
"Damar...! Kamu itu kurang ajar ya, bapak ku minta uang 100 juta sama aku untuk beli bahan bangunan. Bapak bilang di suruh Damar. Katanya Damar nitip uang 100 juta ke kamu Sul," ujar Samsul.
"Hahahaha..!
Erik kasih hadiah BMW seri terbaru, Aldy kasih hadiah pajero dan Fortuner juga motor honda beat. Lah kamu..?
Terios sama honda jazz dan motor vario. Paling gak sampai 400 juta."
"Hahahahaha..!" Samsul terbahak - bahak,
"Jadi ceritanya kurang gitu hadiahnya. Makannya Bapak ku minta uang 100 juta."
"Dah di kasih belum..?"
"Sudah tak kasih cas 100 juta."
"Sudah Asar, aku mau balik dulu ya," kata Damar.
"Tumben kamu pulang jam segini," tanya Samsul.
"Badan pegal - pegal, mau minta pijit sama yayang ini," kata Damar tersenyum.
"Hemmm, yang punya yayang baru," sahut Erik.
"Ya udah kalau gitu aku duluan," kata Damar.
"Ok ok."
"Sambil di bonceng, Aisah berkata,
"Mas, tadi waktu aku pesan kopi di Cafe Ayu, aku tanya sama manajernya. Kebetulan ketemu manajernya di depan pintu."
"Tanya apa..?"
"Masalah cafe di jual."
"Terus, di jual berapa katanya..?"
"Ternyata manajernya itu yang punya cafe
Di jual 2 milyar Mas, bentuk bangunan sama perabotan cafe."
"Mahal banget ya?"
"Ya murah lah Mas. Bangunan nya saja 1 milyar lebih. Kan lantai dua. Belum bangunan yang di belakang dapur cafe.
Belum semua perabotannya.
Pemilik cafe juga sudah mendapatkan ganti rugi uang sewa tanahnya. Jadi, pemilik cafe seharusnya bayar uang sewa baru kepada Mas Damar selaku pemilik tanah cafe ayu ini."
"Iya ya, dulu Shinta cerita, pinjam bank 4 milyar buat usaha cafe," kata Damar lirih.
"Coba besok Mas tawar, barang kali mau."
"Iya, besok saja."
*****
"Assalamualaikum," sapa Aisah.
"Waalaikumsalam Kak," jawab Tio.
"Mas Damar..?"
"Apa Tio..?"
"Lihatlah, kamar ku sekarang bagus Mas. Ada kamar mandinya, ada Tv baru yang tipis Mas."
"Iya kah, terus ada apalagi di kamarnya," tanya Damar menggoda.
"Ada tempat tidur baru, meja belajar dan lemari Mas.
Jadi senang di kamar Tio.
Kata ibu Mas Damar ya yang beli."
"Iya, Mas Damar beli untuk Tio, biar Tio rajin belajar, biar tidurnya nyenyak biar mandi gak antri rebutan sama kak Lesti."
"Makasih ya Mas."
"Sudah solat magrib belum..?"
"Ini mau ke mushollah sebelah Mas, Tio pergi main dulu Mas."
"Iya Tio."
"Damar..."
"Iya Buk."
"Solat dulu, sudah magrib, ajak Aisah jamaah."
"Iya, Ibu sudah solat magrib?"
"Sudah Mas."
Selesai mandi dan solat jamaah, Damar duduk di kursi meja makan.
Sementara Aisah membuat kopi dan susu. Ibu Farida menyiapkan piring.
"Ini Mas kopinya, ini susu untuk mu Lesty, ini teh hangat untuk ibu. Ini susu tulang madu untuk Bapak," kata Aisah,
"Adik mu Tio mana Lesty, kok gak ikut makan?"
"Ke mushollah Buk," sahut Damar.
"Bentar lagi juga pulang," kata lesty.
"Ya sudah ayo makan malam dulu, jangan lupa baca bismillah.
Ini ada sambel terong ikan asin. Ada sayur lodeh sisa kemarin. Ada ayam goreng dan udang."
"Assalamualaikum," teriak Tio.
"Salam," sahut Lesty,
"Buruan sini, makan. Ini es susu milo milik mu."
__ADS_1
"Asyiiik, es milo."
Sambil makan, Damar berkata,
"Sudah enakkan pak kakinya buat jalan?"
"Sudah Mar, hanya saja belum bisa cepat. Harus pelan - pelan."
"Kamu itu Mas, beli perabotan kok banyak sekali sampai dua mobil pick up. Jadi gosip dan tontonan tetangga."
"Biarin saja Buk, selama ini tetangga juga gak mau tau tentang keluarga kita.
