
Virza menatap layar ponselnya. Dia menunggu Laras datang tapi sampai wisuda hampir dimulai, Laras tak juga menghubunginya.
"Za, wisuda kamu sudah hampir dimulai. Kamu masuk saja," kata Pak Zayn sambil memegang lengan putranya.
Virza menghela napas panjang. Ya, mungkin Laras memang tidak ingin datang ke wisudanya. Setelah hampir semalaman dia berpikir tentang semua perasaannya dan akhirnya dia memutuskan untuk serius dengan Laras tapi ternyata semua tak sesuai ekspektasinya.
Saat Virza melangkahkan kakinya menuju pintu convention center, terdengar suara Laras memanggilnya.
"Za," panggil Laras. Dia melangkahkan kakinya ke arah Virza sambil tersenyum.
Virza menatap Laras yang memakai kebaya berwarna biru muda itu. Dia terlihat cantik dengan polesan make up natural di wajahnya.
"Maaf, aku terlambat."
"Za, siapa?" tanya kedua orang tua Virza.
"Kenalkan ini Laras. Dia calon istri aku."
Seketika jantung Laras berdetak tak karuan. Apa perkataan Virza ini benar atau hanyalah pura-pura? Dia menatap Virza sesaat lalu bersalaman dengan kedua orang tua Virza sambil tersenyum ramah.
"Cantik sekali, sepertinya saya pernah lihat kamu," kata Bu Fitri, Mamanya Virza.
"Ini Bu Fitri yang pernah ikut penyuluhan di kecamatan?" tanya Laras. Sebelumnya dia pernaj bertemu Bu Fitri beberapa kali.
"Kamu Bu Laras yang menjadi sekretariat di kecamatan dan putrinya Pak Walikota."
Laras hanya tersenyum. "I-iya."
Seketika Bu Fitri mencubit lengan Virza. "Za, kamu kenal dimana sama Laras? Kamu serius mau menikah sama Laras? Kamu itu cuma ngurus bengkel. Keluarga kita bukan standart Pak Aji. Tahu diri dikit."
"Mama ini apaan sih, anak sendiri di jelek-jelekin."
Laras justru tersenyum mendengar kalimat Mamanya Virza. "Tidak apa Bu, semua orang itu sama saja. Justru aku bangga sama Virza, masih muda dia bisa mengelola bengkel sendiri." Kemudian Laras menggandeng lengan Virza.
__ADS_1
Seketika dada Virza berdebar tak karuan. Dia kini menatap Laras yang ada di sampingnya. Tatapan mereka saling terpaut.
"Ya sudah, nanti kita lanjut mengobrol lagi. Wisuda sudah akan dimulai," kata Pak Zayn.
Kemudian Laras dan Virza masuk ke dalam gedung convention center kampus dengan tangan Laras yang masih menggandeng lengan Virza.
Di belakang Virza, Mamanya masih saja berbisik dengan suaminya. "Ya Allah Mas, mimpi apa kita mau dapat besan Pak Walikota."
"Iya, Papa juga terkejut. Papa kira Virza sama cewek yang masih kuliah yang pernah dibawa ke rumah dulu. Tiba-tiba yang diseriusin ini."
Laras kini duduk dengan kedua orang tua Virza. Dia menikmati acara demi acara. Dia tersenyum saat melihat nama Virza terpanggil dan menjadi lulusan terbaik di fakultas teknik.
"Virza hebat ya, Bu. Pasti Ibu bangga memiliki putra seperti Virza," kata Laras. Dia tak melepaskan pandangannya dari Virza.
"Iya, dari SMA dia sudah mandiri dan selalu membantu di bengkel. Meskipun dia juga bergabung di geng motor tapi dia tidak ikut ke pergaulan bebas."
Laras masih saja tersenyum. Dia sekarang tidak akan menilai seseorang dari tampilan luarnya saja, tapi yang terpenting adalah hatinya.
Setelah wisuda selesai, Virza menarik Laras agar ikut berfoto bersamanya dan juga kedua orang tuanya.
"Sssttt..." Virza justru merengkuh pinggang Laras. "Kamu senyum."
Laras melirik tangan Virza sesaat yang ada di pinggangnya, akhirnya Laras menatap kamera dan tersenyum.
Setelah selesai berfoto, Virza menarik Laras menepi sedangkan kedua orang tuanya kini sedang mengobrol dengan orang tua temannya. "Nanti malam aku dan orang tua aku mau ke rumah kamu," kata Virza tanpa basa basi lagi.
Seketika Laras membulatkan matanya. "Ngapain?"
"Ya, aku mau menjalin hubungan yang serius sama kamu."
"Memang kamu yakin dengan perasaan kamu?" tanya Laras.
Virza menghela napas panjang. "Ya, awalnya aku memang gak yakin tapi aku trauma. Aku takut aku terlambat lagi memiliki kamu. Sebelum kamu bersama dengan yang lain, aku harus memberi kamu kepastian. Aku memang gak sempurna, bahkan aku lebih muda dari kamu. Tapi aku akan berusaha membahagiakan kamu, ya, meskipun aku juga belum ngerti bagaimana cara bahagiain kamu karena kamu udah punya segalanya."
__ADS_1
Laras justru tertawa. "Lucu ya. Gemes banget." Kemudian Laras mencubit pipi Virza. "Selama ini aku menjalin hubungan sama pria dewasa, kehidupannya sangat monoton. Tidak ada sensasinya sama sekali dan ternyata ujung-ujungnya gak serius. Sejak aku bertemu sama kamu, kamu beda. Ternyata seru juga sama brondong manis gini."
"Jadi..." Virza merengkuh bahu Laras. "Jadi bagaimana, kamu mau menjalin hubungan serius dengan aku? Hmm, maksudnya kamu mau menikah dengan aku?"
Laras hanya tersenyum, lalu dia melepas tangan Virza.
"Laras? Gimana?"
"Iya."
Seketika senyum Virza mengembang lalu mereka bergabung dengan kedua orang tua Virza. Dengan bangganya orang tua Virza memperkenalkan Laras pada yang lainnya sebagai calon menantunya.
"Mama tadi bilang gak pantas besanan sama Pak Walikota, tapi kenapa sekarang jadi bangga?" tanya Virza pada Mamanya.
"Tadi cuma refleks terkejut aja."
"Kalau begitu nanti malam lamarin ya, Pa, Ma."
Bu Fitri terkejut untuk yang kedua kalinya. "Virza, kenapa mendadak sekali. Mama belum beli oleh-oleh."
"Tidak usah bawa apa, Bu." kata Laras.
"Gak bisa begitu. Saya juga mau kabari keluarga besar juga." Bu Fitri segera menatap ponselnya dan mengirim pesan pada keluarganya.
"Jangan kaget ya, Mama memang suka rempong."
"Iya, aku udah tahu." Laras tersenyum dan menatap Virza. Sudah beberapa hari dia memantapkan hatinya, dan Virza lah yanh akan menjadi labuhan terakhir dalam hidupnya.
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...