
Damar berjalan masuk kamar lewat pintu samping tanpa sepengetahuan ibu bapaknya. Setelah menyalahkan Ac, Damar langsung merebahkan badannya di atas Spring Bet dan tidur.
****
"Kediaman Nona Bilqis."
"Mbak namanya siapa," tanya Bilqis di teras.
"Leha non."
"Umur berapa?"
"18 tahun."
"Baru lulus sekolah kok masih muda, umur nya sama kayak aku."
"Iya nona."
"Hari ini kamu bersihkan seluruh rumah ya, arena banyak debunya. Lalu kamu tata dengan baik perabotan yang berserakan dan yang masih terbungkus kardus.
Kalau berat, kamu bisa minta tolong mas satpam nanti."
"Iya nona."
"Mbak Intan, apa preman penjaga rumah suruhan pak Beny sudah pulang?"
"Sudah Nona, sudah saya beri uang saku cukup. Sekarang sudah di ganti satpam baru."
"Apa sudah di ambil mobil BMW di rumah Papa ku?"
"Sudah Nona, sama motor vario warna putih."
"Mbak Intan, mari kita ke kantor, bilang Cakno suruh siap - siap," ajak Bilqis kemudian mengambil tas dan ransel juga baju ganti.
"Baiklah Non."
"Mobil BMW perlahan - lahan meninggalkan perumahan elit Mutiara indah.
"Mobil ini namanya apa Cakno, kok enak banget rasanya," tanya Bilqis.
"Ini mobil BMW iX seri 9 Nona, seharga 2,33 milyar."
"Ternyata akno hafal juga harganya hehehehe. Kok bisa tau harganya segala?"
"Iya tau Non, karena saya sering lihat video di Youtube chanel mobil h mobil mewah, dan bagaimana cara mengendarai mobil - mobil mewah, juga cara perawatannya."
"Oh gitu.
Depan itu Cakno perusahaan nya."
"Iya non,"jawab Cakno kemudian membelokkan mobilnya di gerbang pintu masuk perusahaan.
"Selamat pagi pak. Dari mana dan ada keperluan apa," tanya seorang satpam sif pagi."
"Saya sopir pribadinya Nona Bilqis pak," jawab Cakno.
"Maaf, kami tidak tau kalau ini Kendaraan Presiden direktur, Silahkan pak silahkan masuk," ujar pak satpam sembari membukakan pintu
Setelah turun dari mobil Bilqis di temani Intan asisten barunya jalan - jalan melihat lihat aktifitas dan kondisi fisik bangunan perusahaan.
"Mbak Intan... Habis ini kamu pergi ke kelurahan desa setempat. Tanyakan tanah rawa - rawa dan sawah di belakang pabrik itu milik siapa dan tanyakan, apakah di jual. Jika di jual, berapa harga permeter nya."
"Baiklah Non."
"Di sebelah kanan pabrik itu juga ada lahan kosong. Tanyakan juga."
"Iya Non."
*****
Direktur Anton duduk di sofa di ruangan presiden direktur.
"Direktur Anton, tolong kamu ganti pagar pintu masuk perusahaan ini dengan pagar yang lebih bagus dan modern. Palang pintu di ganti dengan hidrolisis otomatis. Dan pos security di perbesar sedikit."
"Iya Nyonya."
"Pagar tembok pembatas yang mengelilingi pabrik ini juga di bongkar, di ganti baru. Aku minta pagarnya agak tinggi."
"Iya Nyonya."
"Semua tembok gudang dan tembok dinding perusahaan di cat ulang biar bagus dan bersih. Aku lihat paving banyak yang rusak, juga kamu ganti yang baru."
"Iya Nyonya."
"Nama PT Nirmala di ganti dengan nama Nirmala Podomoro."
"Iya Nyonya."
"Sudah itu saja sementara. Tolong direktur keuangan dan manajer pemasaran suruh ke ruangan ku."
"Baiklah Nyonya."
*****
"Semua pegawai di sini memanggil ku Nyonya, padahal aku masih gadis," gumam Bilqis,
"Sebenarnya aku tidak bisa memimpin perusahaan sebesar ini. Tetapi mas Damar memaksa ku menjalankan perusahaan ini.
Aku hanya di ajari selama seminggu saja, selanjutnya aku belajar dari yuotube."
Tok tok tok..!
"Masuk..!"
"Selamat siang Nyonya," sapa ibu Made dan Pak Mandra.
"Siang juga. Silahkan duduk Bu Made Pak Mandra.
