Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 97


__ADS_3

"Rani kuliah gak ya? Dari kemarin aku hubungi gak bisa," kata Naya sambil turun dari mobil Arsen.


"Ya mungkin sibuk. Kayak kamu gak pernah pengantin baru aja." Arsen merengkuh pinggang Naya sambil berjalan masuk ke dalam kampus. "Sayang, sebulan lagi kita adakan gender reveal ya, sekalian tujuh bulanan kamu."


Naya menganggukkan kepalanya. "Udah gak sabar banget pengen tahu cewek atau cowok. Setelah tahu aku mau belanja keperluan dedek."


"Iya, kamu belanja aja sepuasnya. Satu lagi jangan lupa, kita harus segera cari nama."


Naya menganggukkan kepalanya. "Arsen dan Naya, kalau cewek Shena, kalau cowok Arnav."


Seketika Arsen menghentikan langkahnya. Dia menggenggam tangan Naya dan menatapnya. "Kamu sudah menyiapkan nama buat anak kita?"


Naya menganggukkan kepalanya. "Aku seneng banget dia hadir di antara kita. Aku udah gak sabar, dia lahir ke dunia ini."


Seketika Arsen memeluk Naya. "Aku sayang sama kamu, Nay."


"Waduh, gak boleh pelukan di area kampus meskipun udah halal." celetuk Rani yang baru saja datang bersama Rangga.


Seketika Naya melepas pelukan Arsen. "Rani, ih, aku telepon kenapa gak diangkat."


"Hp aku ketinggalan di rumah. Baru aku ambil tadi pagi. Maaf ya."


Seketika Naya menggandeng tangan Rani. "Ran, gimana sukses?"


"Si bumil dari kemarin penasaran sama kalian berdua, udah unboxing belum?" tanya Arsen terang-terangan.


Rani mengajak Naya berjalan berdua ke kelas.


"Lo jangan fitnah bumil, lo sendiri yang kepo."


Arsen tertawa lalu merangkul Rangga. "Gimana? Sukses?"


Rangga hanya tertawa. Bahkan sehari kemarin dia sudah melakukannya beberapa kali bersama Rani.


"Wih, gas terus." Arsen bisa membaca ekspresi Rangga kali ini.


"Iyalah, kan udah sah. Thanks tutornya."

__ADS_1


"Oke, oke. Lain kali kalau butuh referensi gaya, bilang sama gue."


Rangga semakin tertawa. Mereka berdua kini berjalan menuju kelas.


"Ar, lusa sidang putusan kasus Sagara. Dia udah fix dihukum mati karena korban dari darkweb dia udah banyak banget. Beberapa yang didapat hasil dari penculikan," kata Rangga. Percakapan mereka berubah menjadi serius.


Arsen menganggukkan kepalanya. "Bara gimana? Gue gak pernah ketemu dia lagi. Rasanya gue masih ingin balas dendam sama dia."


"Kita gak boleh lengah. Mungkin saja dia lagi mencari waktu untuk berulah lagi. Lo jagain Naya ya. Harus bener-bener lo jagain."


"Iya, gue juga gak mau Naya jadi korban lagi."


Sedangkan Rani dan Naya kini sedang tertawa sambil berjalan menuju kelas.


"Ngapain kamu malu, kan Rangga udah jadi suami kamu."


"Ya masih belum biasa aja. Aku udah sahabatan sejak kecil terus sekarang hidup berdua."


Naya semakin mendekatkan dirinya. "Tapi udah gol kan?"


Rani hanya tersenyum.


Rani menggelengkan kepalanya. "Ternyata bikin nagih."


Naya kembali tertawa. Dia memegang perutnya yang terasa kaku karena tertawanya. "Udah, perut aku kaku nih." Dia duduk di bangkunya sambil mengusap perutnya. "Kamu sekarang tinggal dimana?"


"Di apartemen Rangga."


"Enak nih tinggal berdua. Kamu nikmatin aja tiap hari."


Rani menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Beberapa saat kemudian, Tika masuk ke dalam kelas lalu bergabung dengan Rani dan juga Naya. Dia memberikan dua undangan untuk mereka.


"Datang ke pernikahan gue ya."


"Wah, selamat ya." Naya menatap undangan itu.

__ADS_1


"Rani, datang ya. Papa juga undang orang tuanya Rangga sebagai tamu VIP."


"Iya, nanti gue pasti datang."


Sedangkan Naya hanya terdiam. Dia ragu bertemu dengan orang tua Tika.


"Nay, gue tahu lo masih gak mau ketemu orang tua gue. Gak papa, lo datang sama Arsen. Gue juga tahu Arsen atasannya Papanya Galang. Orang tua gue udah gak mungkin usik keluarga lo. Mereka udah janji sama Pak Rahardi. Kalau buat masalah sama lo, partai Papa akan benar-benar bubar."


Naya akhirnya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian ada Vivi yang masuk ke dalam kelas. "Ran, Kak Virza itu mantan lo?"


Rani menganggukkan kepalanya. "Iya, kenapa? Dia baik kok."


Kemudian Vivi duduk di sebelah Rani. "Sebenarnya gue kemarin cuma bercanda waktu bilang gak punya pasangan sama Kak Virza. Sebenarnya gue udah punya pacar tapi lagi ada masalah dan sekarang gue udah baikan sama pacar gue. Tadi pagi-pagi pacar gue justru lamar gue, tapi Kak Virza kayaknya serius. Duh, gimana ya?"


Naya dan Rani saling lirik. "Aduh, bakal jadi sad boy lagi nih Kak Virza, Ran."


"Iya, mending lo bilang aja sejujurnya . Gak papa. Kalian baru kenal pasti Kak Virza juga belum terlalu serius."


"Iya, juga. Sebenarnya Kak Virza baik sih. Ya moga aja dia cepat dapat jodoh."


"Iya, kita semua juga doakan yang terbaik buat Kak Virza."


Kemudian Vivi duduk di bangkunya sambil menatap layar ponselnya.


"Nay, kasihan Kak Virza." kata Rani.


Naya menganggukkan kepalanya. "Iya, kira-kira siapa ya jodoh Kak Virza?"


Rani mengangkat kedua bahunya. Entahlah, seperti apa jodoh Virza kelak.


💕💕💕


.


Duh, kasihan sad boy satu itu. Ada yang mau daftar?

__ADS_1


.


BTW thanks yah yg udah baca sampai episode ini karena novel ini sampai di level keinginan othor, othor akan kasih 25rb utk 3 gift teratas. Seperti biasa akan diumumkan setelah novel ini tamat. Tetep setia ya guys ya . 😘😘😘


__ADS_2