Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 42


__ADS_3

Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, kondisi Naya berangsur membaik. Hari itu juga dia sudah diperbolehkan pulang ke rumah.


"Arsen, kamu pulang ke rumah saja sama Naya. Buat apa rumah sebesar itu yang nempati cuma Papa saja," kata Pak Tama yang ikut menjemput Naya.


Arsen yang sedang membantu Naya berkemas menggeleng dengan cepat. "Gak mau! Aku mau berduaan sama Naya biar gak ada yang ganggu."


"Ingat masih sekolah." Kemudian Pak Tama duduk di sofa sambil melihat putra semata wayangnya yang sekarang sudah jauh lebih dewasa. Dia sudah bisa bersikap selayaknya suami. Ternyata keputusannya untuk menikahkan Arsen tidak salah. Cinta memang bisa mengubah segalanya.


"Sebentar ya, administrasinya masih diurus sama anak buah Papa." kata Arsen pada Naya.


Naya menganggukkan kepalanya. Dia kini duduk di tepi brankar.


Kemudian Arsen duduk di samping Papanya. Hubungan keduanya kini sudah semakin membaik.


"Arsen, beneran kamu gak mau pulang? Kalau begitu ATM dan kartu kredit kamu gak Papa kasih lagi." kata Pak Tama


"Papa dulu paksa aku keluar dari rumah, sekarang paksa aku kembali ke rumah. Tunggu urusan aku selesai, nanti aku juga kembali ke rumah."


"Urusan apa?" tanya Pak Tama.


"Urusan ranjang," bisik Arsen. "Papa mau cepat punya cucu atau gak?"


Pak Tama tersenyum sambil menepuk bahu Arsen. "Belajar pegang perusahaan dulu, baru punya momongan."


Mendengar hal itu, Naya kini menatap Arsen. Momongan? Yang benar saja.


Arsen hanya tersenyum penuh arti pada Naya sambil menaik turunkan alisnya. "Beres Pa, nanti setelah lulus sekolah biar aku kuliah sambil belajar kerja di tempat Papa."


Beberapa saat kemudian anak buah Pak Tama masuk ke dalam ruangan. "Sudah beres Tuan."


"Hadi bawa mobil lagi kan? Soalnya saya mau langsung ke kantor."


"Sudah siap di depan rumah sakit."


"Ya sudah kamu sama saya." Kemudian Pak Tama berdiri dan mengeluarkan dua kartu berwarna hitam pada Arsen. "Kartu kamu. Jangan sampai istri kamu kekurangan apapun. Jangan dibolehin kerja juga, biar kamu saja yang kerja."

__ADS_1


"Beres, Pa. Gak akan berkurang juga saldonya." Arsen memasukkan dua kartu itu ke dalam dompetnya lalu dia membantu Naya turun dari brankar.


"Ar, Papa kamu perhatian banget, kenapa kamu bilang kurang perhatian. Aneh sih kamu itu." kata Naya dengan pelan saat berjalan bersama Arsen.


Arsen hanya tertawa. "Iya, pas ngumpul memang perhatian. Kamu gak tahu aja kalau lagi kerja, udah gak ingat pulang ke rumah. Bahkan tanggal merah pun masih ke kantor."


"Ya itu karena saking sibuknya. Kamu sebagai anak juga harus pengertian."


Satu tangan Arsen kini merengkuh pinggang Naya sambil berjalan di lorong rumah sakit. "Iya, iya. Aku harusnya bersyukur punya Papa yang perhatian gini."


"Hidup kamu itu jauh lebih beruntung daripada aku."


"Sssttt, gak boleh sedih lagi. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat."


Naya kini menoleh Arsen. "Kemana?"


"Ya ke suatu tempat."


Setelah sampai di depan rumah sakit, mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. "Pak Hadi, ke alamat ini ya." Arsen menunjukkan sebuah ketikan di ponselnya.


Mobil itu segera melaju menuju alamat yang ditunjukkan Arsen.


"Ar, kemana sih?" tanya Naya. Dia sangat penasaran, kira-kira kemana Arsen membawanya pergi.


Arsen merengkuh bahu Naya lalu menyandarkan kepala Naya di bahunya. "Nanti kamu pasti tahu. Tapi setelah aku bawa ke tempat itu, apa nih imbalannya?"


Naya mengernyitkan dahinya. Dia tidak meminta Arsen mengantarnya ke tempat itu, mengapa malah Arsen yang meminta upah. "Loh, kok malah minta imbalan? Aku aja gak tahu tempat apaan."


"Oke, kalau kamu senang dengan tempat ini." Arsen mendekatkan bibirnya di telinga Naya dan membisikkan sesuatu. "Satu minggu lagi kita unboxing."


"Kalau gak suka?"


"Ya tetap sama." Arsen tertawa lalu mengecup singkat pipi Naya.


"Ar!" Naya mencubit pinggang Arsen. "Malu ada sopir kamu."

__ADS_1


Arsen masih saja tersenyum sambil mencubit pipi Naya. Dia sangat bahagia, akhirnya Naya sudah kembali sehat. Beberapa hari ini, dia juga sudah bisa tersenyum lepas.


Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di depan pemakaman umum.


Naya mengerutkan dahinya lalu keluar dari mobil. "Mau ke makam siapa?"


Arsen tak menjawabnya. Dia membeli bunga tabur dan air mineral terlebih dahulu lalu menggandeng tangan Naya masuk ke tempat pemakaman itu.


Arsen mencari nama Maya di sekitaran Blok B. Akhirnya dia menemukannya. "Ini makam Ibu kamu."


"Ibu..." Seketika kedua mata Naya mengembun. Dia kini duduk berjongkok sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Maya.


"Kita berdo'a untuk Ibu kamu. Bagaimanapun kehidupan Ibu kamu di masa lalu, dia yang sudah melahirkan kamu ke dunia ini."


Naya menganggukkan kepalanya. Dia menengadahkan kedua tangannya lalu mengirim do'a untuk Ibunya. Setelah itu dia menabur bunga di atas makam dan membasahinya dengan air.


Satu rengkuhan tangan Arsen semakin menguatkan hati Naya. "Jangan sedih lagi."


Naya menganggukkan kepalanya. "Sekarang aku baru sadar, kenapa Mama sangat membenciku. Ya, istri mana yang tidak sakit hati ketika suaminya selingkuh sampai mempunyai anak. Bagaimanapun juga aku gak boleh benci sama Mama karena Mama yang telah merawatku selama 18 tahun meskipun dengan terpaksa."


"Iya, kamu benar. Aku yakin Mama kamu sebenarnya juga sayang sama kamu hanya saja tertutup dengan rasa benci itu."


Naya menganggukkan kepalanya. "Tapi aku juga sayang sama Ibu. Meskipun aku tidak tahu wajahnya sama sekali."


"Iya, Ibu kamu akan tetap ada di hati kamu. Kita pulang yuk, kamu harus segera istirahat." Arsen membantu Naya berdiri lalu mereka berjalan beriringan keluar dari makam. Satu tangan Arsen masih setia merengkuh pinggang Naya.


💕💕💕


.


Masih ada rahasia dibalik keluarga Arsen dan Rangga loh ya... 🤭


.


Like dan komen.

__ADS_1


__ADS_2