Ibu Made, aku minta salinan data keuangan perusahaan. Tolong masukkan sandi data keuangan perusahaan di komputer meja kerja ku juga laptop ku."
"Baiklah Nyonya."
"Pak Made, tolong sambungkan ke data pemasaran perusahaan ini ke komputer ku juga laptop ku."
"Baiklah Nyonya."
"Semua data keuangan dan data pemasaran juga produksi sudah tersambung dengan komputer di ruang kerja Nyonya. Dan tersambung dengan laptop Nyonya. Nyonya Bilqis tinggal mengakses kapan pun yang Nyonya inginkan."
"Terimakasih, kalian boleh kembali melanjutkan pekerjaan."
*****
"Desa Sruni"
Setelah memarkir mobil BMW M3 milik Sarah, kang Mamat berjalan mendekati pintu rumah ibu Latifah.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab ibu Latifah kemudian berjalan ke depan,
"Mencari siapa mas ini..?"
"Saya sopirnya Nona Sarah Buk.
Apa Nona Sarah ada di rumah..?"
"Sejak kapan Sarah di panggil Nona,* gumam ibu Latifah,
"Dan sejak kapan Sarah punya sopir pribadi?
Mas, apa gak salah orang..?"
"Tidak Buk, saya beberapa kali kesini mengantar tuan Damar."
"Oh, iya iya...
Sarah... !! Kok ibuk bingung, panggil Sarah kok pakai Non. Silahkan duduk di teras, akan saya panggilkan sebentar."
"Iya Buk."
"Sarah, Sarah... Bangun!
Sudah siang gini kok masih tidur saja!"
"Iya buk, ada apa..?
Masih ngantuk aku."
"Ada orang ngakunya sopir kamu."
"Siapaaa..?!
Aku gak punya sopir pribadi."
"Bangun dulu..!! Orang itu mencari mu."
"Iya iya..!" Jawab Sarah kemudian bangun lalu berjalan ke teras depan.
"Kang Mamat..?!!
Ada apa kang mencariku?"
"Saya di suruh tuan Damar menjadi sopir Non Sarah mulai hari ini."
"Menjadi sopirku..???!
Gila apa kak Damar ini.!!
Emang mau pergi ke mana pakai sopir segala.
Aneh aneh saja kak Damar ini.
Kak Damar ada dimana sekarang ini kang?"
"Tadi pagi saya mengantarkan nya ke rumah ibunya Nona. Lalu saya di suruh mengambil mobil milik Nona. Itu mobilnya yang saya parkir di depan rumah."
__ADS_1
"Ya sudah kang, tak mandi dulu. Habis ini antar aku ke showroom mobil alat - alat berat.
"Iya Non."
******
Di meja kamar Hp Damar berdering berkali kali, suaranya yang nyaring terdengar hingga ke dapur. namun Damar tetap tidur tak mau mengangkat nya.
"Suara Hp siapa dari tadi berdering?" gumam ibu Farida sehabis solat dhuha,
"Bikin penasaran saja.!! Suaranya dari kamar Damar. Coba aku lihat."
Setelah membuka pintu, ibu Farida sangat terkejut melihat Damar anaknya tidur berselimut betcoper.
"Damar... Kapan kamu pulang, kok tau tau sudah tidur di kamar? Damar..!" panggil ibu Farida sambil memegang pundak anaknya.
"Apa Buuuk..?"
"Kamu sakiiiit..?"
"Tidak, hanya kurang tidur saja semalam."
"Hp mu berdering dari tadi."
"Iya, Damar mendengar. Ibu angkat saja."
"Aisah anak bidan Elsa yang telpon," kata ibu Farida setelah melihat layar Hp.
"Ibu ngomong saja sama Aisah, bilangin Damar tidur."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Aisah..."
"Ibuk..!
Gimana Buk kabarnya?"
"Alhamdulillah baik Aisah."
Mas Damar lagi dimana Buk, kok yang ngangkat telponnya ibu?"
"Ada di kamar, lagi tidur."
"Ya sudah Buk, Aisah ke sana kalau begitu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Aisah mau kesini katanya."
"Ngapain dia kesini..?"
"Ya gak tau ibu. Ibu mau cuci baju dulu."
***
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab ibu Farida,
"Masuk Aisah, Damar ada di kamar."
"Iya Buk," jawab Aisah kemudian masuk kamar,
"Mas... Kamu sakiiit?"
"Tidak Aisah, lagi malas ngapa ngapain, kepingginnya tidur tiduran."
"Sini aku pijitin."
"Aisah..."
"Iya Buk..."
"Ini kasihkan Damar," ujar ibu Farida sambil menyodorkan secangkir kopi cap kapal api.
