
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab ibu Latifah.
Kamu Mas, masuk."
"Iya Dik.
Bagaimana kondisi Rahmat..? Apa sudah baikan?"
"Alhamdulillah, sudah bisa berjalan walau pelan - pelan."
"Gimana, apa Rahmat suamimu sudah punya uang sekarang..?
Kalau gak ada, kami sepakat menjual rumah ini dengan harga murah.
Karena kami membutuhkan uang untuk buka usaha."
"Sebentar ya Mas, aku panggil kan Sarah."
*****
"Sarah... Sarah..?"
"Iya Buk," jawab Sarah kemudian bangun,
"Ada apa Buk?"
"Pak dhe - Pak dhe mu kesini menanyakan uang rumah ini. Kalau gak ada uang, besok akan di jual dengan harga murah.
Terus kita mau tinggal di mana..?"
"Sarah...
Ada apa kok rame rame," tanya Damar.
"Ada Pak dhe, kakaknya bapak, menanyakan masalah warisan rumah ini."
"Iya, tadi Dimas telpon katanya besok uangnya bisa keluar. Karena tadi dia telat ke bank.
Ya aku suruh besok.
Kalau begitu aku temui Pak dhe - Pak dhe mu," ujar Damar kemudian bangun lalu cuci muka.
"Ini Mas, kopi mu, tadi aku buatin kamu tidur. Jadi sudah dingin."
"Iya gak apa - apa," ujar Damar kemudian menyeruput kopi,
"Ayo Sarah, kita ke depan."
Setelah salaman dan tegur sapa, Damar duduk lalu menyulut rokok, kemudian berkata,
"Gimana ini Pak urusan masalah pembagian hak waris ini rumah ini?"
"Kamu siapa kok berani ikut campur urusan hak waris keluarga kami?"
"Aku Damar Ahmad, teman nya Sarah keponakan kalian. Aku tidak ingin ikut campur urusan hak waris kalian.
Ibu Latifah bilang, rumah ini mau di jual, dan uangnya mau di bagi pada hak waris.
Aku hanya ingin menanyakan, Pak dhe - Pak dhe ini minta di tombok i berapa?
Dan saya siap membayar uang nya."
"Oh begitu.
Kami ingin bagian sama rata, yaitu 400 jutaan. Bagaimana..?"
"Jadi rumah ini senilai 1,2 milyar kalau begitu," ujar Damar,
"Menurut ku, kemahalan Pak dhe. Karena rumah ini di kampung, jauh dari keramean, walaupun tanah di belakang rumah agak luas.
Apalagi kondisi rumah yang sudah tidak layak huni, rumah kuno, sudah usang.
Bagaimana kalau bagiannya 350 juta'an?"
Setelah berpikir dan musyawarah, Pak dhe Ri dan Pak dhe Jun sepakat dengan nominal 350 juta."
"Sarah... Kamu beli materai 4 buah, sama kertas folio ya, lalu kamu ajak saudara dekat kesini untuk menjadi saksi."
"Iya Kak."
Tak lama kemudian,
Damar mentransfer uang sebesar 350 juta dua kali.
Kemudian Damar menyuruh hak waris untuk tanda tangan di atas materai. Damar juga menyuruh Sarah dan ibu Latifah dan saksi dari saudara juga tetangga untuk tanda tangan sebagai saksi.
*****
"Pak dhe Ri, Pak dhe Jun, semua sudah beres ya, tidak ada lagi hak waris kalian di sini.
Sekarang, kalau Pak dhe mau pergi, ya silahkan, monggo.
Ini uang 100 ribuan buat para saksi. Terimakasih telah meluangkan waktu nya," ujar Damar,
__ADS_1
"Sarah...
Sudah jam 9 malam, aku mau ke makam kyai Pamenang dulu ya."
"Makan malam dulu Kak, ibu tadi masak untuk kak Damar."
"Baiklah."
