Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 125


__ADS_3

Baik Arsen atau Naya sudah tidak sabar melihat hasilnya. Setelah satu menit, mereka berdua melihat hasil tes itu.


"Tuh kan, positif." Seketika Arsen memeluk Naya dengan erat lalu menciumi kedua pipi Naya. "Nanti langsung periksa ya."


Naya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Nggak nyangka aku akan jadi ibu dari dua anak."


"Iya, makasih."


"Sama-sama. Sekarang Mas Arsen makan dulu ya. Mau makan di kamar?"


Arsen menggelengkan kepalanya. "Di luar aja. Sekalian mau kasih tahu Mama dan Papa." Lalu mereka berdua berdiri dan berjalan menuju ruang makan.


Ada Arnav yang duduk di dekat Bu Ririn sambil tepuk tangan melihat kedua orang tuanya.


"Arsen, kamu pucat sekali." kata Bu Ririn yang melihat wajah pucat Arsen.


Arsen justru tersenyum dan duduk di kursi. Tangannya masih saja menggenggam tangan Naya. "Kena syndrom simpatik lagi, Ma."


"Naya hamil?" tanya Bu Ririn dengan senyum yang telah merekah di bibirnya.


Naya menganggukkan kepalanya.


"Selamat sayang. Mama senang sekali mau punya cucu lagi."


Pak Tama menepuk bahu Arsen. "Hebat! Gak papa, mumpung masih muda. Biar Mama juga gak kesepian. Sejak ada Naya lalu Arnav, rumah jadi ramai. Kesehatan Mama juga semakin bagus."


"Kamu lagi pengen apa? Mau rujak buatan Mama lagi?" tanya Bu Ririn.


"Iya, Ma. Buatin ya Ma."


"Iya, tapi kamu makan nasi dulu."


Naya mengambil nasi untuk Arsen dan juga untuknya.


Sedangkan tangan Arnav ingin meraih makanan yang ada di meja dengan bibir yang mengecap.


"Arnav, dua minggu lagi sudah boleh makan. Sabar ya sayang," kata Bu Ririn sambil mengusap rambut Arnav.


Arsen hanya mengaduk makanannya. Rasanya dia tidak nafsu makan.


"Mas, dimakan jangan diaduk aja."


"Gak enak makan."

__ADS_1


Naya mengambil sendok Arsen lalu menyuapinya. "Makan dulu, sedikit-sedikit gak papa. Kalau makin gak enak badan, lebih baik kita periksa saja."


Arsen akhirnya menerima suapan dari Naya. "Kamu makan juga." Sedangkan Arsen juga menyuapinya Naya.


"Nanti sekalian periksa saja saat mengantar Naya ke Dokter Kandungan. Mungkin aja selain ngidam kamu juga sakit. Beberapa hari ini kamu sangat sibuk pasti kecapekan."


"Iya, Pa." Arsen berusaha menelan makanannya tapi perutnya semakin terasa diaduk. Dia kini berdiri dan berlari ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Naya menjadi khawatir karena Arsen sudah beberapa kali muntah. Dia kini menyusul langkah Arsen ke kamar mandi. "Kita langsung periksa saja ya."


"Nanti saja. Aku mau istirahat dulu." Setelah membersihkan bibirnya dia berjalan menuju kamarnya.


Naya kembali duduk di meja makan dan menghabiskan makanannya terlebih dahulu. "Aku kasihan sama Mas Arsen, sudah dua kali kayak gini. Harusnya aku yang merasakan ini semua," kata Naya yang kini sudah berpindah di sebelah Arnav dan Bu Ririn.


"Jangan bilang seperti itu. Kamu harusnya bahagia karena kamu adalah wanita yang istimewa. Tidak apa-apa, Arsen pasti kuat melaluinya. Arsen justru sedih jika kamu yang merasakan ini semua. Nanti biar Mama yang bantu rawat Arsen. Kamu juga gak boleh kecapekan, harus banyak-banyak istirahat dulu."


Naya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Makasih ya, Ma."


"Sama-sama. Arnav belum mandi? Biar Mama saja yang mandikan. Kamu buatkan Arsen air jahe hangat saja biar perutnya enakan."


Naya menganggukkan kepalanya lalu dia berdiri dan membuatkan minuman jahe hangat untuk Arsen.


...***...


