
"Kamu hamil?" Seketika Bu Ririn memeluk tubuh Naya. "Mama akhirnya punya cucu." Kemudian dia cium kedua pipi Naya. "Makasih ya, sayang."
"Loh, Mama gak makasih sama aku?" Arsen yang sedari tadi duduk di dekat Naya seketika menyahut. "Kan aku yang buat."
"Iya, iya, makasih ya Arsen. Jadi kamu yang ngidam? Lucunya. Nanti Mama buatin rujak ya. Pasti pengen yang asam-asam kan?"
"Mama tahu aja. Tadi siang aku beli rujak di kampus diketawain sama cewek-cewek," cerita Arsen.
"Besok-besok kalau kamu pengen, aku aja yang beliin." kata Naya.
"Gak papa. Ini tuh perjuangan seorang Ayah." Arsen mengusap perut Naya. Entah sudah ke berapa kalinya dia melakukannya pada Naya.
"Berjuang kok beli rujak." Naya tertawa, kadang Arsen memang se-absurd itu.
"Belajar pegang perusahaan yang bener. Tanggung jawab kamu bertambah setelah punya anak," kata Pak Tama yang kini ikut bergabung bersama keluarganya.
"Iya, Pa. Tiap hari juga sudah belajar."
"Dua minggu lagi kamu coba urus kerjasama dengan keluarga Rahardi. Mereka akan ada proyek baru."
"Soal itu Papa tenang aja. Anak Pak Rahardi sekarang sudah jinak." Jelas saja, Rangga sekarang sudah berkawan dengannya pasti urusannya akan sangat mudah.
"Iya kalau anaknya yang pegang, kalau tetap Pak Rahardi? Kamu jangan main-main. Anak Pak Rahardi saja sudah bisa mengelola rumah makan sejak SMA."
"Iya Pa, iya. Sudah, tidak usah dibanding-bandingkan. Aku beda sama Rangga." Arsen melipat tangannya di dada. Lihat saja suatu saat nanti jika sudah waktunya, dia akan menunjukkan skill-nya di dunia bisnis.
"Udahlah Pa, biarkan saja. Arsen juga baru 20 tahun. Kuliah juga baru semester dua," bela Bu Ririn.
__ADS_1
"Mama the best." kata Arsen sambil mengacungkan jempolnya.
"Papa mau lihat calon cucu Papa juga." Pak Tama mengambil hasil print out USG yang ada di tangan istrinya. "Calon cucu Papa udah dua bulan. Pasti rumah ini akan ramai kalau udah lahir." katanya sambil tersenyum.
"Tadi galak banget sama anaknya, tapi kalau lihat calon cucunya langsung mellow." Arsen berdiri dan menarik tangan Naya. "Sayang, ayo istirahat aja di kamar."
Naya hanya mengikuti Arsen sambil tertawa. Ternyata sifat Arsen memang hampir mirip dengan Papanya.
"Udah, gak usah tertawa." Arsen menutup pintu lalu berbaring di atas ranjang.
"Hmm, Ar, kan teman-teman kita di kampus gak ada yang tahu kalau kita udah nikah. Gimana kalau mereka ngira aku hamil diluar nikah?"
Arsen meraih tubuh Naya agar tidur di sebelahnya. "Jangan dipikirkan soal itu. Biarkan saja mereka bicara apa, yang jelas anak ini hasil dari hubungan kita yang halal. Atau kamu mau aku umumin kalau kita udah nikah?"
"Malu juga kalau diumumin. Ya udahlah biarin aja."
"Iya, siap."
"Satu lagi, gak boleh terlalu banyak gerak. Gak boleh lari-larian."
"Oke, siap."
Arsen menyudahi pembicaraannya dengan dua jeweran di pipi Naya. "Gemes banget."
"Tapi kamu juga harus makan yang banyak. Kamu pengen apa bilang, biar aku bantu buat atau belikan. Aku gak mau lihat kamu sampai muntah-muntah kayak tadi." Naya mengusap rambut Arsen sambil menatapnya.
Arsen hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Makasih ya, kamu sudah merasakan yang seharusnya aku rasakan. Aku merasa menjadi seorang wanita yang sangat spesial."
"Iya, sama-sama. Justru aku senang, kamu tidak perlu merasakan ini. Kamu bisa fokus dengan kondisi kamu dan calon anak kita." Arsen menyingkap baju Naya lalu menciumi perut Naya. "Cepat besar ya, Ayah udah gak sabar mau ketemu kamu."
"Ayah?"
"Iya, aku mau dipanggil Ayah saja." Arsen menggeser dirinya dan kembali memeluk Naya.
"Kalau begitu aku ingin dipanggil Ibu."
"Beneran? Zaman sekarang udah jarang sebutan Ibu."
"Gak papa. Biar beda."
Satu kecupan mendarat di bibir Naya tapi Naya justru menahan kepala Arsen dan memulai ciuman hangatnya. Semakin lama ciuman itu semakin meliar.
Tapi Arsen melepas ciuman itu. "Aku mau tahan dulu, kata Dokter di trimester pertama gak boleh sering-sering. Kasihan juga dedek dalam perut kena guncangan hebat."
"Ih, bisa aja." Kemudian Naya menyembunyikan wajahnya di dada Arsen. Tak butuh waktu lama dia sudah terlelap.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1