"Iya Buk.
Mas, di buatkan ibu mu kopi."
"Taruh meja dekat spring bet sini, tak minumnya. Ambilkan rokok di meja itu."
"Ini..."
Setelah menyeruput kopi panas, Damar menyulut rokok lalu tidur tengkurap.
"Jadi pijitnya," kata Aisah yang duduk di samping Damar yang tengkurap.
'Iya, mumpung kamu ada disni. Rugi kalau gak minta pijit sama kamu."
"Senengnya kalau di cemek cemek sama perempuan," sahut Aisah sambil mijit punggung Damar
"Darimana kamu ?"
"Dari rumah mas, tadi habis Daftar kuliah di US fakultas kedokteran."
"Sudah boleh pulang ke rumah kamu sekarang..?"
Kamu gak kuliah..?"
"Kuliah di UIS."
"Ambil jurusan apa?"
"Tafsir qur'an.
Mau nyainggi Ayah mu, biar jadi ustazd."
"Hehehehe...
Mas, aku minta maaf ya, dulu telah menyakiti hati mu dengan cara aku mencampakkan mu."
"Lupakan masa itu Aisah, kamu tidak salah meninggalkan ku, itu hal yang lumrah. Semua itu salahku telah menduakan dirimu. Jadi, aku yang minta maaf.
Ambil jurusan apa kamu..?"
"Belum daftar mas, uangnya gak cukup."
"Bukankah kamu punya uang 8 milyar..? Dulu kan di kasih hadiah uang sama pak Jhoni setelah kamu menyelamatkan Ita anaknya?"
"Iya mas. Aku di tipu sama teman baikku waktu di kabupaten Mojokerto. Aku diajak investasi pembangunan rumah sakit. Setelah aku setor uang 7 milyar, orangnya kabur hilang entah kemana.
Sisa uang satu milyar, aku buat berobat Ayah ku hingga tinggal 100 juta.
Tadi daftar kuliah harus membayar uang satu paket sebesar 465 juta. Dan uang per semester 11 juta 700 ribu."
Sambil meneteskan air mata, Aisah meneruskan kata - katanya.
"Usaha Showroom Ayah ku bangkrut, ibu ku tidak punya uang sebanyak itu. Aku belum bilang masalah pendaftaran kuliah ini sama Ayah ku. Kalau aku kasih tau, khawatir ayah ku kaget dan sakit lagi."
"Sudah, gak usah menanggis, habis ini aku ajak jalan - jalan."
"Mas... Kalau kamu punya uang, aku mau pinjam untuk biaya kuliah. Nanti... Setelah aku lulus dan kerja, akan aku kembalikan semuanya."
"Kamu cantik sekali kalau nangis, jadi menggemaskan."
"Kamu itu mas, masih saja seperti dulu. Diajak ngomong serius selalu bercanda.
Aku ini mau pinjam uang kok?"
"Aku tak mandi dulu ya, sudah dhuhur. Aku mau solat bentar, belajar jadi anak sholeh."
"Buk... Sudah solat dhuhur?"
"Belum, kamu solat duluan sama Aisah, ibuk lagi nanggung nie nyucinya."
"Iya Buk, ayoo Aisah."
Setelah solat duhur, Damar dan Aisah menikmati makan siang bersama.
Selesai makan siang Damar ganti celana dan kaos juga switter.
"Buk... Damar mau kencan dulu sama Aisah.
Buk, di lemari ku kok ada tumpukan uang? Itu milik siapa..?"
"Milik mu, ibuk ambil dari bawah meja pas bersih bersih kamar.
Kamu itu mas, sudah punya calon istri cantik, masih saja ngajak Aisah jalan."
"Selingkuh itu hukumnya sunnah Buk," jawab Damar kemudian salim cium tangan cium pipi ibunya.
"Tumben kamu mencium pipi ibuk, biasanya gak pernah?"
"Masak pipi nya pacar aku cium, pipi ibuk tidak..?
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.
Gimana Damar itu..?
Kemana mana selalu membawah anak gadis orang!"
*****
Motor supra x model lama yang sudah jelek milik Damar berhenti di halaman rumah Aisah.
"Mas..!! Ngapain kok masuk halaman rumah ku..?"
"Ambil ijazah mu, aku antar kamu mendaftar kan kuliah."
"Oh... Iya mas bentar," jawab Aisah kemudian turun dari motor lalu berjalan masuk rumah.
Setelah mengambil tas, Aisah keluar kamar.
"Aisah..."
__ADS_1
"Iya buk..?"
