Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 80


__ADS_3

Arsen telah menghentikan motornya di depan markas keluarga Bara, dia mengedarkan pandangannya. Markas itu kosong, sama sekali tidak ada penghuni. Bahkan kini anak buah Rangga beserta polisi juga datang ke tempat itu tapi mereka semua sudah terlambat.


Arsen kembali menatap layar ponselnya. Posisi ponsel Naya berada di tempat itu. Dia berjalan mengikuti arah yang berada di peta, yang dia temukan hanyalah tas dan ponsel Naya di dalamnya. Tak jauh dari tempat itu juga ada ponsel Rangga.


"Sial! Mereka menculik Naya dan Rangga. Mereka sudah pergi dari sini. Kalian tahu dimana markas Sagara selain di sini?"


"Kita coba ke pergudangan yang ada di selatan saja, di sana juga ada markas milik Sagara tapi penjagaannya sangat ketat."


"Baik, kita ke sana sekarang." Mereka semua segera mengendarai kendaraan masing-masing dan menuju markas yang dimaksud.


Arsen sangat khawatir dengan keadaan Naya dan kandungannya. Entah mengapa dia memiliki firasat buruk kali ini. "Semoga gak terjadi apa-apa sama Naya. Efek obat bius bisa berakibat fatal pada ibu hamil." Dia semakin menambah kecepatan laju motornya.


Beberapa saat kemudian, Arsen menghentikan motornya di dekat sebuah pergudangan. Di depan pintu gerbang itu ada beberapa penjaga. Mereka menghadang anak buah Rangga yang akan menerobos masuk.


Arsen tak bisa tinggal diam. Dia segera menerobos masuk ke dalam gudang itu. Terjadi bentrokan antara anak buah Rangga dan Bara, hingga membuat polisi melepaskan pelurunya ke langit untuk melerai mereka. Tapi anak buah Bara justru memberontak saat polisi akan menangkap mereka.


"Kirim pasukan ke pergudangan A-55. Sekarang!" perintah pimpinan dari pasukan polisi itu lewat HT nya.


Hal itu digunakan Arsen untuk menyelinap masuk ke dalam gudang, dengan tangan kosong dia beranikan diri untuk mencari Naya. Dia bersembunyi di balik kotak-kotak kayu saat ada anak buah Bara lewat. Sudah banyak mereka yang terpancing keluar, ini kesempatan Arsen untuk mencari Naya.


...***...


Di dalam ruangan, Rangga mendengar suara tembakan. Dia berdiri dan mengintip lewat celah kecil jendela yang tertutup kayu. "Mereka akhirnya sampai. Nay, kamu harus kuat. Sebentar lagi kita akan keluar dari sini."


Rangga melihat kayu yang menutupi jendela itu sudah usang. Dia berusaha melepasnya. "Arrrggghhh, gak bisa!" Tapi ternyata kayu itu sangat kuat terpaku di kedua sisinya.


Perlahan Naya duduk dan bersandar di tembok. Rasa nyeri di perutnya semakin menjadi, sampai keringat membasahi tubuhnya karena menahan rasa sakit itu. Dia usap perutnya, berharap rasa sakit itu mereda.


Sayang, sabar ya. Kamu harus kuat. Ayah sebentar lagi pasti akan datang menolong kita.


"Gak bisa!" Rangga memukul kesal kayu itu karena dia tidak bisa mematahkannya. Dia kini beralih melihat Naya yang semakin memucat. "Nay," Dia kembali menahan tubuh Naya. "Nay. kamu harus kuat." Kemudian dia usap pelipis Naya yang berkeringat.


"Ngga, aku gak mau kehilangan anak aku," kata Naya.

__ADS_1


"Iya, sebentar lagi kita pasti keluar dari sini."


Beberapa saat kemudian pintu ruangan itu terbuka. Naya tersenyum getir menatap Arsen yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Naya!" Arsen segera masuk ke dalam ruangan itu dan meraih tubuh Naya. "Naya kamu kenapa?"


"Ar, perut aku sakit banget."


