
"Cantik banget." Arsen memeluk tubuh Naya dari belakang saat Naya bercermin. Gaun Naya yang berwarna berpaduan antara pink dan biru itu sangat cocok di tubuhnya.
Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu Naya dan Arsen. Dia akan segera mengetahui jenis kelamin buah hatinya.
Arsen kini berlutut di depan Naya dan mencium perut Naya. "Shena atau Arnav nih? Tapi apapun itu, Ayah pasti akan sayang sama kamu."
Lalu dia bediri dan mencium bibir Naya sesaat. "Nanti di acara kamu harus sering-sering duduk ya, biar gak capek. Masih dua bulan lagi harus bener-bener jaga dedek dalam perut."
Naya menganggukkan kepalanya. "Iya."
Kemudian Naya dan Arsen keluar dari kamar dan menuju halaman rumahnya yang sudah dipenuhi kerabat dan sahabat. Mereka semua memakai baju pink dan juga biru sesuai tebakan mereka.
"Naya, aku pake gaun pink. Aku tebak cewek. Aku jadi tim pink." Rani datang dan langsung memeluk Naya dari samping. "Tapi Rangga pakai biru. Ih, dia gak satu frekuensi."
"Iya, calon ponakan aku pasti cowok," kata Rangga. Dia kini menggandeng lengan Rani.
"Duh, yang masih hangat-hangatnya mesra banget," cibir Arsen saat melihat kemesraan Rangga dan Rani.
"Iya dong. Emang lo aja yang bisa mesra." Rangga kini merengkuh pinggang Rani. "Sayang, kayaknya kita harus lebih giat nih biar cepat ada acara kayak gini."
"Ih, perasaan kamu udah giat banget tiap hari." Rani mencubit perut Rangga karena semakin hari Rangga semakin berani menunjukkan kemesraannya di depan umum.
"Jangan sering-sering malah gak jadi ntar," celetuk Arsen.
Mereka semua tertawa. Kedua orang tua Rangga juga datang dan memberi selamat pada Naya. Mereka berada di tim biru, sedangkan orang tua Naya dan juga kakak perempuannya berada di tim pink.
"Dukungan kayaknya imbang nih. Tapi apapun nanti jangan ada yang kecewa, ini cuma buat seru-seruan aja," kata Arsen. Dia masih setia mendampingi Naya sampai acara inti yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba.
Naya dan Arsen berdiri di dekat sebuah balon yang sudah siap mereka letuskan.
"Ar, aku deg-deg an banget." kata Naya. Sedari tadi detak jantungnya tak beraturan.
__ADS_1
"Iya, sama." Arsen kini memegang tangan Naya yang sudah memegang jarum. Setelah hitungan ketiga, mereka meletuskan balon pertama yang lumayan besar itu. Lalu terlihatlah balon biru, setelah itu mereka letuskan balon lagi lalu terlihatlah balon pink dan mereka meletuskan balon terakhir. Sebuah balon biru dan bertuliskan boy itu terbang ke langit.
Semua orang bersorak gembira, terutama Arsen. Seketika dia memeluk Naya lalu menciumi perut Naya.
"Hai, Arnav, kamu akan segera hadir di antara kita." Kemudian Arsen kembali memeluk tubuh Naya dan menciumi kedua pipinya.
"Selamat ya..." Semua keluarga mengucapkan selamat pada Naya. "Baby boy, siap-siap nih beli barang-barang buat baby boy nanti."
"Iya. Makasih Mama Ririn dan Mama Nita. Papa Tama dan juga Papa Aji. Naya senang sekali kalian semua ikut merayakan kebahagiaan ini," kata Naya dengan mata berbinarnya.
"Sama kakak gak?"
Naya tersenyum dan memeluk Kakak perempuannya itu. "Iya, makasih ya Kak. Kak Laras sibuk terus, gak pernah main ke rumah?"
"Adek nih yang sibuk, gak pernah ke rumah juga sama Arsen."
"Ih, ke rumah Kak. Kak Laras aja yang gak ada di rumah."
"Kakak kapan nikah? Katanya mau tunangan sama Kak Riki." tanya Naya.
"Aku udah putus. Udah, jangan bahas itu lagi."
Beberapa saat kemudian Virza datang dan menghampiri Arsen. "Sorry banget bro gue telat. Nungguin anak-anak ngumpul selalu aja ngaret."
"Iya, gak papa. Thanks udah pada datang. Langsung makan saja, sikat deh. Habiskan."
"Beres."
"Tunggu-tunggu, kayaknya aku kenal sama suara itu." Laras menggeser dirinya agar bisa melihat seseorang yang sedang berbicara dengan Arsen.
"Virza?" Laras menunjuk Virza dan terkejut.
__ADS_1
"Loh, tante ada di sini juga? Eh, Mbak maksudnya."
"Sejak kapan lo kenal sama Kakaknya Naya?" tanya Arsen.
"Kakaknya Naya?" tanya Virza memastikan.
"Iya, jadi kamu temannya Arsen?"
"Iya, dunia ini sempit banget ternyata. Ya udah gue mau makan dulu aja." Kemudian Virza ikut bergabung dengan teman-temannya di meja prasmanan.
"Kak Laras kok bisa kenal sama Kak Virza?" tanya Naya sangat ingin tahu.
"Jadi Virza gak sengaja nabrak mobil aku lalu dia tanggung jawab dan mobil aku dibawa ke bengkel tempatnya bekerja."
Naya menarik kakaknya agar mendekat. "Bengkel yang deket kos-kosan itu?"
"Iya."
"Itu sih bengkelnya Kak Virza."
"Hah? Yang bener?"
"Iya. Bahkan udah dua tahun ini dikelola sendiri sama Kak Virza. Kos-kosan itu juga punya Kak Virza."
Laras hanya menggigit bibir bawahnya, yang dikira masih bocah ternyata udah suhu.
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Ternyata Kakaknya Naya ya.. Ish, gak ada yang nebak ya... ðŸ¤