
"Ngga, nama alat tes kehamilan itu apa?" tanya Arsen. Seketika dia tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Testpack?"
"Iya." Arsen kini masuk ke dalam apotik bersama Rangga.
"Cowok gak bisa pakai itu," goda Rangga.
"Eh, gue juga tahu kalau soal itu. Makin pusing aja kepala gue."
Rangga tertawa dengan keras karena dia memang sengaja menggoda Arsen agar semakin pusing.
Mereka berdua kini berdiri di depan etalase apotik tapi Arsen hanya terdiam sampai mbak penjaga apotik itu bertanya untuk kedua kalinya.
"Mau beli apa?"
Rangga menyenggol Arsen karena dia hanya diam saja.
"Eh, itu..."
"Mau beli testpack mbak," kata Rangga pada akhirnya. Meskipun dia juga malu karena beberapa pasang mata kini menatapnya curiga. Kalau bukan demi calon ponakan, gue juga ogah beliin gini.
"Mau yang merk apa?" tanya penjaga apotek itu.
"Yang paling akurat aja, dua." Lagi-lagi Rangga yang menjawab.
Arsen masih shock, tidak bisa berkata-kata. Dia bingung harus menjelaskan bagaimana pada Naya.
Penjaga apotek itu memberikan dua alat tes kehamilan yang berbeda. "Pakai sesuai petunjuknya ya."
Rangga menggeser alat tes itu di depan Arsen. "Tuh, pakai sesuai petunjuk."
"Maaf, itu dipakai untuk wanita ya Mas." kata penjaga apotek itu tersenyum sambil menulis total pembayaran.
"Iya mbak, buat istri teman aku maksudnya." kata Rangga. Baru pertama kali ini dia merasa dipermalukan seperti ini.
Setelah Arsen membayarnya, mereka berdua keluar dari apotek. Kepala Arsen semakin pusing memikirkan caranya menjelaskan pada Naya.
"Lo hari ini izin sakit aja. Lo selesaiin dulu masalah ini sama Naya," kata Rangga.
"Kok gue jadi takut. Takut Naya marah, masalahnya selama ini gue selalu bilang aman udah gue cabut, padahal gak."
__ADS_1
Seketika Rangga menjitak kepala Arsen. "Udah, ini urusan rumah tangga lo sama Naya. Selesaiin sana, biat gue izinin lo."
Setelah sampai di koridor kampus, mereka berpisah. Dia kini mencari Naya yang ternyata masih ada di kantin. Kemudian dia duduk di samping Naya.
"Ar, gak masuk kelas?" tanya Naya sambil menatap Arsen.
"Aku gak enak badan." jawab Arsen dengan kaku. Dia kembali membuka rujak mangganya dan memakannya.
"Sejak kapan kamu doyan mangga?" Naya ikut makan bersama Arsen.
"Sejak hari ini."
Rani tertawa melihat mereka berdua. "Udah kayak orang ngidam aja kalian berdua. Nay, gue duluan aja ya." Kemudian Rani berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
"Nay, kita ke rumah lama ya. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan," ajak Arsen.
Nay mencibir, "Sesuatu? Pasti mau..."
"Nggak, kali ini beneran. Aku udah izin gak masuk kelas hari ini. Kita pulang sekarang ya."
Naya menganggukkan kepalanya karena tak biasanya Arsen bicara serius seperti ini.
Setelah menghabiskan rujak mangga dan minuman Naya, mereka berdua berjalan menuju tempat parkir.
"Kalau sakit berobat, Ar."
"Nggak, ini bukan penyakit." Kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobil itu berjalan meninggalkan kampus.
"Ke rumah lama aku ya. Yang ada di mess nya Papa." kata Arsen.
"Iya, Pak."
Arsen terus menyandarkan kepalanya di bahu Naya. Perutnya terasa mual lagi ketika naik mobil.
"Kamu kenapa?"
"Mual." Arsen menahan rasa mualnya. Dia memejamkan matanya sedangkan satu tangannya mengusap perut Naya yang memang terlihat berisi.
"Kenapa perut aku? Banyak lemaknya ya? Akhir-akhir ini makan aku banyak banget."
"Gak papa. Aku suka."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di depan rumah lama Arsen. Arsen segera turun dan muntah di selokan.
"Astaga, Arsen. Ayo, periksa saja." Naya turun dari mobil dan mengusap punggung Arsen.
"Iya, Pak. Tadi Pak Tama berpesan pada saya untuk mengantar Anda periksa." kata Gery, dia memberikan tisu untuk mengusap bibir Arsen.
"Iya, sebentar lagi. Kamu stay di sini saja gak usah kemana-mana dan buang pengharum mobil. AC nya juga matikan, nanti kaca jendelanya dibuka saja biar perut aku gak mual." kata Arsen.
Gery hanya menggaruk tengkuk lehernya. Sejak kecil Arsen sudah menjadi orang kaya dan terbiasa naik mobil mewah tapi mengapa seperti orang mabuk perjalanan? Kemudian dia mengerjakan apa yang disuruh bosnya.
Arsen masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya. Badannya terasa sangat lemas. Sepertinya dia sudah terkena karma karena telah membohongi Naya.
"Kamu minum dulu biar gak dehidrasi." Naya menarik tubuh Arsen lalu membantunya minum. "Kamu tuh cepat berobat kalau sakit."
"Ini gak sakit, Nay." Arsen menggeser kakinya lalu duduk di samping Naya. "Ehmm, Nay, aku mau bilang sesuatu tapi kamu jangan marah ya."
"Apa?"
Baru mendengar kata apa saja dada Arsen semakin berdebar-debar. Mantan bad boy ini benar-benar sudah takluk dengan istrinya. Hal yang paling dia takuti saat ini adalah kemarahan Naya. "Sebenarnya, hmmm," Arsen mengambil alat tes kehamilan itu dari tasnya dan memberikannya pada Naya.
"For what?" tanya Naya.
"Buat kamu tes, jadi gini, hmm, sebenarnya selama ini aku sering gak cabut waktu keluar karena terlalu enak. Aku mual dan ngidam ini katanya bisa jadi karena kamu hamil, dan kamu juga udah telat kan bulan ini." jelas Arsen dengan hati-hati.
Naya hanya menghela napas panjang sambil menatap Arsen tajam.
"Sayang, jangan marah ya." Arsen menggenggam tangan Naya. "Kalau memang kamu benar-benar hamil tolong terima anak kita ya, jangan sampai ada pikiran untuk gugurin."
Naya menarik tangannya dengan kasar lalu dia berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.
Arsen kini berdiri dan berjalan mondar-mandir menunggu Naya.
"Naya, pasti marah sama aku." Dia usap pelipisnya yang berkeringat karena saking takutnya. Bahkan dia sampai berpikir yang tidak-tidak.
Beberapa saat kemudian Naya keluar dari kamar mandi. Dia menggenggam kedua alat tes kehamilan itu.
"Sayang bagaimana hasilnya?" tanya Arsen. Dia sudah sangat tidak sabar.
Naya menunjukkan dua alat tes itu...
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...