Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 95


__ADS_3

Versi Rangga dan Rani baru bisa lanjut... 😂


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


Kemudian dia berbisik di telinga Rani. "Aku gak akan melewatkan malam ini."


Rani menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku malu..."


"Kenapa malu?"


"Nanti kamu ejek terus kamu ketawain, kan kamu biasanya usil."


"Gak kebalik?" Rangga membuka kedua tangan Rani. "Biasanya kan kamu yang suka ejek aku."


Rani hanya tersenyum kecil karena memang itulah kenyataannya. Dia seringkali menertawakan Rangga. Tapi sepertinya malam itu dia tidak sanggup untuk menertawakan Rangga. Dia terlalu tegang dengan situasi ini.


"Gimana?" Rangga membuka piyama Rani dan melihat lekuk tubuh Rani yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. "Hem? Sekarang?" Tanpa permisi Rangga membuka penutup buah sintal itu lalu menurunkan kain segitiga berenda itu. Kini Rangga bisa melihat tubuh polos Rani yang sangat menggodanya.


Rani hanya pasrah. Dia tidak mungkin lagi menolak sentuhan Rangga. Dia pejamkan matanya saat Rangga mulai menyentuh dirinya di beberapa titik sensitifnya.


"Aku gak tahu caranya." Rangga tertawa kecil sambil menyandarkan kepalanya di dada Rani. "Secara naluri laki-laki aja ya, tapi kalau kamu merasa gak nyaman bilang sama aku."


"Rangga." Rani membuka kedua matanya. "Udah tegang juga, ujung-ujungnya bercanda."


"Yang tegang itu punya aku. Ngapain kamu ikut tegang." Rangga menegakkan dirinya lalu membuka piyama kimononya.


Seketika Rani menutup wajahnya. "Rangga me sum."


Rangga hanya tertawa. Dia juga membuka penutup terakhirnya. Kalau dia tidak mulai beraksi, sampai besok pagi perkara ini tidak akan ada ujungnya.


"Sini-sini, buka mata dulu." Rangga menarik kedua tangan Rani agar membuka wajahnya. "Aku udah lihat tubuh kamu. Kamu gak mau lihat aku?"


Rani masih kekeh menutup wajahnya.


Rangga akhirnya membiarkan tangan Rani. Dia kini membungkukkan badannya dan mencoba mencicipi rasa buah sintal yang sangat menggodanya. Satu tangannya me re mas di sebelah kiri sedangkan bibirnya menyusuri dada sebelah kanan. Menyapunya hingga basah dengan sesekali menyesap dan mencetak beberapa tanda merah.

__ADS_1


Rani akhirnya membuka wajahnya saat Rangga memainkan puncak buah sintalnya. "Rangga, ih, geli."


Rangga hanya melirik Rani. Dia semakin memainkan dengan lidahnya secara bergantian kanan dan kiri.


"Ah, Rangga." Tangan Rani menahan tengkuk leher Rangga dan menjambak ujung rambut Rangga. Rasa geli itu benar-benar menjalar ke seluruh tubuhnya.


Ciuman itu semakin naik ke atas dan kembali menelusuri leher putih Rani. Rani bisa merasakan kecupan basah Rangga. Dia memejamkan matanya merasakan gelora yang semakin menguasai dirinya.


Satu tangan Rangga kini diam-diam merayap ke bawah dan singgah di inti yang telah basah.


"Ngga!" Tubuh Rani terasa melayang saat jemari Rangga membelainya lembut. Napasnya semakin berat, suara de sah juga sudah tidak bisa Rani tahan. Tapi gesekan tangan Rangga berubah menjadi gesekan dari benda tumpul yang sudah sangat menegang. "Ah, Ngga." Gesekan itu semakin terasa dan membuat pinggul Rani ikut bergerak seiring gesekan itu.


"Ran," Rangga kini menatap Rani. Satu tangan Rangga masih mengarahkan miliknya dan semakin memberi sensasi pada Rani.


"Ah, Ngga. Geli, ih." Napas Rani sudah semakin berat. Ada gelenyar yang memenuhi perutnya saat gesekan itu semakin intens.


"Ran, mulai sekarang kamu akan menjadi milikku sepenuhnya. Meskipun status kita sudah berubah tapi kamu tetap sahabat aku, partner hidup aku selamanya." Kemudian Rangga menghentakkan miliknya dengan kuat hingga akhirnya berhasil menerobos kedua dinding yang sangat sempit itu.


"Rangga!" pekik Rani. Rasanya sangat perih seperti tersayat sesuatu.


"Rangga, sakit. Ih, kamu tega sama aku."


Rangga menegakkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Iya, untuk menuju kenikmatan selanjutnya memang harus tega." Rangga menyingkirkan rambut yang menutupi kening Rani. Lalu ujung jempolnya menghapus setetes air mata yang mengembun di ujung mata Rani. "Maaf ya."


Rani hanya megangguk pelan


"Aku sayang sama kamu."


"Aku juga sayang sama kamu."


Kemudian Rangga semakin menambah kecepatan gerak pinggulnya sambil sesekali mencium bibir Rani.


Rani semakin mencengkeram punggung Rangga. Meski rasanya masih perih dan panas tapi ada sensasi tersendiri. Bibirnya sudah tidak bisa berhenti men de sah.


Begitu juga dengan Rangga. Berulang kali dia berdesis nikmat. Ternyata rasanya memang senikmat ini, pantas saja jika saudara barunya itu sampai ketagihan.

__ADS_1


Rangga membungkukkan dirinya lagi dan me lu mat cuping telinga Rani dengan sesekali berdesis nikmat.


"Ngga, aduh, jangan di telinga geli."


Bukannya menjauh tapi Rangga semakin me lu mat cuping telinga Rani.


"Rangga, ah, Ngga..."


Mendengar suara Rani, Rangga semakin bersemangat menghujamnya. "Ran, ini enak banget, Ran." Bibir Rangga kini menyesapi leher Rani hingga beberapa tanda merah tercetak di sana.


"Ngga, Ngga, aku kayak mau keluar." Rani semakin mencakar punggung Rangga. "Ngga..." Ke sepuluh kuku itu seperti menancap di punggung Rangga saat dia berada di puncak pelepasannya. Tubuhnya menggelinjang beberapa saat yang diiringi kedutan dan remasan di inti Rani.


"Gimana? Enak?" Rangga mengecup singkat bibir Rani setelah Rani berteriak nikmat. Kemudian dia usap keringat yang membasahi pelipis Rani. "Kamu sudah siap jadi ibu belum?" tanya Rangga.


Rani kini menatap wajah Rangga yang semakin memerah. "Gak usah ditunda."


Mendengar hal itu Rangga semakin semangat berpacu. "Yes, baby. I'm cum in." Rangga semakin menambah gerakannya. Dia hentakkan semakin dalam dan menumpahkan semua hasratnya di titik terdalam. Setelah itu dia melepas dirinya dan merebahkan tubuhnya di samping Rani.


Mereka berdua sama-sama mengatur napas. Kemudian Rangga memeluk tubuh Rani dan mencium keningnya. "Makasih. Akhirnya aku bisa merasakan kenikmatan ini sama kamu."


"Ih, sakit tahu."


"Iya, setelah ini juga gak akan sakit lagi."


Rani kini menguap lalu memejamkan matanya. "Aku ngantuk banget. Capek."


Rangga menarik selimut hingga menutupi tubuh polos mereka berdua. "Kita tidur. Masih ada hari esok lagi di sini."


"Ih, apa?"


Rangga hanya tertawa lalu dia usap rambut Rani agar Rani segera tertidur.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya. .


__ADS_2