
"Sayang bagaimana hasilnya?" tanya Arsen. Dia sudah sangat tidak sabar.
Naya menunjukkan dua alat tes itu dan menyerahkannya pada Arsen. Kemudian dia duduk di tepi ranjang.
Senyum Arsen mengembang saat melihat tanda positif di alat itu. Dia kini berlutut di hadapan Naya dan mengusap perut Naya. "Aku beneran akan jadi Ayah."
Naya hanya menekuk wajahnya dan membuang pandangannya.
"Sayang, kamu gak senang kita akan punya anak? Tolong terima anak ini ya, jangan diapa-apain. Aku rela merasakan mual, pusing, dan sebagainya, asal kamu tetap jaga dia."
Seketika Naya tersenyum. "Ih, siapa juga yang mau gugurin." Dia kini merebahkan dirinya di ranjang. "Aku juga senang, gak nyangka aja ada kehidupan baru di perut aku. Tapi aku masih kesal sama kamu yang udah bohong sama aku. Iya sayang, aman, udah aku lepas. Selalu gitu bilangnya. Memang aku gak terasa kamu masukin terus benih kamu. Aku udah tahu."
Seketika Arsen tersenyum. Dia menyusul Naya naik ke atas ranjang dan memeluknya. "Iya maaf, gara-gara aku bohong sekarang aku udah nanggung akibatnya."
Naya mengeratkan pelukan Arsen. "Tapi aku masih bingung, Ar. Apa aku bisa jadi Ibu yang baik?"
"Ada aku. Aku akan selalu menemani kamu melewati semua prosesnya. Makasih, sudah mau menerima kehadiran anak kita."
"Aku juga senang kok. Aku sebenarnya udah ngira karena udah telat sebulan, tapi aku gak ngerasain apa-apa makanya aku gak bingung."
Arsen melepas pelukannya lalu membuka perut Naya dan mengusapnya. "Sekarang kita periksa yuk. Biar tahu kondisinya."
Naya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia duduk dan ikut mengusap perutnya. "Pantesan perut aku tambah gendut gini. Udah ada hasil karya Arsen di dalamnya."
Arsen berdiri lalu membantu Naya berdiri. Dia kini mengambil tasnya dan juga tas Naya. Setelah itu mereka berdua keluar dari rumah.
"Ar, kamu periksa sekalian juga. Siapa tahu ada obatnya. Aku takut kalau kamu sampai dehidrasi."
"Iya, iya, nanti kita konsultasi juga sama Dokter." Kemudian mereka masuk ke dalam mobil.
"Ger, cari rekomendasi Dokter Kandungan yang bagus dan seorang wanita. Buat janji sekalian sekarang." perintah Arsen sambil membuka kaca mobil dengan lebar agar dia tidak merasa mual lagi.
Gery memutar bola matanya, permintaan bos mudanya itu memang ada-ada saja. Akhirnya dia bertanya pada sekretaris kantor yang baru saja melahirkan. Untunglah semua sesuai permintaan bosnya itu. "Sudah Pak. Kita bisa langsung ke sana."
Beberapa saat kemudian, mobil mereka mulai melaju menuju rumah sakit ibu dan anak. Rasanya Arsen sudah tidak sabar ingin melihat perkembangan calon buah hatinya. Dia juga lega, ternyata reaksi Naya tidak seperti apa yang dia takutkan.
Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di depan rumah sakit. Arsen mengurus pendaftaran terlebuh dahulu, untunglah di ruangan Dokter Sinta yang direkomendasikan untuk Arsen hanya ada satu pasien yang mengantri.
__ADS_1
Setelah dipanggil, Naya dan Arsen masuk ke dalam ruang pemeriksaan Dokter Sinta.
Tangan Naya terus menggenggam tangan Arsen. "Harusnya ke sini sama Mama ya, aku bingung mau ngomong apa," bisik Naya.
"Kan ada aku, ngapain sama Mama." balas Arsen dengan bisikan.
"Rekomendasi dari Bu Ratna ya?"
"Iya, itu sekretaris Papa saya," jawab Arsen.
