Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 129


__ADS_3

"Pinggang aku pegal banget." Perlahan Rani duduk di atas ranjang sambil bersandar. Kini usia kandungannya sudah 9 bulan dan beberapa hari lagi adalah tanggal hari perkiraan lahir buah hatinya.


Sudah beberapa hari juga Rangga selalu menemani Rani. Dia mengesampingkan semua pekerjaannya karena benar apa kata Arsen, momen seperti ini hanya sesaat. Dia harus benar-benar jadi suami siaga dan selalu ada di saat Rani membutuhkannya.


"Sini aku pijat pelan pinggangnya. Pasti rasanya udah berat banget. Tinggal sebentar lagi kita akan bertemu dengan buah hati kita."


Rani menganggukkan kepalanya, dia kini merebahkan dirinya lalu perlahan miring ke kiri.


Rangga kini memijat pelan pinggang Rani.


"Maaf ya, aku terus merepotkan kamu selama aku hamil," kata Rani.


"Gak papa. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, kadang aku gak sabaran banget."


Rani menghela napas panjang. Pikirannya kini melayang jauh. "Kadang aku takut."


"Takut apa?"


"Ya takut. Melahirkan nanti pasti rasanya sakit."


"Sayang, jangan dipikirkan." Satu tangan Rangga berpindah mengusap rambut Rani. "Kalau kamu takut melahirkan normal besok kita bisa langsung sesar."


Perlahan Rani memutar tubuhnya dan menatap Rangga. "Tapi aku mau secara normal. Kata Dokter juga tidak ada resiko."


"Ya sudah kalau itu mau kamu. Aku akan selalu ada di samping kamu. Jangan takut." Rangga membungkukkan dirinya dan mencium kening Rani.


"Beneran ya? Kalau terjadi apa-apa sama aku, kamu harus merawat anak kita."


"Ssttt, kamu ngomong apa?" Rangga merebahkan dirinya di samping Rani dan memeluknya. "Aku tahu, semua ibu yang melahirkan itu bertaruh nyawa, entah secara normal ataupun sesar itu sama saja. Aku selalu berdo'a untuk kamu agar persalinan kamu lancar. Kamu sehat, anak kita sehat."


Rani hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


Kemudian Rangga menarik selimut hingga menutupi tubuh Rani. Dia mengusap punggung Rani agar Rani cepat terlelap.


...***...


Saat hari menjelang pagi, Rani sudah terbangun. Dia membangunkan Rangga yang sedang tidur di sampingnya karena perutnya terasa sakit.


"Kenapa?" Rangga membuka kedua matanya lebar saat melihat Rani meringis kesakitan. "Sakit?"


"Iya rasanya mulas banget."


Rangga duduk lalu mengusap perut Rani yang terasa mengencang. "Sudah berapa lama mulasnya?"

__ADS_1


"Dari tengah malam tadi, mulas hilang, mulas hilang."


"Kenapa kamu gak bangunin aku?"


Rangga segera mengambil ponselnya dan menghubungi kedua orang tua Rani lalu dia menghubungi Dokter Sinta agar ruang bersalin segera disiapkan.


"Ngga, bantu aku ke kamar mandi dulu," pinta Rani.


"Iya, ayo." Rangga membantu Rani ke kamar mandi terlebih dahulu. Setelah selesai dari kamar mandi, Rani kembali duduk di tepi ranjang.


Rangga segera membuatkan susu untuk Rani dan roti selai.


"Sayang, minum susu dulu terus makan roti." Rangga membantu Rani meminum segelas susu, lalu menyuapinya roti. "Sudah hilang lagi mulasnya?"


Rani menganggukkan kepalanya.


"Sebentar lagi kita langsung ke rumah sakit saja. Aku sudah hubungi orang tua kamu dan juga Dokter Sinta agar mempersiapkan ruangan untuk kamu."


Setelah roti itu habis, rasa mulas itu kembali muncul. Dia mencengkeram lengan Rangga dengan kuat.


"Sayang, sakit lagi?"


Rani menganggukkan kepalanya.


Rangga memeluk tubuh Rani dan mengusap perutnya. "Sebentar lagi kita langsung berangkat ke rumah sakit saja."