Walau tetangga kaya makan enak, juga gak ingat kita. Mereka mementingkan dirinya sendiri. Kalau Damar sih, sama tetangga cukup menyapa dan menghormati. Kecuali mereka datang sama Damar dan minta tolong atau minta pendapat."
"Iya sih, kata ibu Farida,
"Tetapi kamu gak boleh sombong sama siapa saja, apalagi sama tetangga.
Sebab tetangga adalah penolong kita pertama di saat ada musibah."
"Iya Buk, Damar gak pernah sombong sama siapa saja. Selama ini kan ibu ngajarin Damar hidup sederhana dan gak boros. Dan harus selalu berbuat baik pada siapa saja.
Buktinya Damar juga kemana mana pakai motor jelek. Walau teman - teman damar sekolah bawah mobil mewah, Damar naik sepeda angin. Dan sekarang pakai motor butut ke sekolah.
Itu semua berkat didikan ibu."
"Kak Damar, makasih ya, di belikan spring bet dan meja belajar.
Teras kamarnya sekarang ada meja dan kursinya. Jadi Lesti bisa santai baca - baca novel makam keramat di teras kamar."
"Iya Lesty. Belajar yang rajin jangan kaya Mas Damar."
"Iya Mas.
Tetapi kayaknya ada yang kurang deh..!"
"Kurang apa nya," tanya Damar.
"Kalau depan teras itu di bikin taman, pasti lebih nyaman dan indah di pandang."
"Hehehehe, Aisah tertawa kecil,
"Biasa Mas kaum Hawa suka yang indah - indah.
Kalau bikin taman sekalian bikin relief di kamar ibu."
"Hemmm, ada - ada saja," gumam Damar menyudahi makannya,
"Ya nanti aku carikan tukang taman di Facebook."
****
Sesudah makan malam Damar melihat kamar ibu nya yang baru.
"Ibu... Sudah di pindahin barang - barang ibu di kamar yang baru?
"Sudah Mas, kamar ibu yang lama di tempati Tio."
"Besok Dapur nya di bongkar ya, di pasang dinding batu bata dan di keramik, biar bagus dan biar enak ibu kalau masak sambil tidur tiduran."
"Jangan dulu, selesai kan dulu bikin pagar belakang rumah," ujar ibu Farida,
"Iya terserah ibu sajalah.
Sumur nya sudah dikuras Buk, sama Pak Gimo?"
"Sudah, tadi siang waktu kamu pergi. Sanyo nya juga sudah di pasang sama Pak dhe mu tadi sore.
Oh iya, Pak dhe mu tadi katanya mau pinjam uang untuk beli kios di pasar Gedong. Katanya ada orang butuh uang dan kiosnya di jual."
"Iya Buk, habis ini Damar ke depan rumah Pak dhe," jawab Damar kemudian ke depan rumah.
*****
"Assalamualaikum Bu dhe."
"Waalaikumsalam Mar, cari Pak dhe mu ya?"
"Iya Bu dhe."
"Masuk Mar," sahut Pak dhe Likin.
Setelah duduk Damar berkata,
"Katanya ibu, Pak dhe butuh uang?*
"Iya Mar. Ini Bu dhe mu ingin beli kios di pasar. Lokasinya strategis. Dari pada Budhe jualan di pojok pasar bongkar pasang, Budhe mu bilang kepingin beli kios itu. Biar gak bongkar pasang setiap hari."
"Butuh uang berapa Pak dhe?"
"Kiosnya minta 50 juta Mar."
"Bu dhe mau jual apa sih?"
"Jual sembako Mar, sama sayur juga bumbu - bumbu."
"Sudah ada modalnya Budhe..?"
"Ada tetapi sedikit, ya belanja kulakan sedikit - sedikit dulu Mar, yang penting kan kiosnya."
"Kalau begitu Damar kasih pinjam uang 100 juta ya B dhe, sama buat modal usaha.
Bayarnya nyicil saja seadanya ke ibu, dan kapan saja bayarnya."
"Iya Mar, Alhamdulillah punya keponakan baik sekali."
"Aku transfer sekarang, Damar minta nomer rekening nya.
Setelah mentransfer, Bu dhe Likin berkata,
"Mar... Itu ada calon mertua mu, Lak Elsa dan bidan Elsa istrinya. Kayak nya mereka mencari Aisah."
"Mereka mencari aku Bu dhe."
"Lah iya, kok tega sekali anaknya sendiri di usir, untung dia pacar mu, bisa tinggal di rumah mu. Kalau bukan pacar mu, mau tinggal di mana tuh Aisah?"
"Kok tau Budhe, kalau Aisah di usir sama orang tuanya?"
