
"Naya sama Arsen kemana?" Rani turun dari motor lalu menoleh mencari Naya dan Arsen tapi mereka sama sekali tidak terlihat.
Virza mengambil ponselnya, pura-pura melihat pesan dari Arsen karena memang ini rencana mereka berdua. "Mereka udah pulang."
"Loh, kok pulang." Rani kini berjalan keluar dari tempat parkir bersama Virza dan masuk ke dalam mall.
"Kamu sebenarnya mau cari apa? Gak papa aku temani saja," kata Virza.
Rani menganggukkan kepalanya lalu mereka naik ke lantai dua. "Sebenarnya aku mau beliin Naya buat kado pernikahannya."
"Gak papa. Aku temani. Kebetulan aku juga belum kasih mereka apa-apa," kata Virza yang masih setia berjalan di samping Rani.
"Tapi..." Sebenarnya Rani ingin membelikan Naya lingerie yang sexy tapi dia malu jika Virza terus mengikutinya. "Sebenarnya mau beli di sini. Kak Virza tunggu diluar saja kalau malu." Rani tersenyum kaku sambil menatap Virza. Dia sudah menghentikan langkahnya di depan toko underwear.
"Gak papa, aku temani masuk."
Rani hanya menggaruk tengkuk lehernya. Baru pertama kali ini dia ditemani pria saat masuk ke toko underwear. Rani menghentikan langkahnya di dekat aneka macam lingerie yang cantik dan sexy. Meskipun beberapa mata melihat mereka berdua tapi Rani tidak peduli.
Bahkan ada yang sampai berbisik-bisik. Jelas saja, Rani yang masih memakai seragam putih abu-abu justru sedang memilah di deretan baju dinas malam bersama seorang pria yang juga masih muda.
Virza menelan salivanya melihat macam-macam baju dinas malam itu. Pikirannya jadi travelling kemana-mana. "Keenakan Arsen kalau dibelikan yang kayak gitu." gumam Virza tapi masih bisa ditangkap oleh telinga Rani.
Seketika Rani menoleh sambil tersenyum. "Gak papa kan, Kak. Kan mereka sudah menikah. Sudah kewajiban seorang istri membahagiakan suami secara batin." Kemudian Rani kembali memilih beberapa lingerie. Warna merah sudah pasti dia pilih, sangat kontras dengan warna kulit Naya, pasti Naya semakin terlihat menggoda
Sedangkan Virza sedari tadi hanya tersenyum, sepertinya Rani adalah wanita yang sangat cocok menjadi istrinya nanti. Rasanya dia ingin cepat-cepat menikahi Rani saja. "Kamu beliin berapa?"
"Dua aja. Uang aku cuma cukup buat beli dua." kata Rani sambil tersenyum kaku. Ternyata harganya lumayan juga.
"Ya udah tambahin dua lagi, ya kapan lagi nyenengin sahabat." Meskipun dalam hati Virza masih tidak rela sahabatnya satu itu setiap hari bisa enak-enak bersama istri cantiknya.
Setelah selesai memilih, Rani kini berjalan menuju kasir.
"Aku bayarin semua aaja." Virza membuka dompetnya tapi ditahan Rani.
"Jangan, ini kan kado dari aku jadi harus aku yang bayarin. Kak, Virza bayar yang dua aja. Kalau Kak Virza mau bayarin aku, nanti beliin aku es krim." kata Rani sambil tersenyum. Dia tidak pernah jaim ketika dekat dengan seseorang. Gayanya yang apa adanya itu membuat daya tarik tersendiri.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan pembayaran, Rani dan Virza berjalan-jalan di mall sampai ke lantai atas lalu berhenti di gerai es krim.
Virza memesan dua es krim spesial lalu mereka duduk berdua sambil mengobrol.
"Kak Virza udah lama berteman sama Arsen?" tanya Rani.
"Udah lama. Ya, sekitar dua tahun sejak Arsen SMA. Awalnya dia sering ke bengkel buat modifikasi motornya, ya dari situ kita berteman." jawab Virza. Dia memang sudah berteman lama dengan Arsen tapi sayang sekali dia baru bertemu dengan Rani.
