Makam Keramat

Makam Keramat
Cinta yang beku


__ADS_3

Setelah mandi dan sarapan, jam 8 Damar pamit untuk pergi.


Setelah berada di cafe, Damar mendapati Dimas dan Lusi.


"Selamat pagi Bos," sapa Dimas dan Lusi.


"Pagi juga.


Mas Dimas, ngurus suratnya mobil nanti siang saja ya. Sekarang antar aku ke kota Mojokerto."


"Baiklah Bos."


"Mbak Lusi, gimana pesanan Pak Sueb?"


"Pagi ini jam 9 akan di pasang listrik. Kapolding 1000 set akan di kirim pagi ini. Dan bahan bangunan, sebagian hari ini sebagian hari senin Bos."


"Sekarang kamu pesan papan tulisan di percetakan ya.


Tulisannya PT Podomoro. Bawahnya di kasih tulisan General Kontraktor. Jalan Tidar no 7 raya Sedati Sidoarjo.


Habis ini aku WA tulisan nya."


"Baikan lah Bos."


"Pesan dua dulu. Kalau bisa, siang ini harus selesai. Bayar uang lebih."


"Baiklah Bos."


"Ayo Mas Dimas.


Pakai mobil perusahaan saja."


"Siap Bos."


*****


Mobil Terios melaju ke arah pinggiran kota menuju arah Mojokerto.


"Mas Dimas, kita mampir di makam syeh Jumadil Kubro ya, setelah itu di makam sayyid Sulaiman.


Aku tidak tau tempatnya, kamu nyalain Gps saja."


"Siaap! Bos."


Setelah ziarah di makam syeh Jumadil Kubro dan sayyid Sulaiman, Damar putar balik meluncur ke arah kota Mojokerto.


Sesampai di asrama sekolah perawat, Damar bertanya pada beberapa siswi.


Tak lama kemudian Aisah menemui Damar.


"Ada apa Mas," sapa Aisah.


"Semalam aku bertemu ibu mu. Ibu mu bilang, ayah mu sakit sudah satu bulan.


Ibu mu menelpon mu tetapi kamu gak bisa di hubungi. Katanya ibu mu, ayah mu sakit karena merasa bersalah kepada mu. Jadi, aku kemari untuk menjemput mu."


Mendengar keterangan Damar, Aisah diam saja.


"Aisah kalau mau pulang, bareng aku. Kalau gak mau pulang, ya gak apa - apa. Itu urusan mu sama keluarga mu. Dan aku langsung balik ke Surabaya."


"Baiklah Mas, aku bareng kamu saja. Tunggu sebentar, aku akan ambil tas dulu."


"Baiklah."


Tak lama kemudian, Aisah kembali sambil menenteng tas.


"Ayo Mas."


Mobil Terios pun melaju kembali ke arah Surabaya. Aisah yang agak canggung diam - diam berkata dalam hati,


"Mas Damar sekarang cuek banget sama aku, walau aku sakit hati di selingkuhi, sebenarnya aku masih mencintai nya.


Hemm, tambah ganteng saja."


"Aisah," panggil Damar.


"Iya Mas."


"Kita sarapan dulu ya, kamu kan belum makan?"


"Iya Mas."


"Mas Dimas, cari rumah makan ya, kita sarapan dulu."


"Baiklah Bos."


Tak lama kemudian, Dimas membelokkan mobilnya ke rumah makan sederhana.


Setelah parkir, Damar keluar dan mengulurkan tangannya.


Tanpa bicara Aisah pun menyambut uluran tangan Damar.


*****


"Mas Dimas Ayo makan, jangan di mobil."


"Siap Bos."


Setelah menikmati sarapan nasi rawon, mobil pun meluncur kembali ke arah Surabaya.

__ADS_1


"Duduk agak mepet sini," ujar Damar,


"Masih sayang sama aku saja kok pakai ngambek."


"Iya," sahut Aisah kemudian menggeser duduknya.


Dalam perjalanan... Walau terlihat mesra, saling bersandar, Aisah membisu tidak berkata sepatah kata pun. Begitu juga dengan Damar yang selalu melihat yuotube di chanel situs Kontruksi.


Setelah mobil berhenti di pinggir jalan depan halaman rumah Aisah, Damar berkata,


"Sayang dulu..."


"Iya," jawab Aisah kemudian memeluk Damar lalu mencium kedua pipi Damar.


Setelah turun dari mobil, Aisah uluksalam,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam


Salam sama ibu ya."


"Iya Mas.


Kalau ada waktu, jemput Aisah, kita makan malam bersama."


"Iya, dada."


*****


"Sudah jam 12 siang, Mas Dimas langsung ke cafe ya, waktunya istirahat."


"Siap Bos."


Setelah berada di cafe, Damar melihat pak Sueb dan Mbak Lusi duduk di samping taman.


"Mbak Lilik."


"Iya Mas Damar."


"Buatkan kopi luwak ya.


Pak Sueb, ngopi ya?"


"Siap bos, boleh - boleh."


"Bikin dua kopinya ya."


"Iya Mas Damar."


*****


"Ini uang bayaran para tukang dan kuli Bos," jawab Mbak Lusi.


"Ini Mas, kopinya."


