Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 60


__ADS_3

"Bangunnya pagi sekali, Non. Sudah biarkan Bibi saja yang mengerjakan ini." kata Bibi Nur.


Setelah membasuh dirinya, Naya memang langsung menuju dapur. Dia ikut berkutat di sana seperti biasanya saat di rumah sendiri. "Tidak apa-apa, Bi. Aku memang sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah."


"Kalau di sini tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah. Non ini calon nyonya besar selanjutnya."


Naya hanya tersenyum kecil. Dia kini mengambil gelas dan membuat susu.


"Sarapan kesukaan Non apa? Biar Bibi siapkan?"


"Apa saja, Bi." Kemudian Naya meminum susu hangat itu hingga habis setengah.


"Naya, kamu di sini? Aku cariin kirain kemana." Arsen kini berdiri di samping Naya dan mengambil susu yang tinggal setengah itu dari tangan Naya.


"Kebiasaan kan? Aku buatin dulu."


"Punya kamu lebih enak." kata Arsen setelah susu itu habis.


Seketika Bibi Nur tertawa. "Bisa aja Den Arsen ini."


"Kamu sudah mandi? Bentar lagi kita sarapan dulu terus pulang ke rumah ganti seragam dan ambil tas." kata Arsen.


"Aku udah mandi. Ya udah biar aku bantu siapin sarapan dulu."


"Kalau di sini, kamu jadi nyonya. Iya kan, Bi?"


"Iya tuan muda."


Arsen justru menarik tangan Naya masuk ke dalam kamar.


"Apa sih, Ar? Ini masih pagi. Kamu mandi aja." Naya mendorong Arsen agar masuk ke dalam kamar mandi. Tapi Arsen justru menarik tangan Naya lalu menutup pintu kamar mandi.


"Ar, aku udah mandi." Naya berusaha melepas tangan Arsen.


"Mandiin aku."


"Gak mau."


"Ayo." Arsen menahan tengkuk leher Naya lalu mencium bibirnya. Seketika Naya terdiam dan tidak memberontak lagi. "Kita coba sensasi di kamar mandi yuk?"


"Ar, tapi kamu gak bawa..."


"Ssttt, percaya sama aku." Arsen membuka satu per satu baju Naya dan juga bajunya. Setelah itu dia menghidupkan shower. Guyuran air hangat dari shower membasahi tubuh mereka berdua.


Bibir mereka saling memagut dengan kedua tangan yang saling memeluk.

__ADS_1


"Sayang..." Arsen menatap Naya dengan penuh damba.


Meskipun tanpa pertanyaan tapi Naya mengerti apa maksud Arsen. Dia menganggukkan kepalanya.


Arsen menyandarkan punggung Naya di tembok lalu membuka kedua pa ha Naya dan mencari celah untuk masuk.


"Ar..." pekik Naya saat Arsen berhasil memasukinya.


Naya berpegangan erat di bahu Arsen saat Arsen mulai memacunya. Suara de sah mereka semakin keras dan bersahutan.


"Jangan lama-lama. Nanti kesiangan," kata Naya di sela-sela deru napasnya.


"Iya sayang, aku gak mungkin tahan lama dengan posisi ini." Arsen kembali mencumbu Naya. Mereka benar-benar terhanyut dengan permainan mereka.


...***...


Arsen menghentikan motornya di tempat parkir sekolah. Kemudian Naya turun dari motor Arsen. Dia masih saja cemberut dan mendumel setelah apa yang dilakukan Arsen tadi pagi.


"Jangan cemberut gini." Arsen mencubit pipi Naya yang sesekali menggembung itu.


Naya menepis tangan Arsen. "Ih, gimana kalau jadi, kamu mau tanggung jawab."


Arsen tertawa dengan keras. Lupakah Naya jika dia sudah menjadi suaminya? Dia kini turun dari motor dan melepas helmnya. Dia gandeng lengan Naya dan mendekatkan wajahnya di telinga Naya. "Iya, nanti aku nikahin kamu untuk yang kedua kalinya."


Seketika Naya mencubit pinggang Arsen. "Ar, ih, aku serius."


Naya menghentakkan kakinya lalu berjalan meninggalkan Arsen.


