
"Mama, Papa..." Arsen terkejut saat melihat ada Mama dan Papanya yang kini berdiri di depan rumahnya.
Seketika Bu Ririn memeluk putranya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. "Arsen, Mama kangen sama kamu. Kamu sekarang sudah dewasa ya."
"Hmm," Arsen melepas pelukan Mamanya. "Maaf Ma, aku kesiangan jadi gak bisa ikut jemput Mama di bandara."
"Iya tidak apa-apa."
"Mama kamu langsung ke sini. Dia ingin cepat-cepat bertemu kamu dan istri kamu. Kamu malah baru bangun. Kan kemarin Papa udah bilang," kata Pak Tama sambil duduk di sofa.
"Iya, Pa. Mama duduk dulu, biar aku panggil Naya. Aku juga belum mandi." kata Arsen.
"Mama juga bawa makanan, ayo kita makan sama-sama," kata Bu Ririn. Dia kini duduk di samping suaminya.
"Iya, Ma." Arsen masuk ke dalam kamarnya sambil menghela napas panjang. "Nay, ada Mama sama Papa di depan."
Naya yang sedang memakai bedak seketika menatap Arsen. "Mama kamu? Aduh, aku belum sempat beres-beres."
"Yang berantakan cuma di kamar kita, diluar bersih dan rapi kok. Kamu temui Mama dulu ya, kamarnya biar aku yang beresin. Aku juga mau mandi dulu."
Naya menelan salivanya. Bagaimana kalau Mama Arsen jahat seperti mertua-mertua yang ada di channel indosiram. "Ar, aku takut."
"Takut kenapa?" tanya Arsen. Dia kini melepas sprei dan menggantinya dengan yang baru.
"Mama kamu gak jahat kan?"
Arsen justru tertawa. "Nggak, Mama sebenarnya baik meski agak dingin."
Naya kini mengikat rambutnya. "Kamu menghindari Mama kamu ya makanya nyuruh aku keluar."
"Aku mau mandi dulu. Jangan berburuk sangka."
Naya akhirnya keluar dari kamar dan menemui kedua orang tua Arsen. Dia mencium punggung tangan mereka lalu duduk di sebelah Mamanya Arsen.
"Naya? Cantik ya." Bu Ririn kini mengusap lengan Naya sambil tersenyum menatapnya.
Naya hanya tersenyum. Dia bisa merasakan kelembutan hati Bu Ririn meski ini adalah pertama kalinya bertemu. "Kemarin Arsen bilang akan menjemput Mama di bandara. Maaf, kita kesiangan."
__ADS_1
"Nggak papa. Mama ngerti. Bagaimana Arsen, apa dia bersikap baik sama kamu?"
Naya menganggukkan kepalanya. "Baik, Ma."
"Sejak menikah Arsen sudah banyak berubah," sahut Pak Tama. "Kata gurunya di sekolah semua nilainya juga naik. Rajin, tidak pernah membolos lagi. Papa sekarang sudah tenang."
Bu Ririn masih saja membelai rambut Naya sambil tersenyum. "Pasti kamu yang mengubah Arsen."
Naya menggelengkan kepalanya. "Bukan Ma, Arsen berubah karena dirinya sendiri."
"Mama bersyukur, Arsen berjodoh sama kamu. Oiya, kita makan dulu. Kamu pasti belum makan."
"Iya Ma. Aku ambilkan piring dulu di dalam."
"Sini, Mama bantu."
Kemudian Naya berdiri dan berjalan bersama Bu Ririn ke dapur.
Di belakang ada Arsen yang sedang memasukkan cucian ke mesin cuci. Dia putar lalu dia tinggal.
"Mama mau melihat kalian berdua."
"Ar, biar aku aja yang buat. Kamu bawa saja piringnya ke depan." kata Naya.
Arsen hanya mengangguk. Dia kini membawa piring dan sendok ke ruang tamu. Sedangkan Naya membuat minuman.
"Naya, biasanya Arsen juga ikut mengerjakan pekerjaan rumah?"
Naya menganggukkan kepalanya. "Iya Ma, bahkan kemarin waktu aku sakit, semua pekerjaan rumah Arsen yang mengerjakan."
Seketika mata Bu Ririn berkaca-kaca. Dia sudah melewatkan banyak hal. Sebelumnya sebagai seorang Ibu, Bu Ririn sangat takut Arsen berada di jalan yang salah karena dia tidak pernah mengawasinya bahkan tidak pernah menemaninya tumbuh dewasa. Tapi sekarang Arsen sudah menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab. Bahkan bisa menjaga istrinya di umur yang masih terbilang muda.
"Ma, kenapa?" tanya Naya.
Bu Ririn menggelengkan kepalanya. "Ayo, kita ke depan. Pasti kamu sangat lapar."
Setelah mereka berempat duduk di ruang tamu, Naya dan Bu Ririn segera menata makanan di piring.
__ADS_1
"Kalian berdua cepat makan, kelihatannya sudah lapar banget," kata Pak Tama.
"Papa tahu aja." Arsen langsung menyantap makanannya. Begitu juga dengan Naya.
"Ar, kamu pulang ke rumah saja ya sama Naya. Mama kamu kangen sama kamu," pinta Pak Tama.
Arsen menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawabnya. "Nanti aja, Pa. Masih ada urusan."
"Urusan tanda merah di leher kamu itu?" celetuk Pak Tama.
Uhuk!
Seketika Naya hampir tersedak. Rasanya dia sangat malu, lain kali dia tidak akan membuat lagi di leher Arsen.
"Minum dulu." Arsen mengambilkan Naya air putih dan membantunya minum.
"Papa, biarkan mereka makan dulu."
"Kan memang bener, Ma. Nanti Papa pasang peredam suara juga di kamar Arsen. Kalau mau bangun siang juga enak, semua udah ada yang nyiapin. Gak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah. Bisa merasakan jadi Tuan dan Nyonya juga di rumah."
Arsen hanya mencebikkan bibirnya. Dia menaruh piring lalu minum air putih. "Merayu. Nanti kalau aku buat salah lagi diusir lagi."
Seketika Pak Tama tertawa.
"Kalau gak mau tinggal di rumah, gak papa. Nanti menginap saja semalam di rumah." kata Bu Ririn. Dia hanya makan sedikit dan sudah meletakkan piring dan sendoknya. "Ya Naya ya?"
"Hmm, terserah Arsen saja, Ma." jawab Naya. Dia tidak masalah tinggal dimana saja asal bersama Arsen.
"Ya sudah nanti malam biar kita menginap di rumah." Akhirnya Arsen memberi keputusan. "Tapi cuma semalam. Soal pulang ke rumah, nanti aku pikir-pikir lagi."
"Ya udah gak papa." Bu Ririn tak berhentinya tersenyum. Setelah melewati hari-harinya yang buruk, akhirnya dia bisa merasakan lagi kebahagiaan ini.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1