
"Nay?" Arsen menepuk pipi Naya saat Naya mengigau tapi tidak ada respon. "Nay?"
Perlahan Arsen melepas pelukannya lalu dia keluar dari kamar dan mengambil sebaskom air untuk mengompres Naya. Dia kompres kening Naya dengan handuk kecil.
"Nay, aku gak bisa lihat kamu kayak gini. Cepat sembuh ya." Arsen mengompres Naya sampai semalaman. Beberapa kali Arsen membilas handuk kecil itu saat handuk itu terasa panas karena menyerap suhu panas Naya.
"Akhirnya demam kamu turun." Arsen tersenyum kecil saat suhu tubuh Naya akhirnya bisa turun. Dia kini membungkukkan badannya dan tertidur di samping Naya dengan tubuh yang setengah terduduk.
Baru dua jam Arsen terlelap, alarm dari ponselnya berbunyi. Arsen membuka matanya dan menegakkan kepalanya.
Naya juga terbangun. Dia menatap Arsen yang sedang menguap panjang sambil meregangkan ototnya. "Kamu gak tidur semalaman?"
"Tidur kok." Arsen kembali mengecek suhu di kening Naya, masih terasa hangat tapi tidak sepanas seperti semalam. "Kamu hari ini gak usah sekolah dulu. Istirahat saja di rumah. Tapi gak papa kan aku tinggal sendiri di rumah? Atau aku temani aja di rumah?"
Naya menggelengkan kepalanya. "Aku gak papa. Kamu sekolah aja."
"Ya udah, aku belikan makanan kamu dulu. Setelah sarapan minum obat lagi, nanti siang juga minum obat. Nanti sepulang sekolah kalau memang masih demam aku antar ke klinik."
Naya menganggukkan kepalanya. Dia kini melihat Arsen yang keluar dari kamar. Dia bisa merasakan perhatian Arsen semakin bertambah di setiap harinya. Semoga Arsen memang benar-benar sudah berubah.
...***...
Arsen yang sudah terbiasa berangkat ke sekolah bersama Naya, saat dia berangkat ke sekolah sendiri seperti ini rasanya ada yang berbeda.
"Ar, Naya kemana?" tanya Rani saat dia melihat Arsen masuk ke dalam kelas seorang diri.
"Dia lagi sakit," jawab Arsen. Dia kini duduk di bangkunya.
Mendengar hal itu, Rangga kini mendekati Arsen. "Naya sakit apa? Kemarin dia pucet banget waktu kerja tapi gue suruh pulang gak mau."
"Demam," jawab Arsen singkat.
"Udah lo bawa berobat? Lo udah apain Naya sampai dia sakit gini?"
Arsen menghela napas panjang. Katanya sudah berhenti berharap pada Naya tapi mengapa masih saja ingin tahu masalah Naya. "Gue mau jadi bapak. Puas lo!"
__ADS_1
Seketika Rangga mendorong bahu Arsen. "Sial lo! Memang lo pikir gue anak kecil bisa lo bohongi."
"Kalau lo udah berhenti berharap sama Naya, jangan campuri urusan gue sama Naya." Mereka berdua saling bertatap tajam lagi.
"Mantan dan pacar Naya lagi akur!" Roni dan teman-temannya masuk ke dalam kelas. Mereka melihat Rangga dan Arsen yang sedang duduk sebangku. "Mantan bos kita udah dapat teman baru. Level mereka sekarang imbang, sama-sama pekerja paruh waktu." Roni dan teman lainnya tertawa mengejek mereka berdua.
Tiba-tiba saja Rangga memukul meja dengan keras hingga mereka semua terdiam. "Gue gak pernah ada masalah sama kalian!"
"Ternyata berani juga si murid teladan ini."
Ketika hinaan mereka sudah menyangkut status sosial, Rangga tidak akan tinggal diam. Dia kini mendekat dan memiting tangan Roni. "Lo salah berurusan sama gue!"
"Ngga, udah! Ngapain lo meladeni mereka yang gak penting." kata Arsen. Meskipun dia juga kesal tapi dia kini bisa menahan emosinya.
Rangga melepas tangan Roni dan mendorongnya dengan keras. "Gue cuma mau ngasih pelajaran sama dia. Biar dia gak meremehkan status sosial seseorang!"
Roni hanya meringis kesakitan sambil memegang bahunya yang seperti patah.
Semua yang melihat kejadian itu tidak pernah menduga, seorang Rangga yang terdaftar sebagai salah satu murid teladan ternyata bisa juga bersikap kasar.
Arsen kini mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Naya. Dia harus terus pantau kondisi Naya meski dari kejauhan.
Sampai pulang sekolah, Arsen terus memikirkan Naya. Dia buru-buru pulang ke rumah.
Sampai di rumah, dia masuk dan segera melihat keadaan Naya. "Nay, kamu belum makan, minuman kamu juga masih utuh." Karena sebelum berangkat Arsen memang menyiapkan minuman Naya di atas nakas.
Arsen kini membantu Naya duduk. Dia mengecek suhu Naya yang terasa panas lagi.
"Aku udah minum dikit. Lidah aku pahit banget." kata Naya.
"Ya udah, aku ganti baju dulu. Kamu makan dulu lalu kita berobat."
Arsen menyandarkan Naya di headboard kemudian dia membuatkan minuman hangat untuk Naya.
"Minum air hangat dulu. Aku suapi ya, kamu makan dulu."
__ADS_1
Naya menggelengkan kepalanya lalu minum air hangat yang dibantu Arsen.
"Kamu harus makan dulu, lalu kita berobat."
Naya akhirnya menganggukkan kepalanya. barulah Arsen mengambil nasi dan lauk yang sudah dia hangatkan. Dia kini duduk di samping Naya dan mulai menyuapinya. "Kamu makan."
Naya berusaha menerima suapan itu. Rasanya sangat berat sekali untuk menelannya. Baru dua suapan Naya sudah menggelengkan kepalanya. "Udah, kalau dipaksa perut aku mual."
"Ya udah. Kamu minum lagi." Arsen kini membantu Naya minum.
Setelah itu Arsen berganti pakaian lalu membantu Naya turun dari ranjang. "Ayo, kita berobat sekarang aja."
"Maaf ya, aku merepotkan kamu." Kedua tangan Naya kini memeluk pinggang Arsen sambil berjalan keluar rumah.
"Nay, jangan bilang gitu. Ini sudah menjadi tugas aku sebagai suami kamu."
Naya tersenyum. Ternyata menikah dengan Arsen bukanlah musibah, tapi sebuah anugerah baginya. Dia bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang tulus. Bahkan dia bisa merasakan sebuah perhatian yang jarang sekali dia rasakan dari kedua orang tuanya.
"Kamu bisa kan naik motor?" tanya Arsen.
Naya menganggukkan kepalanya.
"Kok kamu nangis?" Arsen menghapus air mata Naya yang tiba-tiba menetes di pipinya.
"Baru kali ini ada yang sangat khawatir saat aku sakit. Biasanya Mama atau Papa tetap sibuk meski aku sakit."
"I know your feel. Makanya, kita akan merasakan apa yang tidak kita dapatkan di keluarga kita." Arsen memeluk Naya dengan erat lalu mencium keningnya. "Ayo, jangan sedih lagi. Setelah berobat semoga kamu cepat sembuh."
Naya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berdua naik ke atas motor dan beberapa saat kemudian motor Arsen melaju menuju klinik terdekat.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1