Rani mengangguk sambil memakan es krimnya. "Gak nyangka aja dia jadi jodoh Naya dan tobat gini. Naya sekarang juga bahgia bersama Arsen. Sebagai sahabat aku ikut seneng."
"Iya, semua itu memang sudah jalannya. Seperti aku bertemu dengan kamu."
Rani hanya tersenyum mendengar hal itu.
"Setelah ini mau langsung pulang atau kemana?"
"Ya aku gak ada acara sih Kak."
"Ya sudah kita jalan-jalan dulu ya."
Setelah menghabiskan es krim, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di taman dan menikmati angin sore. Baru sehari pendekatan tapi mereka sudah merasa nyaman satu sama lain.
Setelah berputar-putar, mereka kini duduk di dekat air mancur.
"Rani, gue cari kemana-mana ternyata lo ada di sini. Ayo pulang! Lo dicariin nyokap lo."
Mendengar suara itu seketika Rani dan Virza menoleh. Ada Rangga yang tiba-tiba datang menjemput Rani.
"Lo tahu darimana kalau gue ada di sini?" tanya Rani. Terkadang dia merasa kesal dengan Rangga yang sering kali muncul saat dia sedang jalan-jalan di luar rumah.
"Udah, itu gak penting. Nyokap lo udah semprot gue karena lo sampai sore gak pulang-pulang." Rangga menarik tangan Rani agar berdiri.
"Ih, iya. Gak usah tarik-tarik." Rani kini menatap Virza yang hanya terdiam. "Maaf ya kak, aku pulang dulu. Kapan-kapan kita jalan lagi. Makasih waktunya hari ini. Aku jadi gak enak."
"Udah, gak papa. Kapan-kapan kita masih bisa jalan lagi. Nanti aku vc ya." kata Virza karena dia tahu hari juga sudah sangat sore.
__ADS_1
Rangga hanya mengerutkan dahinya melihat kedekatan mereka berdua. Memang baru kali ini Rani dekat dengan seorang pria. Setelah Rani berpamitan dengan Virza mereka berdua berjalan menuju tempat parkir.
"Lo ngapain pake susulin gue segala. Malu-maluin aja."
"Gue disuruh nyokap lo, kalau gak, ogah gue. Banyak kerjaan juga di resto."
"Ya lo cari alasan dong ke nyokap, atau bilang aja lagi sama Naya."
"Gue gak kepikiran." Rangga kini naik ke atas motornya. "Lagian gue juga gak biasa bohong sama orang tua."
"Dih, tapi biasa bohong sama orang lain."
"Itu pengecualian. Udah cepat naik." suruh Rangga karena Rani tak juga naik ke boncengannya.
"Iya, iya." Rani akhirnya naik ke boncengan Rangga. Beberapa saat kemudian motor Rangga sudah melaju.
"Ngga, gimana menurut lo Kak Virza?" tanya Rani.
"Ya gue juga gak tahu. Kan lo yang jalan, kenapa tanya gue?"
"Ih, lo tuh kalau gue tanyain pendapat selalu aja gak pernah jawab bener. Padahal dulu waktu lo deketin Naya, gue sangat berperan dalam hubungan lo."
Rangga menghela napas panjang. Entahlah, mengapa dia selalu tidak bisa menilai pria yang cocok untuk Rani. "Ya lo coba jalani aja dulu, tapi ingat gak usah terlalu serius dengan perasaan lo. Nanti kalau Virza cuma mau mainin lo biar gak terlalu sakit hati."
"Iya, gue ngerti. Ngga, nanti malam kita ke rumah Naya yuk. Gue mau kasih kado pernikahan buat dia." ajak Rani.
Rangga terdiam beberapa saat.
"Ngga? Mau gak?" tanya Rani lagi.
"Ya udah, kalau gitu gue cari kado juga buat mereka. Nanti malam gue jemput. Mumpung gue juga gak ada acara. Kalau besok dan seterusnya gue sibuk."
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...