Sambil makan, Sarah berkata,
"Kak... Terimakasih ya, telah membantu keluarga Sarah dalam masalah warisan."
"Sama - sama Sarah, aku berbuat begini, karena ibu ku yang nyuruh tadi. Kebetulan semalam aku dapat uang komisi.
Oh iya, aku tadi beli laptop itu, untuk mu satu dan untuk juli adik mu satu. Kamu pakai belajar."
"Iya Kak, terimakasih banyak."
*****
Selesai makan malam, Damar pamit untuk pergi ziarah.
Malam semakin larut, se larut hati yang tertipu janji palsu.😜
Langit bertakbir dengan kemegahan nya.
Bintang - bintang bertasbih dengan gemerlap cahayanya.
Dan bulan bersholawat dengan pergerakan nya.
Sepanjang perjalanan, Damar mengingat ingat semua nasehat ibu nya, yang mana nasehat itu membuat nya Sadar, bahwa dirinya telah di tipu oleh harapan indah.
*****
Setelah memarkir motor nya, Damar langsung pergi wudhu lalu masuk masjid dan melaksanakan solat.
Setelah solat, Damar memesan sate 100 bungkus dengan perbungkus nya 10 tusuk, untuk di bagikan ke orang yang ada di sekitar mesjid.
Setelah melihat jam menunjukkan pukul 12:30, Damar ziarah ke makam kyai Pamenang.
"Hemmmm, sudah jam setengah satu, masih saja rame makam kyai Pamenang ini," gumam Damar lirih,
"Lebih baik duduk di bawah pohon kamboja saja, di sana juga ada tikar nya.'
Baru saja mengeja bacaan surat yasin, Damar teringat kejadian di dalam diskotik Redpoling.
"Aduuuuh, kenapa aku teringat sama kejadian semalam ya, di diskotik Redpoling.
Bener sekali nasehat ibu ku. Buat apa menangisi orang yang tidak mencintai kita.
Tau saja ibu itu tentang masalah ku. Yaaa memang tajam perasaan hati seorang ibu terhadap anak - anaknya.
Tetapi... Entah mengapa, aku sangat mencintai Shinta. Padahal aku sudah tidak di anggap lagi.
Haduuuuh, mikirin Shinta jadinya, bisa - bisa gak baca yasin dan Tahlil ini."
Ketika melamun... Damar terkejut melihat Macan kumbang hitam keluar dari dalam makam, lalu memutari area makam. Damar juga melihat Macan kumbang itu masuk masjid.
Ketika membaca surat yasin dapat separuh, tiba - tiba Macan kumbang hitam itu duduk samping Damar.
"Assalamualaikum Gus..."
"Salam," jawab Damar terkejut,
"Bikin kaget saja kamu ini."
"Malam ini kamu sudah tidak takut lagi kepada ku?"
"Iya, aku sudah tidak takut sama kamu. Karena aku tau, siapa dirimu.
Bukankah kamu adalah jin penunggu makam sini bukan!!! Nama mu ki Rekso Jagad, bergelar panglima macan kumbang hitam."
"Apa kyai Ndaru yang memberitahu mu?"
"Iya, benar. Kok kamu bisa tau," tanya Damar.
"Aku bisa mengetahui hal yang ghoip, walau tidak semua aku tau.
Kyai Ndaru sering berkunjung kesini bersama syeh Ali Wafa. Jadi, kami saling mengenal."
"Ki Rekso... Apa wujud mu itu asli macan kumbang apa kayak manusia?"
"Wujud asliku adalah macan kumbang hitam, terapi aku bisa merubah wujud ku jadi apa saja."
"Dari mana asal kamu?"
"Aku berasal dari gunung Wilis wilayah Nganjuk."
"Lalu, bagaimana bisa ceritanya kamu menjadi murid kyai Pamenang?"
"Ceritanya sangat panjang sekali Gus."
"Panjang nya berapa meter..?
Ya cerita yang pendek saja."