__ADS_1
"Orang kampung juga pada tau, gara + gara video mu yang viral sama Aisah ribut di diskotik.
Bapaknya malu dan Aisah di usir.
Yang Budhe dengar, marahnya bapak nya itu, Aisah gak pakai jilbab, padahal di rumah selalu pakai jilbab. Maklum anak pak ustad.
Kedua, pamit ke asrama sekolah tetapi malam - malam kelayapan dugem sama kamu ke diskotik. Dan ribut baku hantam.
Apalagi pergi nya sama kamu. Kan orang kampung tau semua kalau kamu hampir tiap hari mabuk di warung Pak Tarjo."
"Mulai mulai gosipnya," kata Pak Likin.
"Biar tau pak keponakan mu ini, kan kasihan Damar yang di salah kan dalam masalah ini.
Kalau Damar sendiri sih, dari dulu memang pendiam, gak seberapa ngurusin orang.
Tetapi, bagaimana pun Damar bagian keluarga kita."
"Mas Damar... di panggil ibu suruh pulang. Ada pak RT dan bu bidan."
"Iya," jawab Damar kemudian pamit Pak dhe nya lalu berjalan ke belakang.
*Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab pak RT
"Loh ada pak RT," kata Damar yang masih mengenakan sarung dan baju takwa,
"Sebentar ya pak saya panggil Aisah dulu."
*****
Setelah Damar dan Aisah duduk berdampingan, Damar berkata,
"Pak RT, ada perlu apa ya..?"
"Begini Nak Damar, saya selaku RT, bukannya ikut campur masalah kalian, saya hanya mendampingi pak Elsa dan ingin mendamaikan perselisihan di antara kalian.
Saya berharap... Nak Damar mencabut laporan di ke polisian, setelah pak Elsa memenuhi syarat yang Nak Damar ajukan kemarin.
Karena, ancaman hukuman pak Elsa sangat berat. Apalagi pak Elsa salah satu ustad di kampung ini.
Bagaimana nanti perasaan keluarga pak Elsa jika pak Elsa harus di penjara..?"
"Ini Dompet nya Aisah, dan ini semua ijazah nya yang kamu minta," ujar bidan Elsa ibunya Aisah,
"Besok pak RT yang akan mengurus kartu keluarga baru untuk Aisah."
"Baiklah, terimakasih telah mengembalikan identitas Aisah.
Satu syarat lagi, pak Elsa harus minta maaf kepada Aisah. Karena Aisah bukanlah pelacur."
"Baiklah," sahut pak Elsa,
"Aisah... Ayah minta maaf yang sebesar - besarnya, atas ucapan yang menyakitkan."
"Iya Ayah, sama - sama," jawab Aisah.
"Bidan Elsa...
Berapa yang harus saya ganti rugi perawatan Aisah sejak lahir hingga sekarang, dan juga berapa biaya sekolahnya Aisah hingga saat ini," kata Damar santai.
"Damar... Jangan merendahkan martabat keluarga kami," sahut bidan Elsa,
"Kami punya harga diri dan punya uang."
"Bukan masalah harga diri atau punya uang. Bukankah pak Elsa mengatakan pada Aisah di rawat sejak kecil dan di sekolah kan dengan susah payah.
Berarti pak Elsa seakan - akan tidak ikhlas merawat dan menyekolahkan Aisah."
"Tidak usah," sahut Pak Elsa.
"Gak apa - apa Pak, agar tidak di ungkit - ungkit jika Aisah kelak sukses.
Berapa milyar pun akan saya ganti sekarang juga."
"Tidak usah ganti rugi.
Masalah ini sudah selesai, dan kami mohon pamit."
"Damar... Saya haral hari senin kamu harus mencabut laporan mu sesuai janji mu."
"Baiklah bu bidan. Senin siang saya akan ke kantor polisi."
"Kalau begitu kami pulang dulu
Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam."
*****
"Pak RT, kartu keluarga Aisah, tolong besok di urus hingga selesai ya Pak".
"Siap Nak Damar.
Alamatnya gimana..?"
"Pakai alamat rumah ini saja Pak, atau alamat rumah Pak Muji yang saya beli."
"Baiklah, besok senin kebetulan saya libur kerja. Insyallah dalam dua tiga hari selesai."
"Kalau bisa besok siang selesai Lak, pakai jasa orang dalam," kata Damar sambil meletakkan uang dua juta di meja,
"Ini buat ngurus dan jasa pak RT."
"Baiklah Nak Damar, kalau ada uang pelicin nya besok siang akan selesai. KTP Aisah aku bawah ya.
Kalau gitu saya pamit dulu.
Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam
Kalau uangnya kurang, pak RT kesini saja ya."
"Siaaap."
__ADS_1
*Bersambung.