"Iya, kamu gak perlu minta maaf. Sedari dulu kita memang seperti ini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku akan selalu menemani kamu berjuang."


Rani menganggukkan kepalanya. Setelah rasa mulas itu menghilang, Rangga segera mengambil tas perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit. Satu tangannya kini membantu Rani berjalan. Mereka segera keluar dari apartemennya dan turun dengan lift ke lantai dasar.


Setelah sampai di tempat parkir, Rani segera masuk ke dalam mobil yang dibantu Rangga.


Beberapa saat kemudian mobil itu segera melaju menuju rumah sakit.


"Sayang, sabar ya."


Rani kembali mencengkeram lengan Rangga saat rasa mulas itu kembali melandanya. "Makin sakit."


"Iya, sabar ya sayang." Hanya itu yang bisa Rangga katakan. Dia tidak bisa berbuat banyak. Andai saja bisa, dia ingin merasakan apa yang dirasakan Rani saat ini.


Setelah sampai di rumah sakit, dua orang suster segera membantu Rani duduk di kursi roda dan segera membawanya ke ruang observasi sambil menunggu pembukaan lengkap. Kedua orang tua Rani dan orang tua Rangga juga telah datang.


"Ngga, sakit." Rani semakin mencengkeram lengan Rangga saat gelombang cinta itu datang lagi. Peluh sudah membasahi pelipis Rani.

__ADS_1


"Rani, sebentar lagi. Kata Dokter sudah pembukaan tujuh," kata Mamanya yang terus setia menemaninya.


Hingga hari menjelang siang, akhirnya pembukaan Rani sempurna. Dia dipindah ke ruang bersalin dan ditemani Rangga.


Rani sudah berada di atas brankar bersalin dengan posisi setengah duduk.


"Ngga, ini sakit banget." Rani semakin menggenggam tangan Rangga. Dorongan dari dalam juga semakin kuat.


"Bunda, ikuti aba-aba dari saya ya, setelah hitungan ketiga, tarik napas, tahan, lalu dorong."


"Sayang kamu pasti bisa. Berjuang ya."


Rani sudah mengerahkan semua tenaganya. Tapi yang terlihat baru ubun-ubunnya saja. Rasanya teramat sakit.


Rangga mengusap keringat Rani yang membasahi pelipisnya. "Ayo, berjuang ya. Demi buah hati kita. Sebentar lagi kita bisa menggendongnya dan merawatnya."


Kedua tangan Rani semakin mencakar lengan Rangga. Dia kerahkan semua tenaganya dan akhirnya buah hati yang dinantikannya terlahir ke dunia. Suara tangisannya terdengar keras memenuhi ruang bersalin.


"Sayang, kamu berhasil." Rangga dan Rani tersenyum dalam tangisnya menatap bayi laki-laki yang sekarang sudah berada di dada Rani.


"Selamat ya, tampan sekali dedeknya."


"Wellcome Reynand." Rangga tersenyum sambil menyentuh lembut pipi putranya.


Senyuman Rani berangsur menghilang saat tubuhnya terasa melemas seperti tak memiliki tulang.


"Dokter, pasien pendarahan!" teriak suster.


Seketika Rangga melebarkan kedua matanya. "Rani, Ran..." Dia menggoyang tubuh Rani yang kian melemah.


Kedua mata Rani semakin sayu.


"Ran, kamu harus bertahan! Ran!" Hati Rangga seketika hancur saat melihat Rani yang sudah tak meresponnya.


"Sebentar ya, Pak. Anda tunggu diluar dulu. Kita akan segera melakukan tindakan." Seorang suster memaksa Rangga keluar dari ruangan.


Rangga kini berdiri di depan pintu ruang bersalin dengan air mata yang bercucuran.


"Rangga, Rani kenapa?"


"Rani pendarahan."


Kedua orang tua mereka sangat terkejut. "Semoga tidak terjadi apa-apa sama Rani."

__ADS_1


Rangga hanya bersandar di dekat pintu. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada Rani. Semua ketakutan Rani sebelum melahirkan semakin berputar di otaknya. Dia menyesal, mengapa tidak memaksa Rani untuk operasi saja.


Semoga kamu baik-baik saja, Ran.


__ADS_2