"Kita ke rumah sakit sekarang, gak usah tapi-tapian." Naya membantu Arsen memakai jaketnya lalu membantunya berdiri dan berjalan keluar kamar.


"Sayang, biar aku jalan sendiri. Atau panggilkan Papa saja." Arsen melepaskan pegangan tangan Naya tapi dia justru jatuh pingsan.


"Mas!" Naya menggoyang tubuh Arsen tapi tidak ada respon, lalu dia segera berteriak meminta tolong. "Pa, Arsen pingsan!"


Mendengar teriakan itu Pak Tama masuk ke dalam kamar Arsen. "Astaga Arsen. Gery, cepat bantu saya!"


Tubuh Arsen kini diangkat oleh Pak Tama dan Gery. Sesangkan Naya mengikuti di belakang mereka.


"Mama, Naya titip Arnav ya. Dia lagi tidur."


"Naya, jangan terlalu khawatir gini. Atau kamu di rumah aja biar Mama yang rawat Arsen."


Naya menggelengkan kepalanya. "Biar Naya saja yang ikut ke rumah sakit. Naya harus memastikan keadaan Arsen."


"Ya sudah. Kamu juga harus jaga diri ya."


Naya menganggukkan kepalanya lalu dia masuk ke dalam mobil dan memangku kepala Arsen. Sepanjang perjalanan, Naya terus mengenggam tangan Arsen.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mobil mereka berhenti di depan IGD. Arsen segera dibawa masuk ke dalam IGD dan diperiksa oleh Dokter.


Naya menunggu hasil pemeriksaan Arsen dengan cemas. Semoga tidak ada masalah yang serius pada Arsen.


Beberpaa saat kemudian Dokter yang telah memeriksa Arsen keluar dan menemui Naya. "Pasien terkena GERD dan sudah dehidrasi berat jadi untuk sementara pasien harus dirawat."


"Iya Dok. Saya mau menemui suami saya."


"Iya, pasien baru dipindahkan ke ruang rawat."


Naya segera mengikuti brankar yang didorong suster ke ruang rawat. Setelah suster keluar dari ruang rawat, Naya duduk di dekat brankar Arsen. Arsen masih saja belum sadarkan diri.


"Nay, jangan sedih, Arsen pasti bisa melalui ini semua. Papa dan Gery tunggu diluar. Kalau ada apa-apa kamu panggil saja."


Naya menganggukkan kepalanya. "Iya, Pa." Lalu Naya kini mengusap rambut Arsen. Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya terjatuh di pipinya. "Mas, cepat sadar."


Beberapa saat kemudian, Arsen membuka kedua matanya. Kepalanya terasa sangat pusing dan berputar-putar.


"Syukurlah, Mas akhirnya sadar."


Satu tangan Arsen kini mengusap air mata Naya yang ada di pipinya. "Kamu kenapa nangis? Jangan sedih. Aku gak papa."


Tapi Naya justru semakin menangis. Dia kini menyandarkan kepalanya di dada Arsen. "Sedari tadi bilangnya gak papa terus, padahal udah dehidrasi parah. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu."


Arsen mengusap rambut Naya. "Jangan sedih gini. Kasihan dedek dalam perut nanti ikut sedih. Harusnya aku nemenin kamu periksa ke Dokter hari ini."


"Jangan mikirin itu dulu. Yang penting Mas Arsen sembuh dulu. Harusnya aku aja yang ngerasain morning sickness, kan aku yang hamil."


"Sssttt, kalau kamu yang ngerasain aku justru tidak tega. Aku aja kayak gini, gimana kalau kamu."


Naya menegakkan kepalanya dan menghapus air matanya.


"Udah jangan sedih lagi. Kamu istirahat saja ya di rumah. Arnav pasti juga cariin kamu."


Naya menggelengkan kepalanya. "Aku mau jagain Mas Arsen di sini."


"Jangan. Kalau kamu mau di sini sampai sore saja. Setelah itu kamu pulang. Kamu gak boleh kecapekan."


"Tapi..."


Arsen menarik lengan Naya agar mendekat lalu mencium bibirnya sesaat. "Bagaimanapun keadaan aku, kamu tetap jadi prioritas aku. Aku gak mau kamu sakit juga. Bukan hanya aku yang membutuhkan kamu tapi juga anak-anak kita."


Naya akhirnya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dia kembali memeluk tubuh Arsen. "Cepat sembuh ya..."

__ADS_1


"Iya."


__ADS_2