"Mau periksa kehamilan? Apa sebelumnya sudah tes?"
"Sudah dan hasilnya positif," jawab Arsen lagi.
"Kalian berdua masih terlihat muda. Calon Ayah usia berapa?" Dokter Sinta mengambil buku pink dan mulai mengisi data.
"Saya 20 tahun, istri saya 19 tahun. Apa beresiko hamil di usia ini?" tanya Arsen karena setahu dia hamil di usia muda memang memiliki resiko yang sangat tinggi.
"Sudah 19 tahun, sudah aman. Nama lengkap Ayah dan Bunda?" Bu Sinta mengisi semua identitas calon orang tua, setelah itu baru melakukan pemeriksaan.
Naya kini berbaring di atas brangkar USG. Dokter Sinta menyingkap kemeja Naya lalu mengoles gel di perut Naya, dan mengarahkan alat perekam USG itu.
"Tidak Dok, hmm, suami saya yang merasakan."
Arsen semakin mengeratkan genggaman tangannya sambil tersenyum.
"Wah, pasti sayang banget sama istrinya sampai mengalami syndrom simpatik. Bagus, jadi nutrisi untuk ibu dan janin bisa terpenuhi dengan maksimal. Untuk sang Ayah jika mual berlebihan boleh sesekali minum obat lambung tapi jika masih bisa diatasi dengan makanan, makan saja buah asam seperti mangga muda atau manisan lainnya."
Arsen hanya menganggukkan kepalanya.
"Ini ya Ayah, Bunda, janin sudah sebesar buah anggur dan detak jantungnya juga sudah terdengar."
Senyum di bibir Naya semakin mengembang saat mendengar suara detak jantung dari dalam perutnya. Sedangkan Arsen dia sampai meneteskan air matanya, kebahagiaan yang dia rasakan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia bangga dengan dirinya sendiri karena sudah berhasil membuat kehidupan baru di perut Naya.
"Janinnya sangat sehat dan berkembang dengan baik."
"Ar, kok nangis?" Jemari Naya menghapus air mata Arsen di pipinya.
__ADS_1
"Terharu sayang. Makasih ya." Satu kecupan mendarat di kening Naya.
"Kenapa ngucapin makasih sama aku. Nih, sama Bu Dokter yang sudah periksa aku."
Dokter Sinta semakin tersenyum. "Saya senang sekali melihat pasangan harmonis seperti ini." Dokter Sinta membenarkan baju Naya, lalu memeriksa tensi darah Naya. "Tekanan darahnya juga bagus. Nanti saya beri vitamin untuk diminum secara rutin. Jika tidak ada keluham kembali periksa satu bulan lagi."
Naya turun dari brangkar yang dibantu Arsen. Kemudian mereka duduk sambil menunggu Dokter Sinta menulis hasil pemeriksaan.
"Jangan lupa, vitamin diminum secara rutin. Jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan, bisa chat pribadi juga."
"Terima kasih, Dokter."
Setelah semua selesai, mereka berdua keluar dari ruangan Dokter Santi dan berjalan menuju tempat parkir. Satu tangan Arsen masih setia merengkuh pinggang Naya.
"Nay, air mata aku kenapa rasanya gak bisa berhenti gini. Aku terharu banget."
Naya justru tertawa. "Bisa-bisanya suami bad boy aku ini nangis. Jangan bilang kena hormon ibu hamil juga."
"Kayaknya iya, hati aku jadi lemah lembut gini."
Setelah sampai di tempat parkir, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobil mereka segera melaju pulang ke rumah.
"Mama pasti senang banget." Arsen terus menatap hasil foto USG calon buah hatinya.
"Iya," Naya tersenyum kecil, tapi dia justru memikirkan hal lain. Andai saja Ibunya masih hidup. "Ar, ke makam Ibu dulu ya," pinta Naya.
Arsen menatap Naya. "Iya. Ger, ke makam di kampung lama dulu."
"Baik, Pak."
Arsen semakin mengeratkan rengkuhannya pada Naya. Dia bisa mengerti apa yang dirasakan Naya saat ini.
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...