"Terimakasih Mbak Lilik.


Pak lek, ada berapa pekerja proyek semuanya?"


"Di sini ada 70 Bos. 30 tukang, 40 kuli."


"Berapa bayaran tukang dan kuli," tanya Damar.


"Tukang 140 ribu, kuli 120 ribu. Masuk kerja jam 07:30 pulang jam 04."


"Berapa bayaran pekerja kalau seminggu?"


"54 juta Bos," jawab Lusi,


"Itu untuk seminggu 6 hari. Hari Minggu gak di hitung."


"Berarti aku bayari pekerja proyek itu sebulan 216 juta ya?"


"Iya Bos, belum pekerja yang ada di jalan Tidar, ada 30 pekerja."


"Berapa kalau setahun aku bayar pekerja proyek?"


"Untuk 100 pekerja proyek, setahun 3,6 milyar bos," jawab Mbak Lusi,


"Termasuk lembur Sebagian."


"Jadi sekarang yang ngurusin bayaran pekerja proyek Mbak Lusi?"


"Iya Bos," jawab Pak Sueb.


"Berarti aku butuh manajer keuangan kalau begitu?"


"Iya Bos, tetapi untuk sementara Lusi juga gak apa - apa, lagian kantor juga belum jadi."


"Pak lek, siapa yang ngawasi pekerjaan di jalan Tidar?"


"Ada wakil ku Bos. Habis ini Mbak Lusi ke sana, antar uang gajian karyawan. Sekarang kan hari sabtu. Gajian pekerja proyek setiap hari sabtu."


"Mbak Lusi, sudah jadi papan tulisannya," tanya Damar.


"Sudah bos, sudah di pasang, fotonya juga sudah kirim ke WA nya bos tadi."


"Iya, aku belum buka WA."

__ADS_1


*****


Jam satu siang telah berlalu. Dimas pergi mengurus surat kendaraan aset perusahaan. Lusi juga pergi untuk mengurus gaji pekerja proyek juga mengurus kebutuhan bahan material proyek.


Sementara Damar duduk sendiri membuka facebook sambil mencari iklan tanah di jual.


*Di jual cepat tanah, luas 150 meter, panjang 200 meter. SHM harga 15 milyar. Dengan harga permeter 500 ribu. Lokasi strategis.*


“Mahal amaaat 15 milyar," gumam Damar, "Lokasinya bagus sih, jalan merdeka surabaya dekat mall HR plaza.


Coba aku telpon, barang kali bisa di tawar."


Setelah menekan no Hp dan tersambung,


"Siang Buk..."


"Siang juga Mas."


"Dengan ibu Erna..?"


"Iya Mas, ada keperluan apa ya?"


"Mau tanya soal tanah yang di jual, di jalan merdeka."


"Oh iya, saya sendiri pemilik nya."


"Apa gak bisa kurang Buk..?"


"Gak bisa Mas, itu sudah harga pasaran."


"Barang kali boleh 12 milyar, saya bayar sekarang."


"Bagaimana kalau 14 m saja?"


"13 M ya, saya bayar sekarang."


"Gini saja, Karena saya butuh uang secepatnya, 13,5 M, bagaimana?"


"Hemmm, baiklah.


Apa bisa kita ketemuan di cafe Ayu, akan saya undang orang Notaris."


"Baiklah, rumah saya kebetulan dekat situ, paling setengah jam."


"Baiklah Buk, saya tunggu ya."


"Ok Mas."


******


*Selamat siang pak Beni.


*Siang juga Mas Damar


*Sibuk gak pak?


*Ini baru datang dari pengadilan. Ada apa Mas Damar.


*Mau minta tolong ngurus surat jual beli tanah pak.


*Ok, ok. Siap.


Lokasinya mana Mas.


*Di cafe Ayu milik saya pak.


*Ok, Mas Damar, meluncur sekarang juga.


*****


Setelah memeriksa ke absahan surat sertifikat tanah, dan menelpon pegawai agraria, pak Beni menyuruh Damar untuk membayar harga tanah sesuai kesepakatan.


"Baiklah Mas Damar, besok pagi saya akan pergi ke kelurahan dan akan minta tanda tangan kepala kelurahan.


Sekaligus balik nama di kantor agraria."


"Baiklah Pak Beni terimakasih atas bantuannya.


Ibu Eni, terimakasih juga telah meluangkan waktunya."


"Sama - sama Mas.


Oh iya pak Beni, besok kalau ke kantor kelurahan, hubungi saya dulu ya. Karena siang hari saya ke jakarta."


"Baiklah Bu Eni, sekitar jam 8 pagi saya ke kantor kelurahan.


Kalau begitu saya permisi dulu Mas Damar.x


"Ok, Pak Beni. Bu Eni."


*****


"Alhamdulillah... Bisa beli tanah untuk membuka cabang cafe baru.


Uang habis gak apa - apa, yang penting punya aset tanah buat usaha.


Paling biaya semua proyek sekitar 200 milyar. Masih sisa 150 milyar. Cukup lah untuk operasional perusahaan.


Kalau gak cukup, jual tanah di jalan Tidar saja. Atau pinjam bank."

__ADS_1


__ADS_2