"Kok ada Damar di depan rumah..?! Apa kamu menjalin hubungan lagi sama Damar?"
"Tidak Buk, aku hanya mau pinjam uang saja untuk daftar Kuliah. Kan ibu bilang gak punya uang untuk mendaftarkan Kuliah."
"Apa gak ada orang selain Damar?"
"Aku gak punya kenalan orang yang punya uang banyak, aku hanya mengenal mas Damar, di punya uang kalau untuk daftar kuliah ku.
Kalau ibuk punya kenalan bos atau juragan yang banyak duitnya, ibu saja yang pinjam."
"Ya sudah, gak apa - apa. Nanti ibu yang nyicil hutang mu ke Damar. Ingat, jangan pacaran lagi sama Damar."
"Aisah berangkat dulu Buk, Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam.
Hemmm dari sekolah SMP hingga mau kuliah, di larang berhubungan dengan Damar, kok masiiih sajaaa pacaran sembunyi sembunyi.
Apa gak ada lelaki lain apaa..?
Gak kapok - kapok juga Aisah itu. Sekarang sudah besar, mau kuliah, Damar malah di ajak ke rumah."
"Ayoo mas," ajak Aisah kemudian naik motor.
Damar melajukan motornya pelan - pelan menuju jalan raya.
"Peganggan pinggang yang kencang, biar gak jatuh. Kalau jatuh entar aku yang di marahi ibuk mu."
"Hemmm, iya iya..!!!
Mau minta peluk dari belakang saja pakai alasan jatuh segala. ada kesempatan sedikit langsung di manfaatin."
"Itu tandanya, aku lelaki normal."
*****
Setelah memarkir di motor di halaman parkir kampus, Damar dan Aisah berjalan menuju kantor pendaftaran.
"Aku tunggu di taman sini saja sambil merokok. Ini aku nemu uang di lemari, pakailah untuk daftar kuliah," kata Damar sambil menyodorkan segebok uang yang di ambil dari dalam tas merk eiger nya.
"Iya mas," jawab Aisah kemudian menerima segebok uang lalu pergi.
Setelah menyulut rokok sampurna mild, Damar berkata lirih,
"Lucu sekali hubungan ku dengan Aisah itu. Cinta pertama ku yang lama pergi, kini kembali lagi. Sejujurnya... Dalam hati kecil ku masih ada rasa cinta dan sayang padanya. Tetapi... Aku takut untuk mencintainya lagi. Takut tersakiti untuk yang ketiga kalinya. Setelah aku berkorban untuknya, Aisah dengan mudah nya mencampakkan aku. Setelah aku mendapatkan penggantinya, dia hadir lagi dalam hidup ku.
Sekarang Aisah lagi ada masalah. Mau aku biarin, aku tidak tega, bagaimana pun keadaan Aisah, dia pernah memberiku senyum dan kebahagiaan di kala aku hidup susah dan menderita.
Hemmm... Harus kah aku menjalin hubungan Asmara lagi denganya?
Di buang sayang, di biarin takut hilang, di rawat takut ibuk ngomel marah - marah! 😅
Bagaimanaaa ini...!!
Ribet juga hidup ku ini. Sudah punya pacar Bilqis, ibuk menjodohkan aku dengan Sarah. Sekarang datang Aisah. Pusing - pusing aku tinggal semua. Jadi gak semangat hidup ini."
"Mas... Alhamdulillah di terima jurusan spesialis penyakit dalam," teriak Aisah girang kemudian mencium pipi Damar,
"Terimakasih ya mas, kamu selalu ada di saat aku membutuhkan mu.
Ini sisa uangnya 19 juta."
"Iya sama - sama," jawab Damar sambil menerima uang,
"Ayoo aku antar pulang."
"Gak jalan jalan dulu..?
Biasanya kamu ngajak aku jalan - jalan hingga larut malam."
*Hemmm, baiklah, kalau begitu pulang ke rumah ku saja ya, aku masih ngantuk, ingin Istirahat tidur."
"Mau nyuruh Aisah ngelonin gitu..?"
"Gak nyuruh, aku bisa tidur sendiri. Kalau kamu mau ngelonin aku yaa Alhamdulillah, dengan senang hati aku mau hahaha."
"Senengnya...!
Ayoo mas mumpung belum hujan, mendung nya mulai datang."
"Iya, santai saja, masih jam dua juga. Hujan hujan juga gak apa - apa."
*****
Motor supra x melaju menembus keramaian kota Surabaya yang mendung. Wajah Aisah nampak senang dan bahagia dapat berdua kembali dengan Damar mantan kekasihnya. Damar yang sedang menyetir motor hanya tersenyum sambil membalas ajakan bicara Aisah.
