Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 46


__ADS_3

Beberapa saat kemudian ada seorang gadis yang menabrak bahu Virza. "Eh, sorry. Aku cari Rangga."


Virza menoleh gadis itu, "Itu, dia udah melaju."


"Ish, Rangga gitu! Padahal kan gue mau lihat momen langka ini. Gue mau ikut, gak boleh!"


Virza menatap gadis yang ada di sampingnya. Mengapa semua gadis cantik sudah ada yang memiliki. "Ceweknya Rangga?" tanya Virza.


"Bukan. Cuma teman."


Virza tersenyum penuh arti sambil menghela napas panjang. Lalu dia mengulurkan tangannya. "Kenalin, nama aku Virza."


"Rani." Rani membalas jabatan tangan Virza sambil tersenyum.


"Kalau begitu kamu temannya Arsen sama Naya juga?"


"Iya, lebih tepatnya aku sahabatnya Naya."


"Oo, aku boleh minta nomor WA kamu gak?" pertanyaan Virza tak terdengar karena suara deru motor yang sangat keras semakin dekat.


"Apa?"


"Minta nomor." suara Virza semakin tenggelam.


"Rani, kenapa lo ada di sini?" Rangga menghentikan motornya di garis finish. Dia menang dan motor Bara tertinggal dua meter di belakangnya.


Virza hanya menggaruk tengkuk lehernya. Belum juga dapat nomor Rani, Rangga sudah menyelesaikan putarannya.


"Gue mau lihat lo."


"Kalau nyokap lo sampai tahu gue bisa digantung. Udah yuk pulang!" ajak Rangga.


"Seru Ngga, gue masih mau di sini."

__ADS_1


Rangga menghela napas panjang, meskipun Rani bukan adiknya tapi dia memiliki kewajiban untuk menjaganya.


Bara yang menghentikan motornya di samping Rangga kini membuka kaca helmnya.


Sebelum Bara berkata apa-apa, Rangga mengangkat tangannya dan menyuruh Bara diam. "Gue cuma mau lo mengakui kemenangan gue. Gue gak butuh basecamp lo. Dan satu lagi kalau lo dan anak buah lo mengusik gue dan yang lainnya, lo habis sama gue!"


Bara hanya mengepalkan tangannya.


"Buat anak buah Bara, sampai kapan kalian mau ditindas dan disuruh-suruh sama Bara untuk melakukan kriminal. Kalau kalian ingin lepas, kalian gak usah takut karena sekarang gue pengganti Arsen!" kata Rangga dengan keras. Dia benar-benar mengibarkan bendera perang.


"Shits lo! Lo mau ngajak perang! Oke, gue gak takut!" Bara memutar motornya lalu melajukannya dengan kencang.


"Rangga, lo gak bisa mengklaim geng ini seenaknya. Gue dan Arsen yang membentuk geng ini. Kalau lo mau open member dan mereka berasal dari anak buah Bara, gue gak mau pengkhianat dan penyusup masuk ke dalam geng ini!" kata Virza.


Rangga tersenyum miring. "Justru itu tujuan gue. Gue mau memancing penyusup itu dan satu lagi, gue mau melepas Arsen dari Bara. Lo nurut aja, gue gak mungkin rusak geng ini. Gue udah ada satu rencana." Rangga kembali menghidupkan motornya. "Rani, ayo pulang! Lain kali lo gak usah ikut ke tempat kayak gini!"


Rani yang sedari tadi bengong, kini naik ke atas motor Rangga. Beberapa saat kemudian motor Rangga pergi meninggalkan Virza dan yang lainnya.


"Gimana? Kita biarkan Rangga?" tanya salah satu teman Virza.


...***...


Di dalam kamar, Naya terus menatap Arsen yang sedang menerima panggilan dengan serius. Naya semakin mendekat dan menempelkan telinganya di ponsel Arsen.


"Ih, kepo aja sih." Arsen merengkuh Naya dan menyandarkan kepala Naya di bahunya.


"Nomor Rani? Lo ketemu Rani dimana?" tanya Arsen saat Virza meminta nomor Rani.


Mendengar nama Rani seketika Naya mendongak. "Itu Kak Virza? Kenapa tanya nomor Rani?"


"Iya, katanya Rani tadi nyusulin Rangga ke tempat balapan. Virza minta nomor Rani, dikasih gak?" tanya Arsen pada Naya.


"Kasih aja, Rani kan juga jomblo. Lagian Kak Virza juga cowok baik."

__ADS_1


"Oke, bentar lagi gue kirim nomornya. Lo sama yang lainnya tenang aja, Rangga pasti gak ada niat buruk sama kita semua. Dia punya anak buah dimana-mana, pasti aman. Udah ya, gue mau tidur dulu sama istri." Arsen tertawa cukup keras lalu menutup panggilan Virza.


Dia kini mengirim nomor Rani kemudian dia letakkan ponselnya di atas nakas.


"Kenapa masih lihat kayak gitu?" Arsen menarik tubuh Naya agar merebahkan dirinya di sampingnya.


"Sebenarnya aku kepo tapi aku sama sekali gak ngerti masalah cowok, ya udahlah yang penting kamu gak ikut balapan dan aktifitas berbahaya lainnya, itu aja udah cukup."


Kemudian Arsen mengecup bibir Naya singkat. "Jadi kamu udah makin sayang sama aku?"


"Menurut kamu?" Naya semakin menatap lekat Arsen.


Arsen memutar dirinya hingga dia kini berada di atas Naya. "Kok jadi tanya balik?" Kemudian dia labuhkan bibirnya di bibir Naya. Ciuman itu sudah membuatnya kecanduan. Dia ingin melakukannya lagi dan lagi.


Ciumannya semakin dalam dan menuntut hingga terdengar suara decapan memenuhi kamar itu. Dua tangan Naya kini melingkar di leher Arsen dan menarik ujung rambut Arsen berkali-kali.


Satu tangan Arsen kini membuka satu per satu kancing piyama Naya. Ciuman Arsen kian turun ke leher Naya lalu menyapu leher itu dengan bibirnya dan sesekali menyesapnya tanpa meninggalkan jejak.


Naya semakin mendongak, dia melenguh kecil merasakan hisapan dan tangan Arsen yang telah bermain di kedua dadanya. Dia juga bisa merasakan milik Arsen yang sudah menegang dan menggesek intinya berulang kali meski terhalang oleh celana.


"Ah, Ar..." Naya semakin men de sah saat bibir Arsen semakin turun ke bawah dan menyesap puncak kedua buah sintal itu secara bergantian. Naya kini semakin mengacak rambut Arsen dan menekan kepalanya. Rasa geli dan nikmat bercampur menjadi satu dan terasa sampai ke sekujur tubuh Naya.


Perlahan tangan Arsen merayap ke bawah dan menelusup masuk ke dalam celana Naya. Dia usap lembut inti Naya yang sudah basah. Seketika suara de sah Naya semakin keras.


"Ah, Ar, geli..."


Arsen kini mendongak dan menatap wajah Naya yang bersemu merah. "Sayang, sekarang aja yuk. Mumpung belum terlalu malam. Udah gak tahan..."


💕💕💕


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


.


Iya atau gak nih...


__ADS_2