
"Ar, aku capek tapi seneng banget." Naya kini duduk di atas ranjang sambil bersandar di headboard. Dia melihat isi galeri ponselnya. Banyak video dan juga foto di acaranya tadi siang.
Kemudian Arsen duduk di sebelah Naya lalu memijat kedua kaki Naya. "Iya, aku juga sangat senang hari ini. Apalagi melihat senyuman kamu dari pagi sampai sekarang rasanya semakin menambah kebahagiaan aku."
Naya menganggukkan kepalanya. "Aku mau belanja keperluan baby Arnav ya?"
"Iya, kamu belanja saja. Tapi kalau bisa belanja online saja ya biar kamu gak capek muter-muter di toko."
"Iya, nanti mau beli online tapi aku mau belanja juga sama Rani. Aku udah janjian ke mall untuk shoping."
"Kapan? Jangan pergi berdua."
"Iya, nanti sama kamu dan Rangga juga. Nanti cari waktu yang tepat dulu." Kemudian Naya meletakkan ponselnya di atas nakas lalu dia merebahkan dirinya. "Ar, udah jangan pijitin lagi. Sini tidur dulu."
"Udah gak pegal kakinya?"
Naya menggelengkan kepalanya. "Makasih ya tiap hari udah pijitin aku."
"Sama-sama. Lihat nih, dedek tambah besar pasti kamu juga gampang capek." Satu tangan Arsen mengusap perut Naya dan tendangan itu semakin terasa. "Tangan Ayah ditendang. Nih, tangan Ayah di sini." Arsen memindah tangannya tapi tendangan itu juga mengikutinya. "Pintar banget. Gak sabar mau ajak main Arnav."
"Ih, lucu ya. Peka banget sama sentuhan."
"Iya, memang tinggal dua bulan lagi. Kata Dokter posisi makin bagus dan berat badannya juga lumayan besar. Gemoy nih pasti."
"Kan jalan 9 bulan nanti udah dijadwalkan sesar. Berarti udah gak ada dua bulan lagi, Ar. Udah deg-deg an dan gak sabar banget."
"Sama, aku juga. Nanti aku pasti akan nemenin kamu berjuang." Tangan Arsen kini berpindah ke pinggang Naya dan memeluknya. "Sekarang kamu tidur, ini sudah malam."
__ADS_1
Naya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia memejamkan matanya dan tertidur.
...***...
Malam hari itu, Rani menatap ponselnya di ruang tengah dengan televisi yang menyala. Dia melihat kiriman foto dari Naya dan sederet pesan ajakan Naya untuk shoping. "Gemes banget nih bumil."
"Kamu juga gemes." Tiba-tiba Rangga datang dan mencium pipi Rani.
"Kamu kapan pulangnya?" Selesai dari acara Naya, Rangga memang langsung ke restonya karena harus mengecek laporan keuangan di akhir bulan.
"Baru aja. Kamu gak dengar?" Rangga kini duduk di sebelah Rani lalu mengambil ponsel Rani. "Kamu udah pengen punya baby?" Kemudian Rangga tidur di pangkuan Rani sambil melihat sederetan foto-foto itu.
"Nggak, aku sih santai. Baru juga nikah satu bulan. Aku seneng aja lihat Naya. Ih, cantik banget. Udah ngajakin shoping tuh si bumil. Aku juga pengen beliin barang-barang buat ponakan. Kamu bisanya kapan? Sama Arsen juga, Arsen gak mungkin biarin Naya jalan sendiri sama aku."
Rangga meletakkan ponselnya lalu memutar kepalanya menghadap ke perut Rani. "Nanti aku tanya Arsen dulu karena kan Naya gak boleh sampai kecapekan. Baby nya udah pengen lahir aja, jadi benar-benar harus dijagain biar gak prematur."
"Iya, Naya juga cerita masalah itu. Kasihan juga, Naya juga gak boleh melahirkan normal karena beresiko pada matanya." Rani kini menyugar rambut Rangga. "Semua pasangan rumah tangga itu pasti ada ujiannya masing-masing ya."
Rani membungkukkan dirinya dan mencium bibir Rangga sesaat. "Kamu juga ternyata gak ngeselin kayak dulu. Udah gak kaku lagi sekarang."
Rangga bangun lalu mencium dalam bibir Rani. Dia me lu mat bibir tipis itu semakin liar dan dalam. Lalu dia meraih pinggang Rani dan menggendongnya tanpa melepas ciumannya. Dia berjalan ke kamar lalu menjatuhkan tubuh Rani di atas ranjang.
"Berpetualang lagi yuk malam ini."
Rani tertawa sambil membuka kancing kemeja Rangga. "Berpetualang?"
"Iya. Berpetualang yang seru dan enak. Bikin nagih juga." Rangga melepas kemejanya lalu membalik posisi Rani di atasnya. "Kamu yang pimpin."
__ADS_1
"Ngga, aku gak bisa."
"Dicoba." Kedua tangan Rangga melepas daster pendek Rani lalu membuka penutup buah sintal itu dan me re mas nya.
"Gimana caranya? Aku gak tahu."
"Buka dulu celananya."
Rani hanya menuruti apa yang dikatakan Rangga. Mencoba di atas? Bagaimana caranya? Selama sebulan ini dia hanya pasrah dengan perlakuan Rangga.
"Ran." Rangga duduk lalu memeluk Rani dan memangkunya karena Rani ragu untuk memulainya. Lalu dia hentakkan miliknya dari bawah.
"Ah, Ngga."
Rangga tersenyum lalu berbisik di telinga Rani. "Kamu gerakkan saja dan rasakan sensasinya."
Rani mencobanya dan mulai menggerakkan pinggulnya. Awalnya malu-malu tapi lama kelamaan gerakannya semakin menjadi saat rasa nikmat itu menjalar ke seluruh tubuhnya.
Rangga merebahkan dirinya. Dia menarik Rani dan memeluk tubuh Rani. Dia hentakkan miliknya semakin cepat. Suara de sah semakin bersahutan dengan keringat yang sudah membasahi tubuh mereka berdua.
.
💕💕💕
.
😏😒
__ADS_1
.
Like dan komen ya...