"Nay, tunggu. Jangan marah." Arsen menahan tangan Naya lagi. "Tadi siapa yang keenakan, minta more faster?" bisik Arsen yang membuat pipi Naya bersemu merah.


"Ih," Naya tak bisa menahan senyumnya.


"Udah senyum, berarti nanti lagi."


"Arsen!" Naya mencubiti pinggang Arsen sambil tertawa. Tapi langkah mereka terhenti saat melihat Rani dari kejauhan. "Rani, kirain gak masuk."


Naya menghentikan langkahnya menunggu Rani.


"Aku ke kelas dulu ya," kata Arsen sambil mencubit pipi Naya sebelum pergi.


"Ran, kirain gak masuk." Naya kini berjalan di samping Rani.


"Sebenarnya gue disuruh libur sih. Tapi yang sakit cuma tangan gue. Badan gue sehat kok, makan juga banyak." Rani tertawa lalu menggandeng tangan Naya dengan tangan kanannya. "Untung juga yang sakit tangan kiri. Pasti tiga hari juga udah sembuh. Rangga aja yang lebay."


Naya tertawa cekikikan. Dia sekarang tahu kalau Rangga sangat perhatian dengan Rani. "Itu tandanya Rangga sayang sama lo."

__ADS_1


"Kalau sayang gak usah dikekang, cukup dikasih perhatian."


"Terus gimana rencananya?" Mereka berdua berjalan ke kelas sambil mengobrol.


"Gue tetap gak mau putus sama Kak Virza. Ini kan salah Rangga yang marah-marah gak jelas. Kak Virza udah mau bawa gue ke rumah sakit tapi Rangga malah nyolot."


Naya memelankan suaranya. "Gue baru tahu kalau Rangga bisa marah."


"Iyalah, di depan lo aja sok baik, kalem, gak pernah marah. Kalau sama gue ya pakai sifat asli dia, keras dan pemarah."


"Ehem!" Satu deheman menghentikan langkah Rani dan Naya. Mereka menoleh ke belakang. Ada Rangga yang sedang melipat kedua tangannya.


"Sejak kapan lo ada di belakang kita?" tanya Rani.


"Sejak lo ngomongin gue. Lo kenapa gak libur aja? Harusnya istirahat di rumah."


"Hari ini ada ulangan. Lagian yang sakit cuma tangan aja," jawab Rani.


Naya masih saja tersenyum melihat interaksi mereka berdua. "Kita obrolin sekarang mumpung ada Rangga."


"Apa? Soal Virza? Nggak, gue gak mau minta maaf. Dia yang salah." Rangga melewati mereka berdua dan berjalan ke kelas.


"Ayolah Ngga, kalau lo gak berdamai dengan Virza nanti gengnya Arsen berantakan. Gue gak mau itu terjadi gara-gara gue." Rani masih mengikuti Rangga di belakangnya.


"Itu tandanya Virza masih labil. Masalah gini aja gak harus keluar dari geng segala."


"Emang lo gak labil? Kalau lo udah merasa paling dewasa ya harusnya lo dulu yang mengalah untuk minta maaf."


Seketika Rangga menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya yang membuat Rani menabrak dada bidang Rangga. Mereka saling bertatapan beberapa saat.


Diam-diam Naya pergi meninggalkan mereka berdua.


Rangga menghela napas panjang lalu memegang kedua bahu Rani dan memundurkan badannya. "Ya udah, nanti gue minta maaf sama Virza. Gue kemarin juga keterlaluan sampai ngatain Virza. Gue juga gak mau geng Arsen terpecah belah. Tapi ingat, jangan ke wilayah geng motor lagi, dan kalau bisa lo putusin Virza."


Rani menggelengkan kepalanya. "Gak bisa. Gue baru aja jadian."


"Ya udah, tunggu sebulan terus putusin."


"Apaan sih lo! Emang gue mau ngikuti jejak lo sama Naya pacaran cuma sebulan. Nggak! Nanti gue putus kalau udah di pelaminan sama Kak Virza." Kemudian Rani melepas tangan Rangga dan masuk ke dalam kelas.


Rangga hanya terdiam. Sampai pelaminan? Mengapa rasanya dia tidak mau kehilangan Rani?


.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2