Motor pun memasuki perumahan Elit Elizabet.
"Mas, mau kemana kok masuk perumahan Elit..?"
"Mau ke rumah ku."
"Oh... Kamu punya rumah disini..?
Rumah nya besar besar dan mewah di sini, pasti mahal. Suasana nya tenang, asri, rindang banyak pohonnya. Sayangnya agak jauh dari jalan raya."
Tin tin!
Bunyi klakson motor milik Damar mengagetkan satpam penjaga rumah,
"Silahkan masuk tuan."
"Makasih Mas Joko," jawab Damar kemudian memasukkan motor bututnya.
"Selamat siang tuan."
"Siang juga mas Joko."
"Ada kiriman motor baru merk scupy dari Nona Farida?"
"Oh iya Mas Joko.
Sudah ngopi kamu?"
"Sudah tuan, tadi di bikinin sama Mbak Nuraini."
"Apa kang Sukardi dan mbak Nuraini ada di sini..?"
"Tidak tuan, sekarang kos di kampung belakang pas perumahan ini. Tadi pagi kesini bersih bersih rumah dan masak. Mbak Nuraini bilang, nanti jam 5 sore kesini lagi."
"Ya sudah kalau begitu, aku masuk dulu ya."
"Iya tuan, silahkan."
"Aisah... Lihat apa?"
"Lihat taman ini loh mas, kok bagus banget, halaman rumah ini sangat luas sekali. Senang aku melihatnya."
"Ya sudah, aku masuk dulu," kata Damar kemudian masuk rumah lalu menuju kamar utama.
Setelah memakai sarung dan meyalahkan Ac, Damar merebahkan tubuh nya di atas spring bet.
*****
"Pak satpam,x panggil Aisah sambil mendekat pos satpam.
"Iya Non..!"
"Apa ini benar rumah nya mas Damar?"
"Iya Non, benar."
"Apa sudah lama rumah ini di huni sama mas Damar?"
"Belum lama Non, kalau gak salah, masih dua bulan tiga bulanan tuan Damar menempati rumah ini."
"Sama siapa mas Damar tinggal di sini?"
"Setau saya, sendirian. Kan tuan Damar masih lajang belum punya istri."
"Rumah segedeh gini di tempati sendirian?"
"Kadang sering mas Damar bersama teman temannya di rumah ini Non. Kadang sendiri tetapi, tuan Damar sering sendiri kalau siang siang di rumah ini."
"Apak kamu tau, mas Damar bekerja apa?"
"Kata sopir nya... Tuan Damar bos pemilik PT Podomoro grup. Perusahaan yang bergerak di bidang Kontruksi dan Real Estate."
"Apa pak satpam tau, berapa harga rumah di perumahan ini?"
"Yang saya dengar dari teman satpam disini, harganya 365 milyar Non."
"Oh, iya iya. Terimakasih pak, tak masuk dulu."
"Iya Non, sama - sama."
"Hemmm, tidur beneran mas Damar ini.
Kaya sekali mas Damar ini, bisa beli rumah seharga 365 M. Masya Allah mewah isinya rumah ini," ujar Aisah sambil berjalan melihat lihat isi rumah,
"Ada piano, meja bilyar, kolam renang, tempat fitnes. Perabotan yang bagus bagus. Dapurnya juga sangat bagus sekali.
Seandainya aku jadi istrinya... Aku akan sangat senang sekali dan bahagia. Menyesal aku dulu meninggal kan mas Damar begitu saja. Aku terlalu cemburu dan egois.
Mas Damar telah berkorban segalanya demi aku, tetapi... Balasan ku telah menyakitkan hatinya.

Dulu... Biasanya kalau ngantuk selalu mengajak ku tidur. Biasanya menarik lengan ku setengah memaksa untuk tidur di sisinya, walau dia tau kalau aku tidak ngantuk.
Sekarang mas Damar cuek, tidur sendirian, dan membiarkan ku di luar sendirian.
Mas Damar terlalu baik dan sayang kepada ku. Disaat aku ada masalah pelik, di saat aku membutuhkan dirinya, dia selalu ada untuk ku seperti saat ini.
Walau mas Damar mau membantu kesulitan ku, belum tentu dia mencintai ku seperti dulu. Karena masih ada sisa luka antara aku dan dia.
__ADS_1
Ah sudahlah..!!!
Di jalani saja hidup ini apa adanya. Biarlah semua berjalan sesuai rencana Tuhan."