Satu hal yang ditakutkan Arsen terjadi. Dia melihat belakang tubuh Naya. "Darah!" Dadanya berdenyut nyeri saat melihat sebercak darah di celana Naya.


"Ar, cepat bawa Naya pergi dari sini biar aku yang melawan mereka."


Arsen mengangkat tubuh Naya dan membawanya keluar dari tempat itu. Saat Arsen akan pergi, langkahnya dihadang oleh Bara.


"Kedua tuan muda dan satu nyonya muda berkumpul." Bara tersenyum miring. Di tangan kanannya kini memegang pistol.


"Ar, lo pergi sekarang!" Rangga menendang Bara hingga dia terpental. Lalu dia berlari dan menendang anak buah Bara yang akan menghalangi langkah Arsen. Dia terus berusaha menghalau anak buah Bara. Hingga mereka sampai di pintu keluar.


Arsen terus melangkahkan kakinya sedangkan Naya semakin mengeratkan pegangannya di leher Arsen. Dia sudah pasrah dengan hidupnya saat ini.


"Kalian gak bisa pergi dari sini!" Bara mengarahkan pistolnya pada mereka bertiga lalu melepas pelatuk pistol itu.


"Arsen awas!" Dengan cepat Rangga melindungi mereka berdua dengan tubuhnya, meskipun akhirnya peluru itu menembus kulit bahunya. "Arrrggghhh..."


"Rangga!"


"Lo jangan peduliin gue! Lo bawa Naya pergi sekarang!" Dengan sisa tenaganya Rangga berhasil membuka pintu besi itu.


Bara sudah bersiap menembak lagi tapi berhenti saat polisi dan anak buah Rangga masuk ke dalam gudang. Bara segera kabur melalui pintu rahasianya.


"Bos!" salah satu anak buah Rangga menahan tubuh Rangga.


"Kalian tangkap mereka semua yang ada di sini jangan sampai tersisa." perintah Rangga.

__ADS_1


"Baik Bos."


"Pak Rama, saya punya satu bukti penting. Nanti pengacara keluarga saya akan segera mengurusnya ke kantor polisi," kata Rangga pada pimpinan polisi yang ikut bertugas sebelum dia dibawa ke rumah sakit.


Sedangkan Arsen kini berhasil membawa Naya masuk ke dalam mobil. Dia menaiki mobil polisi agar patas sampai rumah sakit.


Naya terus menggenggam tangan Arsen sambil memejamkan matanya.


"Kamu harus yakin, semua pasti baik-baik saja." Arsen kini mengusap rambut Naya yang basah karena keringat.


"Tapi aku takut." kata Naya. Dia benar-benar takut kehilangan calon buah hatinya.


"Iya, aku ngerti. Semoga kamu dan calon anak kita baik-baik saja." Cengkeraman kuat Naya di tangan Arsen menandakan jika Naya sedang menahan rasa sakitnya. Andai saja rasa sakit itu bisa berpindah, dia ingin merasakan rasa sakit Naya. Dia seperti tidak punya hati melihat Naya kesakitan seperti ini. "Aku sayang kalian berdua. Kalian harus berjuang sama-sama ya." Arsen mengusap perut Naya, berharap dia bisa memberinya kekuatan.


Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di depan IGD rumah sakit. Arsen segera membawa Naya keluar dari mobil dan masuk ke dalam IGD. "Dokter, istri saya mengeluh perutnya sakit."


"Sedang hamil berapa bulan?" Suster segera menyiapkan brangkar. Setelah Naya berbaring di atas brangkar, Dokter segera memeriksanya.


"Jalan lima bulan. Dia habis kena obat bius."


Seketika wajah Dokter berubah menjadi sangat serius.


"Baik, silakan tunggu diluar. Kami akan segera melakukan tindakan."


"Tolong lakukan yang terbaik." Arsen akhirnya melepas tangan Naya meski dengan berat hati.


"Iya, kami akan berusaha untuk menyelamatkan keduanya."


Arsen melangkahkan kakinya keluar. Dia kini duduk di kursi tunggu sambil meremas tangannya sendiri. "Nay, semoga kamu dan calon anak kita selamat."


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2