
Malam itu Arsen tidur di kamarnya sendiri. Dia memang ikut pulang bersama Papanya. Kamar yang luas dan nyaman itu justru membuatnya tidak bisa tertidur. Dia terus memikirkan Naya. Bagaimana Naya sekarang, apa dia bisa tertidur tanpa pelukannya?
Arsen hanya menatap langit-langit kamarnya. "Tidur yang nyenyak ya Nay. Semoga kamu cepat sembuh."
Entah pukul berapa akhirnya Arsen bisa tertidur. Meski tidur larut malam, dia tetap bangun pagi karena alarmnya masih aktif. Dia kini duduk di tepi ranjang. Biasanya di pagi hari dia sudah sibuk mengurus ini dan itu tapi jika berada di rumahnya sendiri, jelas sudah ada pembantu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Arsen kini masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh dirinya. Setelah selesai memakai bajunya, dia keluar dan bergabung dengan Papanya di meja makan.
"Pagi sekali kamu bangun." kata Papanya yang sedang menatap layar laptopnya sambil menikmati sarapan pagi.
"Tiap hari aku bangun jam segini. Banyak pekerjaan rumah yang dikerjakan."
Pak Tama tersenyum lalu menepuk bahu Arsen. "Kamu sudah berubah ya. Papa sebenarnya juga sudah tahu siapa yang menjebak kamu dan Naya di klub itu."
"Kalau Papa sudah tahu mengapa Papa suruh aku nikah." Arsen mengambil segelas susu hangat yang baru saja dihidangkan oleh pembantunya.
"Loh, kamu menyesal menikah dengan Naya?"
"Eh, nggak Pa. Aku gak pernah menyesal." Arsen tersenyum kecil. Jelas saja, dia sangat bahagia menikahi Naya.
"Tapi sebenarnya Papa bingung sama orang tua Naya. Naya itu anak perempuan, mereka bisa melepas Naya dengan mudah bahkan mereka sama sekali tidak menyelidiki masalah ini. Apa Naya pernah cerita tentang orang tuanya sama kamu?"
Arsen kini menyandarkan punggungnya. Dia ingat betul saat Naya bercerita bahwa Naya sering dimarahi. "Naya sering dimarahi orang tuanya. Dia selalu dituntut. Sebenarnya sama kayak aku, Pa. Kurang perhatian dan kasih sayang."
"Arsen, perhatian Papa itu lebih-lebih buat kamu. Kamu saja yang tidak menghargai Papa. Kalau soal Mama kamu, beberapa bulan lagi Mama kamu akan menetap di sini. Kamu pasti akan tahu alasan Mama sering menetap di luar negeri."
Arsen hanya menghela napas panjang. "Udahlah, aku mau ke rumah dulu. Seragam dan buku-buku aku ada di sana semua." Arsen mengambil roti sandwich lalu berdiri.
__ADS_1
"Arsen, kamu nanti pulang ke rumah ini saja."
"Gak janji, Pa. Rumah aku lebih nyaman di sana." kata Arsen sambil berlalu.
"Dasar Arsen!"
...***...
"Ar, kita mau ikut lo jenguk Naya." kata Rangga yang menyusul langkah Arsen bersama Rani saat pulang sekolah.
"Gak usahlah." Arsen kini menaiki motornya. Tapi setelah menghidupkan mesin motornya, dia kembali menoleh Rangga dan Rani. "Oke, kalian boleh ikut." Dengan begitu Arsen pasti bisa menemui Naya. Dia tidak akan diusir oleh orang tua Naya.
"Dasar! Plin plan!" Rangga berdengus kesal. Kemudian dia mengendarai motornya. "Ayo Ran, lo sama gue aja." ajak Rangga karena Rani masih saja berdiri.
"Iya, gue cuma lagi mikir mau bawa apa jenguk Naya." Rani kini naik ke boncengan Rangga.
"Huek! Enek denger gombalan lo!" kata Rani.
Rangga kini sudah melajukan motornya di belakang Arsen.
"Ngga, lo udah rela Naya sama Arsen?" tanya Rani yang duduk di belakang Rangga.
"Iya, kalau Naya udah bilang dia sudah mencintai Arsen ya berarti gue udah harus berhenti berharap." kata Rangga.
"Dalem banget lo. Terus sekarang Naya udah tahu tentang lo?" tanya Rani lagi.
"Ya nggak lah. Cuma lo, sahabat kecil gue yang tahu tentang gue dan Arsen."
__ADS_1
Rani semakin mendekatkan dirinya di bahu Rangga. "Arsen udah tahu siapa lo?"
Rangga menganggukkan kepalanya. "Iya, gue pernah bertemu dia waktu ada acara bisnis."
Rani kini tertawa. "Lo ama dia emang sebenarnya sebelas dua belas sih."
"Dia gak mungkin menang melawan gue, hanya soal Naya aja gue ngalah sama dia. Yang penting Naya bahagia itu udah cukup."
Rani hanya tersenyum. Dia dan Rangga memang sudah bersahabat sejak kecil. Bahkan mereka sudah seperti saudara. Dia tahu betul siapa Rangga, tapi dia tidak pernah membeberkan siapa Rangga sebenarnya. Dia juga mendapat tugas untuk menemani dan menjaga Naya, sebagai teman tentunya.
Beberapa saat kemudian motor mereka berhenti di tempat parkir. Arsen, Rangga dan Rani segera menuju ruang rawat Naya. Tapi mereka menghentikan langkahnya saat berada di depan pintu yang setengah terbuka itu.
"Naya, gimana kamu mau sembuh kalau makan gak pernah habis. Mama itu banyak pekerjaan, gak bisa jagain kamu terus."
Mendengar hal itu Arsen mengepalkan tangannya, jadi benar selama ini Naya sering dimarahi tapi mengapa Papanya justru tidak memperbolehkan Arsen membawa Naya lagi.
Arsen masuk ke dalam ruang rawat itu yang membuat Bu Nita kini mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Maaf, kalau memang Ibu tidak mau merawat Naya, biar saya saja yang merawat dia."
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1