juga belum ada.
Tolong kamu survey tanah seluas tiga hektar di jalan raya Sedari pinggiran kota Gresik. Habis ini aku WA alamat dan nomer telpon nya.
Kamu ajak manajer Marketing dan sekretaris mu.
Sekiranya di buat perumahan itu menguntungkan, suruh sekretaris mu untuk membelinya.
Aku ingin direktur Angga bergerak cepat. Sekarang juga menuju lokasi."
"Baiklah bos, sekarang juga kami berangkat."
"Masalah transaksi pembayaran tanah, asisten ku yang akan menyelesaikan. Ajak dia sekalian.
Keputusan nya, malam ini juga harus ada kabar. Kalian kerja lembur."
"Baik lah bos."
*****
Mendengar percakapan telpon, Shinta mulai sedikit faham, kalau Damar ini mempunyai bisnis Real Estate pengembang.
Selesai makan, Damar melanjutkan perjalanan lagi menuju kota Gresik.
Sambil menikmati kepulan asap rokok, Damar berkata,
"Kang, aku butuh sopir satu lagi."
"Untuk apa Mas ini punya dua sopir," sahut Shinta.
"Untuk kebutuhan malam hari Shinta. Kalau sopir satu kan, kasihan kang Mamat, malam gak bisa ngelonin istrinya."
"Hemmm, bahasanya pakI ngeloni segala.
Apa gak ada waktu lain apa ngelonin bininya?"
Semalam saja kang Mamat pulang hampir subuh."
"Emang kamu ke mana saja kalau malam, kok pulang subuh - subuh..?"
"Jalan - jalan sama purel."
"Hemmm."
"Ada kang..?"
"Kayak nya ada Tuan.
Empat hari yang lalu, ada teman nanya lowongan pekerjaan sopir ke saya."
"Umur berapa dia, dan apa sudah berpengalaman..?'
"Umur 25 tahun Tuan. Sudah 5 tahun menjadi sopir di perusahaan."
"Nanti, kalau istirahat berhenti, kamu hubungi ya.
Kalau ok, besok suruh mulai kerja."
"Iya Tuan."
"Sudah Adzan asar kang," ujar Damar,
"Kita cari masjid ya kang, kita solat."
'Iya Tuan.
Kalau Tuan berkenan, di depan situ ada masjid nya sunan Giri."
"Sunan Giri siapa kang..?'
"Sunan Giri wali songo Tuan."
"Oh iya iya, saya tau sejarah wali songo, tetapi lupa siapa saja anggota nya.
Yang aku ingat hanya sunan Ampel Surabaya.
Jadi, itu masjid sama makam nya ya kang."
"Iya Tuan.
Di depan pengimaman itu makam nya sunan Giri."
"Aku gak bawah mukena Mas, apalagi aku pakai rok mini gini. Masak harus ikut ke masjid dan ziarah?"
"Gak apa - apa. Kan mulus dan putih pahanya. Orang lihat jadi adem pikirannya, gak kira marah, tambah seneng lihatnya."
"Hemmm.
Bukan seneng, tetapi kotor pikirannya lihat paha ku. Iya kalau kamu seneng lihat paha ku."
"Kang, cari toko baju Muslim ya," ujar Damar
*****
Setelah membeli dua jubah warna hitam dan ping, juga dua jilbab dan mukena juga sajadah, Damar berkata,
__ADS_1
"Ganti baju disini saja sekalian, gak usah ganti baju di mobil."
"Iya Mas."
Tak lama setelah ganti baju, Damar berkata,
"Yaah Allah, cantik sekali pakai jubah hitam jilbab pink."
*****
Setelah solat asar berjamaah dengan Shinta, Damar mengandeng tangan Shinta untuk ziarah ke makam sunan Giri.
Di saat membaca tahlil, duduk seorang yang tua renta di sebelah Damar, lalu orang tua itu tersenyum lalu mengajak bersalaman.
Tanpa sepatah kata, orang tua renta itu terus berdzikir, hingga Damar selesai tahlil dan keluar dari makam.
"Shinta, ngopi dulu ya, di warung itu."
"Ok. Shinta akan temani."
"Kopi hitam agak pahit satu pak."
"Pudak pudak, oleh - oleh kota Gresik mari mari silahkan, oleh - oleh sunan Giri," ujar penjual keliling.
"Pak, pudak itu apa ya," tanya Shinta ke penjual kopi
"Semacam dodol bu Nyai. Rasanya manis dan enak."
"Mas, bukankah itu kakek tua yang tadi duduk di sebelah kita waktu di depan makam," ujar Shinta.
"Iya, kayak nya mau ke warung sini. Kamu tuntun say, kasihan jalannya tertatih h tatih."
"Iya Mas," sahut Shinta kemudian berjalan mendekati si kakek tua,
"Saya tuntun Kek, apa mau ke warung?"
"Iya Nak."
Pelan - pelan Kek. Duduk sini Kek, bersandar dekat Mas Damar."
"Terimakasih Nak."
"Kakek mau minum apa?"
"Minum kopi hitam saja."
"Makan ya Kek," ujar Shinta.
"Iya Nak, makan nasi kare saja."
"Baiklah Kek," ujar Shinta kemudian memesan makan di warung sebelah.
"Buk, kare satu dan nasi pecel pakai ayam goreng. Ayam nya dua ya."
"Iya bu Nyai. Bentar ya."
*****
"Ini untuk Kakek, nasi kare, ini untuk kamu mas, nasi pecel.
Barengi Kakek makan, biar ada temannya makan."
Setelah makan dan minum, Kakek itu menyeruput kopi hitam, kemudian menyulut rokok gudang garam merah.
Sambil menikmati kepulan asap rokok.
"Kek, sendirian saja," tanya Damar
"Iya Nak."
"Rumah nya mana Kek?"
"Dekat sini saja."
"Siapa nama Kakek."
"Nama kakek Ahmad Mustofa
Siapa gadis itu..?"
"Dia bernama Shinta Kek teman saya."
"Dia gadis yang baik dan cerdas. Jadikanlah dia teman dalam suka dan duka.
Dia akan menjadi panutan banyak orang."
"Iya Kek."
"Sudah hampir magrib, ajaklah teman mu pulang sekarang."
"Baiklah Kek.
Kalau gitu saya permisi mau pamit dulu.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kek, ini rokok dan amplop untuk Kakek. Makan dan kopi nya sudah saya bayar.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
****
Mobil Fortuner kembali meluncur ke arah Surabaya.
Baru memasuki perbatasan Surabaya Gresik, adzan magrib terdengar berkumandang.
"Kang, solat dulu ya."
"Baiklah Tuan."
***
Damar solat berjamaah khusus lali laki, sementara Shinta berjamaah di tempat khusus perempuan.
Selesai solat pada salam terakhir Damar menoleh ke kanan, Damar terkejut sekali melihat Kakek tua yang di warung tadi.
"Kakek..?"
Setelah salaman, Kakek Mustofa berkata,
"Pulanglah, teman mu sudah menunggu mu."
"Baiklah Kek.
__ADS_1
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."