__ADS_1
"Dulu... Di lereng gunung Wilis di alam jin, di perbatasan gunung klotok Kediri, aku bersama anak buah ku sedang bertarung dengan kelompok bangsa jin. Pertarungan itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.
Di malam ke tujuh, lawan ku mendapatkan bantuan orang - orang yang sangat sakti, entah dari mana, dan malam itupun aku kalah dan hampir mati.
Di saat itulah kyai Pamenang lewat, lalu menolong ku.
Musuh ku lari kocar kacir dan aku di selamatkan.
Sejak itu aku meninggal kan kelompok ku dan mengikuti kyai Pamenang. Setelah kyai Pamenang wafat, aku tetap setia mengabdi dengan menjaga makam kyai Pamenang."
"Tahun berapa kyai Pamenang wafat dan di makam kan di sini?"
"Setelah runtuhnya kejayaan wali songo."
"Ki Rekso, mengapa kamu dua kali mendekati ku..?"
"Karena, aku melihat tanda di dahimu, tanda bahwa kamu kamu sudah pernah bertemu dengan kyai Pamenang."
"Kapan aku ketemu kyai Pamenang. Rupa dan bentuk tubuhnya saja aku gak tau," kata Damar.
"Mata hati mu masih buta. Kamu masih suka maksiat dan masih suka berbuat dosa."
"Kalau aku suka maksiat dan berbuat dosa, ya maklumlah. Karena aku masih muda, aku juga bukan kyai atau Gus yang ahli ibadah.
Kamu gak usah kepo pada ku.
Yang penting, setidaknya aku sudah mau solat walau bolong - bolong!
Ki Rekso... Boleh kah aku bertanya sesuatu untuk teman ku?"
"Boleh Gus."
"Bagaimana caranya seorang perempuan itu bisa hamil?"
"Ya harus sering berhubungan badan Gus."
"Hahahahaha!
Gak lucu jawabannya.
Kalau itu aku juga sudah tau.
Maksud ku, ibu nya temen ku kngin punya anak lagi, tetapi gak bisa hamil.
Sudah berobat tetapi gak ada hasil."
"Siapa nama perempuan itu?"
"Ibu amaya, suaminya namanya pak Jhoni."
"Pak Jhoni itu maninya lemah Gus, hingga tidak bisa membuai rahim istrinya."
"Lalu, bagaiman caranya maninya bisa kuat dan bisa membuai rahim istrinya?"
"Caranya...
Tunggu sebentar, aku ambilkan air."
Tak lama kemudian, aki Rekso membawa air sebotol ukuran tanggung,
"Ini Gus bawah lah dan kasih kan sama pak Jhoni."
"Apa ini..?"
"Ini air aku ambil dari teko kesayangan kyai Pamenang.
Teko itu ajaib Gus, begitu juga dengan air nya."
"Ajaib bagaimana maksudnya?"
"Teko itu ada sejak jaman kyai Pamenang masih hidup. Dan teko itu tidak pernah di isi air, tetapi bisa mengeluarkan air minum."
"Kok kamu bisa tau?"
"Aku tau, karena aku abdinya kyai Pamenang dan akulah yang merawat kyai Pamenang hingga wafat.
Air di dalam teko itu, sama kyai Pamenang, sering di pakai untuk mengobati orang - orang sakit. Dan banyak orang yang sembuh berkat air dari dalam teko itu."
"Baiklah Ki, besok akan aku berikan kepada pak Jhoni.
Sudah hampir jam tiga malam, aku pamit pulang dulu ya."
"Iya Gus."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
****
Malam semakin dingin, sedingin serbuk embun bertaburan yang menyampaikan salam sejahtera dari Shang penguasa alam jagad.
Motor Damar melaju kencang menembus sepi nya malam.
Setelah menaruh motor di teras kamar, Damar masuk kamar, lalu melepaskan jaketnya, kemudian merebahkan badan dan tak lama kemudian tertidur pulas.
__ADS_1